----- Original Message ----- 
From: Arnoldison <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, March 18, 2003 11:31 AM
Subject: [surau] Dendam Kultural Lelaki Minang dalam Sastra


> Dendam Kultural Lelaki Minang dalam Sastra
>  
> Kedudukan  kaum  lelaki  di Minangkabau memang unik, terutama di dalam
> masyarakat   tradisionalnya.   Keunikan   ini   berakar   dari  kultur
> matrialineal   yang   hingga   kini   masih   dianut  oleh  masyarakat
> Minangkabau.  Salah  satu  keunikan  itu  adalah  kaum lelakinya tidak
> memiliki hak warisan atas pusaka turunan. Yang berhak menerima warisan
> pusaka dari orangtuanya adalah kaum perempuan. Selain dari itu, lelaki
> minang  juga tidak menurunkan suku (marga)-nya kepada anaknya sendiri,
> melainkan kepada anak saudara perempuannya atau kemenakan.
> 
> Jika   pun   seorang  lelaki  berdiam  di  rumah  orangtuanya  setelah
> berkeluarga dan menggarap sawah ladang orang tuanya sendiri, itu bukan
> berarti  ia  dapat menurunkan warisan itu kepada anak-anaknya kalau ia
> meninggal nanti, sekalipun lelaki itu tidak memiliki saudara perempuan
> seayah-seibu,  toh  masih  ada saudara perempuan sepupu untuk menerima
> warisan  itu.  Malah,  tinggal dan menggarap sawah ladang di rumah dan
> tanah orangtua sendiri, di tanah Minang adalah aib.
> 
> Dari sudut pandang patrialineal, status kaum lelaki di Minangkabau itu
> menyedihkan.  Tapi,  bagaimanakah  hal  itu  dapat diterima oleh orang
> Minangkabau  sendiri tanpa protes? Buktinya, hingga saat ini belum ada
> perubahan  yang  signifikan.  Kalau  pun terjadi anak-anak suku Minang
> menerima  warisan  dari  orangtuanya, sudah barang tentu harta warisan
> itu   tidak   berasal  dari  warisan  turun-temurun  (pusaka  tinggi),
> melainkan  harta  yang berasal dari tetes keringat orangtuanya sendiri
> atau yang disebut dengan pusaka rendah.
> 
> Sebenarnya,  bagi  kaum  lelaki  yang ditakdirkan lahir sebagai lelaki
> dari etnis Minangkabau, bukan tidak berdampak atas perlakuan adat yang
> tidak   kenal  kompromi  itu.  Jika  diteliti  secara  cermat,  nuansa
> melangkolis   begitu   kental   ditemukan   di  dalam  sastra  tradisi
> masyarakatnya  seperti  di  dalam pantun, kaba dan nyanyian, baik yang
> masih  lisan  maupun yang sudah tertulis di dalam aksara Jawi atau pun
> Melayu.
> 
> Nuansa  melankolis  itu  lebih  merupakan  dendam yang laten ketimbang
> protes. Dampak dari dendam laten itu berujud menjadi perilaku merantau
> yang  pada  dasarnya  adalah pencarian harga diri. Jika tidak ada yang
> memiliki  di  kampung halaman sendiri, di luar tanah Minang pasti ada,
> sekurang-kurangnya   pergi   belajar   dalam   arti  yang  luas  untuk
> mendapatkan martabat sebagai lelaki. Agaknya, itu merupakan salah satu
> faktor mengapa orang Minang sangat concern dengan dunia pendidikan.
> 
> Tentang  kegelisahan  anak  lelaki  yang  mulai dewasa di Minangkabau,
> terlukis  dalam  pantun  ''merantau''  yang  sangat lazim dipakai oleh
> tukang  kaba (tukang cerita lisan) melalui rebab, saluang, atau teater
> randai adalah seperti berikut:
> 
> ''karatau madang di hulu 
> berbuah berbunga belum 
> merantau bujang dahulu 
> di rumah berguna belum'' 
> 
> Merantau  sejak  usia muda pada dasarnya adalah belajar menjadi orang.
