MENJADI PENGUSAHA
PENGANTAR
Pelaku bisnis dalam kasus ini adalah
Anton : Mantan pegawai bank yang kena PHK.
Boy : Teman sekelas Anton di SMA yang sudah bosan jadi pegawai di sebuah perusahaan agro-bisnis.
Chris : Teman sekuliah Boy di Fak Ekonomi yang drop-out dan kemudian menjadi pengusaha toko barang elektronik.
Danang : Seorang eksekutif yang memimpin sebuah perusahaan dengan baik sehingga sejak dibawah pimpinannya perusahaan menghasilkan keuntungan yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Nina : Istri Anton, bekerja di perusahaan yang dipimpin Danang sebagai sekretaris Danang.
Nama-nama tersebut di atas adalah fiktif belaka, demikian juga alur cerita dalam Studi Kasus ini. Bila ternyata ada kesamaan dengan nama dan/atau pengalaman seseorang, anggaplah hal itu hanyalah suatu kebetulan saja.
“Kok, datang-datang kelihatan loyo begitu, jalanan macet, ya?” kata Anton menyambut kedatangan si Boy.
“Gue sih udah biasa dengan jalanan macet. Mau lewat mana juga pasti kena macet,” kata Boy sambil menutup pintu mobilnya. “Yang bikin gue loyo, ternyata si Chris cuma ngasi gue dilemma!”, lanjutnya.
“Oh, jadi ‘lu udah ketemu si Chris teman ‘lu itu. Ceritain dong....” kata Anton sambil mempersilahkan Boy duduk di ruang tamunya.
“Iya, udah. Sengaja gue datang ke tokonya. Tapi boro-boro dia ngasi gue ide tentang mau usaha apa, malah dia bilang... apa coba. Dia bilang, sebaiknya gue jadi pegawai aja karena nggak ada resiko.”
“Terus ?”, tanya Anton.
“Ya, akhirnya dia cuma melongo setelah gua bilang bahwa sekarang gue sedang menghadapi resiko bakal di-PHK.”
Dua-duanya lalu menarik napas panjang. Boy lalu meneruskan ceritanya tentang si Chris, “Gue sama teman-teman yang lain menyangka bahwa si Chris itu sudah jadi seorang pengusaha yang berhasil. Waktu itu pernah ada teman yang tahu alamat rumahnya. Teman gue ini mula-mula datang ke kantor mau minjam duit sama gue untuk suatu keperluan yang mendesak. Gue bilang, gue nggak punya duit, gaji gue pas-pasan, jadi nggak pernah bisa nabung. Beli mobil aja, nyicil potong gaji. Akhirnya teman ini minta diantarin ke rumah si Chris habis jam kantor. ‘Lu sendiri kalau melihat rumahnya pasti berdecak kagum. Bayangin aja, rumahnya di real-estate. Tapi dia nggak ada di rumah, belum pulang. Biasanya kalau pulang udah larut malam, kata bininya. Itu sebabnya kalau gue pengen nemuin dia, mendingan ke tokonya aja. Eh, tau-taunya dia malah mengatakan bahwa jika kita-kita ini kalau pengen jadi pengusaha jangan jadi pengusaha kayak dia.”
“Kalau gitu, yang namanya pengusaha yang berhasil itu yang kayak gimana ya, Boy?” tanya Anton menimpali.
Nina, istri Anton, membawa nampan dari dapur berisi 1 ceret teh lengkap dengan 3 set cangkir, 1 mangkok kecil gula pasir dan 2 stoples berisi kue kering. Dia tahu kalau 2 orang sahabat lama ini ketemu biasanya akan ngobrol lama.
Sambil menuangkan teh ke cangkir masing-masing, Nina yang sejak tadi mendengar percakapan mereka, menambahkan, “Pak Danang aja, katanya sampai sekarang masih belum merasa jadi pengusaha, pada hal dia menjabat sebagai Direktur di perusahaan tempat saya bekerja. Dia malah menyarankan agar saya jangan selamanya menjadi pegawai. Suatu saat katanya, saya harus mulai merintis menjadi seorang pengusaha, walaupun sebenarnya dia sadar kalau sarannya itu akan menyebabkan dia sendiri akan kehilangan seorang sekretaris yang piawai dalam membantu dia menjalankan tugas sehari-hari sebagai eksekutif. Pernah dia menerangkan pengertian tentang pengusaha, atau istilah dia kalau nggak salah yaitu “Business-Owner”, atau apa, ya.... saya lupa-lupa ingat... Sedangkan tentang apa bedanya antara direktur atau eksekutif seperti dia dengan pengusaha, saya juga masih belum begitu paham.”
