Subject: Fwd: RENUNGAN : Selamat jalan Ladan dan Laleh
Agar Kepalanya Terpisah Si Kembar Pernah Jalan Beda Arah Sumber : AP & ABC News Online detikcom - Jakarta, Ladan dan Laleh Binjani memang telah tiada. Namun spirit dan perjuangan si kembar untuk menggapai impian membekas di hati sanubari. Di usia 8 tahun, mereka sengaja berjalan berlawanan arah sambil berharap kepalanya terpisah. "Tapi itu kan tidak mungkin. Akhirnya mereka berdua hanya bisa menangis karena kesakitan," kenang seorang teman Ladan dan Laleh yang tak mau disebutkan namanya di Teheran Iran, Selasa (8/7/2003). Pikiran yang sungguh lugu dalam benak Ladan dan Laleh. Namun kenangan akan peristiwa itu membangkitkan rasa haru yang mendalam atas perjuangan gigih dua perempuan kembar Siam dempet kepala asal Iran itu. Ya, perjuangan Ladan dan Laleh bukan hanya dimulai di meja operasi RS Raffles Singapura pada Minggu (6/7/2003) lalu. Tapi sudah sejak masa kanak-kanaknya. Kini, dunia hanya bisa mengenang perjuangan hakiki dua anak manusia itu. Baik yang pernah mengenalnya maupun orang asing sekalipun yang hanya mengikuti perjuangan mereka melalui media. Bahkan Presiden Iran Mohammad Khatami pun langsung mengulurkan tangan menanggung semua biaya operasi. Cinta & Anti Binatang Ladan dan Laleh lahir dalam keluarga miskin dengan 11 anak di Firouzabad selatan Iran 29 tahun yang lalu dengan kepala menempel satu sama lain. Keluarganya tidak sanggup membiayai operasi pemisahan kepala mereka. Saat masa kanak-kanak, Ladan dan Laleh selalu tampak riang gembira bermain bersama teman-temannya. Mereka selalu mempunyai luka-luka di tangan, kaki, bahkan muka karena sering terjatuh saat bermain. Sejak kecil, mereka sudah memiliki kepribadian yang berbeda. Ladan sangat aktif bicara, punya hobi masak dan tidak suka binatang. Sedangkan Laleh cenderung pendiam, pemikir dan sangat cinta binatang. "Kami berdua punya pandangan hidup yang berbeda," kata Laleh dalam jumpa pers sebulan lalu. "Malahan kita sering berlawanan," sahut Ladan sambil tertawa. "Saya suka membaca koran Iran di internet dan saling berkirim email dengan teman-teman. Kalau Laleh lebih suka main game berjam-jam," tambah Ladan. Sering Nyontek Sewaktu melewati masa-masa sekolah, Ladan dan Laleh sering menyontek satu sama lain saat mengerjakan ujian. Caranya dengan membisikkan jawaban. Ketika lulus SMA, pemerintah Iran menilai keduanya tidak mungkin mengikuti ujian masuk perguruan tinggi secara individu. Mereka pun diberikan bea siswa mengikuti fakultas hukum di Universitas Teheran tahun 1994. Cita-cita di benak keduanya pun bertumbuh. Laleh ingin jadi jurnalis. Tapi Ladan ingin jadi pengacara. Tapi karena keduanya tidak mungkin berpisah, Laleh pun mengalah dengan mendukung Ladan belajar hukum agar bisa menjadi pengacara. Mereka memperoleh gelar sarjana hukum 6,5 tahun kemudian. Selama tahun-tahun kuliah itu pula keduanya terus berkeinginan kuat dan mendalam agar bisa hidup dengan kepalanya masing-masing. Patah Hati oleh Dokter Jerman Tahun 1996, para dokter Iran bersatu padu membantu Ladan dan Laleh ke Jerman untuk mengikuti test pendahuluan tentang kemungkinan dilakukannya operasi pemisahan kepala. Namun keduanya terpaksa pulang ke Iran dengan hati hancur lebur. Sebab para dokter Jerman menilai operasi itu terlalu berbahaya. Pasalnya pembuluh nadi yang mengalirkan darah dari otak mereka sama dan saling tersambung. Selama bertahun-tahun pula Ladan dan Laleh selalu mendengar kata-kata yang sama dari para dokter yang 'ditodong' untuk melakukan operasi. "Kami sangat ingin menolong kalian, tapi risikonya sangat berbahaya. Salah satu diantara kalian atau bahkan kalian berdua akan terbunuh. Jika pasien masih bayi, pemisahan kepala masih dimungkinkan. Tapi karena mereka sudah dewasa, risikonya terlalu besar," demikian kalimat yang dikeluarkan para dokter. Harapan dari Dr Goh Secercah harapan