|
Walaikum salam wr. wb.
Sudah tentu "ulama" atau orang yang berilmu, karena
ilmu itu adalah sunatullah, artinya semua orang yang berilmu dan berkemauan
untuk itu, soal bahasa hanya salah satu pelengkap, makin banyak menguasai
bahasan akan makin baik, yang paling berperan justru kemauan dan daya
analitis saya kira. Semua sumber harus diperiksa, selama ini penelitian dalam
tafsir banyak kelemahan dari segi historis, apalagi sejak di Saudia Arabia semua
artefak Rasulullah telah hampir habis digusur dan lebih celaka lagi tidak
diuntuk di research.
Salam,
SBN
----- Original Message -----
Sent: Wednesday, September 03, 2003 9:08
AM
Subject: [RantauNet.Com] Renungan
Asslm Ww
Mak SBN, kalau yang ini saya setuju dengan mamak, tapi saya ingin tahu,
siapa sajakah yang boleh: menginterpretasikan dan meng-wisdom-kan wahyu, kan
harus ada standard minimum ilmunya? Misalnya teksnya saja bahasa Arab, sedang
penguasaan bahasa Arabnya kurang bgm coba. Atau sejarah latar belakang
ayat itu turun kan perlu juga dimasukan.
Aku tanya pada sidang palanta, apa kelanjutan pembicaraan ini mengganggu
yang lain nggak ini, kalau menganggu kekhusukkan yang lain bialah baganjua
kami?
Wassl. Ww
DM
SBN <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalamu'alaikum wr. wb.
Buat St. Parpatiah dan Dino:
>Sebab menurut saya dua yang terakhir ini yang tidak berubah. Wass.
Ww DM >CUTT,.,.,.,,., Sebab menurut saya dua yang terakhir ini
yang tidak berubah../././.,.,.,.,.,.,.,.,.CUTTTT
Allah SWT tidak berobah, sudah menjadi iman, adagium dan teorema kita
bersama.
Namun soal wahyu, diturunkan sejak dari Adam s/d Muhammad SWA, semuanya
adalah manusia, yang memang pilihan Dia, dan tentu saja wahyu itu
disampaikan dalam bahasa manusia pada waktu itu, jelas Dia itu maha
kontestual. Lantas kenapa kita yang mengklaim bahwa wahyu itu tidak berubah.
Setidaknya perubahan itu penyesuaian terhadap bahasa, dan daya pikir dari
akal-budi manusia pada wahyu itu diturunkan.
Dengan kata lain perkembangan kebudayaan (mitos, ontologi dan
fungsional) pada saat wahyu itu diturunkan
ikut mempengaruhi skriptual wahyu tersebut karena Dia
memang maha bijaksana. Apalagi kalau menyangkut interpretasi atas
wahyu tersebut, maka diperlukan "wisdom" atau penalaran yang "hanif" atas
wahyu, bukan sekedar tekstual.
Ninik moyang urang Minang proven mampu melakukannya contoh konkrit soal
pusako randah dan pusako tinggi.
Salam,
SBN
Do you Yahoo!? Yahoo!
SiteBuilder - Free, easy-to-use web site design
software
|