Rabu, 04 Juni 2003

TNI Tampil Berbeda

Maruli Tobing

Hubungan mesra TNI-pers mulai goyah di tengah jalan. Mirip cinta
kilat yang jatuh hati pada pandangan pertama. Namun, mulai bertengkar
dan pitam jika ada yang tidak sesuai dengan keinginan.

Awalnya, ketika pemerintah mengumumkan pembatalan perundingan dengan
Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan akan memulai operasi pemulihan
keamanan, kalangan pers terpesona karena pernyataan ini mempunyai
nilai berita tinggi.

Perang sudah di depan mata, suatu peristiwa yang akan menjadi pusat
perhatian masyarakat luas. Dengan sendirinya, masyarakat membutuhkan
informasi sebanyak-banyaknya.

Sejak itu pula hingga sekarang, atau hampir satu setengah bulan,
media cetak maupun elektronik menempatkan operasi pemulihan keamanan
di Aceh sebagai liputan utama. Peristiwa-peristiwa di Gedung DPR
Senayan maupun Istana menjadi tidak menarik. Bahkan, peringatan lima
tahun reformasi berlalu begitu saja, tanpa kesan apa pun.

Liputan Aceh dengan sendirinya menaikkan pamor TNI. Bahkan,
menjadikannya bintang. Suatu hal yang lama hilang dari pandangan
masyarakat. Namun, sepekan setelah diberlakukannya darurat militer di
Aceh, hubungan "intim" TNI-pers retak. Para petinggi TNI mulai
mengeluarkan pernyataan tidak sedap bagi kalangan pers.

Dengan pola pikir dikotomis warisan masa silam, muncul pernyataan,
pers yang mendukung darurat militer identik dengan loyal kepada
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sebaliknya adalah
pengkhianat.

Informasi mengenai peristiwa operasi pemulihan keamanan jangan
membuka peluang bagi propaganda GAM. Lebih penting lagi, mobilitas
wartawan dari satu daerah ke daerah lain harus dilaporkan kepada
aparat keamanan. Tidak disebutkan untuk memonitor kegiatan wartawan,
tapi demi menjaga keselamatan insan pers.

Kebijakan ini diambil penguasa darurat militer setelah muncul laporan
bernada "miring" mengenai korban dalam penyerangan TNI di daerah
Peusangan, Bireuen. TNI menyebut korban tewas 10 orang itu anggota
GAM. Namun, mengutip keterangan penduduk, ada media massa yang
melaporkan, korban adalah warga sipil yang sedang menjaga tambaknya.

Sejak munculnya laporan tersebut, silih berganti petinggi TNI membuat
pernyataan. Termasuk akan menuntut secara hukum media bersangkutan
jika laporan itu tidak terbukti.

Di tengah suasana demikian, mulai bergulir wacana untuk mensterilkan
Aceh dari kegiatan pers, kecuali sekadar pernyataan resmi penguasa
darurat militer. Namun, di kalangan TNI sendiri muncul pro-kontra
soal hal ini. Kamis (29/5), Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto
muncul di layar televisi dan mengatakan, silakan pers meliput Aceh.
TNI tidak ada maksud menghalangi.

Lantas apa sesungguhnya yang terjadi dalam operasi militer hingga
persoalan kehadiran pers sempat dirasa begitu mengganggu?

Di masa lalu operasi pemulihan keamanan memang identik dengan
penggunaan kekerasan absolut tanpa membedakan sasarannya. Itu
sebabnya selalu tertutup bagi pers. Akan tetapi, di era reformasi,
perilaku demikian dapat dikategorikan sebagai kejahatan atas
kemanusiaan.

Lagi pula di abad informasi sekarang hampir mustahil menutup-nutupi
kekerasan militer yang terjadi pada penduduk sipil. Dengan sebuah
laptop dan sambungan telepon, misalnya, warga dapat dengan leluasa
mengirim berita dan foto ke seluruh penjuru dunia.

Mungkin pers di dalam negeri tidak memberitakan, namun warga di Aceh
Barat, misalnya, bukan mustahil mengirim e-mail ke komisi hak asasi
manusia PBB, atau bahkan ke Sekjen PBB, Kongres Amerika Serikat (AS),
dan Gedung Putih.

