Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Sanak Ronald dan Sanak James

Saya memang tidak melakukan analisis terhadap tulisan DjayaWikarta
karena percaya para sanak dan kekmenakan di Palanta mampu melalukannya
sendiri.  Dan saya sependapat dengan ulasan sanak James, bahwa pada
dasarnya Allah SWT memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih dan
tentu saja setiap pilihan mempunyai konsekuensi: tangan mencencang, bahu
memikul.

Saya hanya ingin memberikan latar belakang tulisan Kang Djaya itu
ditulisnya ketika seorang netter yang menamakan dirinya Bung Filsuf dan
mengaku atheis yang sebelumnya suka menyerang Islam namun belakangan ini
rajin �mengobrak abrik� teologi Paulus di Milis Proletar dan Apa Kabar.
DjayaWikarta adalah seorang netter muslim yang menggunakan pendekatan
�gula� dan bukan �gincu� dalam berwacana. Berikut ini saya salinkan
caranya dengan gaya bahasanya yang khas dalam menyikapi UU Sisdiknas
dalam sebuah postingnya di Milis Proletar beberapa waktu yang lalu.

Saya suka cara dan gaya bahasanyanya yang mengingatkan saya kepada salah
satu cara orang Minang dalam berwacana: cara malereng.

Dan menurut pengamatan saya cara berwacan seperti itu di mailing lis
lebih efektif dari pada cara frontal.

Wassalam, Bandaro Kayo

====================================

--- In [EMAIL PROTECTED], Djaya WK <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Aku kemarin sempat nolak sisdiknas
Aku bilang "Urusan agama koq diatur negara?"
Aku gak peduli mau dibilang sekuler atau apa karena urusan agama kupikir
urusan pribadi.

Lalu seperti biasa, demokrasi bangsa kita selalu ditegakkan melalui
demonstrasi. Ribuan orang demo mendukung, juga ribuan orang menolak
bahwa "setiap anak didik berhak mendapat pengajaran agama dari guru yang
seagama"

pasal 13 ini logik dan rasional tentu saja. untuk aku, ini aturan
biasa-biasa saja. Aturan ini tidak lebih buruk dari aturan yang
memaksakan keharusan orang menganut agama.

tadinya kupikir, orang yang nolak sisdiknas pastilah orang "sekuler"
seperti aku atau orang-orang atheis seperti orang-orang "nyaintific"
Ternyata konyol... penolak sisdiknas ternyata mayoritas orang orang
nasrani yang ngaku beragama.

"What's on earth ?", kira-kira begitu teriakan orang-orang yang bingung.

"Apa yang salah ?" dan "Kenapa menyalahkan ?"

Lalu logika fully ekonomis pun mencuat...
"Kami punya misi..."
"Kami sudah keluar modal banyak untuk misi ini.."
"Ribuan sekolah sudah kami bangun untuk misi kami.."
"UU sisdiknas tentu bertentangan dengan misi kami.."
"Kami tidak mau rugi...tentu saja".

Celakanya, orang Budha dan Islam, dan mungkin Hindu tidak mengendarai
bangunan sekolah untuk misi agama.

Mungkin negara harus menyediakan ganti rugi untuk yayasan-yayasan agama
pemilik sekolah jika UU sisdiknas disahkan.
Itupun jika ternyata memang benar sekolahnya diniatkan sebagai misi
penyebaran agama.

Kalau pendirian sekolah bukan untuk misi penyebaran agama, sangat tidak
logis jika Theis menolak UU Sisdiknas.

Atau, akan lebih bagus kalau sekolah "umum" dari yayasan-yayasan agama
berterus terang seperti pesantren
"Ini sekolah agama, bukan sekolah umum".

Tapi... begitulah.
Orang hanya "seolah-olah umum" dan takut berterus terang sejak dari awal
sebagai kelas dengan misi khusus agama.
Padahal, jika memang merasa berniat baik...declare it. sehingga tidak
akan ada orang merasa tertipu masuk pesantren hanya karena semua murid
harus belajar islam.


DjayaWikarta

====================================


Ayang Yusuf wrote:

>  Assalamu'alaikum.w.w.     Tarimo kasih, bana sanak Ronald.Tapi sanak
> Darwin batua juo, cuma agak kurang analisis dan interpretasi nan
> sasuai jo kabanaran nan dimukasuik dek Tuhan.
>
>    Tuhan Maha demokrasi, dan iNyo pemilik kebenaran mutlak (bukan
> sejati), lalu demokrasi nan bantuak aa nan di INyo ?. Tentu demokrasi
> ala Tuhan (Allah's version), bukan demokrasi ala Amerika atau Eropa
> atau Western ataupun demokrasi ala Mr. Darwin Bahar. Dan demokrasi ala
> Tuhan tu alah dituangkan dan ditulihkan dalam setiap kitab yang
> diturunkan mulai dari suhuf-suhuf zaman Nabi Adam sampai Ibrahim as.,
> sampai kepada empat kitab yang besar Taurat, Zabur, Injil dan
> Al-Qur'an. Sayang sampai hari kini ko, dan alah pulo dibuktikan urang
> (tamasuak Western people) bahaso kitab nan lain salain Al-Qur'an sudah
> terkontaminasi oleh tangan-tangan manusia. Sementara Al-Qur'an iyo
> alun ado satitiak juo salahnyo lai doh. Dan Qur'an tu kini ado di
> tangan awak masiang-masiang. Rancak kito caliak-calik juo baliak, jan
> koran sajo nan labiah dibaco daripado Qur'an.
>
>   Kini tingga di awak, ka manuruik demokrasi ala Western people atau
> ala Tuhan itu sendiri nan nyato-nyato awak yakini Tiada yang patut
> disembah kecuali Dia (Allah). (Cubo caliak demokrasi ala Tuhan nan
> paliang jaleh sahinggo Tuhan mangecekkan "Tiada paksaan dalam memeluk
> salah satu diin (agama)", ... maaf tolong cari dima latak ayat ko,
> buliah tacaliak juo Qur'an tu dek awak).
>
> Wassalam
>
> James
>
> -----------------------------------------------------------------------
> Do you Yahoo!?
> The New Yahoo! Search - Faster. Easier. Bingo.


RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
-----------------------------------------------

Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: 
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
===============================================

Kirim email ke