http://www.kompas.com/kompas-cetak/0303/22/Wisata/143037.htm


Pariwisata Sumatera Barat Kurang Terurus



DINYATAKAN sebagai daerah nomor dua teraman setelah Bali, tahun 2000 lalu, bangganya Sumatera Barat (Sumbar) bukan main, lebih-lebih para pelaku/industri wisata. Berharap pelancong banyak berkunjung, nyatanya juga tidak. Bahkan, dengan tragedi bom di Bali yang menewaskan lebih dari 180 orang, beberapa waktu lalu, Sumbar sering disebut-sebut media cetak setempat sebagai daerah yang kini paling aman di Indonesia. Makanya, tahun 2003 diprediksi Sumbar akan kebanjiran pelancong.


MESKIPUN mengklaim sebagai daerah paling aman, ternyata industri pariwisata di Ranah Minangkabau pascabom Bali juga tidak ada kemajuan dan peningkatan arus kunjungan yang berarti.

Kalau ukuran keamanan lain yang dilekatkan, bukan rahasia umum lagi kalau daerah yang dipimpin Gubernur Zainal Bakar ini tidaklah aman untuk industri pariwisata. Seperti yang dikeluhkan pelaku industri pariwisata Sumbar kepada wartawan, keamanan dan privasi tamu di hotel kurang terjamin, terutama disebabkan maraknya razia-razia (termasuk di hotel berbintang) yang dilakukan oleh aparat tertentu dengan berbagai dalih. "Faktor kultur kedaerahan yang masih beranggapan hotel adalah tempat maksiat," kata Wakil Ketua PHRI Sumbar yang juga Manajer Hotel Novotel Bukittinggi Bambang.

Belum lagi soal maraknya perampokan bersenjata api, yang sebulan terakhir sudah terjadi empat kali. Penodongan/copet dan penjambretan di angkutan kota dan sudut-sudut kota, hampir setiap hari terjadi.

Wartawan senior Zatako (Zainuddin Tamir Koto) yang merantau ke Medan saat berada di Padang untuk meliput pertandingan sepak bola Liga Bank Mandiri, juga sempat kecopetan. "Ternyata, lebih aman di daerah lain dibanding kampung sendiri (Sumbar). Saya sudah melanglang buana ke berbagai negara dan daerah lain di Indonesia, tidak pernah kecopetan," kata Zatako.

Tempat hiburan malam, seperti kafe dan music room yang selalu dipadati pelancong juga sering dirazia oleh petugas polisi dan polisi pamong praja. Anehnya, pengunjung yang tidak membawa identitas diri ditangkapi dan dikatakan sebagai wanita penghibur atau lelaki hidung belang.

Berada di lokasi obyek wisata, para pelancong juga mengeluhkan tidak aman dan nyaman, karena anjing-anjing liar yang bisa menularkan virus rabies berkeliaran. Kepala Dinas Peternakan Sumbar Ir Surya Dharma mengakui, Sumbar termasuk daerah yang rawan rabies.

Dengan fakta-fakta demikian, wajar saja jika tidak ada kemajuan berarti sektor industri pariwisata di daerah berpenduduk 4,2 juta jiwa ini.

BERHARAP banyak pada Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya Provinsi Sumbar lebih berperan memajukan industri pariwisata, nyatanya lembaga pemerintah itu seperti memulai dari nol. Bayangkan, dalam acara Pelatihan Peningkatan Wawasan/Orientasi Kepariwisataan bagi Pengelola Media Massa dan Wartawan, informasi yang bisa diberikan cuma bagai mengajari anak sekolah dasar (SD). Apa itu pariwisata, apa itu industri pariwisata, apa itu turis, apa saja potensi pariwisata Sumbar, apa peranan/fungsi hotel dan restoran dalam konteks pengembangan pariwisata, dan sebagainya.

Acara itu dinilai banyak wartawan peserta sebagai buang-buang uang atau sekadar menghabiskan dana proyek. Akan lebih bermakna kalau yang dipaparkan itu program pariwisata ke depan yang betul-betul realistis dengan kondisi kekinian.

Agar Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya Sumbar itu punya arah yang jelas dalam programnya, para wartawan, mahasiswa, dan pemerhati pariwisata pun diundang memberikan pemikiran dan masukan melalui lomba karya tulis. Tema yang diberikan adalah pengelolaan dan pembangunan pariwisata Sumbar di tengah era otonomi daerah dan persaingan global.

Dengan dana milyaran rupiah, bukan pembangunan fasilitas wisata yang ditingkatkan, melainkan dana tersebut sebagian besar digunakan untuk promosi. Tetapi, promosi yang mana? Ini pun dipertanyakan banyak kalangan. Karena uang tandas, hasilnya nyaris tak kelihatan.

