Penanganan Banjir Jakarta
Banjir Omong Doang
ANTON, Seorang pria muda bersama istrinya berhari-hari keluar masuk
perkampungan dan perumahan. Setiap ada rumah kosong bertempel papan atau
kertas bertulis "Dikontrakkan", mereka berhenti. Melihat-lihat sebentar,
lalu tanya warga kanan kiri. Banjir enggak?
BANJIR besar di Jakarta dan sekitarnya setahun lalu memang tak mudah
dilupakan. Kesengsaraan yang ditimbulkannya membuat warga Jakarta dan
Bekasi trauma. Banyak warga memutuskan pindah dan mengontrakkan rumahnya
yang baru pertama kali terlanda banjir. Tidak sedikit pula yang
ancang-ancang pindah kalau sampai sekali lagi rumahnya terendam
banjir.
"Kalau sampai kebanjiran lagi, saya minta pindah," kata Ny Tres di
Bekasi Barat. Begitu pun dengan Ratih (22), seorang mahasiswi yang tinggal
di Perumahan Ciledug Indah.
Ketika hujan lebat mengguyur pada Selasa malam lalu, ia terus berdoa
supaya hujan tak berkepanjangan. "Kalau sampai kebanjiran lagi, mending
saya nyaranin orangtua supaya segera pindah saja dari sini," katanya.
Bagi yang tidak cukup mampu pindah rumah, bencana banjir yang
disebut-sebut akan terjadi pada pertengahan Februari ini mau tidak mau
harus disikapi dengan berbagai cara agar kesengsaraan yang ditimbulkannya
tidak separah tahun lalu. Seorang warga di Bekasi merenovasi konstruksi
lantai rumahnya sedemikian rupa agar tidak kerepotan memindahkan meja
kursi, almarinya ketika air tiba-tiba nyelonong masuk rumah.
Muhidin (25), seorang warga Cawang, telah menyimpan barang-barangnya di
lantai dua rumahnya. "Kalau banjir datang, kami akan segera pindah
sementara ke rumah saudara yang ada di Bogor," katanya.
Bagi Fajar, warga RW 11 Bidara Cina, Cawang, Jakarta Timur, bencana
banjir sebenarnya sudah bukan hal aneh lagi karena daerahnya memang
langganan banjir. Akan tetapi, banjir tahun lalu sungguh luar biasa,
setinggi empat meter! Karena itu, sekarang ia sudah membuat "jembatan
penghubung" dari rumahnya ke sebuah jalan yang tahun lalu tidak
tergenang.
Untuk sementara, jembatan itu terbukti ampuh. Ketika banjir pertama,
Selasa dan Rabu lalu, ia lebih mudah menyelamatkan kulkas, mesin cuci, dan
perabotan lainnya.
DATA di Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibu kota (DKI) Jakarta
menyebutkan, banjir pada tahun 2002 terjadi di 176 kelurahan yang tersebar
di 601 RW atau 24,25 persen total wilayah Jakarta. Tak kurang 34 orang
tewas dan 384.294 jiwa kehilangan tempat tinggal akibat banjir. Selain itu
terdapat 609.007 warga yang sakit
Banyak warga meyakini bencana banjir tahun ini tidak akan separah tahun
lalu. Akan tetapi, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) telah
memprakirakan kemungkinan terjadinya peningkatan awan dan hujan di Jakarta
antara tanggal 15-25 Februari ini.
Pada waktu bersamaan, air laut tengah pasang, sehingga air limpasan
(run off) tidak mudah segera masuk ke laut. Dan, karena tempat-tempat
parkir sementara air berupa situ, sawah, dan cekungan-cekungan di
sepanjang daerah aliran sungai sudah banyak berubah jadi perumahan,
satu-satunya kemungkinan hanyalah air menggenangi perumahan itu sendiri.
Artinya, bencana banjir memang kemungkinan memang tidak bisa
dihindari.
Apalagi kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa hujan lebat selama
tujuh jam pada Selasa malam lalu telah mengakibatkan genangan di
mana-mana. Ratusan rumah penduduk terendam, kemacetan lalu lintas
berlangsung empat jam lebih di banyak ruas jalan, banyak karyawan terpaksa
tidak masuk kerja, dan sekolah-sekolah diliburkan.
Tanpa harus menafikan berbagai upaya yang sudah dilakukan Pemerintah
Provinsi DKI Jakarta, banjir pada Selasa malam hingga Rabu lalu
membuktikan bahwa Pemprov DKI memang masih kedodoran dalam melakukan
persiapan mengantisipasi banjir.
