|
Assalamualaikum Wr. Wb., Dunsanak semuanya, saya tertarik untuk memberikan komentar mengenai topik yang mendapat banyak perhatian kita semua. Perum KA memang sudah dihadapkan pada kenyataan untuk sulit meneruskan usahanya di Sumbar. Tidak cuma di Sumbar perusahaan kita (milik kita rakyat Indonesia) ini kesulitan untuk menjalankan usahanya sebagai suatu perusahaan yang seharusnya memberikan keuntungan bagi stake holders. Perusahaan yang memberikan kesejahteraan dan menguntungkan bagi Customer, bagi Karyawan dan bagi Pemilik – tidak cuma pemegang saham karena kita rakyat hanya memiliki tapi tidak memegang saham. Di Aceh sudah lama rugi dan ditutup, di Jawa yang populasinya padat dan selalu kelebihan customer (penumpangnya sampai harus naik di atap) pun banyak jalur yang rugi. Sekarang semua orang sudah tahu bahwa setiap perusahaan yang dimiliki negara harus untung, paling tidak slogannya harus begitu. KA menyatakan dirinya tidak sanggup untuk meneruskan usahanya di Sumbar, dengan alasan tentunya jalur usahanya rugi, kalau kita paksa – biarpun lewat PEMDA, maka kerugian ini akan memberatkan usahanya keseluruhan. Jadi tidak akan mampu untuk memberikan keuntungan sesuai dengan permintaan stake holders. Hari Jum’at yang lalu Kompas menulis laporan bahwa KA gagal untuk melakukan Restructuring, dari dana yang dialokasikan oleh Asia Development Bank sejak tahun 1997 sampai batas waktunya ditahun 2002 tidak termanfaatkan dengan baik. Dari dana yang terpakai hanya terlaporkan persentase yang rendah, kalau tidak salah hanya 15%, check lagi di Kompas. Sehingga Bank Dunia terpaksa memperpanjang satu tahun lagi sampai Sept(?) 2003. Saya ragu apakah bisa mereka memanfaatkan waktu yang begitu sempit, 5 tahun saja tidak banyak yang bisa dicapai. Dari banyak komentar yang saya ikuti selama ini, KA rugi karena penumpangnya tidak bayar – sebagian, KA rugi karena penumpangnya orang kecil (kemampuan ekonominya kecil, amai-amai yang pakai bakul), KA rugi karena penumpang andalannya adalah batubara yang tidak akan meneruskan lagi mempergunakan jasa KA, KA rugi karena tidak dapat melayani penumpang yang lebih berduit yang meminta kendaraan lebih nyaman dan lebih cepat. KA rugi karena tidak effisien, karena ..., kalau diurut akan panjang list yang menyebabkan dia rugi. Sekarang kalau kita menginginkan KA tetap berjalan kita perlu memahami bagaimana caranya agar dia untung. Sehingga kalau PEMDA disuruh, atau diajak investor lain mengelolanya maka akan menjadi suatu usaha yang sehat. Banyak cerita yang sudah diutarakan bahwa dinegara lain KA bisa menjadi kendaraan yang nyaman, yang hemat yang cepat dan yang safe. Dalam pelajaran analisa SWOT kita perlu untuk smart untuk mencari solusi sehingga yang tadinya Threat (ancaman) bisa dirubah menjadi Opportunity (kesempatan). Kalau kita ingin mengubah KA sekarang menjadi joy riding steam train untuk wisata, berapa biayanya? siapa penumpangnya? wisman mau datang untuk naik ini? apakah mau naik KA saja atau mau apabila ada object lain yang menarik?. Sebetulnya banyak potensi yang bisa digali dari KA Sumbar, bisa menjadi suatu usaha terintegrasi yang menguntungkan mulai dari Transportasi, Hotel, Retail di stasiun KA, Joy travel, Wisata, dll. Banyak yang sudah ditulis di RN. Sekarang kembali kita bicara antara Vission dan Action. Ada asset yang terbengkalai, dimata pengelolanya sudah tidak ada nilainya, malah memberatkan karena perlu dana untuk memindahkan dan membayar pesangon pegawai. Ada dana yang sudah disediakan ADB dan buktinya tidak terpakai. Ada orang yang perduli seperti komentar sanak semua yang telah dilontarkan di RN. Ayo kita buat Vision in menjadi Action, mari kita bahas di bilik Ekonomi dan di bilik Potensi kalau kita melihatnya masih potensial future projects -- project-project yang punya potensi yang baik yang masih menunggu waktu untuk mengumpulkan resources yang saat ini belum tersedia. Saya akan coba untuk mengarahkannya, sesuai tugas saya yang sempat kedodoran sebagai moderator bilik Potensi. Wassalam, Ridwan M. Risan |