“Nah, kalau gitu kenapa kita nggak ke Pak Danang aja ngobrol-ngobrol untuk cari ide atau minta bimbingan.” kata si Boy. “Nina, bisa nggak minta waktu beliau untuk kita temui, tapi di rumah, biar pembicaraan kita nggak diganggu oleh urusan kantor”, lanjutnya.
“Saya akan coba, mudah-mudahan beliau bersedia”, kata Nina seraya melanjutkan. “Saya yakin Pak Danang pasti juga menginginkan Bang Anton supaya merintis jadi pengusaha aja ketimbang jadi pegawai lagi, dan beliau pasti bersedia membimbing. Bagi saya yang penting agar Bang Anton segera punya kesibukan. Bayangin kalau saya kerja, Bang Anton ‘kan sendirian di rumah, karena kami belum dikaruniai anak. Gosip tetangga-tetangga selalu ada aja dari hari ke hari. Walaupun saya percaya terhadap kesetiaan Bang Anton kepada saya, sama seperti percayanya Bang Anton terhadap kesetiaan saya kepadanya, tapi kalo dengerin gosip-gosip yang nggak karuan itu nyebelin juga.”
Anton hanya senyum mesem-mesem saja mendengarkan celoteh istrinya.
***
“Kalian sudah beli buku yang diterbitkan oleh M. A. Dani & Associates belum?” tanya Danang membuka pembicaraan.
“Buku tentang apa itu Pak?” Anton balik bertanya.
“Buku tentang menjalankan suatu usaha (bisnis). Sebentar, akan saya ambil dulu. Buku itu selalu saya simpan di rak buku saya, agar mudah dan cepat menemukannya. Saya selalu menggunakannya sebagai buku petunjuk (manual) untuk menemukan permasalahan yang terjadi sehari-hari dalam perusahaan yang saya pimpin.”
Tidak lama kemudian Danang sudah kembali dengan membawa buku yang dimaksud sambil berkata, “Ini bukunya, dan ini judulnya kalian dapat baca sendiri ‘Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis’. Bagi seorang ilmuwan mungkin melihat buku ini isinya tidak ada apa-apanya. Akan tetapi bagi seorang praktisi bisnis seperti saya, isinya sangat praktis dan mudah dipelajari, namun memerlukan pemahaman yang sungguh-sungguh sebelum dapat mempraktekkannya dengan benar, terutama tentang batasan-batasan ‘Fungsi Bisnis’ dalam kerangka kerja yang dinamakan ‘Kerangka Proses Bisnis’.”
“Nyari buku itu dimana Pak?”, tanya si Boy.
“Di toko buku Gramedia atau Gunung Agung ada. Tanya aja kepada pelayan tokonya.” kata Danang dan kemudian melanjutkan, “Buku ini akan menuntun mereka yang baru ingin memulai menjalankan suatu usaha (bisnis) seperti kalian, atau mereka yang ingin meningkatkan kinerja usaha (bisnis) yang sedang berjalan. Terus terang setelah membaca buku ini saya baru dapat membedakan antara ‘Pengusaha (Business Owner)’ dengan ‘Pelaksana (Eksekutif)’.
Selama ini rupanya para pemegang saham yang telah menunjuk saya sebagai direktur eksekutif tanpa sadar telah menyuruh saya merangkap kedua peranan itu. Pada hal sebetulnya masing-masing peranan itu dapat dilaksanakan oleh orang yang berbeda, sehingga peranan seorang Pengusaha betul-betul akan terpusat pada apa yang dinamakan ‘Menyusun Sistem Bisnis’, dan peranan seorang Pelaksana/Eksekutif betul-betul akan terpusat pada apa yang dinamakan ‘Memimpin Jalannya Sistem Bisnis’.”
Nina kemudian menambahkan, “Terus terang Pak, sampai sekarang saya masih belum paham tentang perbedaan antara kedua peranan itu.”
“Sekarang begini saja,” lanjut Danang, “Kalian dapatkan dan kemudian pelajari dulu isi buku ini. Kalau tidak, saya kuatir pembicaraan kita ini ‘tidak nyambung’. Setelah kalian merasa sudah cukup siap, kasih tahu Nina agar dia mengatur pertemuan kita lagi, Oke?”
