Kesudahan Yang Baik
Suatu hadits Nabi mengingatkan kita bahwa
hendaklah kita ingat kepada Allah dikala kita diberi rahmat, apalagi saat
diberi cobaan berupa kesulitan hidup.
Ingatlah masa mudamu sebelum datang tuamu, ingatlah
masa sehatmu sebelum datang sakitmu, ingatlah masa kayamu sebelum datang
miskinmu dan ingatlah masa hidupmu sebelum datang matimu
(Hadits Nabi)
Akhirnya kesudahan baik hanyalah bagi
orang-orang yang ikhlas pada Tuhannya, takwa, sabar, tawakkal:
Itu adalah di antara berita-berita penting
tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah
kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah;
sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.
(QS. 11:49)
Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan
Rabbnya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami
berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak
kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat
kesudahan (yang baik), (QS. 13:22)
Akhirnya kepada Allah-lah kita semua kembali
setelah kita berikhtiar dengan bergelut diantara kemudahan dan kesukaran
yang ada didunia yang penuh sandiwara ini.
Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari
main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih
baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidaklah kamu memahaminya! (QS.
6:32)
Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga:
"Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzkikan
Allah kepadamu". Mereka (penghuni surga) menjawab: "Sesungguhnya Allah
telah mengharamkan keduanya di atas orang-orang kafir, (QS.
7:50)
(yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka
sebagai main-main atau senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu
mereka". Maka pada hari itu (kiamat ini), Kami melupakan mereka
sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan
(sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami. (QS.
7:51)
Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda
gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya
kehidupan, kalau mereka mengetahui. (QS.
29:64)
Sesungguhnya kehidupan dunia hanya permainan dan
senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertaqwa, Allah akan memberikan
pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. (QS.
47:36)
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu
hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah
antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak,
seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian
tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur.
Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta
keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang
menipu. (QS. 57:20)
Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak,
saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu
usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah
tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada
Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah
sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang yang fasik. (QS. 9:24)
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia
kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak,
harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang
ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi
Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. 3:14
Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia
itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu
tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman di bumi, di
antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila
bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya�,
dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya�, tiba-tiba
datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan
(tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan
belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda
kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir. (QS.
10:24)
Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan
perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka
di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.
(QS. 11:15)
Kesimpulan
- Ujian (rahmat dan cobaan ) adalah
peringatan dari Allah terhadap hamba-Nya agar lebih dekat lagi
kepada-Nya dan untuk menguji isi hati yang benar-benar beriman pada
Tuhannya:
Apakah manusia itu mengira bahwa
mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka
tidak diuji lagi? (QS. 29:2)
Dan sesungguhnya Kami telah menguji
orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang
yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS.
29:3)
- Ujian yang paling berat dialami manusia
sebenarnya adalah takkala manusia diberi rahmat, baik kekayaan, pangkat,
jabatan, ketenaran, kesenangan dan sebagainya karena sering melalaikan
manusia dari mengingat Tuhannya dan tenggelam dalam kesenangan hawa
nafsu sehingga menyebabkan kebinasaan berupa azab yang datang tiba-tiba,
jika peringatan berupa ayat-ayat Tuhan tidak berarti lagi bagi
kita.
- Wali Allah atau orang-orang yang takwa dan
beriman tidak pernah terlalu gembira dengan rahmat yang datang dan
terlalu sedih dengan yang hilang.
- Orang-orang beriman selalu diuji sesuai
dengan tingkat keimanannya yang paling sulit adalah Para Nabi dan Rasul,
dan menyakini semua datang dari Allah dan selalu menyakini bahwa dibalik
kesukaran adalah kemudahan asal mereka berikhtiar dan berdoa
kepada-Nya dengan tetap
taat menjalankan perintah-perintah-Nya dalam kondisi
apapun.
- Penyebab manusia berpaling tatkala
dibacakan ayat-ayat Tuhan kepadanya hanyalah karena ego dan kesombongan
yang menutupi hati nuraninya karena godaan setan yang berusaha
menyesatkan manusia, apalagi tatkala diberi rahmat dan nikmat sehingga
dia tenggelam dalam ego dan kenikmatan itu sehingga manusia cepat marah
dan bertindak zalim. Semoga Allah mengikis habis ego dan kesombongan
yang ada dalam diri kita, sehingga menutupi hati kita terhadap kebenaran
tatkala kita mendengar ayat-ayat Allah dibacakan.
Makassar , 29 Januari
2003