FYI dari milist tetangga
 
----- Original Message -----

Minggu, 09 Februari 2003

Penanganan Banjir Jakarta
Banjir Omong Doang

ANTON, Seorang pria muda bersama istrinya berhari-hari keluar masuk perkampungan dan perumahan. Setiap ada rumah kosong bertempel papan atau kertas bertulis "Dikontrakkan", mereka berhenti. Melihat-lihat sebentar, lalu tanya warga kanan kiri. Banjir enggak?

BANJIR besar di Jakarta dan sekitarnya setahun lalu memang tak mudah dilupakan. Kesengsaraan yang ditimbulkannya membuat warga Jakarta dan Bekasi trauma. Banyak warga memutuskan pindah dan mengontrakkan rumahnya yang baru pertama kali terlanda banjir. Tidak sedikit pula yang ancang-ancang pindah kalau sampai sekali lagi rumahnya terendam banjir.

"Kalau sampai kebanjiran lagi, saya minta pindah," kata Ny Tres di Bekasi Barat. Begitu pun dengan Ratih (22), seorang mahasiswi yang tinggal di Perumahan Ciledug Indah.

Ketika hujan lebat mengguyur pada Selasa malam lalu, ia terus berdoa supaya hujan tak berkepanjangan. "Kalau sampai kebanjiran lagi, mending saya nyaranin orangtua supaya segera pindah saja dari sini," katanya.

Bagi yang tidak cukup mampu pindah rumah, bencana banjir yang disebut-sebut akan terjadi pada pertengahan Februari ini mau tidak mau harus disikapi dengan berbagai cara agar kesengsaraan yang ditimbulkannya tidak separah tahun lalu. Seorang warga di Bekasi merenovasi konstruksi lantai rumahnya sedemikian rupa agar tidak kerepotan memindahkan meja kursi, almarinya ketika air tiba-tiba nyelonong masuk rumah.

Muhidin (25), seorang warga Cawang, telah menyimpan barang-barangnya di lantai dua rumahnya. "Kalau banjir datang, kami akan segera pindah sementara ke rumah saudara yang ada di Bogor," katanya.

Bagi Fajar, warga RW 11 Bidara Cina, Cawang, Jakarta Timur, bencana banjir sebenarnya sudah bukan hal aneh lagi karena daerahnya memang langganan banjir. Akan tetapi, banjir tahun lalu sungguh luar biasa, setinggi empat meter! Karena itu, sekarang ia sudah membuat "jembatan penghubung" dari rumahnya ke sebuah jalan yang tahun lalu tidak tergenang.

Untuk sementara, jembatan itu terbukti ampuh. Ketika banjir pertama, Selasa dan Rabu lalu, ia lebih mudah menyelamatkan kulkas, mesin cuci, dan perabotan lainnya.

DATA di Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibu kota (DKI) Jakarta menyebutkan, banjir pada tahun 2002 terjadi di 176 kelurahan yang tersebar di 601 RW atau 24,25 persen total wilayah Jakarta. Tak kurang 34 orang tewas dan 384.294 jiwa kehilangan tempat tinggal akibat banjir. Selain itu terdapat 609.007 warga yang sakit

Banyak warga meyakini bencana banjir tahun ini tidak akan separah tahun lalu. Akan tetapi, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) telah memprakirakan kemungkinan terjadinya peningkatan awan dan hujan di Jakarta antara tanggal 15-25 Februari ini.

Pada waktu bersamaan, air laut tengah pasang, sehingga air limpasan (run off) tidak mudah segera masuk ke laut. Dan, karena tempat-tempat parkir sementara air berupa situ, sawah, dan cekungan-cekungan di sepanjang daerah aliran sungai sudah banyak berubah jadi perumahan, satu-satunya kemungkinan hanyalah air menggenangi perumahan itu sendiri. Artinya, bencana banjir memang kemungkinan memang tidak bisa dihindari.

Apalagi kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa hujan lebat selama tujuh jam pada Selasa malam lalu telah mengakibatkan genangan di mana-mana. Ratusan rumah penduduk terendam, kemacetan lalu lintas berlangsung empat jam lebih di banyak ruas jalan, banyak karyawan terpaksa tidak masuk kerja, dan sekolah-sekolah diliburkan.