***
Hari Minggu pagi yang sangat cerah. Taman di belakang rumah Danang yang cukup luas dan terawat membuat suasana pagi yang tenang dan santai, sehingga sangat menunjang pembicaraan yang memerlukan pemahaman yang serius tentang ‘menjadi pengusaha’. Mereka, Anton, Nina, Boy dan Danang, duduk mengelilingi sebuah meja bundar di teras yang menghadap ke taman itu. Istri Danang muncul sebentar sambil mempersilahkan tamu-tamunya mencicipi kue-kue serta minuman teh yang telah terhidang, lalu masuk kembali ke dalam rumah.
“Seperti telah kalian baca dalam buku”, kata Danang memulai pembicaraan. “Seorang pengusaha (business owner) bisa saja merangkap sebagai pemilik perusahaan (company owner), akan tetapi pemilik perusahaan belum tentu adalah pengusaha. Kemungkinan pemilik perusahaan hanyalah seorang investor yang kebetulan memiliki saham lebih dari 50%, sehingga harus ada orang lain yang berperan sebagai pengusaha, yaitu memikirkan tentang usaha (bisnis) yang akan dijalankan dan menyusunnya ke dalam bentuk ‘Rencana Bisnis’. Untuk menjaga agar Rencana Bisnis terlaksana dengan sebaik-baiknya, seorang pengusaha masih perlu menyusun suatu ‘Prosedur Operasional’, sehingga terbentuklah apa yang dinamakan ‘Sistem Bisnis’. Sebagaimana definisi ‘Pengusaha’ yang kalian baca dalam buku, maka seorang pengusaha perlu mencari dan menugaskan/membayar seseorang untuk menjalankan Sistem Bisnis itu, dan orang itulah yang disebut pelaksana atau eksekutif”. Danang kemudian berhenti sejenak sambil meminum teh dan memakan kue yang ada.
“Kalau begitu seharusnya Bapak berperan sebagai pengusaha saja, karena hanya Bapak-lah yang paling menguasai seluk-beluk bisnis yang dijalankan oleh perusahaan kita sehingga hanya Bapak-lah yang berkompeten untuk menyusun ‘Rencana Bisnis’ dan ‘Prosedur Operasional’. Untuk menjalankan ‘Sistem Bisnis’ Bapak harus menunjuk seseorang yang Bapak anggap cocok.” kata Nina mengomentari.
“Itu memang yang menjadi tujuan saya sekarang”, kata Danang. “Tapi belum dapat saya capai dalam waktu yang singkat. Pertama, oleh karena seperti kamu lihat, saya sehari-hari sibuk sebagai eksekutif, sehingga waktu yang tersisa untuk menyusun Rencana Bisnis sangat terbatas. Kedua, saya belum menemukan seseorang di dalam perusahaan, yang saya anggap cocok sebagai calon eksekutif yang untuk sementara waktu calon tersebut dapat membantu saya menyelesaikan penyusunan Sistem Bisnis. Maksud saya kalau dari sekarang dia ikut membantu saya menyusun Sistem Bisnis, maka dengan sendirinya kelak dia tidak akan menemui kesulitan dalam menjalankannya.Saya merasa sangat berterima kasih kepada ‘M. A. Dani & Associates’ yang telah menyusun dan menerbitkan buku ini sehingga dapat dipakai sebagai penuntun. Saya tidak dapat membayangkan berapa lama waktu yang akan saya habiskan untuk menyelesaikannya seandainya tidak ada buku ini. Namun demikian masalah ketiga adalah bahwa walaupun sudah ada buku ini yang dapat saya gunakan sebagai tuntunan sehingga mempercepat saya dalam menyusun Sistem Bisnis, akan tetapi dalam beberapa hal saya masih menemui kesulitan pada waktu menguraikan ‘Kerangka Proses Bisnis’ ke dalam bisnis yang sedang saya jalankan. Saya hanya berharap ‘M. A. Dani & Associates’ dapat membantu saya mengatasinya.
“Sekarang saya baru paham,” kata Nina. “Kenapa Bapak bilang kalau sampai sekarang ini Bapak belum sepenuhnya dapat disebut sebagai pengusaha.”
“Pak...” kata Anton. “Semula Boy dan saya mempertanyakan yang disebut pengusaha yang sukses itu yang kayak bagaimana, kemudian setelah membeli buku ini dan membacanya sebagaimana yang Bapak anjurkan, ditambah lagi dengan uraian dari Bapak tentang “pengusaha yang belum merasa jadi pengusaha”, maka yang memenuhi benak kami sekarang ini bukan lagi tentang menjadi pengusaha Pak, apalagi tentang “pengusaha yang sukses”, akan tetapi tentang usaha apa yang akan kami jalankan.”
“Iya Pak,” kata Boy menambahkan. “Masalahnya dalam buku ini tidak kami temukan petunjuk tentang usaha apa yang sebaiknya kami jalankan”. Danang tersenyum lebar mendengar pertanyaan Anton dan Boy, lalu mempersilahkan lagi tamu-tamunya untuk menikmati minuman dan kue-kue yang masih ada.
“Begini,” Danang melanjutkan. “Dari judulnya saja sudah jelas bahwa isi buku ini tidak menyangkut tentang usaha (bisnis) tertentu, akan tetapi tentang menjalankan usaha (bisnis) secara sistematis, tidak tergantung jenis, besar, kecil, baru memulai atau sedang berjalan. Kalau kalian ingin mencari ide tentang usaha apa yang sebaiknya kalian jalankan, harus kalian cari di luar buku ini. Namun demikian ada sesuatu yang menyangkut hal itu yang saya dapatkan selama saya menggunakan buku ini sebagai tuntunan. Sudut pandang dan alur berpikir yang menjadi dasar sistematika ini menuntun saya dalam menemukan ide tentang produk baru atau mengembangkan produk yang sudah ada, yang berarti akhirnya saya menemukan ide tentang merintis suatu usaha baru atau mengembangkan usaha yang sedang saya jalankan. Saya juga pernah menanyakan lewat telpon kepada penulis buku ini barang kali dia punya contoh ‘Sistem Bisnis’ di bidang usaha yang sama seperti bidang usaha yang saya jalankan sekarang ini. Dia menjawab bahwa sebagaimana halnya sebuah coin mempunyai dua buah sisi, begitu juga halnya menjalankan usaha (bisnis). Sisi yang satu adalah ‘Teknis Berbisnis’ dan sisi lainnya adalah ‘Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis)’. Pertanyaan saya, katanya menjelaskan, menyangkut sisi Teknis Berbisnis yang sangat tergantung kemampuan pengusaha/pebisnis yang bersangkutan. Kalaupun dia punya dan pernah sukses menjalankannya, katanya melanjutkan, belum tentu saya bisa sukses menjalankannya seperti dia. Teknis berbisnis dia bisa saya tiru, katanya lagi, akan tetapi tidak akan bisa saya kuasai. Namun demikian Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) yang baik akan menuntun kita untuk menemukannya, bahkan sekaligus menjadi kerangka kerja dalam menjalankan/menggunakan kemampuan ‘teknis berbisnis’ kita. Begitu katanya.”
Setelah meneguk minuman sedikit karena merasa tenggorokannya kering, Danang melanjutkan, “Pada waktu itu saya belum paham betul tentang ‘teknis berbisnis’ yang dia maksud dan saya hanya mengucapkan terima kasih saja dan kemudian menutup telpon. Tapi saya terus berusaha memahaminya sehingga lama-lama baru saya paham kenapa dia mengibaratkan seperti dua sisi dari sebuah coin, karena memang secara alamiah, begitulah sebuah coin. Kedua sisi itu harus ada.”
Anton, Nina dan Boy sama-sama terdiam. Mungkin juga sedang berusaha memahami apa yang dimaksud dengan ‘Teknis Berbisnis” itu. Melihat mereka terdiam Danang mengusulkan, “Bagaimana kalau kita lanjutkan pada pertemuan berikutnya, hari dan waktu yang sama. Nina, ingatkan saya, ya?”
“Saya catat Pak, pertemuan berikutnya berarti hari Minggu depan, jam 9:00 - 11:00.” kata Nina.
“Pak,” kata Boy memotong, “Saya memiliki teman sewaktu kuliah dulu di Ekonomi, tapi dia drop-out dan sekarang telah menjadi pengusaha toko barang elektronik. Bagaimana kalau dia saya ajak ikut dalam pertemuan kita yang akan datang, Pak? Maksudnya sih, saya ingin denger juga komentar dari seorang pengusaha seperti dia tentang hal-hal yang akan kita bicarakan nanti.”
“Hmmm, boleh . . ., boleh aja. Sekarang kita akhiri dulu pertemuan kita hari ini, ya? Soalnya sebentar lagi saya harus pergi karena ada janji menemui seseorang.”
***
***************
DISCLAIMER:
Privileged/Confidential information may be contained within this message. If you are not the intended recipient, you must not use, copy, retain, distribute, or disclose any of its content to others. Instead, please notify the sender immediately and then delete this e-mail entirely. We have checked this e-mail for any viruses and harmful components however; we cannot guarantee it to be secured or virus free. PT Perusahaan Pelayaran EQUINOX does not accept any responsibility for any damages or any consequences therefrom.

