----- Original Message ----- From: Jo Buyuang,Marseille <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Sunday, June 29, 2003 5:37 AM Subject: [RantauNet.Com] Interesting article at Padang Ekspres Online
> Hello Sanak palanta RN.: > > URL: http://www.padangekspres.com/mod.php?mod=publisher?op=viewarticle&artid=9925 > Fungsi dan Peranan Tungku Tigo Sajarangan By padangekspres Minggu, 29-Juni-2003, 04:01:08 WIB 2 klik Penerapan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah Sumatera Barat yang dominan didiami oleh etnis dan budaya Minang kabau, semakin terbuka ditopang pula oleh budaya merantau yang telah menjadi bahagian dari kehidupan masyarakat Minangkabau. Tercermin dalam ungkapan Karatau madang diulu babuah babungo balun, marantau bujang dahulu dirumah baguno balun. Kemajuan Iptek dan proses pembangunan bangsa Indonesia telah pula menempatkan Indonesia khususnya Sumatera Barat sebagai rumah kaca yang selalu terbuka dari membuka diri dengan tuntutan reformasi dan pembangunan masyarakat modern diera globalisasi. Ditengah dunia yang semakin mengecil arus globalisasi saling nnempengaruhi semakin dahsyat, kita ingin dan bertekad menciptakan budaya Minangkabau yang bertumpu kepada Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Syarak Mangato Adat Mamakai sebagai bahagian dari budaya bangsa yang berbhineka tunggal ika dalam kepribadian bangsa Indonesia yang berfalsafah Pancasila. Proses Lahirnya Tungku Tigo Sajarangan Adityawarman sebagai raja Pagaruyuang yang pertama menurut garis keturunan adalah kemanakan orang Minangkabau. Untuk lebih jauh hubungan anak dengan kemanakan, maka Adityawarman diambil jadi menantu/orang sumando oleh orang Minangkabau dengan mengawinkan dengan anak Datuk Katumanggungan. Dengan demikian peran Adityawarman selaku raja dalam Minangkabau di Paga Ruyuang berfungsi sebagai kemanakan dan urang sumando. Kedudukan kemanakan menurut adat berada dibawah mamak, sedangkan sebagai orang sumando tinggi dianjung, gadang diamba, yang berkuasa di rumah gadang adalah mamak. Kita menyadari bahwa Adityawarman yang diasuh dan dibesarkan di pusat kerajaan Mojopahit telah menganut paham aritokrasi sesuai dengan sistim pemerintahan di Mojopalrit. Setelah Adityawarman di rajakan di Minangkabau berhadapan dengan adat Minangkabau dalam sistim pemerintahan yang egalite berdasarkan musyawarah dan mufakat; kemanakan barajo kemamak, mamak barajo kamufakat, mufakat barajo kanan bana, nan bana badiri sendirinya. Untuk mensetarkan kedua sistim pemerintahan itu agar fungsi sistim aristokrasi Mojopalrit dengan demokrasi Minangkabau, begitupun status Adityawarman dengan kedudukan sebagai Rajo Alam, kemanakan dan orang sumando serta Dt. Katunang-gungan dan Dt. Parpatih Nan Sabatang sebagai mamak. Untuk itu, ketiga tokoh utama Minangkabau ini harus secara aktif mengendalikan Alam Minangkabau. Tunggal Tungku Nan Tigo Sajarangan, yaitu Adityawarman didudukkan menjadi Rajo Alam yang dipersatukan di Murangkabau, sedang Daluk Patpatih Nan Sabatang mendampingi Rajo Alam dengan kedudukan sebagai Perdana Menteri dan Datuk Katumanggungan mendampingi Rajo Alam berkedudukan sebagai Panglima Angkatan Perang