Senin, 9 Juni 2003 | IslamLib.com

Indra J. Piliang:
Islam adalah Sebuah Pilihan Bebas
Dimuat: 8/6/2003


Indra J Piliang, peneliti bidang Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Jakarta
punya segudang pengalaman eksistensial yang menunjukkan keharmonian antara
Islam yang dia peluk dengan keragaman agama dan lokalitas kultural. Berikut
petikan wawancara Ulil Abshar-Abdalla dengan Indra J. Piliang, urang awak
yang kolom-kolomnya rajin menghiasi media-media nasional pada 5 Juni 2003:

ULIL ABSHAR-ABDALLA: Bagaimana wajah Islam yang Anda kenal sejak kecil?

INDRA J. PILIANG: Saya belajar Islam di lingkungan surau. Di Sumatera Barat
(Sumbar) waktu itu, surau merupakan lembaga untuk memperkenalkan agama.
Bisanya keluarga menyerahkan anaknya belajar Islam ke surau. Di surau, kita
mempelajari Islam; belajar mengaji, memperingati maulid Nabi dan peristiwa
agama lainnya.

Bapak saya termasuk kaum Adat. Dia seorang datuk, penghulu kaum dan sangat
kuat berpegang pada tradisi Minangkabau. Sementara nuansa kesantrian saya
dapatkan dari ibu saya. Kalau berkaca pada rivalitas antara kaum adat dengan
kaum Padri dahulu, maka nuansa Padri saya dapat pihak ibu.

ULIL: Bagaimana dengan pendidikan formal Anda?

INDRA: Saya sekolah di pendidikan umum, tapi sejak kecil saya sudah aktif
pada semacam TPA (Taman Pendidikan Alquran) yang ada di surau. Ketika saya
kembali ke kampung beberapa waktu lalu, tradisi surau itu sudah tidak banyak
ditemui lagi.

Selama di surau, saya banyak belajar Islam dari sisi teksnya, yaitu dalam
bentuk mengaji, ilmu tajwid dan lain-lain. Ketika itu, ada juga
cerita-cerita atau hikayat Islam yang dituturkan oleh para guru mengaji
dengan cara yang populer. Mereka misalnya, menggunakan teknik cerita untuk
mengisahkan perang-perang yang terjadi di zaman Rasulullah. Nah, ketika saya
masih kecil, tradisi itu masih kuat. Kami juga menikmati kesenian dalam
bentuk Salawat Dulang, yaitu nampan yang berguna untuk mengantarkan makanan
yang dipukul-pukul sambil menceritakan hikayat Nabi. Di sana ada juga
tradisi zikir, ketika bulan Rabiul Awal. Begitulah pengalaman Islam yang
saya dapatkan.

ULIL: Apakah Anda masih merasakan aroma perseteruan kaum Adat dan kaum
Padri?

INDRA: Saya sudah tidak merasakannya karena masyarakat sudah banyak
mengalami perubahan. Banyak sekolah-sekolah inpres yang didirikan dan
berbagai perkembangan budaya lainnya. Semacam proses "sekularisasi" yang
positif.

ULIL: Apa pengalaman religius yang paling mengesankan Anda saat itu?

INDRA: Pengalaman yang menarik adalah yang berada di luar variabel-variabel
tekstual yang tadi disampaikan, semacam tradisi seni Randai dan lain-lain.
Dalam seni itu, masalah kemanusiaan dan konflik-konfliknya diceritakan. Ada
juga Rebab, yaitu tradisi menceritakan pengalaman hidup seseorang, khususnya
kisah perantauan yang disampaikan lewat petutur. Saya mengalami itu dan
hidup dalam kultur semacam itu. Tapi sekarang kultur semacam itu juga mulai
agak punah.

ULIL: Apakah kultur seperti itu berpengaruh menentukan corak keislaman Anda?

INDRA: Ya, sebab saya merasa menjadi seorang yang lintas batas dan menjadi
pengelana dalam Islam. Riwayat yang diceritakan oleh para penyair dan
perebab itu, adalah rangkuman kisah-kisah di seluruh dunia. Misalnya saja,
mereka mengisahkan bagaimana Islam masuk ke Sumbar dan melalui jalur apa.
Banyak juga mitos terselip dalam cerita itu. Misalnya saja, mitos tentang
masuknya Iskandar Zulkarnain ke Sumbar. Kisah-kisah tentang Malinkundang,
juga saya dapatkan dari ibu saya. Dia adalah seorang pencerita yang baik
tentang tradisi-tradisi yang berkembang dalam masyarakat.

ULIL: Anda menyebut diri sebagai pelintas batas. Apa maksudnya?

