Sungguh sebuah kisah perjalanan tragedi hidup anak manusia,
betapa berharganya hidup dan betapa tipisnya batas antara
hidup dan mati.
Semoga membuat kita lebih menghargai kehidupan.
Salam

SBN
----- Original Message -----
From: "Ifankhanur Piliang" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "[EMAIL PROTECTED] Com" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, July 12, 2003 3:45 AM
Subject: [RantauNet.Com] RENUNGAN : Selamat jalan Ladan dan Laleh


>
> Subject: Fwd: RENUNGAN : Selamat jalan Ladan dan Laleh
>
>
>
> Agar Kepalanya Terpisah
> Si Kembar Pernah Jalan Beda Arah
> Sumber : AP & ABC News Online
>
> detikcom - Jakarta, Ladan dan Laleh Binjani memang telah tiada. Namun
spirit
> dan perjuangan si kembar untuk menggapai impian membekas di hati sanubari.
> Di usia 8 tahun, mereka sengaja berjalan berlawanan arah sambil berharap
> kepalanya terpisah. "Tapi itu kan tidak mungkin. Akhirnya mereka berdua
> hanya bisa menangis
> karena kesakitan," kenang seorang teman Ladan dan Laleh yang tak mau
> disebutkan namanya di Teheran Iran, Selasa (8/7/2003).
>
> Pikiran yang sungguh lugu dalam benak Ladan dan Laleh. Namun kenangan akan
> peristiwa itu membangkitkan rasa haru yang mendalam atas perjuangan gigih
> dua perempuan kembar Siam dempet kepala asal Iran itu.
>
> Ya, perjuangan Ladan dan Laleh bukan hanya dimulai di meja operasi RS
> Raffles Singapura pada Minggu (6/7/2003) lalu. Tapi sudah sejak masa
> kanak-kanaknya.
>
> Kini, dunia hanya bisa mengenang perjuangan hakiki dua anak manusia itu.
> Baik yang pernah mengenalnya maupun orang asing sekalipun yang hanya
> mengikuti perjuangan mereka melalui media. Bahkan Presiden Iran Mohammad
> Khatami pun langsung mengulurkan tangan  menanggung semua biaya operasi.
>
> Cinta & Anti Binatang
>
> Ladan dan Laleh lahir dalam keluarga miskin dengan 11 anak di Firouzabad
> selatan Iran 29 tahun yang lalu dengan kepala menempel satu sama lain.
> Keluarganya tidak sanggup membiayai operasi pemisahan kepala mereka.
>
> Saat masa kanak-kanak, Ladan dan Laleh selalu tampak riang gembira bermain
> bersama teman-temannya. Mereka selalu mempunyai luka-luka di tangan, kaki,
> bahkan muka karena sering terjatuh saat bermain.
>
> Sejak kecil, mereka sudah memiliki kepribadian yang berbeda. Ladan sangat
> aktif bicara, punya hobi masak dan tidak suka binatang. Sedangkan Laleh
> cenderung pendiam, pemikir dan sangat cinta binatang.
>
> "Kami berdua punya pandangan hidup yang berbeda," kata Laleh dalam jumpa
> pers sebulan lalu. "Malahan kita sering berlawanan," sahut Ladan sambil
> tertawa.
>
> "Saya suka membaca koran Iran di internet dan saling berkirim email dengan
> teman-teman. Kalau Laleh lebih suka main game berjam-jam," tambah Ladan.
>
> Sering Nyontek
>
> Sewaktu melewati masa-masa sekolah, Ladan dan Laleh sering menyontek satu
> sama lain saat mengerjakan ujian. Caranya dengan membisikkan jawaban.
> Ketika lulus SMA, pemerintah Iran menilai keduanya tidak mungkin mengikuti
> ujian masuk perguruan tinggi secara individu. Mereka pun diberikan bea
siswa
> mengikuti fakultas hukum di Universitas Teheran tahun 1994.
>
> Cita-cita di benak keduanya pun bertumbuh. Laleh ingin jadi jurnalis. Tapi
> Ladan ingin jadi pengacara. Tapi karena keduanya tidak mungkin berpisah,
> Laleh pun mengalah dengan mendukung Ladan belajar hukum agar bisa menjadi
> pengacara.
>
> Mereka memperoleh gelar sarjana hukum 6,5 tahun kemudian. Selama
tahun-tahun
> kuliah itu pula keduanya terus berkeinginan kuat dan mendalam agar bisa
> hidup dengan kepalanya masing-masing.
>
> Patah Hati oleh Dokter Jerman
>
> Tahun 1996, para dokter Iran bersatu padu membantu Ladan dan Laleh ke
Jerman
> untuk mengikuti test pendahuluan tentang kemungkinan dilakukannya operasi
> pemisahan kepala.
>
> Namun keduanya terpaksa pulang ke Iran dengan hati hancur lebur. Sebab
para
> dokter Jerman menilai operasi itu terlalu berbahaya. Pasalnya pembuluh
nadi
> yang mengalirkan darah dari otak mereka sama dan saling tersambung. Selama
> bertahun-tahun pula Ladan dan Laleh selalu mendengar kata-kata yang sama
> dari para dokter yang 'ditodong' untuk melakukan operasi.
>
> "Kami sangat ingin menolong kalian, tapi risikonya sangat berbahaya. Salah
> satu diantara kalian atau bahkan kalian berdua akan terbunuh. Jika pasien
> masih bayi, pemisahan kepala masih dimungkinkan. Tapi karena mereka sudah
> dewasa, risikonya terlalu besar," demikian kalimat yang dikeluarkan para
