Title: Pengusaha (1)

MENJADI PENGUSAHA

PENGANTAR

Pelaku bisnis dalam kasus ini adalah

            Anton           :       Mantan pegawai bank yang kena PHK.

            Boy             :       Teman sekelas Anton di SMA yang sudah bosan jadi pegawai di sebuah perusahaan agro-bisnis.

            Chris           :       Teman sekuliah Boy di Fak Ekonomi yang drop-out dan kemudian menjadi pengusaha toko barang elektronik.

Danang  :       Seorang eksekutif yang memimpin sebuah perusahaan dengan baik sehingga sejak dibawah pimpinannya perusahaan menghasilkan keuntungan yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

            Nina            :       Istri Anton, bekerja di perusahaan yang dipimpin Danang sebagai sekretaris Danang.

        Nama-nama tersebut di atas adalah fiktif belaka, demikian juga alur cerita dalam Studi Kasus ini. Bila ternyata ada kesamaan dengan nama dan/atau pengalaman seseorang, anggaplah hal itu hanyalah suatu kebetulan saja.


        Anton terkena PHK dari tempatnya bekerja di sebuah bank. Dari dulu dia memiliki cita-cita untuk menjadi pegawai bank. Sekarang, setelah 15 tahun bekerja, dia tidak menyangka menemukan dirinya menjadi seorang pengangguran. Sama sekali tidak terpikir olehnya bahwa bank juga bisa bankrut. Walaupun pesangon yang diperolehnya cukup lumayan, Rp.25,000,000.- tapi menjadi pengangguran terasa sangat tidak menyenangkan, terutama melihat tetangga-tetangga yang pagi-pagi sudah berangkat ke kantor seperti biasa.

        Hari ini hari libur, sehingga terlihat beberapa tetangga sedang bercengkrama dengan anak-anak mereka di depan rumah. Tapi ia merasa sangat iri sehingga malas menemui mereka. Sudah pasti mereka akan menanyakan, “Pak Anton sekarang kerja dimana?”.

        Surat Undangan Reuni SMA yang sudah diterimanya seminggu yang lalu dipegangnya dan kemudian ditaruhnya kembali di meja. Diambil, dilihat dan kemudian ditaruhnya kembali di meja. Demikian sampai diulangnya beberapa kali. Sudah jam 9.00 tapi dia belum dapat memutuskan mau ikut reuni atau tidak.

        Tiba-tiba telepon berbunyi. Ternyata Boy, temannya sekelas waktu di kelas III/6 di SMA dulu. “Hallo Anton, ini Boy. Kita ketemu di reuni, ya? Jangan sampe nggak dateng lho! Tini yang demen sama ‘lu dulu, pasti dateng”, berbicara Anton di ujung saluran telepon.

        “Aduh Boy, dari tadi rasanya males banget gue mau pergi. ‘Lu tahu sendiri, gue nggak punya kendaraan. Malu ‘kan, kalau gue turun dari bajaj di depan gedung pertemuan?”.

        “Lu, sih, dulu waktu masih kerja, gue ajak nyicil beli mobil kayak gue, ‘lu nggak mau. Lihat sekarang, cicilan gue sudah lunas, mau dijual terserah gue. Udah, gini aja, ‘lu gue jemput”, kata Boy. ”Kita pergi sama-sama. ‘Lu sekarang dandan aja dulu sambil nungguin gue dateng, oke?”.

        Anton terdiam, tidak bisa bicara apa-apa lagi karena tidak punya alasan lagi yang tepat. Akhirnya dia menjawab, “Iya deh”.

        “Nah, gitu dong”, kata si Boy sambil menutup telepon.

        “Siapa bang?”, tanya Nina istri Anton.

        “Si Boy ngajakin ke reuni. Abang rasanya malas banget mau pergi”, jawab Anton.

        “Sudah, pergi saja, siapa tahu ada yang bisa bantu nyariin lowongan pekerjaan”, kata Nina memberi semangat.

***

        Cukup ramai yang datang di acara reuni. Mereka berkelompok-kelompok, ada yang satu-angkatan, apalagi yang sekelas. Sayang Tini tidak muncul, jadi kurang seru. Teman-teman yang seangkatan dengan Anton dan Boy juga tidak kelihatan. Yang ramai datang adalah angkatan yang muda-muda. Jadi mereka mojok saja berdua. Ada acara pidato-pidato, sambutan-sambutan, tapi masing-masing juga “pidato” ke teman-teman yang lain dalam kelompok masing-masing. Jadinya, yang pidato...pidato.... Yang ngobrol kangen-kangenan, terus saja ngobrol.

        “Gue heran,” kata Anton, “Sampai dengan minggu lalu, ada 50 lebih surat lamaran yang sudah gue tebarin, satu juga nggak ada yang nyahutin”.

        “Anton! Gue heran. ‘Lu tuh udah di-PHK, udah dapet pesangon, kok...malah ingin balik lagi  jadi pegawai, sih? Gue nih, lagi ngarepin di-PHK banget, tau nggak. ‘Lu ‘kan tahu, Perusahaan tempat gue kerja adalah perusahaan agro-bisnis. Nah, gara-gara salah satu perusahaan agro-bisnis lain bikin kacau, akibatnya para nasabah/investor pada dateng ke kantor gue minta duitnya dikembaliin. Untung saja masih ada beberapa investor yang masih bisa diyakinin sama bos gue. ‘Lu bisa ngebayangin, gimana keadaan di kantor gue sekarang.  Teman-teman gue sekantor udah pada was-was bakal di-PHK. Gue cuman kuatir aja mengingat kondisi keuangan perusahaan sekarang, kalau seandainya gue di-PHK, gue bakal dapat pesangon berapa, ya?”.

