Nah, salah dimengerti lagi, apa manfaatnya buat saya mengagung-agungkan mereka?
Hanya faktual mereka (FAA) ini paling diakui diseantero dunia, kalau ada yang setara
kenapa PTDI tidak dari dulu kesana saja (dalam kasus N250). Kenyataan toh PTDI
masih saja berkiblat kesana karena itu yang ter....
 
Anda perlu membedakan antara Boeing dengan FAA, semua hasil kerja Boeing
sertifikasi FAA, giliran manufacturing, diserahkan ke PTDI karena tenaga kerja
yang murah dibanding dimanufacturing disana, outsourcing adalah ciri bisnis
sekarang.  Kapitalis? sudah ketingglan jaman tuh cara pikirnya, apalagi dikaitkan
berita Hornet melanggar wilayah Ina?  Setelah laporan pilot Bouraq jam 11.00
pesawat intercept dari Madiun baru take off jam 17.00 apa itu bukan sekedar
isapan jempol tni mengalihkan perhatian dari Aceh dan pembelian Sukhoi.
 
Beli Sukhoi yang belum perlu, uang sekolah dibaikkan seenak perut, apa itu
pemerintah yang jadi pelayan rakyat? Ntar lagi Depag dengan stiker halal akan
membuat harga barang tambah naik lagi (kalau jadi stikerisasi).
 
Bukan membela amrik, kenapa sedikitpun tidak ada kordinat pelanggaran itu
diuraikan, dan berapa kordinat yang masuk alur pelayaran bebas, USS Vinson itu
memang sarendeng teteng dengan kapal perusak, perbekalan dan Hornetnya.
Politik tentara sudah lagu lama. Alun bakilek alah bakalam, jan takicuah juo.
Salam
 
SBN
----- Original Message -----
From: Irdam Syah
Sent: Thursday, July 17, 2003 12:58 PM
Subject: RE: [RantauNet.Com] N250 DAN KEBANGGAAN BANGSA

Ah, anda terlalu mengangung2kan mereka pakai istilah "sunatullah" segala... Sebenarnya hanya karena ketatnya pelaksanaan hukum disana sehingga salah-salah memberi rekomendasi bisa-bisa mereka dituntut balik kalau terjadi apa-apa.. Atau bisa saja karena sifat kapitalis mereka untuk mematikan saingan bisnisnya sehingga dicari-cari kesalahan untuk mempersulit pemberian sertifikasi...
 
Saya yakin Habibie atau IPTN/PTDI pasti mengertilah bahwa bisnis pesawat terbang tidak bisa dikelola secara main-main seperti isu yang anda kemukakan itu... Mana pula mau Boeing memberi order kepada mereka jika isu anda itu benar... Lihat saja arogansi sifat kapitalis si amrik itu, terdengar ina mau beli sukhoi dia langsung saja melanggar kedaulatan udara ina mendemokan kedigjayaan AUnya....
 
Marilah kita sama-sama merenung....
 
salam - tg
-----Original Message-----
From: SBN [mailto:[EMAIL PROTECTED]

Assalamu'alaikum wr. wb.
 
Ada yang kurang disampaikan oleh penulis karangan ini dan hal itu salah satu pokok kegagalan
PTDI (IPTN) yaitu soal sertifikasi oleh FAA (Federal Aviation Agency) dari Amrik.
Seharusnya diceritakan bagaimana FAA menolak sertifikasi laik terbang dari N250, dan sebelumnya
menolak sertifikasi design. Kenapa?
Dikejar oleh waktu Habibie dkk main potong kompas dalam design sampai manufacturing prototype
N250, padahal itu adalah pantangan dalam industri aviasi, hasilnya ketika personnel FAA datang
nggak ada yang lolos sertifikasi, pada hal mereka telah dilobby besar-besaran, ternyata iman
mereka tidak goyah (ini perlu kita tiru).
Kenapa FAA yang harus mensertifikasi? Hampir 90% pesawat non militer didunia mengandalkan
sertifikasi dari FAA, karena mereka terbukti tegung memegang prinsip, harus sesuai standard yang
mereka tuliskan, yaitu sunatullah dalam aviation. Kenapa mereka mampu, karena mereka orang yang
mau berfikir bebas, sehingga seorang auditor FAA, bagga dengan kerjaannya, dan tidak akan mungkin
disogok untuk tanda tangan atas yang tidak memenuhi sunatullah aviation.
N250 kalau mau dapat sertifikat FAA dan laku dijual, harus dirancang ulang sesuai sunatullah FAA.
Untuk direnungkan
 
Salam
 
SBN
----- Original Message -----
 

Bagi yang belum dan mau membaca:
 
N250 DAN KEBANGGAAN BANGSA

          Hendarmin Djarab, SH., MBA

          Bangsa   Indonesia   adalah   bangsa  besar,  yang  mendiami ... 

Kirim email ke