> dokter.
>
> Harapan dari Dr Goh
> Secercah harapan akhirnya bersinar dari Singapura. Ladan dan Laleh
mendengar
> keberadaan seorang dokter ahli bedah urat syarat Dr Keith Goh.
> Goh pernah memimpin tim operasi pemisahan kepala bayi kembar siam
perempuan
> dempet kepala berusia 11 bulan asal Nepal. Operasi yang berlangsung pada
> April 2001 itu menyita waktu 97 jam dan sukses. Namun Goh justru berusaha
> membujuk mereka untuk tidak menjalani operasi.
> Alasannya, tentu saja karena risiko yang sangat tinggi itu. "Kami sudah
> paparkan segala risikonya. Kami berusaha keras mengubah keinginan mereka.
> Tapi keinginan mereka ternyata lebih keras lagi. Kami tidak bisa
> mencegahnya," kata Dr Goh sebulan lalu.
>
> Senyum ceria pun segera menghiasi bibir Ladan dan Laleh. "Hari-hari
terbaik
> kami dimulai saat kami menjejakkan kaki di Singapura pada November 2002,"
> kata Ladan.
>
> "Setiap hari kami menulis memoar. Kami sangat tidak sabar menunggu hari H
> itu datang," sahut Laleh.
> Namun mereka bercerita kepada teman-temannya, meski seumur hidup ingin
hidup
> dengan kepala terpisah, namun mereka tetap akan tinggal dalam satu
apartemen
> di Iran. Untuk kemudian saling mengejar karir masing-masing.
> Belanja dan Senam
>
> Ladan dan Laleh menghabiskan 9 bulan waktunya di Singapura untuk
> mempersiapkan operasi, baik secara fisik maupun mental. Mereka pun
sekaligus
> memperdalam bahasa Inggris.
>
> "Kami sama sekali tidak takut dengan operasi. Kami hanya bisa merasa
gembira
> dan bahagia, sekaligus sedikit gugup," ujar Ladan dengan wajah
> berbinar-binar dalam jumpa pers sebulan lalu.
> Sedang Laleh mengakui mereka berdua sangat sadar akan bahaya operasi.
Namun
> mereka hanya focus pada kesuksesan hasilnya. "Kami percaya Tuhan akan
> menolong. Kami pergi senam setiap hari dan berpikir positif. Fisik dan
> mental kami siap," katanya.
> Sedang menurut Bahar Niko, seorang guru yang menjadi orang kepercayaan si
> kembar selama di Singapura juga menceritakan hobi Ladan dan Laleh.
> "Mereka senang belanja kosmetik dan baju. Mereka tidak pernah merasa malu
> saat bepergian. Bahkan mereka merasa bangga. Mereka tidak ingin dikasihani
> orang lain," tutur Niko.
> Hanya Lewat Cermin
> Ladan dan Laleh juga menuturkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi selama
> kepalanya menempel satu sama lain. Yakni, tidak bisa melihat satu sama
> lainsecara langsung.
> "Kami hanya bisa melihat wajah satu sama lain melalui cermin. Kami sudah
> sangat rindu untuk bisa  melihat wajah saudara saya secara langsung," ujar
> Laleh.
>
> Operasi pun berlangsung pada Minggu (6/7/2003) pagi di RS Raffles
Singapura.
> Namun Selasa (8/7/2003) sore, saat operasi pemisahan kepala hampir
selesai,
> Ladan meninggal dunia karena kehilangan banyak darah. Sekitar 90 menit
> kemudian, Laleh menyusul.
> Selalu Tersenyum
>
> Suasana di RS Raffles pun diselimuti duka yang mendalam. Teman-teman Ladan
> dan Laleh dan handai taulan bertangis-tangisan. Demikian juga komunitas
Iran
> di Singapura yang dengan setia menunggu operasi si kembar. Isak tangis pun
> terdengar di seluruh penjuru Iran.
> Kini mereka hanya bisa mengenang senyum manis yang selalu mengembang di
> bibir kedua perempuan berparas cantik itu. Jiwa dan semangat mereka yang
> penuh dengan kegigihan untuk menggapai cita-cita menggugah sanubari setiap
> orang yang mendengar kisah mereka.
> "Mereka selalu tertawa, padahal mereka menjalani hidup dengan penuh
> kesulitan. Mereka selalu bahagia dan tersenyum. Mereka pasti pernah
> menangis, tapi kami tidak pernah melihatnya," kenang Monteza Fooladi,
teman
> si kembar yang bertolak dari Iran 11 hari yang lalu ke Singapura.
> Manusia boleh berusaha, tapi Tuhan lah yang menentukan. Kata-kata ini
memang
> klise, tapi inilah hal yang paling hakiki dalam kehidupan ini.
>
>
> Selamat jalan Ladan dan Laleh.
>
>
>
> RantauNet http://www.rantaunet.com
> Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
> -----------------------------------------------
>
> Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke:
> http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
> ===============================================
>


RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
-----------------------------------------------

Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: 
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
===============================================

Kirim email ke