Liukan yang Lahir dari Keheningan - Sabtu, 21 Juni 2003 http://www.kompas.com/kompas-cetak/0306/21/pergelaran/379918.htm
Liukan yang Lahir dari Keheningan PANGGUNG seperti kosong. Di sebuah tempat yang meninggi terdapat nampan dari logam yang berkilau-kilau tertimpa cahaya. Angga Djamar, penari yang telah puluhan tahun bergabung dengan koreografer Ery Mefri, terpancang dengan busana merah putih. Empat lelaki yang muncul kemudian berbalut kain putih. Tak ada denting musik. Mereka duduk dalam keheningan suasana. Jam yang berdetak tiba-tiba terasa menggerakkan hati semua orang. Maka tarian menjelma menjadi sebentuk spirit yang terus meliuk. LENGKINGAN dan rintihan tembang yang meluncur dari mulut para penari itulah yang menjadi kunci mereka menari. "Roh dari semua tari itu kan musik," ujar Ery Mefri seusai pementasan, Selasa (17/6) di Gedung Kesenian Jakarta. Jelas sudah bahwa sebagai sebuah roh, maka musik harus terintegrasi ke dalam tarian. Ia berupa nada-nada yang halus, yang jika menyentuh sisi paling peka dari nurani seseorang, maka orang itu akan meresponsnya dengan gerak. Malam itu, Ery menampilkan tiga karya koreografi berjudul Tiang Nagari, Adat Salingka Nagari 2, dan Bundo Kanduang. Selain Angga Djamar, penari-penari yang tampil Afrizal, Rio Mefri, Remon Tanjung, dan Hendri. Mereka adalah penari-penari yang telah puluhan tahun tergabung dalam Nan Jombang Group yang dibentuk Ery tahun 1983 silam. WAKTU menjadi soal paling inti bagi seluruh penjelajahan Ery Mefri di dunia tari. Rata-rata para penari di Nan Jombang Group sudah tergabung secara terus-menerus selama lima tahun. Rentang waktu yang panjang itu akan memberi kesempatan kepada mereka, ujar Ery, untuk menyesuaikan nada-nada yang telah terbangun di dalam dirinya. "Ini soal rasa. Kalau rasa belum sama, mereka tak mungkin menari tanpa musik," kata Ery yang pernah mengikuti American Dance Festival tahun 1994 silam. Risiko dari semua ini, tambahnya, ia hanya memiliki sedikit orang penari. Penyamaan rasa itu memang memerlukan loyalitas dan pengabdian tanpa ampun. Pelibatan total itu, kata Ery, sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan musikalitas di dalam setiap gerakan. Karena itu, semua menjadi kunci dari kebersamaan, keseragaman, keindahan, dan bahkan kelenturan. Ambillah contoh Bundo Kanduang. Komposisi ini ditarikan secara berpasangan oleh Angga Djamar dan Afrizal. Ery menggali legenda tentang Bundo Kanduang yang konon berselingkuh, hingga hamil. Di tangan Ery perselingkuhan itu sesungguhnya proses sublimasi pemikiran yang kemudian melahirkan apa yang disebut Dang Tuanku. "Dang Tuanku itu sendiri adalah budaya Minang itu sendiri," ujar Ery. Pertemuan antara Bundo Kanduang, yang dipercaya sebagai maharaja orang Minangkau dengan Bujang Salamat, tangan kanannya, digambarkan Ery dengan komposisi "saling belit", sebagai dua ekor ular berkulit licin yang sedang memadu kasih. Kelenturan tubuh Angga Djamar dan Afrizal telah melahirkan berbagai komposisi: musik dan gerak yang juga saling belit. Sulit membayangkan dua orang atau beberapa orang penari bergerak dalam ritme dan tempo yang serasi tanpa ketukan yang biasa ditandai dengan musik. Dan tanpa sekali pun terjadi salah pengertian, ketika Angga dan Afrizal saling masuk ke dalam tubuh lawannya. Setiap celah yang tersedia, sesempit apa pun, seakan menjadi ruang bagi keduanya untuk menjulurkan tangan, kaki, atau kepala untuk kemudian berada dalam posisi berbeda. "Angga dan Afrizal sudah menarikan Bundo Kanduang sejak komposisi ini saya ciptakan tahun 2000 lalu," kata Ery. Dua karya Ery yang lain Tiang Nagari dan Adat Salingka Nagari 2, menyandarkan diri pada seni tradisi Minang, yakni randai. Biasanya, seni ini dimainkan oleh anak lelaki selepas melakukan shalat isya di surau-surau yang bertebaran di seluruh Ranah Minang. "Mereka biasanya berlatih silat dulu, nah, saat jeda itulah mereka bermain randai," kata Ery. Seni randai mengandalkan spontanitas. Unsur-unsur estetik terlahir dari pemaksimalan fungsi tubuh, mulut, serta galembong, celana dengan pesak panjang sampai ke lutut. Pada Adat Salingka Nagari 2, empat penari lelaki dalam gerakan-gerakan atraktif (sejenis jurus-jurus silat) memukul-mukul bagian bawah dari galembong. Musik gemuruh seperti suara gendang dari kejauhan kemudian menjadi mat bagi gerakan-gerakan mereka. Begitupun yang terjadi pada Tiang Nagari. Ery terinspirasi oleh tari piring Minang yang terkenal itu. Maka tiga nampan yang berkilau-kilau ditindih cahaya lampu, dipukul-pukul hingga mengeluarkan bunyi unik. Ketiga karya koreografer yang pernah menjadi penata tari terbaik se-Sumatera Barat itu, selain tetap berangkat dari tradisi, juga kaya akan konsep pencapaian musikalitas dalam keheningan panggung. Musik tidak harus dimainkan secara "verbal" oleh para pemusik dengan alat-alat musik, tetapi ia sesungguhnya terintegrasi begitu sublim pada setiap gerakan dan tembang para penari. Musik pun tidak harus terlahir dari pukulan atau benturan terhadap benda-benda secara kasatmata, ia adalah komposisi nada halus yang sebenarnya telah terbeber dalam rasa. Itulah yang ingin dibangkitkan Ery dengan suguhan-suguhan yang hening, namun mengartikulasikan berbagai jeritan yang kini harus dihadapi oleh budaya Minang. (PUTU FAJAR ARCANA) RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php ----------------------------------------------- Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php ===============================================