Bukan hal luar biasa lagi jika surat kabar The Guardian (Inggris)
serta The Age dan Sidney Morning Herald (Australia) terus-menerus
menurunkan berita mengenai korban dan perlakuan terhadap penduduk
sipil selama darurat militer di Aceh.

Di Indonesia hal demikian belum menjadi suatu kesadaran sehingga kita
mirip katak dalam tempurung. Memandang tindakan yang kita lakukan
sebagai hal yang tepat dan paling benar. Kemudian bersikap reaktif
dan berang terhadap sorotan masyarakat internasional karena
menganggap mereka tidak tahu-menahu.

Sebaliknya, justru kita tidak pernah tahu di atas Pulau Sumatera
bercokol satelit mata-mata Orion milik Australia. Menurut The Age
(17/3), satelit ini dapat menyadap ribuan pembicaraan sambungan
telepon pada saat bersamaan. Satelit ini pula yang dipakai melacak
jaringan Al Qaeda hingga ke Pakistan. Bukanlah suatu hal ajaib
pembicaraan petinggi militer kita disadap ketika akan terjadi
kekacauan di Timor Timur tahun 1999.

Lebih celaka lagi, pengertian urusan dalam negeri kerap diterjemahkan
secara harfiah. Bisa bertindak sewenang-wenang. Negara lain tidak
berhak campur. Sementara kita berulang kali berang terhadap
Singapura, Malaysia, Australia, dan AS. Membakar bendera negara-
negara tersebut di depan kedutaan besarnya dan mencaci maki
pemimpinnya.

Bukan hanya itu, kita juga bangga Indonesia mendapat kepercayaan
mengirim pasukannya sebagai bagian dari kontingen pasukan penyangga
perdamaian PBB atau pengamat gencatan senjata di sejumlah negara yang
dilanda perang saudara. Baik perang di Kongo tahun 1960-an, Kamboja,
Filipina Selatan, Bosnia, maupun Afganistan.

Namun, ketika untuk kedua kalinya Sekjen PBB Kofi Annan menyatakan
keprihatinannya atas perkembangan situasi di Aceh, Kamis pekan lalu,
tidak satu pun yang peduli. Padahal, pernyataan Sekjen PBB itu cukup
serius karena PBB dikatakan sangat memperhatikan perkembangan di
Aceh, khususnya setelah mendapat laporan terjadinya tindakan
ekstrayudisial terhadap warga sipil.

Entah karena suara sumbang dari luar, di dalam negeri juga mulai
muncul pertanyaan dari beberapa anggota DPR, tokoh masyarakat,
pengamat politik, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM), mengenai
manfaat darurat militer. Mereka diingatkan kembali pada peristiwa
konflik di beberapa daerah.

Di Maluku, misalnya, ketika konflik mulai mengganas sekitar tiga
tahun silam, pemerintah menyetujui permintaan TNI agar dibentuk
komando daerah militer. Sama halnya di Aceh. Namun, hasilnya jauh
dari harapan. Konflik tetap marak. Padahal di Maluku status darurat
sipil sudah diberlakukan dan berulang kali diperpanjang.

Tidak heran muncul kecurigaan di kalangan pengamat dan elite politik,
TNI telah menjadikan konflik tersebut sebagai instrumen politik dalam
tawar-menawar kekuasaan. Lebih ekstrem lagi, sebagai alat "menodong"
pemerintah.

Tidak mudah membuktikan hal tersebut. Apalagi ternyata politik adu
domba yang melahirkan konflik horizontal tidak membuahkan hasil apa
pun, kecuali korban jiwa dan harta benda yang sangat besar. TNI
sendiri kecipratan arang di wajahnya.

Situasi Aceh sekarang jauh lebih serius dari tahun-tahun sebelumnya.
Jangankan adu domba, sedikit saja salah melangkah bisa berakibat
fatal karena konflik di Serambi Mekkah telanjur diinternasionalisasi.
Sekarang mata masyarakat internasional mengawasi setiap gerak di sana.

Selain Sekjen PBB, Pemerintah AS juga sudah mengeluarkan pernyataan
yang cukup keras agar Indonesia menempuh jalan politik dalam
penyelesaian Aceh. Deputi Menteri Pertahanan (Menhan) AS Paul
Wolfowitz dalam jumpa pers bersama Menhan Matori Abdul Djalil di
Singapura, Sabtu pekan lalu, mengingatkan bahwa "secara militer
angkatan darat tidak akan memenangkan perang di Aceh" (nytimes.com,
31/5).

