Insya Allah ini posting saya yang terakhir di Thread ini. Permisi, numpang ngejawab.
--- In [EMAIL PROTECTED], Sutan Sinaro <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Assalamu'alaikum w.w. > > Oooi jo buyuang, iyo ancai kabirau, abih buah wak dek -e > > rarach <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > >saya (atau om sutan sinaro) untuk kemudian mendakwahi > >mereka; siapa tahu bisa balik lagi jadi muslim. > > Wuah, dengan iming-iming apa ?, bisa membuat mereka balik muslim > Apapun, Bagaimanapun.. akan tetap ada harapqan, selama mereka masih hidup. Biar gagak jadi putih, atau air mengalir ke hilir; tapi kalo udah mati maka tidak ada kesempatan buat tobat. > lagi ?. (Pitih urang banyak) > > >kalo udah mati? palingan juga dikuburin. sorga mah > >belon pasti, karena itu indak urusan kita dohhh.... > > Ndeh, sarugo tu lah pasti ma oooi, salamo awak lai > > ba 'aqidah nan ciek tu, baa kok ndak yakin ?. > > kalau lah murtad indak ka dapek do. > maksud saya: masuk surga atau masuk neraka bukanlah urusan kita. itu hak prerogatifnya Allah. Om boleh saja meragukan akidah saya; tapi saya tidak pernah meragukan akidah om, itu prerogatif om. > >kemiskinan adalah satu langkah ke arah kekafiran! > >(kalo nggak salah ini ada dalilnya lhoo....) > > > Betul, tapi bukan berati kita menyuruh orang jadi kafir > > ataupun dengan segala senang hati membiarkan orang jadi kafir > > Kita sebagai orang Islam harus membentengi mereka jangan sampai > > jadi kafir (agar mereka terselamatkan), kalau tidak kita akan ditanya > > nanti di Padang mahsyar. > Jangan tambahkan kalimat "dengan senang hati"; bagi saya ini adalah suatu upaya memelintir omongan saya. Mari kita diskusi tanpa memelintir omongan, please.... > > >kalo om sutan, mungkin bisa berpendirian lebih baik > >mati kelaparan asal tetap dalam islam; tapi untuk > mereka yang masih di bawah umur? 5 tahun, 10 tahun? > >bayi? kenapa kita harus egois bahwa mereka harus satu > >agama dari kita, tapi cuek saja membiarkan mereka > >kelaparan? > > Siapa yang egois, semuanya bukan untuk keselamatan > > diri kita sendiri, tapi untuk keselamatan mereka, karena hidup ini > > sangat sebentar daripada hidup di akhirat nanti. > > >let's get back to real world, om.. > > What is real you mean ?. (Jo buyuang lai batua bahaso Inggirih ambo ko ?) > > You don't realize that the life in the world compared to hereafter is that > > like you go to the beach and then you sink your hand in the water, > > the water in your hand is like the life in the world, but the water in the > > sea is like the life in hereafter (al-hadits). > > Do you realize it ?. > > Or the real you mean is like this world and the hereafter is abstract ?. > > Ask oyur self and ask again your 'aqidah. > > (He he he he, jo buyuang nan di marseile, kok salah Inggirih kasang > > ambo ko batauan dih) > maaf, komentar om di atas kurang nyambung; karena om tidak nangkep maksud saya di alinea sebelumnya. Silahkan om tanggapin sekali lagi, dan saya akan senang membacanya. ~rarach nan aluih > Sutan Sinaro > > Salam takzim, RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php ----------------------------------------------- Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php ===============================================