kerajaan Minangkabau. Hal ini sesuai dengan kedudukan Parpatih Nan Sabatang yang demokratis (bodi Caniago) dan Dt.Katumanggungan yang herarkis (Koto Peliang) dalam memimpin Alam Minangkabau selama ini. Akhirnya kombinasi Tri Tunggal ini menjadi Tungku Nan Tigo Sajarangan. Piagam Bukik Marapalam Setelah Syekh Burhanuddin menetap di Ulakkan , sekembalinya dari Aceh 1964 M bcserta 4 grang sahabatnya yaitu, Tuanku Padang Ganting dari Padang Ganting di Luliak Tanah Datar, Tuanku batu hampar dalam Luhak Lima Puluh Koto, yang tclah pcrltah menerima ajaran Islam melalui Minangka-bau/miar dari Siak tnelalui Kampar, Tuanku Bayang Salido yang berada di bawah kawasan rantau dalam penganut kerajaan Aceh Iskandar Muda, Tuanku Kubung Tigo Baleh yaitu kawasan yang berada antara Luhak din Rantau. Menurut Drs H Bagindo M Letter, keempat sahabat Syekh Burhanuddin ini sama-sama belajar di Aceh kepada Syekh Abdur Rauf. Namun yang dituakan diantara beliau-beliau yang berlima itu ialah Syekh Burhanuddin sekaligus ditunjuk juga sebagai guru yang akan melanjutkan Ilmu ke Islaman oleh Syekh Abdur Rauf. Masing-masing mereka yang berlima membangun lembaga pendidikan/pondok pesantren. Setiap tahun mereka yang berlima itu Setiap bulan Syafar mereka bertemu di Ulakan untuk mengevaluasi pertumbuhan dan perkembangan agama Islam serta sikap kaum adat atau para penghuu dalam menerima dan menerapkan ajaran Islam di Minangkabau secara terencana dan intetisif. Setelah 10 tahun (masing-masing perguruan Islam itu berjalan dari 1649 - 1659 M di adakan pcrtemuan~ di Pusat Pendidikan Surau Syekh Burhanuddin di Klakan') (di Medan) taliun 1659 M) 1079 H pada bulan Syafar. Hasil pertemuan itu menyimpulkan dua keputusan, pertama, ternyata perkembangan dan perpaduan serta persenyawaan antara Adat dan Syarak (Islam) di rantau lebilt cepat dan intensif disebabkan: adanya bantuan dari kerajaan Islam Aceh yang telah berpengalaman mensenyawakan adat: agama Islam "Adat bak Pentu Me-nrultum Sultan Iskandar, Syarak Bak sejiah di Kuala ( Adat dibawali kekuasan Almarlwm Sultan Iskandar Muda, Syarak dibawah Kekuasaan Syiah di Kuala ). Syekh Burhanuddin beserta sahabat-sahabatnya yang dirantau dan di Luhak mengembangkan Islam sudah terencana dan sistematis melalui Kultur/adat Minangkabau. Perkembangan Islam di Luhak terutatna dipusat sangat lamban dan masih banyak kendala-kendala yang menimbulkan konflik terutama dari pihak yang menimbulkan konflik terutama dari pihak penghulu/ninik mamak pemangku adat Bertolak dari evaluasi pertemuan tahun 1659 M/ 10 Syalar 1()79 1-1 di Ulakan telah diambil kesimpulan dan kesepakatan sebagai berikut, pertama, kekuatan Syarak yang telah dipegang oleh para Ulama dirantau yang berpusat di Ulakan harus di padukan dengan kekuatan adat di Luhak di Pagar Ruyung. Sebab kedatangan agam Islam hakekatnya tidak bertentangan dengan adat bahkan adat ditempatkan oleh ajaran Islam. Kedua, agar para Ulama pemegang syarak dan para penghulu pemangku adat bersama-sama membangun dan memelihara adat dan agama sama membangun dan memelihara adat dan agama (Islam) sehingga anak kemenakan aman sentosa, tenang dan damai untuk itu perlu adanya statemen (perjanjian