akhirnya bersinar dari Singapura. Ladan dan Laleh mendengar keberadaan seorang dokter ahli bedah urat syarat Dr Keith Goh. Goh pernah memimpin tim operasi pemisahan kepala bayi kembar siam perempuan dempet kepala berusia 11 bulan asal Nepal. Operasi yang berlangsung pada April 2001 itu menyita waktu 97 jam dan sukses. Namun Goh justru berusaha membujuk mereka untuk tidak menjalani operasi. Alasannya, tentu saja karena risiko yang sangat tinggi itu. "Kami sudah paparkan segala risikonya. Kami berusaha keras mengubah keinginan mereka. Tapi keinginan mereka ternyata lebih keras lagi. Kami tidak bisa mencegahnya," kata Dr Goh sebulan lalu. Senyum ceria pun segera menghiasi bibir Ladan dan Laleh. "Hari-hari terbaik kami dimulai saat kami menjejakkan kaki di Singapura pada November 2002," kata Ladan. "Setiap hari kami menulis memoar. Kami sangat tidak sabar menunggu hari H itu datang," sahut Laleh. Namun mereka bercerita kepada teman-temannya, meski seumur hidup ingin hidup dengan kepala terpisah, namun mereka tetap akan tinggal dalam satu apartemen di Iran. Untuk kemudian saling mengejar karir masing-masing. Belanja dan Senam Ladan dan Laleh menghabiskan 9 bulan waktunya di Singapura untuk mempersiapkan operasi, baik secara fisik maupun mental. Mereka pun sekaligus memperdalam bahasa Inggris. "Kami sama sekali tidak takut dengan operasi. Kami hanya bisa merasa gembira dan bahagia, sekaligus sedikit gugup," ujar Ladan dengan wajah berbinar-binar dalam jumpa pers sebulan lalu. Sedang Laleh mengakui mereka berdua sangat sadar akan bahaya operasi. Namun mereka hanya focus pada kesuksesan hasilnya. "Kami percaya Tuhan akan menolong. Kami pergi senam setiap hari dan berpikir positif. Fisik dan mental kami siap," katanya. Sedang menurut Bahar Niko, seorang guru yang menjadi orang kepercayaan si kembar selama di Singapura juga menceritakan hobi Ladan dan Laleh. "Mereka senang belanja kosmetik dan baju. Mereka tidak pernah merasa malu saat bepergian. Bahkan mereka merasa bangga. Mereka tidak ingin dikasihani orang lain," tutur Niko. Hanya Lewat Cermin Ladan dan Laleh juga menuturkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi selama kepalanya menempel satu sama lain. Yakni, tidak bisa melihat satu sama lainsecara langsung. "Kami hanya bisa melihat wajah satu sama lain melalui cermin. Kami sudah sangat rindu untuk bisa melihat wajah saudara saya secara langsung," ujar Laleh. Operasi pun berlangsung pada Minggu (6/7/2003) pagi di RS Raffles Singapura. Namun Selasa (8/7/2003) sore, saat operasi pemisahan kepala hampir selesai, Ladan meninggal dunia karena kehilangan banyak darah. Sekitar 90 menit kemudian, Laleh menyusul. Selalu Tersenyum Suasana di RS Raffles pun diselimuti duka yang mendalam. Teman-teman Ladan dan Laleh dan handai taulan bertangis-tangisan. Demikian juga komunitas Iran di Singapura yang dengan setia menunggu operasi si kembar. Isak tangis pun terdengar di seluruh penjuru Iran. Kini mereka hanya bisa mengenang senyum manis yang selalu mengembang di bibir kedua perempuan berparas cantik itu. Jiwa dan semangat mereka yang penuh dengan kegigihan untuk menggapai cita-cita menggugah sanubari setiap orang yang mendengar kisah mereka. "Mereka selalu tertawa, padahal mereka menjalani hidup dengan penuh kesulitan. Mereka selalu bahagia dan tersenyum. Mereka pasti pernah menangis, tapi kami tidak pernah melihatnya," kenang Monteza Fooladi, teman si kembar yang bertolak dari Iran 11 hari yang lalu ke Singapura. Manusia boleh berusaha, tapi Tuhan lah yang menentukan. Kata-kata ini memang klise, tapi inilah hal yang paling hakiki dalam kehidupan ini. Selamat jalan Ladan dan Laleh. RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php ----------------------------------------------- Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php ===============================================

