http://www.kompas.com/kompas-cetak/0211/19/dikbud/perl10.htm

Perlu Pelurusan Historiografi Minangkabau

Jakarta, Kompas - Guna menghindari pencampuradukan fakta dan mitos dalam
buku-buku sejarah muatan lokal di Sumatera Barat (Sumbar), historiografi
tentang masyarakat Minangkabau perlu dikaji secara komprehensif. Naskah
tradisional Tambo Minang (naskah kuno tentang sejarah Minangkabau) tidak
selamanya harus ditafsirkan secara tersurat, tetapi juga secara tersirat.

Demikian dikemukakan dosen Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas
Andalas Dr Muhammad Nur MS, ketika dihubungi hari Senin (18/11). Nur yang
juga Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Sumbar menegaskan,
penerbitan buku-buku sejarah standar muatan lokal di tingkat SD-SLTA harus
diawali dengan kajian informasi yang obyektif dan realistis.

"Kalau semua isi historiografi ditelan mentah-mentah, maka muatan buku
sejarah akan terdistorsi, dan ujung-ujungnya membingungkan pelajar," kata
Nur.

Menurut Nur, kalangan sejarawan dari berbagai lembaga di Sumbar menaruh
perhatian besar untuk menghimpun berbagai kajian untuk dituangkan dalam buku
sejarah standar muatan lokal maupun nasional. Antusiasme mereka tampak dalam
seminar tentang sejarah Minangkabau tanggal 9 November lalu di Padang.
Seminar merekomendasikan perlunya diterbitkan buku sejarah Minangkabau dalam
beberapa jilid, mulai dari zaman prasejarah, zaman kolonial, hingga zaman
reformasi.

"Dalam seminar, setidaknya ada dua hal mendasar yang dibahas. Pertama, isi
naskah kuno Tambo Minang. Kedua, mitos tentang sosok pembawa paham
matriliniar Bundo Kanduang bagi orang Minang," kata Nur.

Nur lebih lanjut menguraikan bahwa isi Tambo Minang mengandung mitos karena
mengklaim asal-usul orang Minangkabau dari Eropa, yakni Macedonia. Tanpa
didukung fakta yang akurat, Tambo Minang menceritakan bahwa nenek moyang
orang Minangkabau masih merupakan keturunan Iskandar Zulkarnaen, raja yang
memerintah pada zaman Romawi Kuno.

Hal yang sama itu juga ditemukan pada konsep Bundo Kanduang. Menurut Nur,
da-lam konsep itu, Adityawarman dimitoskan sebagai perempuan yang bertahta
di Paga-ruyung sekitar abad X-XIII Masehi. Bundo Kanduang memang diakui
sebagai pembawa konsep matriliniar, di mana perempuan punya kekuasaan
melebihi laki-laki. Cuma saja, anehnya, dikabarkan bahwa pada akhir hayatnya
Bundo Kanduang terbang ke langit.

Nur memaparkan, terbang ke langit di akhir hayat merupakan bagian dari paham
Hin-du-Buddha. Padahal, pada abad X-XIII Masehi, orang Minang sudah menganut
agama Islam.

"Jadi, jelas dalam cerita itu terjadi pencampuradukan fakta dan mitos. Hal
semacam ini perlu ditafsirkan tidak secara tersurat, tetapi tersirat.
Mela-lui kajian komprehensif dan kontekstual, diharapkan bisa lahir
penafsiran yang proporsional," kata Nur. (NAR)




RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
-----------------------------------------------

Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: 
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
===============================================

Kirim email ke