Di Balik Terpuruknya Pendidikan di Sumbar
KETIKA hasil pendidikan di Sumatera Barat terpuruk, secara nasional, barang kali banyak orang kaget. Tidak menyangka, daerah yang katanya banyak melahirkan orang-orang hebat (dulu) di negeri ini dan menggalakkan "industri otak", hasil pendidikannya, dalam realitas faktual dewasa ini, ternyata sungguh memalukan.
DATA menunjukkan, hasil ujian akhir nasional (UAN) SMU, MA, dan SMK di Sumbar terjelek di Indonesia. Dari 54.491 peserta ujian, hanya 38.000 (atau 69,74 persen) yang lulus. Sisanya, 16.491 (30,26 persen), tidak lulus. Pada UAN SLTP, juga menunjukkan hasil yang memprihatinkan. Dari 73.796 peserta ujian, hanya 62.459 (84,64) persen yang lulus. Selebihnya, 11.337 (15,36 persen) belum lulus UAN.
Kalangan orangtua panik dan shock, dibuatnya. Termasuk anak-anak itu sendiri. Tak ada lagi corat-coret baju, sebagai ungkapan kebahagiaan atas kelulusan. Mereka merasa malu dan merasa masa depannya suram. Ketidaklulusan UAN menyebabkan harapan orangtua terhadap anaknya pupus.
"Saya ingin menyekolahkan anak saya ke perguruan tinggi terkemuka, tapi karena tidak lulus UAN, ia tak bisa meneruskan ke perguruan tinggi. Sistem UAN sangat merusak masa depan anak. Karena, apa yang telah dicita-citakan, bisa-bisa menjadi buyar," kata Baharuddin, warga Air Tawar, Padang.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Prof Dr Ir Satrio Sumantri Brodjonegoro, ketika berada di Padang dalam suatu seminar menegaskan, Depdiknas tidak akan mengubah kebijakan tentang ujian akhir nasional yang tertuang dalam Kepmendiknas Nomor 17 Tahun 2003.
"Sebab, kebijakan tersebut dirasakan telah optimal dan terbaik untuk kemajuan dunia pendidikan di Indonesia," katanya.
Menurut dia, tingginya angka ketidaklulusan siswa adalah merupakan realitas yang harus diterima. Dengan demikian, seluruh elemen yang terkait dengan dunia pendidikan harus melakukan introspeksi diri.
"Ini realita yang harus diterima. Untuk itu, segera ambil hikmahnya dan benahi dunia pendidikan. Sebab, kegagalan ini merupakan proses yang hendaknya menuju ke arah yang lebih baik," tambah Satrio.
Bagaimana dengan reaksi Pemerintah Daerah Provinsi Sumbar? Sungguh terkejut dan bagai mimpi di siang bolong. Akan tetapi, banyak kalangan menilai, itu hanya sebagai "berteater". Sebab, kalau mereka peduli dengan pendidikan, tentu anggaran bidang pendidikan diperbesar menjadi 20 persen atau lebih besar dari itu.
"Dalam kenyataannya, mereka tidak peduli dengan persoalan pendidikan, persoalan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Mereka hanya peduli bagaimana agar jabatan/kekuasaannya langgeng, kalau bisa untuk periode yang kedua kalinya. Untuk itu, ia hanya mau habis-habisan, sampai-sampai anggarannya diada-adakan, seperti dana aspirasi yang besarnya Rp 11 miliar per tahun, dan sebagainya," kata Asril, pemerhati masalah sosial pendidikan di Padang.
Senada dengan itu, Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Andalas, Firman Hasan SH LLM, menilai, anjloknya dunia pendidikan Sumbar terutama disebabkan kurangnya komitmen pemerintah terhadap sektor pendidikan. "Untuk itu, pemerintah harus bertanggung jawab dan segera mengevaluasi dan reorientasi pendidikan," ujarnya.
KEPALA Dinas Pendidikan Nasional Sumatera Barat Prof Satni Eka Putra, kepada Kompas menjelaskan, sebenarnya hasil pendidikan tahun-tahun lalu tidak jauh beda dengan yang sekarang. Artinya, hanya karena ada kebijakan UAN, menyebabkan banyak anak-anak yang tidak lulus.
"Kalau dulu, nilai anak umumnya dikatrol oleh pihak sekolah agar bisa lulus 100 persen. Sekarang, hal itu tak bisa lagi. Padahal, kalau dibanding hasil ujian tahun lalu (Ebtanas) dengan hasil ujian akhir nasional (UAN) hampir sama. Banyak siswa yang mendapatkan nilai tiga untuk beberapa mata pelajaran," katanya.
Menurut Direktur Pendidikan Menengah Umum Depdiknas Prof Dr Zamroni, dalam suatu seminar di Universitas Ekasakti, Padang, tanggal 16 Juni lalu, diberlakukannya UAN karena selama ini telah terjadi ketidakjujuran dan ketidakobyektifan para pendidik dalam menilai kemampuan siswa, sehingga sekolah mampu meluluskan 100 persen siswanya adalah hal yang bukan mustahil.