        Setelah sama-sama terdiam sejenak, Anton menjawab lirih, ”Bukannya gue ingin jadi pegawai lagi, Boy. Hanya saja, kalau nggak jadi pegawai, mau jadi apa? Wiraswasta? Usaha apa?”.

        “Udah, gini aja”, jawab si Boy. “Dari sekarang kita pasang tekad aja, bahwa kita, ‘lu sama gue harus, sekali lagi harus jadi pengusaha. Paling tidak, pesangon ‘lu itu  ‘kan bisa dijadiin modal permulaan. Soal usaha apa yang akan kita lakukan, nanti kita cari pembimbing untuk ngedapatin ide”.

        “Siapa yang akan membimbing kita?”

        “Ya, gue bilang ‘kan dicari dulu”. Tiba-tiba lanjutnya. ”Aaa... gue ingat sekarang. Si Chris, teman kuliah gue di Ekonomi dulu, dia nggak nerusin kuliah gara-gara babenya meninggal mendadak. Dan dari 6 bersaudara, cuma dia yang bisa melanjutkan usaha babenya. Gue lihat dia telah menjadi pengusaha sukses. Gue akan nemuin dia dulu. Nanti elu gue kasih khabar, kalo gue sudah dapat ide dari dia”.

***

        Si Chris tersenyum kecut saja mendengar puji-pujian Boy bahwa ia telah menjadi seorang pengusaha sukses walaupun dia drop-out kuliah. “Sukses itu relatif, Boy,” kata si Chris mencoba memulai untuk menjelaskan kondisinya sekarang. “Terus terang aja, sekarang ini, boleh dibilang gue sudah tidak memiliki sisa waktu untuk ngurusin diri sendiri, apalagi ngurusin anak bini. Apa ini yang ‘lu bilang gue sukses ?”.

        Tiba-tiba seorang karyawannya nyelonong masuk, “Bos, itu yang beli TV home theatre kemarin nanya, kapan barangnya akan diantar ?”.

        “Ya, bilang aja akan diusahakan hari ini, paling lambat besok sore”.

        “Ya, Bos,” kata si karyawan nyelonong lagi ke luar.

        “Tuh, ‘lu lihat sendiri, kerjaan yang kayak gitu aja nanya dulu sama gue. Gimana gue bisa ninggalin. Pada hal sudah tahu kalau barangnya sudah bisa diambil di gudang distributor hari ini. Masalahnya memang mobilnya sedang dipake untuk nganterin yang lain dulu”.

        Chris menarik napas panjang. Jelas terlihat bahwa dia sudah terlalu lelah mengurusi usahanya. Lalu lanjutnya, “Kalau hari ini gue nggak ada di sini, toko ini nggak ada yang ngurusin, harus tutup. Begitu juga besok, lusa dan seterusnya. Kalau tutup satu hari saja, gue kehilangan omzet rata-rata puluhan juta per hari”.

        “Tapi keuntungannya ‘kan lumayan gede juga, Chris,” si Boy mengomentari.

        “Iya, betul, tapi resikonya juga gede. Kalau gue sebutin apa resikonya, gue khawatir ‘lu nggak akan paham sebelum ngerti seluk-beluk dagang barang elektronik ini.” Lalu, “Sebentar ya ...”, Chris ke luar ruangan kantornya karena mendengar suara ramai di ruangan toko. Ternyata ada tamu yang ingin membeli TV yang menggunakan teknologi digital, tapi karyawannya menunjukkan TV yang bukan digital sehingga timbul pertengkaran.

        Chris kembali duduk di kursinya sambil mempersilahkan Boy meminum minuman dingin yang sejak dari tadi sudah dikeluarkannya dari kulkas. “Lu sih enak,” kata si Chris melanjutkan. “Jadi pegawai, tinggal ngerjain apa yang disuruh. Akhir bulan terima gaji. Nggak ada resiko.”

        ”Itu yang ingin gue katakan Chris,” jawab si Boy, “Ternyata jadi pegawai juga berisiko.”

        “Ah, yang bener,” kata si Chris.

        “Nyatanya gue sekarang sedang dibayang-bayangin PHK, karena perusahaan tempat gue kerja kelihatannya udah mau bangkrut.” Lalu lanjutnya, “Tapi gue sih maunya di-PHK beneran, bosen gue jadi pegawai, Chris. Begini-begini terus dari dulu.”

***

       

***************
DISCLAIMER:
Privileged/Confidential information may be contained within this message. If you are not the intended recipient, you must not use, copy, retain, distribute, or disclose any of its content to others. Instead, please notify the sender immediately and then delete this e-mail entirely. We have checked this e-mail for any viruses and harmful components however; we cannot guarantee it to be secured or virus free. PT Perusahaan Pelayaran EQUINOX does not accept any responsibility for any damages or any consequences therefrom.

Kirim email ke