dan kesepakatan) dalam Minangkabau antara kaum adat dan kaum agama dibawah restu yang dipertuankan di Pagar Ruyung dengan ketentuan saltabatt) seluruh rakyat (anak kemenakan atau anak nagari dalam Minangkabau resmi menganut dan mengamalkan agama Islam menurut mashab Syafei seperti Aceli, mensenyawakan adat dan syarak (Islam) bahwa adat basandi kasyarak, kata syarak dipakai oleh adat, struktur pemerintahan menurut sepanjang adat dilengkapi dengan fungsionaris-fungsionaris syarak (Islam), walaupun kekuasaan Raja di Pagaruyuang dengan BAB hanya sebagai lambang kesatuan alam minangkabau rantau dan nagari dibawa raja-raja kecil dan para penghulu namun kesatuan adat dan agama (syarak) perlu diwujudkan dan dipertaltankan. Bertolak dari hasil kesimpulan dan tekad diatas, diambillah keputusan bahwa lima serangkai yang didampingi oleh 11 orang raja-raja dirantau (ulakan) dibawa pimpinan Syekh Burhanuddin memegang kendali pemerintalian untuk memperkasakan adat dan syarak pada 10 bulan Syafar tahun 1079 I-1 bertepatan Tahun 1659 M Syek Burhanuddin bersama temannya yang berempat Tuanku Bayang dari Bayang, Tuanku Kubung Tigo Bateh dari Solok, Tuanku Batu Hampar dari 50 Koto, Tuanku Padang Ganting di Padang Ganting, didampingi oleh raja-raja rantau 11 orang yaitu, Amai Said, Rajo Dihulu, Rajo Mangkuto, Rajo Sulituan, Panduko Magek, Tambaro, Majo Bara, Malako, Malakewi, Rangkayo Batuah, Rajo Sampono. Syekh Burhanuddin beserta rombongan berangkat menemui Balai Ampek Balai. Atas nasehat Tuan Qodi dan inisaitif Tuanku Padang Ganting diadakan pertemuan di atas Bukit Marapalam yang terletak antara sungai dengan batu yang bulek yang disebut puncak Pato yang sudah dibuat kesepakatan atau ikrar yang kemudian terkenal dengan Piagam Bukik Marapalam atau Sumpah Sati Bukik Marapalam. Yang berbunyi: atas qudrat dan iradah Allah SWT, alah betamu di tempat nangko hambo-hambo Allah, untuk mempakatokan adat dan syarak untuk mailangkan sikap sangketo dan paitikaian antara kaum adat dan kaum ulama, sehigga adat tak tagisie, syarat tak talendo, pandang jauah dilayangkan pandang ampie ditukiakan, sapakaik lahie jo batin, sakato niaik jo mukasauik nak selamaik dunia akhirat yang akan mejadi pegangan anak kemenakan hiduik nan dikadipakai, mati dan dikaditompang, bahwa adat dan syarak akan dikukuhkan menjadi pegangan di dalam Minangkabau dengan niat dan tekad iko sambie menyarah pado Allah, sambia mengikuik kato Nabi, Pangulu Kaganti Nabi, Rajo Kaganti Allah untuk mengikrarkan dan menyepakati bahwa, pertama, Adaik Basandi Kepada Syarak, Syarak Basandi kepada Kitabullah, Syarak Mangato Adaik Mamakaikan. Kedua, segalo undang dalam Luhak dan Nagari di alam Minangkabau disamakan dengan tuntutan adat dan syarak. Ketiga, ikrar dan kesepakatan iko disampaikan oleh segala Pangulu dan Alim Ulama kepada anak kemanakan Minangkabau. Musyawarah Tigo Tungku Sajarangan juga melahirkan ikrar yang harus diterapkan. Kita tunggu kiprahnya. HENDRI SULAIMAN RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php ----------------------------------------------- Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php ===============================================

