Nurcholish Madjid Dicecar di IAIN IB
By padangekspres
Rabu, 30-Juli-2003, 03:06:14 WIB 54 klik Send this story to a friend Printable Version
Padang, Padek—Meski tampil tenang dan tidak terpancing emosi, cendikiawan muslim Prof Dr Nurcholish Madjid yang akrab dipanggil Cak Nur dicecar berbagai pertanyaan oleh peserta kuliah umum di Aula Mahmud Yunus Kampus IAIN Imambonjol, Lubuk Lintah Padang, kemarin.
Pertanyaan berkaitan dengan upaya Cak Nur untuk ikut mencalonkan diri menjadi Calon Presiden (Capres) melalui Konvensi Pantai Golkar.

Meski Cak Nur dipojokkan, Rektor Universitas Paramadina Jakarta ini tetap tersenyum dan menjawab satu per satu pertanyaan peserta kuliah umum. Peserta kuliah umum yang sebagian besar mahasiswa dan pimpinan IAIN serta pimpinan perguruan tinggi di Padang tersebut, meragukan keberpihakan Cak Nur terhadap kepentingan Islam.

Sebab Cak Nur dinilai sebagai tokoh sekuler dengan konsep Islam pluralisnya. Terbukti dengan terpilihnya Universitas Paramadina sebagai perguruan tinggi terbaik di Asia Tenggara, yang memiliki konsep semua agama sama.

Seperti ungkapan dari Hamdanus, mantan Presiden BEM IAIN Imam Bonjol, dan Prof Dr Sanusi Ibrahim, Dekan FMIPA Unand, dikhawatirkan bila Cak Nur terpilih jadi Presiden, maka kepentingan umat Islam akan semakin terpinggirkan. “Meski umat Islam mayoritas, tetapi kita akui secara kualitas SDM, umat Islam minoritas. Kalau Cak Nur berprinsip, semua agama sama. Maka umat Islam akan tetap dikesampingkan dalam pembangunan bangsa ini. Ini berbahaya,“ujar Hamdanus berapi-api yang diiyakan, Sanusi Ibrahim yang jadi penanya berikutnya.

Kekhawatiran lain, menurut mahasiswa, sangat disayangkan Cak Nur sebagai bapak bangsa akan terjebak dengan permainan Partai Golkar, karena ikut Konvensi Partai Golkar. “Padahal Golkar, kita ketahui adalah mesin Orde Baru. Apa benar, Cak Nur seorang akan mampu mereformasi Golkar. Jangan-jangan Cak Nur yang dimanfaatkan Golkar,” ujar mahasiswa yang diiringi tepuk tangan peserta kuliah umum.

Mendapat pertanyaan tersebut, Cak Nur yang didampingi Rektor IAIN Imam Bonjol, Prof Dr Maidir Harun tersebut, dengan tenang menyatakan, berbagai pandangan tersebut salah tafsir. Ia mengakui Islam pluralis memang merupakan konsepnya. Namun ia bukan seorang sekuler yang mengenyampingkan agama. Islam tetap menjadi prioritasnya. Islam pluralis, maksud keberadaan agama bukan untuk mencari musuh, tetapi hidup dan berkembangan dengan berdampingan.

“Saya merupakan pengagum Bung Hatta. Kita lihat dalam menjalankan pemerintahan, Bung Hatta tidak pernah mendirikan partai Islam, tapi dalam kehidupannya ia sangat agamis. Jauh melebihi tokoh-tokoh Islam lainnya saat itu. Sangat jauh berbeda dengan Bung Karno, yang suka berpidato dan beretorika, tapi perlakuannya bagaimana? Inilah yang terjadi saat ini. Umat Islam di Indonesia, baru Islam formalitas,” jawab Cak Nur yang pernah dua periode menjabat Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), organisasi mahasiswa terbesar tersebut.

Cak Nur yang juga pernah menjabat Presiden Organisasi Mahasiswa Islam Asia Tenggara tersebut melanjutkan, Islam pluralis yang sangat indah dalam peradaban Islam tersebut, memang butuh waktu lama untuk mewujudkannya di Indonesia. Karena sejarah membuktikan, secara historis dan sosiologis, di Indonesia dari zaman kerajaan Islam hingga sekarang, umat Islam dikampanyekan untuk memusuhi orang Eropa yang bergama Nasrani dan Yahudi. Karena memang kedatangannya ke Indonesia saat itu, menyaingi perdagangan yang dikuasai saudagar Islam. Dan terus berlanjut di zaman penjajahan. Akibat muncul muncul mindset (pandangan) negatif terhadap pluralisme.