Tanpa harus menafikan berbagai upaya yang sudah dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, banjir pada Selasa malam hingga Rabu lalu membuktikan bahwa Pemprov DKI memang masih kedodoran dalam melakukan persiapan mengantisipasi banjir.

Gubernur Sutiyoso sendiri mengakui, membebaskan Jakarta dari bencana banjir sangatlah sulit. Yang bisa dilakukan hanyalah berupaya meminimalisasi dampak bencana, termasuk bagaimana mempercepat evakuasi warga dari daerah banjir.

Sejumlah sungai telah dikeruk, antara lain Kali Angke, Saluran Irigasi Bekasi Tengah. Sedangkan, Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah membantu mengeruk Ciliwung, sejak dari Manggarai hingga Karet. Pemerintah juga sudah memulai pembangunan Banjir Kanal Timur, bersama masyarakat membersihkan selokan, membuat pintu-pintu air baru, memperbaiki pompapompa air di rumah pompa, menyiagakan 164 perahu karet, menyewa empat helikopter, sampai ke pasang iklan di berbagai media cetak dan elektronik untuk menyosialisasikan kegiatan pemerintah dalam mengantisipasi banjir.

Menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta, IGK Suwena, untuk mengendalikan banjir di Jakarta sudah disediakan dana Rp 72,48 milyar. Karena anggaran itu baru disahkan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) beberapa waktu lalu, tentu saja belum bisa digunakan untuk menanggulangi bencana banjir tahun ini.

Menurut Suwena, pengendalian banjir pada prinsipnya berpedoman pada Rencana Induk Pengendalian Banjir yang dibuat tahun 1973 oleh Pemerintah RI bersama Konsultan Nedeco (Belanda). Kini, pemerintah bersama Japan International Cooperation Agency/JICA (Jepang) juga sedang mengkaji kemungkinan mengalihkan aliran sungai-sungai di Jakarta agar tidak melewati tengah kota, melainkan mengelilingi bagian barat dan timur (banjir kanal). Aliran air yang tidak tertangkap banjir kanal akan dibangun saluran pengendali banjir.

Sekretaris Daerah (Sekda) Pemprov DKI Jakarta Ritola Tasmaya mengatakan, untuk mengantisipasi banjir tahun ini telah disiapkan 25.846 orang terdiri dari 14.939 orang dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, 4.332 personel dari Tentara Nasional Indonesia (TNI), 6.525 orang dari Kepolisian RI, 30 orang dari SAR (search and rescue), dan 20 orang dari Wanadri.

Dalam hal sarana dan prasarana yang tersedia antara lain perahu karet sebanyak 164 unit, helikopter empat unit, truk pick up sebanyak 163 unit, ambulans 68 unit, dapur umum 176 unit dan posko penampungan 301 lokasi.

PEMERINTAH boleh saja mengaku sudah maksimal berupaya mengantisipasi banjir di Jakarta dan sekitarnya. Akan tetapi, warga hanya melihat dari fakta di lapangan bahwa dari tahun ke tahun bencana banjir tak pernah bisa diatasi tuntas. Pembangunan Kanal Timur yang panjangnya 23,9 kilometer, misalnya, sampai sekarang baru berwujud tiga danau: di Cipinang, Radin Inten, dan Pulo Gebang.

Pemerintah DKI beralasan, tertunda-tundanya proyek Kanal Timur itu karena pemerintah pusat tak segera mencairkan dananya sebesar Rp 17 trilyun dalam waktu 10 tahun. Di lain pihak, pemerintah pusat mempersyaratkan Pemprov DKI membebaskan lahannya dulu agar dana bisa dikucurkan. Kalau silat lidah seperti itu terus berlangsung, kapan kanal timur akan segera dibangun?

Semakin lama proyek tertunda, warga pemilik tanah di sepanjang tepi Jalan Kol Sugiono-Basuki Rahmmat itu, akan menuntut ganti rugi lebih tinggi. Sebab, calon lokasi Kanal Timur itu kini sangat strategis setelah dibangunnya akses jalan poros timur-barat lewat Casablanca.