> Entah akan menjadi pemilik warung padang, meskipun pada awalnya adalah
> tukang cuci piring. Mungkin akan menjadi pendekar, karena pada awalnya
> kalah  berkelahi.  Atau  menjadi  pedagang  yang  sukses di pasar kota
> rantau,  meski  pada  awalnya  menjadi pengecer di kaki lima, atau pun
> mencopet di atas bus kota. Boleh jadi menjadi da'i kondang karena pada
> awalnya  tidur  di  masjid/langgar.  Atau  juga menjadi ilmuwan karena
> belajar  di  perguruan tinggi formal. Namun, amat jarang terdengar ada
> orang  Minang sukses merantau karena menjadi tentara, kecuali di zaman
> Orde  Baru  yang  memungkinkan tentara atau polisi menjadi bupati atau
> gubernur.
> 
> Bagaimanakah  profil  lelaki  Minang di dalam sastra Indonesia modern?
> Kalau  karya  sastra  itu merupakan cerminan masyarakat di mana sastra
> itu  lahir,  katakanlah  sastra  Indonesia  modern  yang  berlatar dan
> ditulis  oleh  pengarang Minang, profil lelaki Minang itu sudah barang
> tentu  terefleksi  di dalamnya. Ambillah contoh misalnya novel ''Salah
> Asuhan''  yang  ditulis oleh Abd. Muis sebelum perang (menurut batasan
> Teeuw),  dan  novel  ''Warisan''  karya Chairul Harun yang ditulis dan
> diterbitkan  sesudah  perang,  keduanya  terlukis  jelas  sosok lelaki
> Minang yang menyimpan dendam kultural itu.
> 
> Hanafi, tokoh utama novel ''Salah Asuhan'', adalah sosok lelaki Minang
> yang  tidak  berterima dengan adat Minang yang mengharuskannya menjadi
> suami  perempuan  Minang  (Rafiah).  Karena  Hanafi yang berpendidikan
> Eropa  itu  sadar  betul  dengan  kedudukan  dan  martabatnya  sebagai
> laki-laki. Sementara menurut adat, suami tidak berhak memiliki apa pun
> di  rumah  istrinya, kecuali istrinya sendiri. Ia diperlakukan sebagai
> tamu  abadi yang terhormat, tetapi tidak berhak mengatur di rumah itu,
> sekalipun  mendidik  anaknya sendiri. Karena pendidikan anaknya adalah
> tanggung  jawab  mamak  anak  itu  sendiri,  yakni  saudara  laki-laki
> istrinya.  Protes  keras Hanafi adalah meninggalkan istrinya dan nekat
> mengawini  Corrie  yang  gadis  Indo dan berbudaya Eropa. Namun dilema
> yang  dihadapi  Hanafi  ialah  tercerabut dari akar budaya sendiri dan
> sekaligus dibencinya itu, membuatnya hancur.
> 
> Sementara  itu, novel ''Warisan'' yang ditulis Chairul Harun pada masa
> sesudah perang, mengungkapkan bentuk dampak dendam kultural itu dengan
> menggauli tiga orang perempuan muda sekaligus, ketika ia berkesempatan
> pulang  mengurus  kematian  ayahnya  yang  juga mewariskan dendam itu.
> Sebenarnya,  peristiwa itu terjadi juga didukung oleh suasana tradisi,
> di  mana  kaum  perempuan  justru merasa bangga memiliki banyak suami,
> meskipun  dengan  jalan  kawin-cerai (bukan poliandri). Karena menurut
> pandangan  tradisi  (dampak adat), seorang perempuan akan mendapat cap
> ''tidak  laku''  kalau  hanya  pernah  menikah  sekali dalam hidupnya.
> Begitu juga halnya, status gadis tua jauh lebih hina ketimbang janda.
> 
> Apakah  cerminan  masyarakat yang terpantul dari novel-novel itu masih
> relevan   secara  substansial  di  ujung  abad  ini,  dengan  realitas
> objektif?  Pertanyaan  ini hanya mungkin dijawab dengan melihat sejauh
> mana kini orang Minang masih memegang teguh tradisinya. Suatu hal yang
> tak  terelakkan  adalah  perubahan-perubahan nilai dasar kultural yang
> disebabkan oleh koreksian alamiah. Agaknya, koreksian yang paling kuat
> itu  datang  dari  tuntutan  zaman yang telah mengglobal. Sekarang, di
> manapun  harga diri dapat ditemukan, meski di kampung sendiri, menjadi
> anggota legislatif, misalnya.
>   
> Republika Online edisi: 05 Dec 1999 



RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke