Bagi nan suko manggunokan tumbuhan ubek, semoga bermanfaat.

and



AWAS! BAHAYA TUMBUHAN OBAT

 Selama ini tumbuhan tertentu dipercaya tidak berbahaya bila
 dikonsumsi, terutama tumbuhan obat. Akibatnya, pemakaiannya menjadi
 tidak terkontrol. Padahal pada tanaman tertentu konsumsi melebihi
 batas justru mengganggu kesehatan.

 Beberapa tahun belakangan penggunaan bahan alami sebagai obat marak
 di Tanah Air. Pemicunya, harga obat-obatan sintetis makin mahal.
 Bahan alami relatif kecil efek sampingannya bila dikonsumsi secara
 benar. Bahkan, tidak pernah dikhawatirkan akan menimbulkan efek
 sampingan merugikan. Akibatnya, penggunaan tumbuhan obat menjadi
 berlebihan tanpa kontrol.

 Padahal tidak seratus persen benar bila dinyatakan semua tumbuhan
 aman untuk dikonsumsi. Sampai batas-batas tertentu, mungkin benar.
  Akan tetapi bila sudah melampaui batas, justru bahaya yang akan
 tampil. Pepatah "berhentilah makan sebelum kenyang" sangat relevan
 dalam hal ini. Tumbuhan obat akan memberikan hasil bila dikonsumsi
 secukupnya untuk tujuan pengobatan. Namun jangan beranggapan, karena
 aman dan ingin cepat sembuh, segala macam bahan tumbuhan lalu
 dikonsumsi tanpa mendalami sifat dan mengontrol dosis atau jumlah
 yang digunakan.

 Penyebab kanker dan kerusakan DNA

 Contoh klasik yang dapat diambil sebagai perbandingan adalah dalam
 penggunaan dringo (Acorus calamus ). Secara tradisional dringo kerap
 digunakan sebagai bahan penenang dan untuk mengatasi stres. Dringo
 memiliki kandungan senyawa bioaktif asaron, yang terdiri atas dua
 isomer, τ(alfa)- dan υ (beta)-asaron. Senyawa ini memiliki struktur
 kimia mirip dengan senyawa golongan amfetamin dan ekstasi.

 Dalam dosis rendah dringo dapat memberikan efek relaksasi pada otot
 dan menimbulkan efek sedatif (penenang) terhadap sistem saraf pusat.
 Namun, jika digunakan dalam dosis tinggi malah memberikan efek
 sebaliknya, yaitu meningkatkan aktivitas mental atau populer disebut
 psikoaktif. Bahkan υ (beta)-asaron dringo merupakan salah satu
 senyawa alami yang potensial sebagai karsinogenik atau pemicu
 timbulnya kanker.

 Penggunaan dringo dalam jangka waktu lama dapat meningkatkan risiko
 timbulnya kanker jika antibodi yang ada di tubuh tidak bisa
 mengeliminasi efek karsinogenik dringo. Hasil penelitian di
 laboratorium terhadap hewan uji coba memperlihatkan, dringo dapat
 menimbulkan efek genotoksik, yaitu bersifat racun yang dapat
 mengakibatkan perubahan genetik dari sel, sehingga kerap kali sel-sel
 tumbuh dan berkembang secara tidak terkendali menjadi tumor atau
 kanker.

 Di samping itu, dringo juga dapat menyebabkan penumpukan cairan di
 perut, menyebabkan depresi, mengakibatkan perubahan pada jantung dan
 hati, serta dapat menimbulkan efek berbahaya pada usus. Berdasarkan
 fakta ilmiah itu, maka dalam beberapa tahun belakangan ini Federal
 Drugs of Administration (FDA) - Ditjen POM-nya Amerika Serikat -
 telah melarang penggunaan dringo secara internal karena lebih banyak
 kerugian yang ditimbulkan daripada manfaatnya.

 Pemanfaatan biji pinang (Areca catecu), yang secara tradisional telah
 digunakan secara luas sejak ratusan tahun lalu, juga memiliki potensi
 bahaya bagi tubuh. Penggunaan paling populer adalah kegiatan menyirih
 dengan bahan campuran biji pinang, daun sirih, dan kapur. Ada juga
 yang mencampurnya dengan tembakau. Diperkirakan, populasi pengguna
 biji pinang secara berkala dalam berbagai bentuk sediaan mencapai
 sekitar 500 juta orang.

 Biji pinang mengandung arekolin, senyawa alkaloid aktif, yang bila
 digunakan berlebihan justru membahayakan kesehatan. Senyawa ini
 sangat potensial sehingga harus digunakan dalam jumlah kecil.
 Sebanyak 2 mg arekolin murni sudah dapat menimbulkan efek stimulan
 yang kuat, sehingga dosis yang dianjurkan tidak melebihi 5 mg untuk
 sekali pakai. Penggunaan serbuk biji sebaiknya tidak lebih dari 4 g.
 Jika digunakan pada dosis 8 g, akan segera berakibat fatal.

 Arekolin bersifat sebagai sitotoksik dan sistatik kuat. Secara in
 vitro (dalam tabung reaksi), penggunaan arekolin dengan konsentrasi
 0,042 mM (milimol) mengakibatkan penurunan daya hidup sel serta
 penurunan kecepatan sintesis DNA dan protein. Arekolin juga
 menyebabkan terjadinya kegagalan glutationa, yaitu sejenis enzim yang
 berfungsi melindungi sel dari efek merugikan.

 Biji pinang juga mengandung senyawa golongan fenolik dalam jumlah
 relatif tinggi. Selama proses pengunyahan biji pinang di mulut,
 spesies oksigen reaktif (radikal bebas) akan terbentuk dari senyawa
 fenolik itu. Adanya kapur sirih yang menciptakan kondisi pH alkali
 akan lebih merangsang pembentukan oksigen reaktif itu. Oksigen
 reaktif inilah salah satu penyebab terjadinya kerusakan DNA atau
 genetik sel epitelial dalam mulut.

 Kerusakan dapat berkembang menjadi fibrosis submukosa, yaitu salah
 satu jenis kanker mulut, yang telah menjangkiti sekitar 0,5% pengguna
 biji pinang. Selain berakibat jelek terhadap mulut, tanin biji pinang
 juga dapat menimbulkan luka pada mulut dan usus, yang jika dibiarkan
 dapat berakhir pada munculnya kanker.

 Kandungan berbahaya lain pada biji pinang adalah senyawa turunan
 nitroso, yaitu N-nitrosoguvakolina, N-nitrosoguvasina, 3-(N-
 nitrosometilamino) propionaldehida dan 3-(N-nitrosometilamino)
 propionitrile. Keempat turunan nitroso ini merupakan senyawa bersifat
 sitotoksik (meracuni sel) dan genotoksik (meracuni gen) pada sel
 epithelial buccal, dan juga dapat menyebabkan terjadinya tumor pada
 pankreas, paru-paru, hidung, dan hati. Pada hewan percobaan, senyawa
 nitroso biji pinang juga terbukti dapat menyebabkan efek diabetogenik
 atau pemunculan diabetes secara spontan.

 Para penderita asma juga harus ekstrahati-hati terhadap biji pinang.
 Ia dapat menimbulkan efek kontraksi pada saluran pernapasan, yang
 berasosiasi dengan kambuhnya serangan asma. Inhalat dua jenis
 alkaloid dari biji pinang yaitu arekolin (5,2 mg/ml) dan metakolin
 (1,6 mg/ml) dapat menyebabkan kontraksi saluran pernapasan, yang
 ditandai berkurangnya volume pengeluaran udara dari saluran
 pernapasan sebesar 20% pada penderita asma. Bahkan, ada beberapa
 pasien asma yang mengalami penurunan volume pengeluaran udara sebesar
 30%, 150 menit setelah mengunyah biji pinang.


 Interaksi negatif dengan obat sintetis

 Tumbuhan obat juga bisa menimbulkan masalah kesehatan bila dikonsumsi
 bersama obat sintetis. Meskipun semula penggunaan itu dimaksudkan
 untuk memperoleh efek penyembuhan lebih signifikan dalam waktu
 relatif pendek. Akan tetapi, penggabungan itu boleh saja dilakukan
 sepanjang sudah diyakini bahwa obat sintetis yang digunakan tidak
 memberikan hasil interaksi yang malah merugikan kesehatan.

 Salah satu contohnya, penggunaan biji pinang dalam waktu bersamaan
 dengan obat sintetis yang mengandung flupentiksol, prosiklidina,
 flufenazina, prednison, dan salbutamol, dapat menimbulkan efek jaw
 tremor. Selain itu dapat juga mengakibatkan terjadinya kekakuan,
 akithesia, serangan asma, dan bradikinesia, yaitu produksi bradikinin
 yang berlebihan sehingga menimbulkan alergi (kulit bentol-bentol dan
 gatal).

 Contoh lain, Gingko biloba jika berinteraksi dengan aspirin (obat
 yang berpotensi sebagai penghilang rasa sakit) dapat menimbulkan
 hyphema (perdarahan dalam rongga anterior mata) secara spontan. Jika
 ekstrak Gingko biloba dalam tubuh berinteraksi dengan parasetamol
 yang banyak terdapat pada obat penurun demam, dapat menimbulkan efek
 sampingan bilateral subdural haematoma (penimbunan darah di dalam
 rongga subdural yang berasal dari kedua pembentuk rongga yakni
 duramater dan araknoid).

 Beberapa pasien yang menggunakan bahan tersebut secara bersamaan
 dilaporkan terserang subarachnoid haemorrhage (perdarahan
 intrakranial ke dalam ruang subaraknoid) dan subdural haematoma
 (penimbunan darah di dalam rongga subdural). Jika interaksi terjadi
 antara ekstrak Gingko biloba dengan warfarin, akan timbul
 intracerebral haemorrhage (perdarahan dalam serebrum), sedangkan
 interaksi dengan obat-obatan mengandung diuretik thiazina akan
 berakibat munculnya hipertensi atau darah tinggi.

 Dua tumbuhan obat yang dipercaya sebagai aprodisiak, yaitu ginseng
 (Panax spp.) dan ginseng siberia (Eleutherococcus senticoccus) juga
 dapat menimbulkan efek negatif jika berinteraksi dengan obat
 sintetis. Interaksi ginseng dengan obat-obatan mengandung fenelzina
 dapat menimbulkan sakit kepala, tremor, dan mania. Ekstrak ginseng
 juga dapat meningkatkan pengaruh alkohol karena ekstrak ginseng dapat
 meningkatkan aktivitas dari enzim alkohol dehidrogenase dan aldehida
 dehidrogenase.

 Sedangkan interaksi ekstrak ginseng siberia dengan digoxin (suatu
 glikosida kardiotonik berupa kristal jernih sampai putih dengan rumus
 kimia C41H64O14) dapat meningkatkan konsentrasi digoxin dalam tubuh,
 sehingga dosis yang terdapat dalam tubuh atau bagian tubuh tertentu
 lebih tinggi dari dosis yang semestinya dibutuhkan.

 Dalam liquorice atau kayu manis cina (Glycyrrhiza glabra) yang sangat
 populer dalam campuran obat tradisional Cina terdapat senyawa
 glisirizina, yang jika berinteraksi dengan prenidsolona akan
 menyebabkan terjadinya penurunan penyebaran plasma dan meningkatkan
 konsentrasi prenidsolona dalam plasma. Interaksi dengan obat
 kontrasepsi oral akan menimbulkan hipertensi, edema (pembengkakan
 jaringan karena peningkatan jumlah cairan dalam jaringan), dan
 hipokaemia. Efek ini timbul karena obat kontrasepsi oral dapat
 meningkatkan kesensitifan penggunanya terhadap asam glisirizin pada
 ekstrak liquorice. Dilaporkan, wanita lebih sensitif terhadap
 liquorice daripada pria.

 Interaksi ekstrak St. John's wort (Hypericum perforatum), yang dewasa
 ini banyak terdapat dalam food supplement impor untuk menjaga
 kesehatan wanita, dengan beberapa senyawa obat sintetis inhibitor
 percepatan serotonin seperti trazodona, sertralina, dan nefazodona
 dapat menimbulkan sindroma serotonin sedang. Ekstrak tumbuhan ini
 juga dapat meningkatkan konsentrasi teofilina di dalam tubuh bila
 digunakan secara bersamaan.

 Sebaliknya, jika digunakan bersama siklosporin, malah dapat
 mengurangi konsentrasi siklosporin dalam serum sehingga menyebabkan
 tidak efektifnya penggunaan antibiotik tersebut. Jika dikombinasikan
 dengan kontrasepsi oral seperti etinilestradiol atau desogestrol,
 dapat mengakibatkan perdarahan. Sedangkan interaksi asam jawa
 (Tamarindus indica) dengan aspirin dapat meningkatkan kemampuan
 aspirin sehingga efek aspirin bisa menjadi lebih kuat dari yang
 dibutuhkan.

 Untuk itu, dalam menggunakan obat-obatan, food supplement, ataupun
 ramuan tradisional untuk menunjang kesehatan tubuh sangat perlu
 dipahami sifat-sifat dari bahan itu. Tidak semua tumbuhan obat aman
 untuk dikonsumsi, apalagi dalam jumlah tidak terkontrol. Jika
 menggunakan bahan tumbuhan secara bersamaan dengan obat-obat
 sintetis, hendaknya terlebih dahulu memahami sifat bahan tumbuhan dan
 membaca secara teliti bahan aktif dari obat sintetis itu.

 Dari sini bisa diketahui apakah penggunaan kedua bahan itu secara
 bersamaan dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Perlu juga
 diketahui, suatu tumbuhan dalam dosis tertentu dapat memberikan
 manfaat untuk menunjang kesehatan. Akan tetapi pada dosis lebih
 tinggi mungkin saja bahan itu bersifat racun bagi sel-sel atau organ
 di dalam tubuh.



RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
-----------------------------------------------

Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: 
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
===============================================

Kirim email ke