Gubernur Sutiyoso sendiri mengakui, membebaskan Jakarta dari bencana
banjir sangatlah sulit. Yang bisa dilakukan hanyalah berupaya
meminimalisasi dampak bencana, termasuk bagaimana mempercepat evakuasi
warga dari daerah banjir.
Sejumlah sungai telah dikeruk, antara lain Kali Angke, Saluran Irigasi
Bekasi Tengah. Sedangkan, Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah
membantu mengeruk Ciliwung, sejak dari Manggarai hingga Karet. Pemerintah
juga sudah memulai pembangunan Banjir Kanal Timur, bersama masyarakat
membersihkan selokan, membuat pintu-pintu air baru, memperbaiki pompapompa
air di rumah pompa, menyiagakan 164 perahu karet, menyewa empat
helikopter, sampai ke pasang iklan di berbagai media cetak dan elektronik
untuk menyosialisasikan kegiatan pemerintah dalam mengantisipasi
banjir.
Menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta, IGK Suwena, untuk
mengendalikan banjir di Jakarta sudah disediakan dana Rp 72,48 milyar.
Karena anggaran itu baru disahkan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)
beberapa waktu lalu, tentu saja belum bisa digunakan untuk menanggulangi
bencana banjir tahun ini.
Menurut Suwena, pengendalian banjir pada prinsipnya berpedoman pada
Rencana Induk Pengendalian Banjir yang dibuat tahun 1973 oleh Pemerintah
RI bersama Konsultan Nedeco (Belanda). Kini, pemerintah bersama Japan
International Cooperation Agency/JICA (Jepang) juga sedang mengkaji
kemungkinan mengalihkan aliran sungai-sungai di Jakarta agar tidak
melewati tengah kota, melainkan mengelilingi bagian barat dan timur
(banjir kanal). Aliran air yang tidak tertangkap banjir kanal akan
dibangun saluran pengendali banjir.
Sekretaris Daerah (Sekda) Pemprov DKI Jakarta Ritola Tasmaya
mengatakan, untuk mengantisipasi banjir tahun ini telah disiapkan 25.846
orang terdiri dari 14.939 orang dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta,
4.332 personel dari Tentara Nasional Indonesia (TNI), 6.525 orang dari
Kepolisian RI, 30 orang dari SAR (search and rescue), dan 20 orang dari
Wanadri.
Dalam hal sarana dan prasarana yang tersedia antara lain perahu karet
sebanyak 164 unit, helikopter empat unit, truk pick up sebanyak 163 unit,
ambulans 68 unit, dapur umum 176 unit dan posko penampungan 301
lokasi.
PEMERINTAH boleh saja mengaku sudah maksimal berupaya mengantisipasi
banjir di Jakarta dan sekitarnya. Akan tetapi, warga hanya melihat dari
fakta di lapangan bahwa dari tahun ke tahun bencana banjir tak pernah bisa
diatasi tuntas. Pembangunan Kanal Timur yang panjangnya 23,9 kilometer,
misalnya, sampai sekarang baru berwujud tiga danau: di Cipinang, Radin
Inten, dan Pulo Gebang.
Pemerintah DKI beralasan, tertunda-tundanya proyek Kanal Timur itu
karena pemerintah pusat tak segera mencairkan dananya sebesar Rp 17
trilyun dalam waktu 10 tahun. Di lain pihak, pemerintah pusat
mempersyaratkan Pemprov DKI membebaskan lahannya dulu agar dana bisa
dikucurkan. Kalau silat lidah seperti itu terus berlangsung, kapan kanal
timur akan segera dibangun?
Semakin lama proyek tertunda, warga pemilik tanah di sepanjang tepi
Jalan Kol Sugiono-Basuki Rahmmat itu, akan menuntut ganti rugi lebih
tinggi. Sebab, calon lokasi Kanal Timur itu kini sangat strategis setelah
dibangunnya akses jalan poros timur-barat lewat Casablanca.
