Asslm Ww
Mak SBN, kalau yang ini saya setuju dengan mamak, tapi saya ingin tahu, siapa sajakah yang boleh: menginterpretasikan dan meng-wisdom-kan wahyu, kan harus ada standard minimum ilmunya? Misalnya teksnya saja bahasa Arab, sedang penguasaan bahasa Arabnya kurang bgm coba. Atau sejarah latar belakang ayat itu turun kan perlu juga dimasukan.
Aku tanya pada sidang palanta, apa kelanjutan pembicaraan ini mengganggu yang lain nggak ini, kalau menganggu kekhusukkan yang lain bialah baganjua kami?
Wassl. Ww
DM
SBN <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
SBN <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalamu'alaikum wr. wb.Buat St. Parpatiah dan Dino:>Sebab menurut saya dua yang terakhir ini yang tidak berubah. Wass. Ww DM
>CUTT,.,.,.,,., Sebab menurut saya dua yang terakhir ini yang tidak berubah../././.,.,.,.,.,.,.,.,.CUTTTTAllah SWT tidak berobah, sudah menjadi iman, adagium dan teorema kita bersama.Namun soal wahyu, diturunkan sejak dari Adam s/d Muhammad SWA, semuanya adalah manusia, yang memang pilihan Dia, dan tentu saja wahyu itu disampaikan dalam bahasa manusia pada waktu itu, jelas Dia itu maha kontestual. Lantas kenapa kita yang mengklaim bahwa wahyu itu tidak berubah. Setidaknya perubahan itu penyesuaian terhadap bahasa, dan daya pikir dari akal-budi manusia pada wahyu itu diturunkan.Dengan kata lain perkembangan kebudayaan (mitos, ontologi dan fungsional) pada saat wahyu itu diturunkan ikut mempengaruhi skriptual wahyu tersebut karena Dia memang maha bijaksana. Apalagi kalau menyangkut interpretasi atas wahyu tersebut, maka diperlukan "wisdom" atau penalaran yang "hanif" atas wahyu, bukan sekedar tekstual.Ninik moyang urang Minang proven mampu melakukannya contoh konkrit soal pusako randah dan pusako tinggi.Salam,SBN
Do you Yahoo!?
Yahoo! SiteBuilder - Free, easy-to-use web site design software