“Artinya, ke-Islaman kita sejak dahulu kala, sudah dibiasakan untuk berpidato, beretorika, bukan dalam tataran diskusi. Inilah yang terjadi saat ini. Ke-Islaman baru sebatas retorika semata. Makanya Islam gagal mengatasi berbagai korupsi di Indonesia. Kita bisa lihat, bagaimana kasus korupsi di Depag, bagaimana kasus ijazah palsu dan suap saat pengangkatan guru Agama di zaman orde baru. Allahuwalam, guru agama saja main suap. Bagaimana muridnya,” ujar Cak Nur.

Makanya menurut Cak Nur, kalau ingin berbuat jahat, jangan bawa-bawa nama Islam. “Janganlah kita saling tuding, saling salahkan. Mari kita kembali ke Al Qur’an dan Sunnah Rasul. Pahami secara mendalam, jangan sepotong-potong. Sehingga khazanah intelektual umat Islam di Indonesia kembali bangkit. Jangan tanya, Islam pluralis kepada saya yang datang dari Jawa. Pluralis tersebut muncul dari Sumbar, melalui Bung Hatta, Agus Salim dan Buya Hamka,” lanjut Cak Nur.

Sebelumnya, Cak Nur dalam kuliah umum yang dibuka Rektor IAIN tersebut, memaparkan sejarah proses pembentukan Indonesia, mulai dari zaman penjajah, hingga kepemimpinan Presiden Megawati Soekarno Putri.

Soal Konvensi

Usai kuliah umum, Cak Nur yang datang ke Padang dalam rangka penggalangan dukungan untuk jadi Capres Konvensi Partai Golkar ke DPD Partai Golkar Sumbar tersebut, ia mengatakan, bila memang Ketua Umum DPP Partai Golkar, Ir Akbar Tanjung resmi mencalonkan diri menjadi Capres, maka ia langsung menyatakan mundur dari Capres. Karena hal tersebut sudah diluar konsep Konvensi yang dipahaminya. Menurutnya, Konvensi tersebut tidak berlaku bagi pengurus Parpol.

“Saya ikut Konvensi Golkar, bukan berarti saya masuk atau orang Golkar. Tapi adanya Konvensi ini merupakan langkah maju dalam pendidikan politik di Indonesia. Karena adanya konvensi inilah saya mau memastikan diri maju sebagai Capres. Di Amerika, sistim Konvensi ini sangat bagus menjaring Capres. Karena dilakukan secara terbuka, transparan, dan dimulai dari bawah, tidak berlaku bagi Parpol. Di AS pengurus Parpol hanya mengurus Parpol secara profesional, bukan disiapkan jadi pemimpin bangsa. Jadi bila Akbar maju, saya mundur,” ujar Cak Nur.

Menurut Cak Nur, ia mundur bukan karena takut bersaing dengan Akbar. Tapi murni karena prinsip dan pemahamannya tentang Konvensi. Ia menyatakan, ingin memberikan pendidikan politik, bahwa pemimpin Parpol tidak harus menjadi pemimpin bangsa atau pemberi rekomendasi untuk jadi pimpinan bangsa dan kepala daerah. Menurut pemahaman, Cak Nur pemimpin Parpol tak harus figur yang terkenal, tapi harus seorang profesional di bidang politik, yang bisa menyiapkan strategi-strategi politik. “Kalau ikut maju, ibarat wasit yang ikut main,” ujar Cak Nur

Cak Nur mengaku latar belakang pencalonannya jadi Capres karena desakan berbagai kalangan, mulai dari Parpol, Ormas, LSM, anggota DPR/MPRI dan berbagai pihak lainnya. Kemudian diperkuat oleh rekomentasi pertemuan lintas Fraksi DPR/MPR yang meminta dirinya maju sebagai Capres. “Saat pertemuan lintas fraksi, bahasanya kira-kira seperti ini, kita dukung Cak Nur maju. Tapi, tiketnya dari mana. Nah konvensi inilah jalur yang saya pikir tepat,” tambahnya.