Pengerukan sungai memang dilakukan di beberapa tempat, tetapi warga
Kampung Melayu, Jakarta Timur justru masih menunggu-nunggu pelaksanaan
janji pemerintah yang akan mengeruk dan melebarkan Sungai Ciliwung. "Dari
dulu pemerintah cuma ngomong Sungai Ciliwung akan diperlebar dan
diperdalam. Nyatanya sampai saat ini belum pernah," kata Hadijah Heru
(55), warga RW 1,
Begitu pun dengan Syamsudin, warga Grogol Utara, Kecamatan Kebayoran
Lama, Jakarta Selatan. Pengerukan Kali Grogol yang dilakukan ternyata
tidak sampai ke daerahnya. Akibatnya, Kali Sungai Grogol yang di
kawasannya hanya selebar 3 meter tidak sanggup menampung air yang
datang.
"Selama tahun 2002, kami memang tidak menganggarkan dana untuk
menormalisasi sungai, karena biayanya cukup besar. Meskipun demikian
lantaran masyarakat meminta, kami tetap melakukan pengerukan sungai dengan
dana yang pas-pasan," kata Kepala Dinas PU IGK Suena beberapa waktu
lalu.
Selain pengerukan sungai, pemerintah juga sudah membangun beberapa
pintu air baru. Akan tetapi, bangunan baru itu ternyata tidak semuanya
baik. Ketika permukaan air Ciliwung naik pada hari Selasa dan Rabu lalu,
dinding pintu air di kawasan Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan yang
lebarnya dua meter itu ternyata bocor. Akibatnya, air yang telah dibuang
dengan pompa masuk lagi ke saluran pembuangan pemukiman warga. Untuk
sementara, Dinas PU Jakarta mengatasi kebocoran itu dengan tambalan karung
pasir.
Dari sisi perawatan peralatan penanggulangan bencana, masih ditemukan
sejumlah pompa di gedung-gedung pompa yang ternyata belum berfungsi. Di
Gedung Pompa Rawa Badak, satu pompa yang mampu menyedot 5,7 meter kubik
air per detik hingga kini masih dalam tahap perbaikan sistem penggerak
pompanya. Di Gedung Pompa Ancol, satu dari tiga pompanya, juga masih dalam
perbaikan.
Menurut, salah seorang konsultan pengawas perbaikan pompa di Gedung
Pompa Rawa Badak, Tulus (32), target mereka untuk menyelesaikan kerusakan
tersebut paling lama mencapai tiga minggu ke depan atau sekitar akhir
Februari. Padahal, ancaman banjir yang nyata adalah pada pertengahan
Februari ini.
SECARA topografis, Jakarta memang ditakdirkan untuk selalu banjir.
Kondisi obyektif Jakarta adalah, 40 persen wilayahnya (sekitar 24.000
hektar) merupakan daerah terendah. Beberapa lokasi, terutama di Jakarta
Utara, bahkan lebih rendah sekitar satu meter dari permukaan laut saat
pasang. Akan tetapi, bisa tertanggulangi baru sekitar 6.000 hektar.
Di zaman Belanda sekali pun, banjir sudah merupakan persoalan serius
bagi Jakarta yang kala itu bernama Batavia. Beberapa catatan banjir besar
yang pernah terjadi di antaranya tahun 1699 akibat letusan gunung salak.
Tahun 1711, penggundulan kawasan hutan di Puncak, Jawa Barat, sudah
menyebabkan banjir di Jakarta. Begitu pun tiga tahun kemudian yang
menyebabkan lumpuhnya perekonomian dan timbulnya wabah penyakit. Banjir
besar juga terjadi pada tahun 1854 dan tahun 1942.
Karena itu, Pemerintah Hindia Belanda dulu membangun banyak situ-situ
buatan agar Jakarta terhindar dari bencana. Namun, pembangunan yang pesat
dalam 30 tahun terakhir telah menghilangkan semua itu. Bahkan,
cekungan-cekungan alami dan sawah-sawah tempat parkir sementara air sudah
habis diuruk untuk perumahan.
Ketika Jakarta kehabisan lahan, para pengembang berekspansi ke wilayah
pinggiran Jakarta seperti Pondokgede, Cibubur, Cileungsi, Citeureup,
Depok, Cibinong, bahkan sampai ke Kota Bogor. Peralihan fungsi lahan di
daerah penyangga Jakarta seperti Pondokgede, Cileungsi, dan Cibubur secara
otomatis mengubah sistem tata air untuk kawasan Jakarta Timur dan Bekasi.
Tidak heran kalau Kali Sunter, Kali Cipinang, dan Kali Bekasi, setiap
tahun memuntahkan airnya ke permukiman warga di sekitarnya....
(B17/b15/PIN)