Maksudnya, apa yang saya pahami tentang dunia kecil saya, ternyata ada
duplikasinya dalam alam lain. Jadi, meski saya berada di Sumbar, tapi
imajinasi saya jauh melayang ke mana-mana. Itulah yang terjadi ketika saya
mendengar cerita misalnya, cerita Buya Hamka tentang Tenggelamnya Kapal
Vanderwijck yang sering disiarkan di sandiwara radio. Ada banyak cerita, dan
sandiwara radio sangat hidup ketika itu. Melalui medium itu, diceritakan
pengalaman-pengalaman keislaman, dan itu sangat mempengaruhi saya.

ULIL: Anda membaca karya-karya Hamka secara lengkap?

INDRA: Setelah kuliah di Universitas Indonesia (UI). Sebelumnya saya tidak
tahu sama sekali, karena buku-buku Hamka tidak tersedia di kampung saya.
Hanya saja, ketika kecil, pengarang Islam yang saya kenal memang Hamka,
melalui kisah di radio. Saya tidak membayangkan Hamka semata-mata sebagai
ulama. Dia juga tampil di layar TVRI dan forum lainnya. Dia tampil sebagai
sosok budayawan, penulis dan pencerita sastra-sastra Islam ketimbang ulama
yang ketat; yang suka mendoktrin umatnya.

ULIL: Ketika kuliah, apakah Anda terlibat aktif dalam aktivitas
kemahasiswaan?

INDRA: Pertama-tama, saya masuk dalam kelompok yang sekarang lebih dikenal
dalam wujud Partai Keadilan, yaitu usrah atau halaqah. Kami sering
mengadakan pengajian di malam hari dan kegiatan-kegiatan religius lainnya.
Saya merasa itulah kelompok yang paling puritan ketika itu. Proses
penghayatan keagamaan yang pernah saya alami di sana sampai membuat mata
saya menangis. Pengalaman itu amat berkesan bagi saya, karena hal itu tidak
saya dapatkan sebelumnya waktu mencari Islam secara sendirian. Saya ingat,
ketika di usrah, saya banyak diperkenalkan konteks pergerakan yang lebih
luas: revivalisme Islam, kebangkitan Islam dan lain-lain.

Tapi saya tidak merasa mendapatkan semacam "Islam yang baru," kecuali
dominannya rasa haru ketika bersentuhan dengan Islam. Saya gampang menangis
ketika teringat ibu, dosa dan lain-lain. Anehnya, ketika berada dalam
komunitas seperti itu, saya justru tak pernah memandang bahwa kelompok Islam
di luar saya kurang Islamnya. Hal itu mungkin karena sejak kecil saya tidak
pernah diajar untuk memusuhi orang lain.

ULIL: Bukankah sikap itu bertentangan dengan mainstream usrah pada umumnya?

INDRA: Ketika itu saya menolak klaim keberagamaan usrah yang merasa paling
benar. Saya juga membentuk komunitas sendiri yang disinyalir melakukan
revolusi dalam tubuh komunitas usrah itu sendiri. Ujung-ujungnya saya
keluar, tidak lagi menjadi bagian kelompok itu. Alasan kami: Islam tidak
bisa dimasyarakatkan dengan cara yang eksklusif dan menihilkan
kelompok-kelompok lain.

Yang lainnya, lebih karena merasa bahwa "baju" saya menjadi serasa sangat
sempit di usrah. Pergaulan di sana menjadi sangat terbatas, dan disertai
perasaan tidak enjoy untuk bersosialisasi dengan kalangan aktivis Islam
lain, lebih-lebih dengan mereka yang non-muslim.

ULIL: Apakah ekslusivitas usrah itu yang mendorong Anda bergabung ke HMI?

INDRA: Saya bergabung dengan HMI, lebih karena organisasi saja, karena saya
lebih banyak butuh organisasi. Masuknya saya ke HMI ini juga sebentuk
"kecelakaan", karena saya waktu itu diundang sebagai pembicara, lalu diberi
sertifikat. Salahnya, ketika itu saya mau saja.

ULIL: Kini Anda bekerja di CSIS, sebuah lembaga yang di sebagian kalangan
Islam dianggap phobi-Islam. Apakah tidak ada kendala mental ketika bergabung
di sana?

INDRA: Ceritanya, saya menulis skripsi tentang pergerakan mahasiswa periode
1974-1980. Isi skripsi itu banyak sekali memuat nama tokoh-tokoh CSIS
seperti Ali Murtopo, Daud Yusuf dan lain-lain. Saya berada dalam posisi
menyalahkan mereka. Dalam skripsi itu, saya menyinggung tentang peristiwa
Malari, NKK/BKK, dan lain-lain. Nah, ketika pertama kali masuk CSIS, justru
penolakan berasal dari keluarga saya. Penolakan mereka itu berkembang atas
dasar opini publik yang berkembang; bahwa CSIS adalah lembaga yang
anti-Islam. Ada juga tuduhan beberapa teman yang menganggap saya sudah
pindah agama. Tapi saya menampik mereka, "ini lembaga kajian, saya tidak ada
urusan dengan hal-hal itu!

