Pilar-pilar Kebangkitan Peradaban Rabbani Suara Hidayatullah Edisi 03/XVI 2003 - Mutiara Qur`an http://www.hidayatullah.com/majalah/data.php?id=294
"Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: "Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah." Nabi mereka menjawab: "Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang." Mereka menjawab: "Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?" Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zhalim. (Al-Baqarah: 246). Di kalangan masyarakat santri yang kental nuansa mistiknya bahkan yang menjadikan mistik sebagai tema sentral berislam dan berqur'anayat tersebut di atas dimasukkan ke dalam rangkaian ayat-ayat berkhasiat yang sangat dikagumi dan dianjurkan untuk diamalkan (dibaca). Dengan sebutan 'Ayat Yang Amat Besar', bersama Ayat Tujuh, Ayat Lima Belas dan Ayat Kursi, lengkaplah ia menjadi wirid sakti penjaga diri. Nampaknya ulama penyusunnya ingin mengkader para pengikutnya dengan pola wirid Al-Quran, karena isinya terkait dengan penegakkan iman dan kemenangan di jalan Allah. Namun kemungkinan sang ulama keburu wafat sebelum sempat menafsirkan dan mengurai secara mendalam ayat-ayat itu. Padahal kandungan dan pesan ayat-ayat itu sangat luar biasa bagi ummat ini untuk bangkit dan membangun kejayaannya. Ayat ke-246 surat Al-Baqarah, bersama rangkaian ayat sesudahnya, secara tersurat, jelas dan komprehensif menjelaskan pilar-pilar kebangkitan suatu ummat. Secara ringkas dapat diikhtisarkan rangkuman makna dari ayat-ayat tersebut: Pertama, ayat ini dibuka dengan uslub (gaya bahasa) yang khas: alam tara (tiadakah kamu lihat). Seringkali Al-Quran menggunakan uslub ini di banyak tempat. Kedua, tradisi Bani Israil, ummat yang dipimpin para nabi, mengembalikan kepemimpinan tertinggi kepada para nabi, ahli syariah yang dalam persoalan-persoalan taktis dan teknis akan meneruskan tugas kepada para pemimpin, raja atau panglima. Hal ini mengukuhkan paradigma sovereignity syariah, atau supremasi syariah di atas segala-galanya. Ketiga, kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang sangat memahami kematangan para kader dan tidak terjebak oleh kepentingan sesaat atau langkah-langkah reaksioner. "Apa (tak) mungkin bila kelak perang telah diwajibkan atas kamu, justeru kamu tidak mau berperang ?" (Al-Baqarah:246) Keempat, pemimpin sejati mempunyai cadangan kader yang ia sendiri tahu kapan saatnya menurunkan mereka. Ia juga tahu kapan saatnya membangun kekuatan dengan diam-diam di luar hura-hura semangat jamahiriyah (massa) yang kerap tak seimbang, antara kematangan maknawi (moral) dengan hamaasah (militansi) dan tuntutan operasi yang memerlukan energi besar dan berkesinambungan. Kelima, kesempurnaan pengkaderan manhaj para nabi (manhajun Nubuwwah), mengalahkan ribuan halaman buku yang ditulis para pakar. Seperti Thaluth, anak penyamak kulit, seorang kader yang dinanti, khususnya pemimpin tertinggi dan komandan operasi, ialah yang tidak berada dalam lingkaran keyayaan duniawi. Dalam konteks sekarang, lingkaran duniawi inilah yang melahirkan budaya KKN, menjilat dan saling fitnah, berebut pengaruh di depan raja. Keenam, syarat seorang pemimpin sejati adalah tiga kekuatan seperti yang tertuang dalam isi koreksi sang nabi: "Allah telah memilihnya dan menambahkan kepadanya kelapangan (kekuatan, kelebihan) dalam