Pengerukan sungai memang dilakukan di beberapa tempat, tetapi warga Kampung Melayu, Jakarta Timur justru masih menunggu-nunggu pelaksanaan janji pemerintah yang akan mengeruk dan melebarkan Sungai Ciliwung. "Dari dulu pemerintah cuma ngomong Sungai Ciliwung akan diperlebar dan diperdalam. Nyatanya sampai saat ini belum pernah," kata Hadijah Heru (55), warga RW 1,

Begitu pun dengan Syamsudin, warga Grogol Utara, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Pengerukan Kali Grogol yang dilakukan ternyata tidak sampai ke daerahnya. Akibatnya, Kali Sungai Grogol yang di kawasannya hanya selebar 3 meter tidak sanggup menampung air yang datang.

"Selama tahun 2002, kami memang tidak menganggarkan dana untuk menormalisasi sungai, karena biayanya cukup besar. Meskipun demikian lantaran masyarakat meminta, kami tetap melakukan pengerukan sungai dengan dana yang pas-pasan," kata Kepala Dinas PU IGK Suena beberapa waktu lalu.

Selain pengerukan sungai, pemerintah juga sudah membangun beberapa pintu air baru. Akan tetapi, bangunan baru itu ternyata tidak semuanya baik. Ketika permukaan air Ciliwung naik pada hari Selasa dan Rabu lalu, dinding pintu air di kawasan Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan yang lebarnya dua meter itu ternyata bocor. Akibatnya, air yang telah dibuang dengan pompa masuk lagi ke saluran pembuangan pemukiman warga. Untuk sementara, Dinas PU Jakarta mengatasi kebocoran itu dengan tambalan karung pasir.

Dari sisi perawatan peralatan penanggulangan bencana, masih ditemukan sejumlah pompa di gedung-gedung pompa yang ternyata belum berfungsi. Di Gedung Pompa Rawa Badak, satu pompa yang mampu menyedot 5,7 meter kubik air per detik hingga kini masih dalam tahap perbaikan sistem penggerak pompanya. Di Gedung Pompa Ancol, satu dari tiga pompanya, juga masih dalam perbaikan.

Menurut, salah seorang konsultan pengawas perbaikan pompa di Gedung Pompa Rawa Badak, Tulus (32), target mereka untuk menyelesaikan kerusakan tersebut paling lama mencapai tiga minggu ke depan atau sekitar akhir Februari. Padahal, ancaman banjir yang nyata adalah pada pertengahan Februari ini.

SECARA topografis, Jakarta memang ditakdirkan untuk selalu banjir. Kondisi obyektif Jakarta adalah, 40 persen wilayahnya (sekitar 24.000 hektar) merupakan daerah terendah. Beberapa lokasi, terutama di Jakarta Utara, bahkan lebih rendah sekitar satu meter dari permukaan laut saat pasang. Akan tetapi, bisa tertanggulangi baru sekitar 6.000 hektar.

Di zaman Belanda sekali pun, banjir sudah merupakan persoalan serius bagi Jakarta yang kala itu bernama Batavia. Beberapa catatan banjir besar yang pernah terjadi di antaranya tahun 1699 akibat letusan gunung salak. Tahun 1711, penggundulan kawasan hutan di Puncak, Jawa Barat, sudah menyebabkan banjir di Jakarta. Begitu pun tiga tahun kemudian yang menyebabkan lumpuhnya perekonomian dan timbulnya wabah penyakit. Banjir besar juga terjadi pada tahun 1854 dan tahun 1942.

Karena itu, Pemerintah Hindia Belanda dulu membangun banyak situ-situ buatan agar Jakarta terhindar dari bencana. Namun, pembangunan yang pesat dalam 30 tahun terakhir telah menghilangkan semua itu. Bahkan, cekungan-cekungan alami dan sawah-sawah tempat parkir sementara air sudah habis diuruk untuk perumahan.

Ketika Jakarta kehabisan lahan, para pengembang berekspansi ke wilayah pinggiran Jakarta seperti Pondokgede, Cibubur, Cileungsi, Citeureup, Depok, Cibinong, bahkan sampai ke Kota Bogor. Peralihan fungsi lahan di daerah penyangga Jakarta seperti Pondokgede, Cileungsi, dan Cibubur secara otomatis mengubah sistem tata air untuk kawasan Jakarta Timur dan Bekasi. Tidak heran kalau Kali Sunter, Kali Cipinang, dan Kali Bekasi, setiap tahun memuntahkan airnya ke permukiman warga di sekitarnya.... (B17/b15/PIN)


Silahkan lihat file r-i di:
http://yahoogroups.com/group/rimbawan-interaktif
klik messages
terimakasih


Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

Kirim email ke