ASAL - USUL

"Volksverdummung"

Suka Hardjana
HARI-hari ini banyak orang tua pusing tujuh keliling. Salah-salah, tak
sedikit dari mereka yang stres, stroke, frustrasi, pingsan-bahkan potensial
dibawa masuk sampai ke rumah sakit.
Apa pasal? Pasalnya adalah tanggung jawab orangtua menghadapi tantangan
berat jalan gelap di masa depan bagi anak-anak mereka, karena sulitnya
memperoleh akses ke rumah pendidikan yang disebut sekolah. Padahal,
pendidikan adalah jalan menuju pintu gerbang ke masa depan, kata orang bijak
Rabendranath Tagore, sang brahman maha bijaksana dari biara pendidikan
anak-anak Santiniketan.
Orang Inggris-lah yang konon pertama kali mendirikan lembaga sekolah buat
anak-anak, agar anak-anak mereka tak hanya pandai membaca-menulis dan
berhitung, tetapi juga bersosialisasi secara mandiri untuk menghadapi
tantangan hidup. Sesederhana itu mulanya tujuan pendidikan. Tapi, konkret
dan meluangi kesempatan buat semua anak manusia yang memang perlu dan butuh
belajar.
Begitulah sampai-sampai di banyak negara orang merasa perlu mengambil
kebijakan untuk memutuskan di bawah undang-undang bahwa urusan pendidikan
dan sekolahnya anak-anak bangsa menjadi tanggung jawab negara. Ujung-ujung
semangat moralnya adalah untuk menyelamatkan bangsa dan negara juga. '
Gantungkan cita-citamu setinggi langit', kata Bung Karno kepada anak-anak
sekolah pada masanya. Bayangkan bila suatu negara dihuni dan diurus hanya
oleh orang-orang dungu yang tak pandai mengurus diri sendiri dan tak becus
mengelola bangsa dan negara karena latar belakang pendidikan yang jelek? Apa
jadinya?
Maka sebenarnya keluh kesah orangtua-orangtua yang menghadapi begitu banyak
kesulitan untuk menempatkan anak-anak mereka di bangku sekolah di negara ini
adalah suatu cermin dari ketidakmampuan negara menyelenggarakan pendidikan
bagi warganya.
Kenyataan ini adalah suatu petaka awal dari masa depan bangsa ketika negara
tidak mampu membangunkan warganya menjadi suatu masyarakat bersama yang
cerdas. Yang terjadi justru sebaliknya. Pembodohan masyarakat warga atau
volksverdummung dengan menegakkan keputusan-keputusan strategi pendidikan
dalam berbagai tipu daya angan-angan akademik yang menyesatkan.
Sebut contoh misalnya tidak memberi akses kemudahan kepada calon anak didik
dengan penerapan beban biaya dan sistem birokrasi tinggi yang sesungguhnya
di luar jangkauan keadilan dan kemampuan daya imbal masyarakat yang
sejujurnya masih sangat miskin. Contoh lain, menyiasati anak didik dengan
angan-angan semu melalui koridor pendidikan dalam bentuk kurikulum, ijazah
atau gelar-gelar mentereng (lehrplan), tetapi dengan fasilitas dan tenaga
pengajar yang jauh dari memadai (lehrgang-lehrkraft) sebagai syarat
pendidikan modern yang kompetitif.
Bahkan, akhir-akhir ini negara memutuskan melakukan sistem politisasi
pendidikan keagamaan yang setengah memaksa- seperti layaknya orang
menjajakan Tuhan dengan superfisialisasi retorika strategi dagang: menjual
Tuhan lewat sekolahan!
Begitulah pada akhirnya tak satu pun dari kurikulum yang muluk-muluk,
indah-indah, yahud-yahud-tetapi bikin pusing orangtua, murid, dan guru
sekaligus-dilaksanakan secara tuntas dan konsekuen. Tamatan sekolah dan
lulusan sarjana tidak siap kerja-pengetahuan dan keterampilan, tetapi para
broker dan politisi pendidikan berdalih: sekolah memang bukan untuk mencetak
tenaga siap pakai!
Aneh, di mana-mana, bahkan juga dulu di negara ini pada zaman penjajahan,
orang justru siap kerja begitu mereka selesai sekolah. Di sini-di suatu
Republik yang orang-orangnya paling pandai berdalih-dibilang: sekolah tidak
mencetak lulusan siap pakai? Lantas buat apa itu seluruh pengorbanan jerih
payah anak didik memasuki lorong panjang proses dunia pendidikan biaya
tinggi bila hasil akhir lulusannya tak dijamin untuk menjadi calon tenaga
siap kerja, siap pengetahuan, dan siap keterampilan?
Politik pendidikan di negeri ini telah dibelokkan ke arah tujuan pendidikan
yang bersifat kapitalisme semu dengan sistem jual-beli bangku sekolah yang
sangat merepotkan bagi mayoritas penduduk yang umumnya masih sangat miskin.
Bila anjuran Bung Karno untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit
dituruti, maka diperlukan waktu paling tidak 14 tahun untuk mencapai tingkat
pendidikan TK hingga SMA-serta minimal 23 sampai 27 tahun bila akhir lulusan
pendidikan tinggi S3 hendak diraih: dengan syarat, semua berjalan mulus.
Nyaris sama dengan sepenggalan rentang waktu dari rata-rata umur manusia.
Berapa banyak energi dan biaya dikeluarkan untuk itu semua? Dan, sistem
pendidikan tidak menjamin lulusannya siap pakai "agar anak-anak mereka tak
hanya pandai belajar membaca, menulis dan berhitung, tetapi juga
bersosialisasi secara mandiri untuk mengatasi tantangan hidup"?
Aneh sistem pendidikan kita ini. Sekolah, kok, malah bikin bodoh orang,
Volksverdummung! Negara, apa yang kau berikan buat rakyatmu? Angan-angan?*






----- Original Message -----
From: "bandaro" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "RANTAUNET" <[EMAIL PROTECTED]>; "Banuanet"
<[EMAIL PROTECTED]>; "Sjamsir Sjarif" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Sunday, July 20, 2003 5:47 AM
Subject: [RantauNet.Com] Pacu Jawi


>
> Dari Kompas 20 Juli.
>
>                  Karapan Sapi ala Sumatera Barat
>
> SALAH satu tradisi Alek Nagari Minangkabau (Sumatera Barat) yang kini
> mulai jarang
> diadakan adalah tradisi pacu jawi (sapi), karapan sapi kalau di Madura.
>
> Tradisi ini diadakan setelah habis panen, yang uniknya, cuma ada di
> daerah Kabupaten
> Tanah Datar, yang beribu kota di Batu Sangkar (lebih kurang 103 km
> sebelah utara Kota
> Padang).
>
> Uniknya lagi, hanya empat kecamatan yang berhak menyelenggarakan lomba
> pacu jawi
> ini, yakni Kecamatan Limo Kaum, Sungai Tarab, Pariangan, dan Kecamatan
> Rambatan.
> Masing-masing kecamatan digilir dua bulan sekali.
>
> Waktu pelaksanaannya tergantung kesepakatan masing-masing kecamatan,
> yang hari
> penyelenggaraannya jatuh pada hari Sabtu atau Minggu.
>
> Sebelum dilaksanakan lomba pacu jawi, terlebih dahulu para pemilik sapi
> mengadakan
> prosesi adat, yakni sapi-sapi diarak keliling kota bersama Bundo Kaduang
> yang
> menenteng talam yang berisi makanan-makanan tradisional, yakni batiah,
> pisang, nasi
> lamak, pinyaram, dan lain-lain. Usai arak-arakan, diadakan doa selamatan
> dengan
> menyuguhkan makanan-makanan tradisional tersebut. Acara ini dihadiri
> pemuka-pemuka
> adat, pejabat, serta pemilik sapi.
>
> Berbeda dengan karapan sapi di Madura, pacu jawi ini dilaksanakan di
> tengah sawah
> yang habis dipanen dengan kondisi sawah yang berair. Dan, dalam lomba
> pacu jawi
> bukan diadu dengan pasangan lawan, tetapi hanya dilombakan satu-satu
> pasang sapi.
>
> Ini sesuai dengan syarat penilaian, lain halnya dengan karapan sapi di
> Madura yang
> penyelenggaraannya di lapangan yang kering dan berdebu.
>
> Lomba pacu jawi ini punya kode etik atau peraturan-peraturan, yakni: 1)
> Joki selamat
> sampai ke finish. 2) Harus lurus sampai finish. 3) Air naik bagaikan
> kembang. 4) Tidak
> diperkenankan memakai tali pacu/les. 5) Tanpa pakai andong atau tali
> yang
> menghubungkan sapi dengan tempatnya. 6) Langkah kedua sapi serentak. 7)
> Sampai di
> finish pasangan sapi berdiri dengan kokohnya.
> Yang tak kalah uniknya adalah masing-masing pemilik sapi punya "orang
> pintar" atau
> pawang. Tugas pawang ini mengganggu konsentrasi sapi pacuan lawan supaya
> gagal
> jadi juara. Contohnya, saat pasangan mulai lari dengan dikendalikan
> seorang joki,
> tiba-tiba pasangan sapi lari ke luar arena, tepatnya ke arah penonton.
> Mustahil memang, tapi itulah kenyataannya.
> (Muhammad Fitrah)
>
>
>
> RantauNet http://www.rantaunet.com
> Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
> -----------------------------------------------
>
> Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke:
> http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
> ===============================================
>


RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
-----------------------------------------------

Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: 
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
===============================================

Kirim email ke