"Buat apa promosi gencar, sementara sarana dan prasarana di obyek wisata tak pernah dibenahi. Pengalaman selama ini, pelancong selalu mengeluh, misalnya soal ketiadaan WC umum di tempat-tempat wisata. Kalaupun ada WC, joroknya minta ampun. Belum lagi soal kebersihan yang sering dianggap sebagai angin lalu. Lihatlah, tidak satu pun obyek wisata pantai yang bersih. Kotor oleh limbah rumah tangga, juga limbah manusia (karena masyarakat pantai masih buang air besar di pasir-pasir pantai)," kata Asril Koto, pengamat pariwisata Sumbar.

Menurut Wakil Ketua PWI Sumbar Ir Basril Basyar MM, Sumbar sebenarnya memiliki potensi wisata yang sangat membanggakan. Daerah ini terkenal dengan alamnya yang indah dan masyarakatnya yang ramah. Banyak potensi wisata yang masih belum tergarap maksimal.

"Jika kita bandingkan dengan wisatawan yang datang ke Singapura yang mencapai 1,5 juta per tahun, misalnya, maka akan sangat memprihatinkan bila kita ketahui bahwa kunjungan wisatawan asing ke Sumbar hanya 30.000 orang per tahun. Ini sebuah angka yang sangat memilukan," katanya.

Bahkan, Yona Mardiona dari Garuda Indonesia Cabang Padang mengemukakan data yang mengejutkan. Ternyata, sejak enam tahun terakhir arus penumpang Malaysia-Padang yang memanfaatkan jasa seluruh maskapai penerbangan turun. Tahun 1996 ada 11.023 pelancong dari Malaysia yang berkunjung ke Sumbar, tahun 2001 hanya 4.864 orang. Hanya pelancong dari Singapura yang mengalami kenaikan, dari 6.115 tahun 2000 menjadi 7.471 pelancong tahun 2001.

ANEHNYA, promosi wisata Sumbar lebih berorientasi menggaet pelancong asing. Padahal, potensi pasar dalam negeri sendiri juga banyak. Ketua Umum Gebu Minang dr Fasli Jalal PhD dalam suatu perbincangan menyatakan heran kenapa industri pariwisata Sumbar tidak melirik pasar perantau yang jumlahnya sekitar tujuh juta orang.

"Saya sendiri heran, kenapa anak-kemenakan orang Minang yang lahir dan besar di rantau, kurang tertarik memanfaatkan waktu liburnya berwisata ke kampung halamannya, Ranah Minangkabau. Mereka lebih memilih berlibur ke luar negeri atau kota-kota wisata lainnya di Tanah Air," katanya.

Kelemahan yang tampak oleh Fasli Jalal yang juga Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda, dan Olahraga, itu adalah selain para perantau itu belum dilirik, juga selama ini hampir tak pernah ada tawaran paket-paket wisata yang menarik oleh biro-biro perjalanan. Misalnya paket wisata satu minggu di Sumbar, selain menikmati keindahan alam mereka juga bisa belajar kesenian tradisional, mengetahui adat istiadat, dan sebagainya. Paket-paket wisata seperti ini penting karena mereka bisa mendapat pengalaman langsung.

Bambang melukiskan, kendala internal seperti sumber daya manusia, misalnya, pengelola atau pemilik yang kurang memiliki keahlian atau kurang profesional dalam mengelola hotel dan restoran. Pelayanan di hotel dan restoran sering mengabaikan faktor kenyamanan dan kepuasan tamu, misalnya lamban, kurang sopan, dan terabaikannya faktor-faktor kebersihan.

Minimnya fasilitas terutama di hotel kelas melati dan bintang satu dan bintang dua, disebabkan faktor kurangnya atau sulitnya mendapat tambahan investasi. Kurangnya atau mengabaikan pemeliharaan gedung beserta fasilitas-fasilitasnya, sehingga hotel atau pun restoran terlihat kumuh dan kotor. Kurangnya/diabaikannya faktor promosi bagi hotel dan restoran.

Persoalan eksternal, misalnya perang tarif hotel melati maupun berbintang dalam menghimpun tamu sebanyak mungkin, tanpa melihat faktor-faktor biaya dan margin yang harus diperhitungkan secara saksama. Seringnya hotel dirazia sehingga keamanan dan privasi tamu di hotel terganggu.

Terlepas dari persoalan tersebut, pengelolaan pariwisata di Sumbar memang memerlukan penanganan yang serius dan butuh orang-orang yang serius, energik, kaya gagasan, serta tidak "bermental proyek".




====================================================================== Alam Takambang Jadi Guru ======================================================================




_________________________________________________________________
Add photos to your messages with MSN 8. Get 2 months FREE*. http://join.msn.com/?page=features/featuredemail



RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe, anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke