IJP orang papua, begitu berjibaku dengan perubahan nama dari Irian Jaya menjadi Papua, tetapi mereka menolak pemekaran wilayah. pemekaran wilayah justru lebih besar biayanya, lebih banyak korupnya, lebih lebar mudaratnya. Lihat bagaimana runyamnya hubungan antara warga provinsi kepulauan Riau dengan provinsi Riau. sejak UU Otda dijalankan, ada sekitar 70-an kabupaten/kota baru lahir, tetapi justru dampaknya merugikan.
AND Contoh yang di kemukakan ini adalah gambaran betapa morat maritnya indonesia saat ini. kenapa kita harus menambahnya dengan persoalan baru...... IJP Juga lihat bagaimana Ujung Pandang berganti nama menjadi Makasar. Kini nama itu jauh lebih memberikan "semangat" bagi orang-orang Makasar, ketimbang dulu ketika menyebut diri sebagai orang "Ujung pandang". Cost-nya tidak terlalu banyak. AND semangat yang timbul di makasar ini lebih condong ke arah semangat kedaerahan ...yang bisa lebih membahayakan terhadap keutuhan negara..... IJP Lihat bagaimana Muangthai berubah menjadi Thailand, Birma menjadi Myanmar, sesedikit apapun justru membawa kearah perubahan/perbaikan ekonomi, sosial dan budaya. Ketika lepas dari Indonesia, Timor Timur berubah menjadi Timor Lorosae. AND perubahan yang bersifat nasional rasanya tidak akan menganggu stabilitas nasional.....dan tidak akan menimbulkan persoalan baru di dalam negeri sendiri...... IJP pemberian nama-nama provinsi di Indonesia sebagian besar memang berada dalam keadaan darurat perang. dalam keadan normal, nama-nama itu bisa saja diubah, untuk menunjukkan keberagaman suku, adat, agama, istiadat, sejarah, tradisi, dll. AND apakah saat ini indonesia berada dalam kondisi normal??????????? astagfirullah ......... IJP kalau dihitung costnya, tak akan banyak. cuma persetujuan DPR, pergantian kop surat (dengan cara menghabiskan kop surat lama, yang disebut sebagai transisi adiministrasi), penggantian sejumlah bordir tanda pegawai (yang memang tiap pergantian seragam akan ada bordiran baru). anggarannya tak akan sampai Rp. 1 Trilyun, sebagaimana dana perang enam bulan di Aceh, atau tak akan sampai sebesar Rp. 600 Trilyun sebagaimana dana BLBI yang hilang karena sentralisasi keuangan. AND Apakah kehilangan tersebut akan di tambah dengan hal2 yang tidak penting pada saat ini.apakah kita belum jera menghambur2kan uang negara yang berasal dari pinjaman luar negeri???...pola pemikiran seperti inilah yang membuat indonesia belum mampu untuk keluar dari kemelut krisis multi dimensi yang terjadi saat ini..satu trilyun kalo digunakan untuk membeli komputer atau membeli buku2 ilmu pengetahuan untuk sekolah2...akan lebih terasa manfaatnya untuk generasi mendatang di banding dengan merubah nama provinsi yang hanya akan menimbulkan egoisme kedaerahan... IJP cost juga harus dihitung dari kebaikan atau keburukannya. sebagai perbandingan, berapa cost yang harus dibayar dengan memekarkan wilayah, dibandingkan dengan hanya mengubah nama wilayah? kini di Jambi antara elite dan warga kabupaten bungo dan kabupaten tebo bertengkar soal batas-batas wilayah, padahal dulu satu kabupaten. AND Apakah nama provinsi yang ada sekarang ini berdampak buruk bagi masyarakat??????.kenapa wilayah yang masih berada dalam negara republik indonesia masih perlu pemekaran..apakah ini bukan hanya sifat serakah para pemegang kekuasaan di daerah2 untuk memperkaya daerah masing2...dan mungkin juga akan memperkaya diri sendiri..karena alasan di balik pemekaran daerah itu tidak lain adalah kekayaan alamnya..apakah ini bukan akal2an para pejabat pemerintah daerah saja...memang harus di akui bahwa pemerintah pusat selama ini juga sangat serakah...dan sangat tidak adil... IJP demi politik, orang bersedia mati, bahkan menderita dan miskin. tak semua hal selalu terkait dengan ekonomi. apa kemerdekaan timor timur karena soal ekonomi? wow, tidak. mereka sangat miskin, kini semakin miskin. tapi mereka merasa jauh lebih bermartabat. AND ini adalah