Sdri Evi yg budiman,
Rupanya anda telah melahap Deconstruction dg tuntas. anda bukan hanya pantas naik kelas. tapi boleh jadi guru sekarang. saya akan ikut kelas anda. jgn khawatir dg IQ, toh tak perlu IQ yg tinggi amat untuk bisa jadi lebih pintar. Bahkan tak jarang IQ yg tinggi terperangkap dalam apa2 yg dipahami saja. Apalagi "norma2" yg "dianut" dianggap jadi panglima intelektual. ditambah mata yg suadah lamur oleh katarak dan sindrom "kenangan masa muda" yg mengikat, maka jadilah bumi berhenti berputar di masa yg disenangi saja.
 
 
Dekonstruksi telah memporakporandakan cara berfikir konvensional. jadi sekali lagi, kita tak perlu bangga dengan apa2 yg kita pahami. Apalagi kalau kita harus menyanjung diri sendiri. Tiba2 kita dipaksa untuk menyadari bahwa kebaikan dan nilai2 baik pun telah dapat dilihat dengan cara yg berbeda. hal2 benar ternyata tak berhak jadi milik pribadi seseorang. apalagi kalau kemampuan menilai hanya berhenti pada tatanan sedangkal jargon2 belaka. jadi berhentilah memikirkan bahwa kebenaran kita sesuai dg kebenaran org lain. bahkan waktu dan usiapun tak akan dapat menyelamatkan kita dari resiko kebenaran tandingan bahkan lebih parah lagi menjadi sebuah kesalahan baru dalam fakta peradaban modern. dan fakta2 adalah ayat2 paling nyata yg harus kita baca. tapi sayangnya kita sering menanalisa ayat (fakta yg ada) dengan kajian lama yg menggelapkan mata dan menghentikan kebenaran serta waktu.
 
Tapi ngomong2 soal post modern, sebuah tatanan baru telah mencoba lahir utk merespon nya yaitu super filosofi. yg pada intinya mencoba menyadari sebuah kerangka baru dalam realita dan kemungkinan. sayang referensi nya belum ada.
 
 
Salam,
 
 
 


" -- (*o*) --" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Hm, mungkin inilah yang dimaksud  Om Sehan di Minangnet bahwa kata-kata itu selain tidak stabil juga tidak bermakna. Maksudnya,  makna kata hanya tergantung pada si pemilik kata, sementara si penerima kata tidak memberi makna terhadap kata tersebut melainkan mengintreprestasikan saja sesuai dengan kondisi kepribadiannya.
 
Contohnya waktu Cille mengatakan Om Zul ngomong jorok mulu, maksud cille mungkin hanya sekedar menghindar dari keharusan untuk membuat ringkasan diskusi. Sementara Om Zul yang mungkin sedang tidak mood untuk bercanda, bisa saja mengartikan telah ditegur keras oleh cille yang nota bene seumur anak beliau agar tidak ngomong jorok di palanta.
 
Hehehe...Welcome in post modernist world. Dalam dunia ini manusia waras tidak berarti waras. Melalui susunan alfabet yang jumlahnya cuma 26, manusia tak waras yang sedikit cerdas bisa menggabungkan huruf-huruf tsb untuk membentuk konsep baru dan membangun realitas baru bahwa sebetulnya dialah yang waras. Tapi terus terang saja, yang ber IQ rata-rata memang akan menganggap konsep post modernist sebagai konsep dunia yang gila. Gak aneh, lah emang siapa yang menemukan konsep ini?
 
Om Sehan, aku sudah pantas naik kelas nih...
 
--Gm
 
 


Do you Yahoo!?
The New Yahoo! Shopping - with improved product search

Kirim email ke