Dengan serius, Wolfowitz yang dikenal sebagai penggagas perang Irak
ini berpendapat, operasi pemulihan keamanan di Aceh haruslah
transparan. Untuk itu, ia mendesak Pemerintah RI membuka pintu bagi
hadirnya LSM asing untuk memonitornya.

Kita bisa saja mengabaikan reaksi internasional dengan alasan bahwa
Aceh adalah urusan dalam negeri. Namun, Indonesia ikut meratifikasi
Konvensi Hak Asasi Manusia dan banyak ketentuan internasional
lainnya. Lebih penting lagi, kita adalah bayi raksasa yang menyusu
pada bantuan luar negeri. Sementara bantuan tersebut adalah fungsi
kepentingan negara donatur.

>small 2 small0<, tampaknya petinggi TNI bukannya tidak memahami
reaksi dunia internasional tersebut. Pekan lalu tiba-tiba saja
televisi menayangkan prajurit TNI yang mengajar murid-murid sekolah
dasar.

Situasinya menjadi lebih dramatis karena ketika itu ratusan gedung
sekolah hangus dibakar. Guru takut keluar rumah akibat gawatnya
masalah keamanan. Sementara orangtua murid tidak ingin anaknya celaka
saat berangkat ke sekolah.

Sosok prajurit yang tampil menjadi guru jauh lebih menggugah hati
ketimbang mereka yang bertempur dan menembak mati anggota GAM. Sebab,
penampilan demikian dapat mengubah citra TNI yang telanjur hitam
akibat daerah operasi militer di masa silam maupun periode
berikutnya. Seperti, misalnya, pembantaian Teungku Bantaqiah berikut
lebih dari 50 santrinya.

Tidak kalah pentingnya lagi, penguasa darurat militer yang sempat
gusar terhadap pers ternyata cepat merespons berita-berita mengenai
perlakuan kejam anggota TNI terhadap penduduk di Lawang, Kabupaten
Bireuen, 29 Mei lalu. Dalam waktu beberapa hari saja, sidang
pengadilan militer dimulai Selasa di Lhok Seumawe dengan tiga
terdakwa dari Batalyon 144/Jaya Yudha.

Bakti sosial dan penegakan hukum demikian adalah kunci merebut hati
rakyat Aceh. Inilah cara terampuh melawan gerilya. Sebab, kekuatan
gerilya bukan pada banyaknya senjata dan personel, melainkan pada
dukungan rakyat dan propaganda politik.

Jika aktivitas yang membantu masyarakat dan penegakan hukum dapat
dipertahankan dan diperluas ke sektor lain, barangkali target enam
bulan dapat dicapai TNI untuk menyelesaikan masalah Aceh. TNI sendiri
akan naik pamornya di dalam maupun luar negeri. Suatu kartu yang
menentukan dalam percaturan politik tahun 2004.

Dalam konteks demikian, laporan-laporan pers maupun kalangan LSM
mengenai adanya penyimpangan yang dilakukan prajurit TNI selama
operasi pemulihan keamanan, seharusnya tidak lagi dilihat sebagai hal
negatif. Sebaliknya, justru direspons sebagai masukan positif untuk
membenahi diri.

Pepatah mengatakan, setitik nila dapat merusak susu sebelanga.
Petinggi TNI tentu tidak akan mengorbankan citra darurat militer
hanya karena ulah beberapa prajurit. Akan tetapi, TNI juga tidak
kebal terhadap ulah provokator. Seperti halnya terjadi pada kasus
pembunuhan Theys Hiyo Eluay, Ketua Presidium Dewan Papua, yang tak
diketahui Markas Besars TNI. Demikian pula penyerangan di Freeport
yang menewaskan dua warga AS.

Itu sebabnya, TNI justru seharusnya hati-hati terhadap kelompok yang
kerap menyatakan dukungannya dan patriot NKRI, namun ternyata berbuat
kriminal dan mengintimidasi rakyat. Mereka tidak saja mencemarkan
nama TNI, tapi sekaligus menggunakannya sebagai alat mencari uang.

Sekarang saatnya TNI tampil dengan sosok berbeda dan merebut hati
rakyat.*


Design By KCM
Copyright � 2002 Harian KOMPAS





RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
-----------------------------------------------

Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: 
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
===============================================

Kirim email ke