Cak Nur juga mengaku, tak hanya Golkar yang meminta dirinya jadi Capres. Tapi banyak partai lain yang meminta dan mendukungnya jadi Capres. “Kebetulan Konvensi diadakan Golkar. Kalau bisa partai lain juga melakukan hal yang sama,” ujar Gusdur. Seperti diketahui dalam pertemuan lintas Fraksi DPR di Jakarta beberapa waktu lalu, turut hadir Fahmi Idris (Golkar), Rully Chairul Azwar (Golkar), Julius Usman (PDIP), Syaefullah Yusuf (PKB), Husni Thamrin (PPP) dan lainnya. Pada kesempatan itu, Cak Nur menyampaikan pandangan dan sepuluh platform politiknya untuk membangun kembali Indonesia.

Positif dan Negatif

Sementara itu di hadapan keluarga besar Partai Golkar dalam acara yang bertajuk” Silaturahmi dan Dialog Nurcholish Madjid dengan Keluarga Besar Partai Golkar” yang bertempat di Pangerans Hotel, Cak Nur menyatakan dampak dari reformasi melahirkan sejumlah kondisi kenegaraan yang positif maupun yang negatif.

Diantara dampak positif itu menurutnya, adanya kebebasan pers, bermunculannya sejumlah partai serta dampak yang boleh dinilai negatif dan positif diantaranya demonsrasi yang terjadi di mana-mana. Disamping itu Cak Nur juga mengingatkan, saat ini merupakan masa-masa sangat menentukan bagi masa depan bangsa Indonesia. (
----- Original Message -----
From: " -- (*o*) --" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, July 30, 2003 1:30 PM
Subject: [RantauNet.Com] RENESANS MINANG



 

 

RENESANS MINANG

 

Mochtar Naim

 

 

      P
    
ERSIS istilah itu yang dipakai oleh para pemikir muda kita di rantaunet dalam membahas jalan-jalan keluar apa yang harus kita tempuh untuk keluar dari kemelut budaya yang tengah kita hadapi sekarang ini, khususnya di ranah Minang ini. Dari kemelut yang tengah dihadapi sekarang ini mereka melihat bahwa faktor penyebab utamanya adalah ketercerabutan dari akar budaya, yang tadinya menjadi bintang pengarah yang terang di langit lazuardi kehidupan ini, sekarang meredup, sehingga orang Minang kehilangan arah. Mereka lalu ikut terbawa arus kehidupan bebas-nilai yang cenderung materialistik dan bahkan hedonistik dan sensual, dan karenanya mereka hanyut dalam kegalauan budaya yang tengah mereka hadapi sekarang ini.

          Dua hal yang selama ini menjadi sendi kehidupan Minang yang hilang di tengah-tengah mereka. Satu "aqidah" dalam pengertian yang sangat mendasar dan fungsional dalam kehidupannya dan dua "akhlaqul karimah" yang membedakan manusia itu memiliki budaya kemanusiaan yang halus, luhur dan berbudi tinggi, atau sebaliknya. Manusia Minang dewasa ini cenderung kehilangan kedua-duanya. Walau Islam sebagai label penamaan tetap adalah agama mereka, tetapi isi di dalamnya sudah bertukar. Apa yang mereka lakukan banyak yang bersalahan atau bahkan bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri. Tuhan mereka bukan lagi Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan Yang Maha Pengatur dari seluruh sisi kehidupan ini, tetapi adalah materi dan benda yang untuk itu jika perlu mereka melakukan segala cara dan karenanya lupa dengan kehalusan budi dan perangai yang mulia seperti yang diajarkan oleh adat dan agama mereka. Mereka telah menjadi orang-orang yang tidak lagi amanah, tidak bisa dipercaya, tidak jujur, licik, suka mengambil hak-hak orang lain melalui praktek-praktek korupsi, konspirasi, kolusi, kongkalingkong, dsb. Dan mereka telah menjadi orang-orang yang tebal muka. Tak lagi menjadi masalah jika aturan-aturan kehidupan dilanggar dan diterabas begitu saja. Apa yang selama ini menjadi pantangan agama dan pantangan ajaran nenek moyang, sekarang semua itu menjadi biasa, dan bahkan bangga jika juga turut melakukannya. Dan ini dilakukan oleh semua lapisan masyarakat, dari yang tinggi sampai kepada yang rendah sekalipun.

          Mereka karenanya tidak hanya kehilangan jati diri, tetapi juga kehilangan panutan dan kepemimpinan. Konsep TTS (Tungku nan Tigo Sajarangan, Tali nan Tigo Sapilin), yang terdiri dari unsur-unsur Ninik Mamak, Alim Ulama dan Cerdik Pandai, tinggal hanya sosok dan sebutan tetapi tidak lagi fungsional yang mencerminkan suri ketauladanan dan kepemimpinan dari diri mereka masing-masing. Mereka dalam kehidupan pribadi masing-masing sudah sama, bahkan cenderung berlebih dari anak kemenakan sendiri yang mestinya mereka bimbing, dalam melakukan hal-hal sumbang dan tercela menurut ajaran agama dan adat yang mestinya mereka junjung tinggi dan perlihatkan sebagai contoh itu.

 

*

          Anak-anak muda di internet yang risau dengan masa depan mereka lalu melihat bahwa jalan keluar dari kemelut budaya kehidupan ini tidak lain adalah kembali ke jalan yang benar, yaitu yang mereka temukan dalam perpaduan yang harmonis antara adat dan syarak itu. ABS-SBK (Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah) atau SMAM (Syarak Mengata, Adat Memakai), adalah solusi yang tepat yang tidak hanya kita jadikan slogan dan motto kehidupan, tetapi benar-benar kita jadikan sebagai konstitusi dan landasan kehidupan di bumi Minang ini. Untuk itulah mereka merindukan sebuah Rennaissance, sebuah kebangkitan kembali dari budaya ABS-SBK atau SMAM itu.

          Sekarang konsepnya telah ditemukan, tetapi bagaimana lalu operasionalisasi atau pengejawantahannya dalam kehidupan nyata itu? Diperlukan pertama-tama memang penjabaran dari konsep kehidupan yang dilandaskan kepada filosofi ABS SBK itu. Kedua, penuangannya ke dalam aturan hidup dan kehidupan yang mempunyai segi serta lapis yang bermacam-macam itu. Ada segi sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, kesenian, agama, dsb, dan ada lapis perseorangan, kelompok masyarakat, negara dan dunia seanteronya. Untuk ini manusia Minang perlu dan masih harus berpikir keras dalam merumuskan ajaran hidup ini secara lebih konkret, rinci dan dapat diperpegang. Perlu ada musyawarah-musyawarah, seminar-seminar, pertemuan pendapat melalui berbagai media untuk sampai kepada rumusan-rumusan dimaksud. Dalam arti lain, filosofi ABS-SBK itu harus bisa dilihat dan dirasakan secara konkret pada setiap aspek kehidupan, apapun. Dia terintegrasi ke dalam semua sistem kehidupan sehingga dia menjadi garam bagi air laut kehidupan itu.

          Karena sisi dari ajaran itu adalah juga dua: satu yang harus dilakukan, dan dua yang harus dijauhi, maka konsep amar makruf nahi munkar harus juga berfungsi secara efektif dan berimbangan. Tidak hanya menyuruh pada kebaikan tetapi pada waktu yang sama juga mencegah akan kemungkaran. Dan mencegah pada kemungkaran ini harus dan mau tak mau dikuat-kuasakan dengan hukum dan perundang-undangan serta ketentuan-ketentuan secara tertulis yang efektif berlaku dalam masyarakat, di samping sanksi budaya dengan senantiasa menjunjung tinggi akan nilai-nilai budaya akhlaqul karimah itu.

          Untuk memulainya tidak harus saling menunggu, tetapi memulai dari diri pribadi masing-masing, untuk kemudian menggejala dan melembaga dan akhirnya membudaya.

          Mari kita sambut dan dukung penuh akan suara hati anak-anak muda yang menginginkan perubahan melalui pembaharuan kembali dan perubahan mendasar ke arah Rennaissance Minang itu! Mari kita secara bersama-sama berupaya mengangkatkan diri kita kembali untuk keluar dari kemelut dan keterpurukan yang sangat memalukan ini, untuk kemudian, mudah-mudahan, kembali menjadi suku-bangsa yang mempunyai harkat dan harga diri, disegani dan jadi panutan kembali di bumi tanah air ini. ***




RantauNet
http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
-----------------------------------------------

Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke:
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
================

Kirim email ke