Mangomentari masalah tasabuik diateh, Pak Wakil Gubernur ko lai urang candiak pandai, lai urang basikola, atau inyoko batua urang Minang. Baliau ka mangaluakan Perda untuak mamudahkan urang lua masuk ka sumatera barat. Kamanjua tanah ulayat ka investor asiang. Baa ko sampai sarupo itu. Kalo amuah niniak mamak, anak kamanakan, urang kampuang manarimo perda ko, sadonyo bisa dibali oleh urang lua, pengusaha dari Malaysia, Singapore dll.Rumah ranggaek pak wakia gubernur bisa dibali urang lua.
Salah satu kalabihan adat Minang diantaronyo adolah bahaso tanah ulayat indak bisa dipajua balikan. Kalau buliah tanah ulayat dipajua balikan, adat minang alah barubah. Urang Minang mampu untuak membangun kampuang halamannyo. Tapi kalo urang minang mambangun kampuangnyo, para pejabat pemda tidak akan mendapat uang pelicin. Seluruh anggota DPRD Sum.Barat dinayatakan tersangka dalam pengelapan uang masyarakat. ----- Original Message ----- From: "Z Chaniago" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Friday, February 07, 2003 8:04 AM Subject: [RantauNet.Com] Raperda Tanah Ulayat Cemaskan Masyarakat > > > > > ====================================================================== > Alam Takambang Jadi Guru > ====================================================================== > > > http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2003020700255937 > > Raperda Tanah Ulayat Cemaskan Masyarakat > > > PADANG (Media): Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Provinsi Sumatra Barat > (Sumbar) tentang Pemanfaatan Tanah Ulayat memunculkan sejumlah kekhawatiran. > > Demikian dikatakan Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Sumbar Zenwen Pador > kepada Media di Padang, kemarin, menanggapi Nota Penjelasan Gubernur Sumbar > Zainal Bakar mengenai Ranperda Tanah Ulayat, di DPRD Sumbar, Selasa (3/2). > > Kekhawatiran itu, kata Zenwen, karena tanah yang selama ini dikuasai oleh > masyarakat adat akan beralih kepada penguasa-penguasa tanah ulayat, seperti > investor dan pemerintah daerah. > > Hal tersebut secara perlahan akan menghilangkan status tanah ulayat di > Sumbar. Sebab, para investor atau penguasa akan lebih banyak menguasai tanah > ulayat, dan akhirnya fungsi hukum adat terhadap tanah ulayat tidak > dipergunakan lagi. > > "Pemimpin adat selama ini tetap menjaga status tanah ulayat. Jika sudah > pindah tangan kepada orang lain, fungsi pemimpin dan hukum adat akan > hilang," ujarnya. > > Zenwen tidak menolak dilahirkannya perda pemanfaatan tanah ulayat. Namun, > Dewan dan Pemprov Sumbar, katanya, harus berpikir lebih jauh ke depan. "Saya > minta jangan menjadi alasan bagi Pemprov dan DPRD Sumbar, tidak jelasnya > status hukum tanah ulayat secara tertulis menghambat investor datang ke > Sumbar. Tetapi, mari kita lestarikan status tanah ulayat secara hukum adat," > katanya. > > Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumbar Muchlis > Muchtar mengatakan, status hukum tanah ulayat yang belum jelas membuat > investasi perkebunan di Sumatra Barat (Sumbar) tidak bergairah. > > Alasannya, investor merasa tidak memiliki kenyamanan dalam melakukan > investasi. Sebab, tanah yang mereka manfaatkan belum ada dasar hukum yang > jelas secara tertulis. > > Menurut Muchlis, sangat banyak investor yang berminat untuk investasi di > Sumbar, terutama di bidang perkebunan. Namun, terkendala status tanah ulayat > yang belum jelas, membuat mereka mengurungkan niatnya. Seperti yang terjadi > pada beberapa investor dari Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand. > > Salah satu kendala di lapangan selama ini, katanya, adanya tuntutan-tuntutan > masyarakat bahwa tanah yang dipakai investor adalah tanah ulayat masyarakat. > Tetapi kemungkinan dalam pemberian ganti rugi, anak kemenakan tidak > dilibatkan. > > "Selama ini yang dilibatkannya pemangku adat seperti datuk di desa. Itu kita > anggap bisa menyelesaikan persoalan tanah. Tetapi kenyataannya tidak, dan > banyak anak kemenakan yang menuntut tanah mereka. Oleh karena itu, kita > perlu membuat perda tentang status tanah ulayat sebagai tuntutan masyarakat > dan tuntutan investasi," ujar Muchlis. > > Wakil Gubernur Sumbar Fachri Ahmad mengatakan, adanya kepastian hukum > terhadap tanah ulayat di Sumbar akan mempermudah pemda menarik investor. > Jika perda yang mengatur, ada kejelasan batas tanah ulayat dengan tujuan > akhir memfungsikan tanah ulayat menjadi ekonomis. > > Secara umum, kata Fachri, tanah ulayat telah diatur dalam UU Nomor 5 Tahun > 1960 tentang Dasar Pokok-pokok Agraria. Intinya mengakui keberadaan hak > ulayat sepanjang kenyataannya masih ada dan tidak bertentangan dengan > kepentingan nasional dan negara. > > Namun, pengakuan tersebut belum pernah diatur lebih lanjut dalam peraturan > perundang-undangan sebagai pelaksananya. > > Seperti penguasaan tanah ulayat di Sumatra Barat yang menganut sistem > matrilineal. > > "Dalam kondisi saat ini sangat menghendaki agar peraturan perlu diwujudkan > dalam bentuk hukum tertulis. Sehingga dapat memberikan jaminan kepastian > hukum bagi siapa saja yang berkepentingan terhadap tanah ulayat," katanya > > > _________________________________________________________________ > MSN 8 helps eliminate e-mail viruses. Get 2 months FREE*. > http://join.msn.com/?page=features/virus > > > RantauNet http://www.rantaunet.com > Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 > =============================================== > Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe, > anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini. > > Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 > =============================================== > RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe, anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini. Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ===============================================

