Assalamu'alaikum wr.wb.,Laporan pandangan mato dari arena katam kajiWassalamu'alaikum wr.wb.,Lembang Alam
Wa'alikum salam.w.w.
Santiang curito (Uda) Sutan, terasa benar suasananya oleh saya.
Tapi sayangnya (Uda) Sutan, menurut beberapa sumber yang saya dapat, setelah SMP
mereka lupa dengan semua itu. Entah karena pendidikan agama yang memang sudah
dikurang-kurangi di Sekolah umum, atau memang sistem belajar-mengajar di MDA yang
tidak memberikan rasa kepada mereka bahwa yang terpenting adalah isi Al-Qur'an itu,
bukan sekedar nyanyi-nyanyi saja (walaupun berpahala juga).
Tapi ini memang sudah menjadi adat pula (istilah SBN ko sunnatullah), kalau mau
mamacit al-Qur'an tu, banyak diantaranya yang patuh dengan berwudhu. Sebab kalau
tidak, berdosa menurut paham mereka. Lalu dicium-cium,pegang, cium-cium, apalagi
kalau mushaf itu terjatuh. Dicium-cium dan dijunjung. Entah kepada mereka diajarkan
hanya dari segi Nisbah zahir saja atau bagaimana. Isi tidak diamalkan mereka tiada
takut. Dan hal itu berlanjut sampai umurpun lanjut.
Entah bila agaknya kita akan melihat dan hidup kembali dalam masyarakat
manusia yang seperti al-Qur'an hidup. Entah bila agaknya. Apalagi sekarang Islam
sudah dipermacam-macamkan orang. Entah sosialis entah liberalis, entahlah.
Wallahu'alam bis sawab.
(Kapado mamak-mamak, angku-angku, pandito-pandito, cadiak pandai, nan gadang
basa batuah, rila jo maaf ambo mintak. Jo Buyuang, ghangak amboko danga-an je lah,
bia lah kok ka disabuik e awak ayam sighah bagai, kok ka disabuik e ghuak-ghuak
bagai, bia lah ambo tangguangkan, pado maghengek pulo anak indak makan beko).
Wassalam w.w.
James
Do you Yahoo!?
The New Yahoo! Search - Faster. Easier. Bingo.

