Anda benar, masyarakat pada dasarnya tidak peduli, namun ada sekelompok vokal yang demikian, dan ini memberikan image yang kurang pas. Masyarakat kebanyakan sekuler dan acuh, sayangnya sikap acuh ini justru menjebak mereka, contohnya mereka mau saja bersumpah setia pada pancasila, nkri dll.
Ada yang lucu; kelompok islam tradisional sangat khawatir pancasila itu diganti, karena mereka takut gantungan mereka dengan penguasa lenyap, padahal mereka hanya sekedar jadi budak penguasa saja, contohnya para birokrat di depag. Kemudian para kelompok nasrani MAWI, DGI juga jadi penyokong berdemangat kalau bukan fanatik terhadap pancasila padahal itu bertentangan dengan ajaran agama mereka sendiri, harusnya mereka yang jadi oposisi pertama terhadap pancasila. Agama memang sangat gampang dijadikan alat permainan politik. Kemarin saya lihat di TV polisi memaksakan pemakain jilbab pada setiap wanita yang lewat dijalan umum di banda aceh,... dan nggak ada yang berani protes.
Kalaulah disebut rumit, kerumitan itu bermula dari negara yang didasarkan pada ketuhanan yang maha esa, alih-alih mengurus maysarakat, yang diurus kepentingan sendiri "atas nama tuhan". Separatisme, hanya penganut islamisme yang sangat anti separatisme sehingga selalu berdarah-darah terus, hak dasar setiap masyarakat untuk menentukan nasib sendiri, sayangnya mudah terpancing jadi bersenjata dan berdarah, contoh terbaru Aceh masih berlangsung.
Menjadi orang Indonesia, kan tidak berarti harus melepaskan diri dari urang Minang, justru menjadi urang Minang itu yang menurut saya akan menguatkan indonesia.
Salam
 
SBN
----- Original Message -----
From: Irdam Syah
Sent: Thursday, July 17, 2003 12:29 PM
Subject: RE: [RantauNet.Com] Nasionalisme dan HAM

Saya kira justeru persoalannya cukup rumit karena banyaknya berbagai kepentingan (terutama menyangkut keuntungan materi) sehingga menggunakan "separatisme" sebagai kuda tunggangan untuk mencapai keinginannya atau kelompoknya...
 
Rasanya tidak banyak masyarakat yang me"mitos"kan Pancasila.. Yang menciptakan mitos tersebut adalah penguasa untuk digunakan sebagai alat dalam melanggengkan kekuasaannya... Jadi jangan dibaliklah mamak....
 
salam - tg
-----Original Message-----
From: SBN [mailto:[EMAIL PROTECTED]

Persoalannya sebenarnya sangat mudah, hanya saja sangat banyak anggota masyarakat yang tidak mau, karena mentabukan ini dan itu. Memitoskan seribu hal, diantaranya pancasila.
Salam
 
SBN
----- Original Message -----
From: Irdam Syah
Sent: Wednesday, July 16, 2003 12:42 PM
Subject: RE: [RantauNet.Com] Nasionalisme dan HAM

Untuk melengkapi tulisan mengenai nasionalisme yang di-forward oleh pak SBN, artikel pak Kartono Muhammad berikut ini melihat lebih jernih lagi kenapa terjadi degradasi rasa nasionalisme Indonesia sehingga dengan mengetahui akar permasalahannya diharapkan lebih "mudah" untuk me-recover rasa kebangsaan kita...
 
salam - tg
 
(Ini dari KOMPAS hari ini.)

Selasa, 15 Juli 2003

Rasa Nasionalisme Terluka

Oleh Kartono Mohamad

MENGAPA orang Bali, Jawa, Makassar, Padang (Minang - tg), Manado, Ambon, dan lainnya merasa diri sebagai bangsa Indonesia? Pertanyaan ini mungkin tak pernah terpikirkan. Kalaupun terpikirkan, tak pernah terungkap.

Sejak Budi Utomo berdiri tahun 1908, dan  ...<cut>...

Ketika rasa kebersamaan sebagai satu bangsa menyusut, suatu saat tidak ada lagi sebuah nasion yang bernama Indonesia. Pada saat itu mungkin kita akan menuduh dan menyalahkan bangsa lain yang telah mengaduk-aduk separatisme di Indonesia tanpa melihat kelemahan dalam diri sendiri.

Kartono Mohamad Seorang Dokter di Jakarta

 
-----Original Message-----
From: SBN [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, 3 June 2003 4:40 PM

NASIONALISME DAN HAK ASASI MANUSIA
                         Oleh Hendardi

    ADA momok yang menghantui para pengibar otoritarianisme di
Indonesia. Momok itu adalah hak asasi manusia, demokrasi atau
reformasi total. Mereka bukan saja berusaha  ...<cut>... 

Kirim email ke