pandangan para pemain politik...karena ada suatu target pribadi yang ingin dicapai .....Jarang sekali para pemain politik yang ingin mewujudkan target untuk masyarakat.......apakah rakyat juga berfikiran seperti ini....apakah semua rakyat timor lorosae mengerti dengan jalan pikiran para petinggi pemerintahnya..ini hanyalah permainan segelintir orang saja...apakah semua rakyat lorosae mengerti dengan keinginan negara lainnya seperti australia yang ingin mendapatkan keuntungan dari minyak bumi yang terdapat di laut timor??????..di sinilah letak kekurang sensitifan atau boleh di sebut sebagai kecurangan para pemain politik terhadap rakyat....jarang sekali melihat pada kenyataan yang terjadi di masyarakat..kalaupun tau seringkali menutup mata.. IJP hanya negara-negara seperti Amerika yang menganggap politik sebagai masalah ekonomi, orang Korea Utara, Irak, Iran, dllnya tidak. hidup bukan untuk makan, tapi makan untuk hidup. AND Bagaimana dengan Indonesia????.apa kita berani lepas dari pinjaman luar negeri, IMF atau segala macam..apa kita berani melawan intervensi politik ekonomi amerika...apa kita berani hanya memanfaatkan apa yang ada pada kita.tidak tergantung pada negara lain...jika hal tersebut bisa kita lakukan, itu akan membuat kita lebih bermartabat di mata dunia..dari pada hidup dari hasil pinjaman..wai yoikk..alah malenceng pulo diskusi awak di siko mah..hehehehehe..... IJP ketimbang setiap saat muncul soal tuntutan "merdeka", "pemekaran" dllnya, kenapa tak diantisipasi dengan perubahan nama saja, sembari memperbaiki bidang-bidang lain? AND Apakah kita masih belum jera dengan hanya mengambil jalan pintas.yang jelas2 tidak menampakkan hasil apapun sampai saat ini.........apakah nama propinsi yang ada sekarang ini yang menjadi penyebab adanya tuntutan merdeka di daerah2????? Apa bukan karena tidak adanya pemerataan dan keadilan?????? IJP seorang anak di minang -- karena kampung saya minang, entah yang lain -- yang sakit-sakitan, biasanya diubah namanya, atau "dijual" ke orang lain. tidak ada orang yang ingin nama anaknya Dajjal atau Iblis. nama menjadi persoalan prinsip bagi sebagian orang, sekalipun tidak bagi orang lain. AND Iko adolah palanta urang minang..buliah di kecekaan 100% urang minang atau sumando nan barado disiko...Dajjal atau iblis itu tidak disukai karena isi dari kepala atau sifat2 makhluk tersebut tidak baik..jahat..curang.dsb..bukan namanya yang jelek..kalo dari segi kata2 nya..iblis.dajjal...kerbau..singa..sama saja..hanyalah sebuah nama...yang lebih penting adalah apa yang diperbuat atau dilakukan oleh si pemilik nama itu..kalau bicara masalah mistik atau hal2 gaib.. sampai2 mau menjual anak karena salah memberi nama....maaf saya tidak ikut bicara.. IJP kalau dunsanak-dunsanak suka nonton bola, lihat betapa beragamnya nama-nama club, sekaligus nama-nama daerah/kota yang diwakili. Chelsea, Madrid, Munchen, etc. coba liga kita dalam PON: kesebelasan sumatera utara, kesebelasan sumatera barat? coba lihat cara suporter "menolak"-nya. Sumatera Barat disebut "kesebelasan urang awak", ada yang disebut "Maung Bandung", "Ayam Kinantan", dll. Ini kan sebentuk identitas kultural yang muncul dari suporter... AND Jadi ini yang akan ditumbuh kembangkan di negara kita...sifat suporter yang suka berkelahi..lempar2an...adu jotos....karena begitu kuatnya sifat fanatisme..akan lebih hancur indonesia di masa yang akan datang jika banyak pemikir2 muda indonesia yang memiliki pola pikir seperti ini.... IJP ini hanya diskusi, jangan bawa ke hati. kalau setiap diskusi dibawa ke hati, mati kita.... AND Hehehe..santai se lah sanak.indak sampai ka mati bagai awak dek ota sarupo iko ko do..salam untuak si kecil nan baru mancogok.. RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php ----------------------------------------------- Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php ===============================================

