Mungkin saya agak 'kareh kapalo', tapi menurut saya hubungan keduanya bisa dijelaskan dengan logika sederhana :
    Nggak ada buku => nggak belajar
    Nggak belajar => gimana mau baca buku (lha wong buta huruf)
 
Kualitas SDM rendah ?
wah mungkin yang paling capable menjawab adalah Mak Sati sendiri karena sudah eksis di dunianya selama berpuluh tahun kan.
 
Anggaran minim ?
Biasa lah itu...
 
Dari info tingkat kelulusan siswa SMU di Sumbar yang paling rendah, sebenernya apa sih masalah utamanya ?
Ada yg bilang mereka udah keracunan VCD porno.  apa iya hanya karena itu ?
Lalu apa target Sumbar di tahun mendatang dan cara2 mengatasi hal tersebut ?
 
SMP di Guguak Endah kok ya malah semangat nyebar proposal untuk beli peralatan drumband.
Kalau hal demikian, apakah masih salah kita2 di rantau ini yang nggak mau duduk bersama untuk membicarakan masalah dan hanya ngomel2 nggak keruan saja ?
 
 
----- Original Message -----
. Kalau Anda mau bikin taman bacaan umum yang baru, jangan hanya bawa buku, bawa program untuk memotivasi orang kampung yang akan menerima buku itu menyediakan tempat, duit dan SDM yang dibutuhkan. Jangan berangkat dulu ke rantau sebelum semuanya duduk. Setelah itu, usahakan agar Anda bisa mensuplai bahan bacaan secara berkelanjutan. Jangan banyak berharap orang kampuang akan mampu mengembangkan koleksi yang sudah Anda mulai itu.
 
Kalau Anda ngomong soal kesalahan dalam dunia pendidikan, ini dunia saya yang lain, yang bahkan sampai saat di usia saya sekarang masih saya geluti. Anda saya harap jangan hanya meratap dan menyesali orang lain karena keruntuhan mutu dibandingkan dengan negara lain.

Kirim email ke