ilmu dan jasmani��." (Al Baqarah: 247). Ketiga kekuatan standar (minimal) itu adalah: kejernihan hati (ishthafahu), keluasan ilmu (basthatan fil-'ilmi), kekuatan fisik (basthatan fil-jismi). Dengan kata lain, pada diri sang pemimpin itu berpadu tiga hal mendasar yakni benar, pintar dan tegar. Ketujuh, Thaluth sebagai kader pemimpin yang dipilih Allah, memegang disiplin kuat. Ia mengerti apa yang akan menyebabkan pasukannya lemah. Maka peringatan pertama yang dikemukakannya ialah ujian sungai (Al-Baqarah: 249), karena mujahid sejati tak dapat ditawan oleh kesenangan dunia, kebiasaan-kebiasaan dan hasrat nafsu serta tak punya ketergantungan kepadanya. Ia hanya menggunakan dunia untuk keperluan bangkit dan bukan demi kekenyangan. Kedelapan, Allah memberikan pelajaran, bahwa bukan jumlah besar yang menentukan kemenangan, tetapi kesabaran dan kekuatan morallah yang paling berperandengan izin Allahbetapapun kecilnya jumlah pasukan. "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan idzin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al-Baqarah: 249). Kesembilan, sejarah adalah mata air kekuatan yang tak pernah kering. Ia menjadi peneguh bagi para rasul, Rasulullah Muhammad SAW dan kaum beriman dalam ujian berat yang mereka tempuh (Huud:120). Demikianlah Nabi Musa membangkitkan semangat Bani Israil yang fatalis, apatis dan putus asa, bahwa mereka mampu--dengan izin Allah--dan ketaatan kepada Rasul, untuk mememasuki bumi suci yang dijanjikan. Kesepuluh, dalam konteks Thaluth yang punya tanda khas kepemimpinan, yakni ia membawa Tabut (peninggalan keluarga Musa dan Harun yang dibawa malaikat, berupa peti yang pernah menghanyutkan Musa ketika bayi), terdapat pesan bahwa betapa tak patutnya Bani Israil ketakutan tidak ditolong Allah (Al-Baqarah: 243), karena pembelaan dari-Nya adalah pasti. Kesebelas, Firaun tak pernah menyangka, bayi yang dicari-carinya dengan mengirim begitu banyak tentara ternyata terlarung dalam Tabut. Begitulah rapuhnya sebuah kezhaliman. Sebaliknya, lihatlah keikhlasan, keyakinan dan optimisme hati Ummi Musa yang 'begitu saja' menerima perintah Allah untuk membuang Musa tanpa berfikir panjang, karena memang itu betul-betul dari Allah. Mengapa ia tak berfikir, akan dilarung ke arah mana bayi ini? Apa lagi seandainya ia tahu rutenya akan masuk ke istana Firaun. PILAR - PILAR ITU Para ulama da'wah merumuskan pilar-pilar kebangkitan itu sebagai berikut : Pertama, Kebangkitan Jiwa (Al-Yaqzhatur-Ruhiyyah). Nampak sekali, yang dituntut dalam kebangkitan suatu ummat adalah kesadaran untuk bangkit, bukan oleh sekedar rasa sakit dipisah dari orang-orang tercinta dan tanah air yang mempesona, melainkan karena memang kebenaran harus ditegakkan. Pendekatan para pemuka bani Israil, dengan pendekatan militer adalah lumrah, tetapi hal itu kerap hanya refleksi keputusasaan yang tidak produktif dan tidak dilandasi ma'rifah da'wah yang benar. Indikator kebangunan ruhiyah dapat dilihat dari sensitifitas terhadap nilai-nilai mulia yang dilecehkan masyarakat. Mereka terusik dengan kemaksiatan yang makin bertebaran. Inilah tanda minimum ummat mulai bangkit: ada ketersinggungan atau dorongan untuk mengubah diri serta sensitif terhadap segala bahaya. Kedua, Kebangkitan Pemikiran (Ash-Shahwatul-Fikriyyah). Merebaknya emosi karena menyadari adanya kezaliman