ULIL: Apa yang membantu sosialisasi Anda di lingkungan CSIS dari sudut
pandang keagamaan?

Sederhana saja. Pengalaman saya waktu kecil mengajarkan bahwa nabi dan rasul
yang disebutkan Alquran ada sekitar 25, dan mereka itu harus saya imani.
Dari situ saya menyimpulkan bahwa agama-agama lain di luar Islam benar juga,
atau punya sisi kebenaran sendiri. Untuk apa kita mengimani 25 nabi dan
rasul, sementara agama-agama lain tidak kita anggap sebagai agama yang
pantas diajak berteman.

Pengalaman masa kecil saya ketika hidup di pulau Mentawai selama 4 tahunan
juga ikut membantu. Di Mentawai banyak gereja, banyak orang Filipina dan
bule, karena banyaknya perusahaan-perusahaan kayu. Tetangga saya ketika itu,
punya rumah panggung dan memelihara babi. Tapi hubungan saya dengan anaknya
tetap baik. Saya menjadi sangat kehilangan ketika pulang ke Padang. Ketika
saya berkunjung ke Mentawai, saya mencari anak itu.

Saya juga punya pengalaman bersama ibu saya. Ketika tangan saya patah waktu
jatuh di jembatan, yang mengobati saya adalah Sikerei. Dia adalah seorang
dukun, orang asli Mentawai. Nah, bagaimana saya tidak menghormati orang yang
telah menyelamatkan tangan saya yang patah. Saat itu butuh waktu dua hari
dua malam untuk pergi berobat ke rumah sakit di Padang.

ULIL: Apa Anda ingin mengatakan bahwa agama yang benar bukan hanya Islam?

INDRA: Ya. Saya percaya sekali dengan konsep itu. Kepercayaan itulah yang
berkembang di keluarga saya. Tante saya ada yang kawin dengan orang Mentawai
non-muslim. Tapi akhirnya dia masuk Islam juga, sekalipun hanya KTP saja.
Anaknya diberi nama Maria dan nama-nama Kristiani.

Keluarga saya awalnya menentang perkawinan tante dengan om. Tapi pada
dasarnya, sebagian masyarakat pesisir di Padang, sudah begitu banyak
mengenal orang-orang di luar Islam. Di sana sudah banyak juga perkampungan
Cina, kampung India atau Keling. Sampai kini pun masih ada.

Tentang agama yang benar tadi, saya ingin melihatnya lebih jauh. Ayat-ayat
Alquran banyak sekali yang menyatakan keharusan untuk berempati pada
penganut agama di luar kita. Dalam Rukun Iman, selain wajib mempercayai
nabi-nabi (bukan hanya Muhammad Saw), kita juga mengimani kitab-kitab Allah
yang diturunkan pada nabi-nabi. Bagaimana bisa alasan-alasan yang berdasar
pada pemahaman agama yang sempit membuat saya kehilangan nurani kemanusiaan
ketika bergaul dengan non-muslim. Sementara Islam menghormati hal-hal kecil
seperti membuang duri di jalan.

ULIL: Orang Islam seharusnya berempati pada semua orang, tanpa melihat
agamanya?

INDRA: Ya. Tentunya, kalau Allah menginginkan bisa saja kita menjadi muslim
semua. Tapi nyatanya itu tidak terjadi. Islam merupakan sebuah pilihan bebas
yang mencakup ajaran-ajaran yang universal.

Tapi agama juga banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor
sosiologis-antropologis. Sampai sekarang, saya masih mengakui adanya agama
tribal dan agama-agama lokal di Indonesia. Sikerei yang saya sebutkan tadi
punya agama sendiri, tapi negara tidak mengakui. Ada juga Kaharingan yang
dimiliki suku Dayak, dan Kenekes, agama yang dimiliki suku Badui. Jadi saya
merasa bahwa berbagai agama yang terpencar-pencar di muka bumi ini, mungkin
juga mendapat percikan sinar Ilahiyyah, meskipun mereka tidak pada tingkatan
seperti yang kita pahami.

Nah, apakah kita akan mengatakan bahwa mereka tak beragama, sementara kita
sendiri belum kenal kehidupan religius yang mereka alami sendiri. Suku Samin
juga menganggap bahwa mereka warisan dari agama Nabi Adam. Jadi, betapa luas
dimensi yang terkait ketika kita mengurai masalah agama. []
URL: http://www.id.islamlib.com/id/page.php?page=article&id=340



RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
-----------------------------------------------

Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: 
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
===============================================

Kirim email ke