"Perilaku tidak jujur dalam pendidikan yang harus diubah agar dunia pendidikan ini semakin maju dan dinamis, dapat bersaing dengan bangsa luar negeri," ungkapnya.
Mencermati hasil UAN tingkat SMU, MA, dan SMK di Sumbar, mata pelajaran yang hasil ujiannya jelek antara lain Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, dan Sejarah. Umumnya, untuk mata pelajaran tersebut, kata Kepala Dinas Pendidikan Sumbar Satni Eka Putra, mereka hanya meraih nilai 3. Sedangkan yang meraih nilai 6 hanya satu-dua mata pelajaran.
"Ada yang menyalahkan sistem UAN, tapi dari awal kita sudah mensosialisasikannya. Kurikulum tak ada persoalan. Barang kali, anak-anak sudah terbiasa dengan sikap malas dan atau meremehkan mata pelajaran karena menganggap semua akan lulus," jelas Satni.
Lain halnya dengan Firman Hasan, ia melihat kegagalan pendidikan di Sumbar selain kurang didukung dana-yang berdampak pada kekurangan fasilitas, meja, bangku, laboratorium, dan sebagainya-juga atmosfir pendidikan kurang membuat siswa lebih aktif menggali pengetahuan. Siswa lebih banyak "mencawan" dan menghafal pengetahuan yang sudah jadi.
Sementara Dirjen Dikti Satrio Sumantri Brodjonegoro menilai, kegagalan terutama sekali disebabkan oleh adanya ketidakcocokan antara bakat siswa dan sekolah. Artinya, banyak siswa yang sekolah bukan berdasarkan keinginan dan bakatnya. "Secara umum, kegagalan siswa ternyata disebabkan tidak lulus satu atau dua mata pelajaran tertentu. Hal tersebut memperlihatkan adanya kurang minat dan bakat siswa terhadap mata pelajaran itu. Untuk itu, seharusnya diperlukan alternatif sekolah yang sesuai dengan minat dan bakat siswa," jelasnya.
NILAI UAN mungkin salah satu indikator untuk menilai mundurnya dunia pendidikan di Sumbar. Indikator lain, barangkali bisa dicermati dari pernyataan Direktur Sekolah Pendidikan Diplomasi bagi staf departemen luar negeri, Dr Boer Mauma, bahwa Sumbar miskin tokoh-tokoh diplomat karena rendahnya mutu pendidikan.
"Dari data tahun 2000, dari 53 peserta yang lulus tes diplomat di Jakarta, tidak satu pun berasal dari Sumbar. Hasil ini memberikan gambaran bahwa Sumbar yang terkenal dengan �gudang� diplomat mesti menyadari realita yang berkembang saat ini," katanya, seraya mengimbau, "Agar mutu pendidikan dan pelatihan di Sumbar ditingkatkan."
Sebelumnya sudah ada fenomena bahwa bila tahun-tahun lalu kebutuhan guru banyak dipasok dari Sumbar untuk kebutuhan Riau, Jambi, Bengkulu, dan Malaysia, maka sejak beberapa tahun terakhir tidak lagi. Dulu, orang Malaysia yang banyak menuntut ilmu ke Sumbar, kini orang Sumbar yang banyak menuntut ilmu ke Malaysia. Jadi, kenyataannya sudah terbalik.
Kasus lain yang bisa menjadi indikator mutu pendidikan, yakni tingginya angka tinggal kelas atau drop out di Sumbar untuk semua jenjang dan jenis pendidikan. Angkanya bisa mencapai belasan ribu siswa.
Lantas kalau begitu apa yang menjadi akar persoalan dari kualitas pendidikan di Sumbar yang rendah ini? Kecerdasan dan prestasi erat kaitannya dengan faktor kecukupan gizi. Bisa jadi, hasil yang dituai saat ini buah dari kasus gizi buruk/kurang gizi dan kekurangan yodium, yang telah terjadi sejak lama.
Akan tetapi, membicarakan hal ini kesannya tidak begitu menarik bagi pemerintah daerah setempat, termasuk oleh wakil rakyat di DPRD Sumbar, walau kenyataannya daerah ini, menurut hasil penelitian terbaru, masih ditemukan ribuan kasus balita gizi buruk dan sekitar 30.000 balita terancam gizi buruk bila tidak mendapat penanganan segera.
Z Chaniago - Palai Rinuak -http://photos.yahoo.com/bada_masiak/
====================================================================== Alam Takambang Jadi Guru ======================================================================
_________________________________________________________________
The new MSN 8: advanced junk mail protection and 2 months FREE* http://join.msn.com/?page=features/junkmail
RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php -----------------------------------------------
Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
===============================================

