Assalamu�laikum wr.wb.,
Tercenung saya. Benarkah? Semua bisa kita 'jabar'kan. Perintah berqurban dalam al Quran tidak merinci apa yang harus dipotong untuk di qurbankan. Tapi hadits-hadits Rasulullah SAW bercerita dengan jelas bahwa yang di qurbankan itu adalah binatang ternak, kambing, sapi atau unta. Untuk yang sedang melaksanakan haji, mereka mambawa 'hadyu'', berupa kambing.
Lalu kalau kita hitung-hitung seperti itu? Tentulah seolah-olah ajaran Rasulullah itu tidak up to date lagi. Tidak perlu di contoh lagi.
Mungkin bukan itu saja. Pergi berhaji ke tanah haram. Dengan biaya US $ 2500 per orang, 200,000 rakyat Indonesia yang pergi setiap tahun. US $ 500,000,000 yang terbuang percuma untuk pergi berhaji, yang kalau di rupiahkan menjadi Rp 4.4 triliun. Apakah begitu kita menilainya?
Kenapa kita tidak melihat bagaimana petani/peternak kambing di kampung-kampung bisa memetik untung dari penjualan kambing di musim qurban?
Ah, agama kadang-kadang memang seringkali sulit diinovasi.
Wallahu a'lam bishshawab.
Wassalamu�laikum wr.wb.
Lembang Alam
|
Hendra Messa <[EMAIL PROTECTED]> 10/02/2003 05:23 PM Please respond to surau |
To: [EMAIL PROTECTED] cc: Subject: [surau] esensi berqurban ( inovative view ) |
Bapak dan Ibu sekalian
Beberapa hari lagi kita akan tiba pada Hari Raya Iedul
Adha.
Yang bertepatan dengan pelaksanaan ibadah kurban.
Pada ceramah di masjid masjid dan juga di
pengajian-pengajian akan dibahas
Secara intens topik mengenai kurban ini.
Dimulai dari cerita tentang pengorbanan Nabi Ismail
untuk menyembelih putranya, yang mempunyai makna
pengorbanan terhadap segala sesuatu yang paling
dicintai.
Bercermin pada kejadian tersebut, maka setiap idul
adha umat muslimin melakukan kurban berupa pemotongan
hewan ternak yang dagingnya dibagi-bagikan utamanya
kepada fakir miskin.
Pada kesempatan Idul kurban ini juga sering dibahas
keluhuran tatacara kurban umat Islam, dalam hal ini
dilakukan perbandingan bahwa ada beberapa agama yang
dikorbankan adalah manusia. Atau jika yang
dikorbankan hewan maka hewan teresbut mengalami
kematian yang tersiksa seperti dicebur kelaut,
dilempar kekawah atau dibakar hidup-hidup. Dalam
Islam tidak demikian karena hewan dipotong secara
beradab.
Itulah sekelumit makna kurban yang selalu
dikumandangkan pada ceramah jumat dimasjid atau pada
pengajian majelis taklim.
Bapak dan Ibu sekalian
Perkenankanlah sekali waktu, hati dan pikiran kita
untuk melakukan kritisasi dan pemaknaan yang lebih
mendalam tentang kurban ini..
Pertama, Apakah kurban itu bermakna memotong kambing?
Jika dikaitkan dengan agama lain, pengorbanan dengan
pemotongan hewan saat ini cuman ada dalam Islam,
agama lain sudah tidak ada lagi yang berkurban dengan
cara seperti itu. Bahkan jika ditelah secara teliti,
dizaman modern ini pengorbanan hewan dengan cara
tersiksa juga sudah tidak ada lagi kecuali
dibeberapa suku terasing.
Jadi sekarang ini, Islam adalah satu-satunya agama
yang memakai media penyembelihan hewan dalam
peribadatanya.
Ini menimbulkan pertanyaan apakah kurban dalam bentuk
penyembelihan kambing memang harga mati ? Apakah
tidak bisa digantikan misalnya dengan uang kurban
senilai harga kambing dan uangnya diberikan pada
fakir miskin.
Seperti pada Zakat fitrah yang semula mengunakan
beras, sekarang sudah bisa diganti dengan uang.
Bukankah bisa juga Kambing diganti dengan uang ?
Silahkan Pihak yang berwenang untuk menelaah lebih
jauh.