tidak cukup menjadi modal dominan untuk bergerak. Ia hanya pemicu (trigger) bagi terpacunya fikiran untuk menata segala kemungkinan berbangkit. Ibarat orang bangun dari tidur, kebangkitan jiwa adalah kesadaran bahwa ini saatnya untuk bangun. Tetapi tidak serta-merta orang bangun bisa langsung berlari dengan militansi yang kerap menyebabkannya terantuk dinding atau atau menyepak segala benda yang berbahaya. Maka mutlak diperlukan semesta gagasan yang jelas dan integral tentang apa, mengapa dan bagaimana kebangkitan itu. Itulah kebangkitan pemikiran. Ketiga, Penguasaan Teoritik Konsepsional (Al-Ihaathatun-Nazhariyyah). Pengetahuan teoritik tentang da'wah rasul SAW adalah simpul utama penguasaan konsep da'wah. Siapa yang terbiasa bergaul dengan fase-fase dan dinamika sejarah Rasul SAW, akan segera mengerti langkah-langkah yang beliau ayunkan di Makkah dan Madinah. Sehingga proyek kebangkitan yang sedang dibangun sekarang berjalan dengan kawalan nilai-nilai asholatul manhaj (keaslian metode) Keempat, Pengenalan Medan (Al-Marifatul-Maidaniyyah). Betapa Abu Bakar sangat cermat mengkalkulasi kondisi dan menghitung medan selepas dibaiah sebagai khalifah. Ia tidak memulai kesibukannya terlebih dahulu dengan orang-orang murtad, penahan zakat, atau pengikut nabi palsu. Yang dilakukannya ialah menghidupkan kembali misi Mu'tah, suatu perang besar yang dirancang rasulullah SAW, yakni untuk mengecilkan nyali siapa saja yang ingin memusuhi Islam. Sehingga semua pihak segan dengan kekuatan Islam dan kaum Muslimin. Langkah penataan kembali struktur masyarakat pasca wafatnya Rasul SAW segera diselesaikan hanya dalam waktu 2 tahun 3 bulan. Kelima, Alfabeta Langkah Gerakan (Abjadiyaatul-Khuthuwaat). Beberapa kalangan merasadalam batas wajarbahwa selama di Makkah, Rasulullah SAW selalu mengalah terhadap berbagai intimidasi dan agresi. Mereka mengajukan usulan untuk segera angkat senjata. Dengan singkat beliau menjawab, "Kita belum dapat perintah". Suatu bangunan da'wah yang indah, kokoh, berwibawa, berprospek dan jauh dari celah-celah prasangka sedang ditata. Ia tak boleh ternoda oleh langkah emosional yang akan membunuh janinnya sebelum sempat menghirup udara kebebasan. Keenam, Soliditas Struktural (Al-Mataanatut-Tanzhimiyyah). Kalau ada satu peristiwa besar menyentuh soliditas dalam masa ta`sis (pembentukan asas) masyarakat Madinah, maka itu 'hanya' dapat dilihat pada turunnya sebagian pasukan artileri yang ditempatkan Rasulullah di bukit Uhud. Bukan pembangkangan sadar yang mendorong mereka, tetapi sebetik kekhilafan (Ali Imran: 152). Kaab bin Malik dengan kedudukan tinggi, dihukum karena tak ikut perang Tabuk. Lima puluh hari tak seorang pun menegurnya. Datang suaka politik yang menjanjikan kedudukan tinggi dari raja Ghassan. Hidup yang sepi bagai terbuang. Tapi Semua itu tak membelokkannya dari kesetiaan berjamaah. Masyarakat Islam sejati yang berhasil dibangun dengan gemilang tersebut tersimpul dalam pesan Al-Quran surat At-Taubah: 119. Dan kita diseru untuk menjadi mereka "�.taqwalah kepada Allah dan jadilah (bersama) orang-orang yang benar." Wallahu a'lam. (Rahmat Abdullah) RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php ----------------------------------------------- Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php ==============================================

