Rasa Nasionalisme Terluka
Oleh Kartono Mohamad
MENGAPA orang Bali, Jawa, Makassar, Padang
(Minang - tg), Manado, Ambon, dan lainnya
merasa diri sebagai bangsa Indonesia? Pertanyaan ini mungkin tak pernah
terpikirkan. Kalaupun terpikirkan, tak pernah terungkap.
Sejak Budi Utomo berdiri tahun 1908, dan kemudian semakin mengental dalam
Sumpah Pemuda tahun 1928, tanpa terasa perasaan sebagai satu bangsa (nasion)
tertempa dan merasuk ke dalam pikiran berbagai kelompok etnis yang menghuni
Nusantara. Seperti ditulis Benedict Anderson pada tahun 1983, nasionalisme
adalah "an imagined political community-and imagined as both inherently
limited and sovereign".
Rakyat penghuni Nusantara yang bekas Hindia Belanda sudah menanamkan dalam
pikiran mereka bahwa mereka adalah satu bangsa, bangsa Indonesia, dan satu
tanah air, tanah air Indonesia, seperti yang mereka ucapkan dalam sumpah
mereka pada tahun 1928 itu. Nasionalisme Indonesia bukan lagi nasionalisme
etnis yang terbatas pada satu kelompok etnis tertentu.
Dalam masyarakat modern, nasionalisme berbasis etnis ini memang hampir
tidak populer lagi karena hampir selalu mengundang masalah baru di dalam
hubungan antarsuku (tribes) yang ada di dalam tubuh mereka sendiri.
Tidak dapat disangkal lagi nasionalisme Indonesia, seperti juga
nasionalisme Norwegia, adalah nasionalisme yang diciptakan (invented).
Norwegia memisahkan diri dari Kerajaan Denmark dan menjadi negara merdeka
tahun 1905 yang, menurut Thomas Hylland Eriksen, didahului dengan "penciptaan"
budaya dan bahasa Norwegia yang berbeda dari Denmark. Untuk itu, para pencetus
kemerdekaan Norwegia mengambil budaya dan bahasa (dialek) para petani di
tengah pegunungan Norwegia sebagai budaya dan bahasa mereka karena di kota
Norwegia digunakan bahasa Denmark.
Demikian pula para bapak pendiri (founding fathers) nasion Indonesia,
melalui Budi Utomo dan kemudian Sumpah Pemuda, telah menciptakan nasionalisme
Indonesia yang lintas etnis, dengan simbol bendera Merah Putih dan bahasa
Indonesia. Semasa kepemimpinan Bung Karno dan Bung Hatta, nasionalisme
Indonesia ini berhasil dijaga dan ditanamkan sehingga merasuk ke darah daging
setiap orang Indonesia, tidak peduli di mana dia lahir dan dari suku apa
orangtuanya berasal. Bahkan, pemberontakan (insurgensi) yang dilakukan PRRI di
Sumatera masih menggunakan istilah Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia,
dan Permesta di Sulawesi Utara pun tidak menggunakan kelompok etnis atau batas
wilayah tertentu.
Rakyat Indonesia, seperti juga Amerika Serikat, adalah masyarakat yang amat
pluralistik, baik dari segi etnisitas, bahasa ibu, maupun adat budayanya. Akan
tetapi, berbeda dengan masyarakat Amerika Serikat yang sebagian besar (kecuali
native American atau Indian) adalah pendatang yang dengan kemauan sendiri
mendatangi benua tersebut, suku-suku bangsa di Indonesia adalah penduduk
pribumi yang sudah beribu tahun menghuni wilayah tertentu dalam negara yang
kemudian menjadi Republik Indonesia.
Perasaan menjadi pemilik sah dari suatu wilayah lebih kental di antara
kelompok etnis Indonesia dibandingkan dengan dengan rakyat Amerika Serikat.
Maka, sungguh merupakan keberhasilan yang sangat besar dari para pendiri
negara ini untuk dapat membuat mereka kini merasa bahwa tanah air mereka
adalah Indonesia, bukan hanya Jawa, Bali, Sulawesi, Irian, dan sebagainya.
Pembentukan rasa nasionalisme Indonesia tertentu jauh lebih sulit dibandingkan
dengan Norwegia yang negaranya berupa satu daratan tanpa terpisah-pisahkan
oleh lautan.Terluka
Seperti ditulis Eriksen dalam bukunya, Etnicity and Nationalism, bangsa
adalah sebuah komunitas yang diharapkan terintegrasi dalam hal budaya dan
identitas diri secara abstrak dan anonimus (nations are communities where
citizens are expected to be integrated in respect to culture and self-identity
in an abstract, anonymous manner). Selama masa kepemimpinan Bung Karno dan
Bung Hatta, rasa nasionalisme Indonesia dapat dipertahankan karena perasaan
kebersamaan dapat dipertahankan.
Pertama, Bung Karno dan Bung Hatta tidak pernah menonjolkan identitas
etnisnya. Bung Karno hampir tidak pernah menyatakan dirinya orang Jawa, tidak
banyak menggunakan bahasa Jawa, tidak pula menonjolkan budaya Jawa-nya.
Demikian pula Bung Hatta dan pemimpin lainnya.
