Muhammad Dafiq Saib <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 Assalamu'alaikum wr.wb.,
Laporan pandangan mato dari arena katam kaji
Wassalamu'alaikum wr.wb.,
Lembang Alam

Wa'alikum salam.w.w.

    Santiang curito (Uda) Sutan, terasa benar suasananya oleh saya.

Tapi sayangnya (Uda) Sutan, menurut beberapa sumber yang saya dapat, setelah SMP

mereka lupa dengan semua itu. Entah karena pendidikan agama yang memang sudah

dikurang-kurangi di Sekolah umum, atau memang sistem belajar-mengajar di MDA yang

tidak memberikan rasa kepada mereka bahwa yang terpenting adalah isi Al-Qur'an itu,

bukan sekedar nyanyi-nyanyi saja (walaupun berpahala juga).

    Tapi ini memang sudah menjadi adat pula (istilah SBN ko sunnatullah), kalau mau

mamacit al-Qur'an tu, banyak diantaranya yang patuh dengan berwudhu. Sebab kalau

tidak, berdosa menurut paham mereka. Lalu dicium-cium,pegang, cium-cium, apalagi

kalau mushaf itu terjatuh. Dicium-cium dan dijunjung. Entah kepada mereka diajarkan

hanya dari segi Nisbah zahir  saja atau bagaimana. Isi tidak diamalkan mereka tiada

takut. Dan hal itu berlanjut sampai umurpun lanjut.

    Entah bila agaknya kita akan melihat dan hidup kembali dalam masyarakat

manusia yang seperti al-Qur'an hidup. Entah bila agaknya. Apalagi sekarang Islam

sudah dipermacam-macamkan orang. Entah sosialis entah liberalis, entahlah.

Wallahu'alam bis sawab.

(Kapado mamak-mamak, angku-angku, pandito-pandito, cadiak pandai, nan gadang

basa batuah, rila jo maaf ambo mintak. Jo Buyuang, ghangak amboko danga-an je lah,

bia lah kok ka disabuik e awak ayam sighah bagai, kok ka disabuik e ghuak-ghuak

bagai, bia lah ambo tangguangkan, pado maghengek pulo anak indak makan beko).

Wassalam w.w.

James


Do you Yahoo!?
The New Yahoo! Search - Faster. Easier. Bingo.

Kirim email ke