Kedua, Apakah kurban itu bermakna memotong kambing?
Dalam cerita nabi Ibrahim, yang dikurbankan adalah
anak sendiri, sesuatu yang begitu dikasihi,
pertanyaanya Apakah sesuatu yang amat dikasihi itu
sebanding dengan seekor kambing?
Dizaman nabi tentu saja yang dikurbankan adalah
kambing, sebab di zaman itu kambing memang suatu yang
amat sangat berharga, dan nilai seekor kambing saat
itu memang sangat tinggi.
Jika menangacu pada nilai dan makna untuk berkorban
adalah mengorbankan harta yang paling dicintai, di
zaman sekarang ini mestinya tidak layak lagi untuk
memakai potong kambing sebagai ukuran..
Kurban Zaman sekarang ini, semestinya adalah , yang
punya mobil enam, kurbankanlah satu mobil miliknya,
yang punya rumah lima, kurbankan salah satu rumah
miliknya, yang punya deposito sepuluh, kurbankanlah
satu atau dua deposito miliknya, demikian
seterusnya..
Memang pasti banyak yang tidak setuju dan akan
keberatan, kalo diterapkan seperti itu. Jangan-jangan
nanti tidak ada lagi yang mau berkurban, jadi biarlah
tetap berkurban seharga seekor kambing saja....
begitulah syariat mengatur....
Ketiga, Apakah kurban itu bermakna memotong kambing?
Selesai kambing dipotong, dagingnya dibagi-bagikan
utamanya pada fakir miskin. Kemudian malamnya di
mulailah acara bikin sate, hampir di setiap rumah
sibuklah untuk mengolah daging kurban untuk bikin
sate, Meskipun tidak resmi, jadilah hari itu hari
bikin sate nasional,
Nah, coba sekarang kita hitung berapa biaya yang
diperlukan untuk perayaan Hari Bikin Sate Nasional
ini.
Kita melakukan perhitungan seperti ini:
Jumlah penduduk Indonsia adalah sekitar 220 juta. Kita
ambil asumsi ada sekitar 2% saja penduduk Indonesia
yang berkurban yaitu sekitar 4,4 juta orang.
Kenyataanya mungkin lebih.
Harga kambing rata-rata saat ini adalah 700 ribu maka
dana yang digunakan umat muslimin untuk membeli
kambing kurban adalah
700 ribu x 4,4 juta = 3,08 triliun Rupiah !!!!!!!!!
Itulah , Tiga triliun besarnya dana yang digunakan
untuk membeli kambing dalam rangka ber-Kurban.
Coba diganti redaksi bahasanya
Itulah , Tiga triliun besarnya dana yang dihamburkan
untuk membeli kambing dalam rangka Hari Bikin Sate
Nasional
Bayangkan jika dana sebesar itu digunakan untuk
memperbaiki perekonomoian fakir miskin, tentu akan
jauh lebih bermanfaat ketimbang mereka mendapat
sekilo daging kambing untuk dibikin sate.
Lalu mari kita coba juga untuk menghitung dana yang
digunakan oleh Arab Ssaudi dalam rangka pengadaan
kambing untuk jemaah haji, konon kambingnya didapat
dari Australia.. Besarnya mencapai 1,6 triliun
rupiah.
Bayangkan jika dana sebesar itu disumbangkan saja ke
Indonesia, Bangladesh Indonesia atau negara miskin
lain, ketimbang dipakai untuk pembayaran kepada
Australia.
Bapak dan Ibu sekalian,
Bagaimanapun juga ada pihak-pihak yang berwenang
untuk mengatur, ada juga syariat yang mengatur,
jadi biarlah beliau-beliau yang berkompeten untuk
mengkaji secara arif dan memutuskan secara
bijaksana....
Sementara beliau-beliau yang berkompeten masih sibuk
mengkaji masalah ini, mari kita ikut saja untuk
merayakan HarTeNas, ....Hari Bikin Sate Nasional....
Wassalam
__________________________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail Plus - Powerful. Affordable. Sign up now.
http://mailplus.yahoo.com
------------------------------------------------------------------------
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu
melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian
maka mereka itulah orang-orang yang rugi" <AL MUNAAFIQUUN (63:9)>
========================================================================
Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/
St. Lembang Alam
Do you Yahoo!?
Yahoo! Shopping - Send Flowers for Valentine's Day