Kedua, kehidupan pemimpin yang tidak terlalu jauh di atas kehidupan rakyat
dalam hal kemewahan. Hanya di bagian akhir pemerintahannya, Bung Karno banyak
digunjingkan dan dikritik karena membangun istana-istana baru meskipun tidak
satu pun yang dia klaim sebagai milik pribadi atau keluarganya. Juga kritik
tentang ketimpangan kehidupan muncul ketika Bung Karno bersikeras membangun
Monumen Nasional ketika rakyat mengalami kesulitan mendapatkan bahan makanan.
Akan tetapi, sebegitu jauh kritik itu belum sampai melukai rasa nasionalisme
Indonesia.
Nasionalisme Indonesia yang belum terlalu kukuh, bagaikan adukan beton yang
belum mengering, mulai terluka ketika ciri etnisitas menjadi makin menonjol,
yang kemudian dibungkam secara represif dengan tutup SARA (suku, agama, ras,
dan antargolongan) di masa Orde Baru. Ketika sikap "kami" dan "mereka" (us and
them) makin menyeruak seperti bara dalam sekam. Ketika pemerintah pusat
melaksanakan program pembangunan, tetapi dalam kenyataan mengeruk kekayaan
dari daerah untuk diambil ke pusat, tetapi kemudian tidak kembali ke daerah,
bahkan di pusat pun hanya dinikmati oleh sekelompok keluarga. Ketika Soeharto
sangat menonjolkan kejawaannya bahkan dalam memerintah pun gaya feodal
Jawa-nya sangat menonjol. Ketika ketidakmerataan kesejahteraan dan pembangunan
makin terasa dan makin tampak justru setelah hadirnya media televisi swasta
yang ironisnya lebih dikuasai keluarga Soeharto.
Perasaan bahwa daerah telah diperas oleh "orang-orang pusat" secara
berangsur-angsur menjadi perasaan bahwa mereka diperas oleh orang-orang Jawa,
tanpa menyadari bahwa "orang-orang pusat" yang korup itu juga berasal dari
berbagai suku. Namun, karena Soeharto sangat kentara menampilkan kejawaannya,
perasaan semacam itu tidak dapat dihindari.
"Batas-batas etnis" yang semula hanya pada aspek kesenian meluas menjadi
"batas budaya" (cultural boundaries) dalam arti yang lebih luas. Kemudian hal
itu makin menguat dengan territorial boundaries, yang setelah Soeharto jatuh
perasaan itu pun berani muncul dalam isu "Riau Merdeka", "Aceh Merdeka", dan
sebagainya, yang merupakan bentuk reaksi kemarahan terhadap perlakuan yang
diterima semasa kepemimpinan Soeharto.
Satu-satunya institusi yang masih dapat mempertahankan rasa nasionalismenya
adalah TNI, tetapi hal itu dilakukan melalui sistem organisasi dan hierarki
yang tidak sama dengan masyarakat sipil. Berbeda dengan Bung Karno, Soeharto
mencoba menerapkan sistem militer yang represif untuk mempertahankan integrasi
bangsa yang kemudian lebih mengutamakan integritas teritorial, tetapi
melupakan integritas sosial.
Hati yang terluka di daerah-daerah itu kemudian mempertebal ethnic
boundaries, yang diikuti territorial boundaries berdasarkan etnis, serta
perasaan "kami" dan "mereka" yang makin mengental. Rasa "memiliki daerah
tertentu sebagai peninggalan nenek moyang" merupakan pembeda yang jelas dengan
pluralisme rakyat Amerika Serikat.
Maka kemudian muncul isu "putra daerah" baik secara terbuka maupun
terselubung, yang mengindikasikan bahwa rasa sebagai satu bangsa sedang
mengalami kemunduran. Isu "putra daerah" ini selanjutnya dapat makin menyempit
menjadi isu suku yang lebih kecil. Bisa jadi akan ada tuntutan agar Gubernur
NTB, misalnya, harus dari suku Sasak dan bukan suku Bima karena ibu kotanya di
Lombok, yang kemudian akan membuat orang Sumbawa ingin membentuk provinsi
tersendiri.
Kini perasaan "kami" dan "mereka" makin diperumit dengan masalah agama,
seperti yang tersirat dalam ribut-ribut soal UU Sisdiknas, perselisihan
antarkelompok agama, dan munculnya kelompok-kelompok ekstrem dalam agama.
Sikap "us and them" di antara umat beragama secara sengaja diperkuat justru
oleh para pemimpin umat. Saling curiga berdasarkan suku, daerah, dan kemudian
agama ini jika tidak dikelola dengan baik, atau justru bahkan disuburkan oleh
beberapa pemimpinnya, akan membawa kehancuran Indonesia sebagai bangsa.
Ketika rasa kebersamaan sebagai satu bangsa menyusut, suatu saat tidak ada
lagi sebuah nasion yang bernama Indonesia. Pada saat itu mungkin kita akan
menuduh dan menyalahkan bangsa lain yang telah mengaduk-aduk separatisme di
Indonesia tanpa melihat kelemahan dalam diri sendiri.
Kartono Mohamad Seorang Dokter di Jakarta