MK, Bocah Cerdas dari Kaki Gunung Merapi

Desa kecil itu bernama Tabek, terletak di kaki Gunung Merapi, Sumatra Barat. Tak ada yang istimewa di sana, sampai seorang bocah bernama Mujadid Kubra Hazal Yaumi memamerkan kepintarannya. Bocah yang berusia 15 bulan itu, seperti melampaui zamannya.

MK, begitu bocah ini dipanggil, pertumbuhan fisiknya tidak sebanding dengan perkembangan jiwa dan pemikirannya. Ia tumbuh menjadi anak cerdas. Setidaknya, untuk usia yang masih tergolong balita, ia telah mampu menyebutkan nama-nama orang terkenal.

Secara fisik, MK sama seperti bocah lainnya. Yang membedakannya hanyalah kecepatan otaknya berpikir. Ia hafal nama-nama semua menteri dalam kabinet Megawati, dan nama-nama orang penting lainnya. MK juga lincah berbicara, sepertinya ia dipinjami lidah orang lain oleh Tuhan.

''Tommy Winata,'' katanya ringan ketika ditanya, nama sosok yang disebut-sebut dalam penyerbuan kantor majalah Tempo di Jakarta. ''Habibie,'' katanya lagi saat ditanya mantan presiden Indonesia yang baru saja pulang dari Jerman.

''Yusuf Kalla,'' kata MK saat ditanya nama menko Kesra. Bisa jadi, ia tidak pintar. Tapi ia berbakat untuk hafal-menghafal. Tidak sekali ini kita mendengar dan melihat ada anak yang cepat sekali menghafal nama-nama orang penting atau nama tempat. Sebelumnya sudah banyak dipublikasikan anak-anak kecil yang bisa menjawab pertanyaan yang seharusnya ditujukan untuk ukuran orang lebih dewasa.

MK yang lahir 5 Juni 2000 itu, menjadi istimewa, karena ia anak petani dari sebuah desa di kaki Gunung Merapi, Sumatra Barat. Ayahnya Syaiful Abrar (40 tahun) dan Jasni Gadis (38 tahun), bukanlah orang berada. Keduanya petani biasa saja. Setiap hari, sebagaimana jamaknya orang desa, mereka menghabiskan harinya di sawah dan di ladang.

MK, tak memiliki bacaan seperti anak-anak kota. Ia pun tak mendapat pengajaran secara khusus dari orang tua maupun lingkungannya. Bahkan keterbatasan ekonomi orang tuanya membuat MK jarang berpergian. Di rumahnya memang ada televisi. Si anak menyerap ilmu dari layar kaca itu.

Kepandaian MK akhirnya terdengar pula hingga kota Padang. Pada hari Rabu (12/3), MK dibawa kedua orang tuanya ke Padang. Ia dipertemukan dengan Wakil Gubernur Sumbar, Prof Fachri Achmad. Kedatangan MK diserta Kepala Dinas Pendidikan Nasional Sumbar, Prof Satni Eka Putra.

''Jangan paksa ia menghafal,'' pesan Fachri Achmad saat menerima MK. Mendidik anak, kata mantan rektor Universitas Andalas ini, tidak baik dengan memaksanya menghafal. ''Biarkan ia mengalir, kita mengawasinya saja,'' tutur Fachri memberikan pemahaman mendidik anak kepada orang tua MK.

Namun Syairul Abrar, sang ayah sepertinya tak mengerti banyak. Ia justru teramat bangga, anak keempatnya tampil memukau. Tak hanya memukau pasangan ini, tapi juga penduduk Kampung Tabek. Kepandaian MK, kemudian menjadi buah bibir di lepau-lepau di lereng Merapi, sebuah gunung yang ditakuti sekaligus dikagumi orang Minang itu.

''Saya tak tahu Pak, ke mana anak saya akan disekolahkan,'' kata Syaiful Abrar. Sesaat kemudian MK yang berada dalam gendongannya turun bergegas dari pangkuan ayahnya. Ia mengamati ruangan kerja wagub yang ber-AC. MK kelihatan lincah. Ayahnya melarang, tapi Wagub Fachri meminta agar jangan menghentikan aktivitas anak.

Menurut Kadinas Diknas Sumbar, Satni Eka Putra, kemunculan MK merupakan sebuah kejutan dalam dunia pendidikan. Setidaknya di Sumatra Barat. Di saat nyaris tidak ada prestasi yang menonjol, malah muncul anak usia pra-sekolah yang tampil memukau karena kepandaiannya.

Menurut ramalan Satni, bisa jadi kecerdasan MK terbawa oleh kebiasaan orang tuanya ketika si anak masih dalam kandungan. Sebab, perkembangan anak antara lain dipengaruhi oleh kondisi saat masih berada dalam kandungan. ''Perkembangan jiwa anak cukup ditentukan oleh masa pra-natal atau pra-kelahiran,'' kata dia.
Apa pun, menurut Satni, MK harus masuk TK dulu. Tapi kapan? Pada 5 Juni 2003 ini, ia baru berusia 3 tahun. Menurut Satni, jika telah selesai TK, MK bisa masuk kelas I dan kemungkinan bisa melompat ke kelas tiga.
Setelah itu melompat lagi ke kelas 6.

Tapi itu kata Satni. Kata Bapaknya? ''Saya orang miskin, saya jelas tidak akan mampu menyekolahkan anak saya tinggi-tinggi,'' kata Syaiful Abrar. Tapi, petani miskin ini benar-benar bahagia. Selain anaknya cerdas melampaui rata-rata anak seusia di desanya, MK telah membuat orang tuanya bisa bertemu wakil gubernur.

Menurut Syaiful, selama ini MK --seperti juga anak-anak lain-- tidak pernah memakan makanan yang istimewa. ''Apa yang kami makan itu pula yang dimakannya,'' kata Syaiful. ''Tapi saya tahu, ini adalah rahmat Tuhan kepada kami sekeluarga,'' tambah Syaiful.

Menurut dia, MK mulai kelihatan cerdasnya beberapa bulan setelah ia lahir. Tidak seperti bayi lainnya, MK sangat lasak (lincah), matanya liar dan senantiasa seperti ingin tahu banyak. Semula MK mulai bicara patah-patah. MK makin mengejutkan, karena apa yang dikatakan orang tuanya, begitu cepat ia tangkap. Pada usia 18 bulan, sebuah usia yang teramat muda, ia telah bisa menghafal banyak hal. Sesuatu yang seharusnya tidak atau belum ia lakukan.

Pada Rabu siang itu, Syaiful Abrar kembali ke desanya di Tabek, Sawah Tangah, Kabupaten Tanah Datar. Sebelum berpamitan dengan Wagub Fachri Achmad, MK dicium wakil gubernur. ''Mudah-mudahan ia akan menjadi meteor kelak,'' kata Fachri. khairul jasmi


Kirim email ke