Server mailing list RantauNet berjalan atas sumbangan para anggota, simpatisan dan 
semua pihak yang bersedia membantu. Ingin menyumbang silahkan klik: 
http://www.rantaunet.com/sumbangan.php
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Assalamu'alaikum wr.wb
Ternyata bukan masalah negara atau pemerintahan saja saat ini yang harus
direformasi, metode dongeng sebelum tidur pun harus direformasi mengikuti
perkembangan dan daya kritis anak2 zaman sekarang.

....ba a loh caro no carito macam malin kundang nan lah baku ko ka dirubah
dan dicaritokan ka anak - anak??


wassalam,
harman
*********

dari : ummigroup.co.id/ummi kolom ayah

 

Malam sudah larut. Anak-anakku sudah tertidur. Tinggal kami berdua - aku dan
istriku - berbincang akrab di meja makan. Sambil menikmati lauk yang sudah
dingin, aku mendengarkan istriku menceritakan pengalamannya hari ini dengan
anak-anak kami.

Rupanya hari ini istriku berceritera ke Yasmin, puteri pertama kami, tentang
legenda Malin Kundang. Tujuannya mulia, yaitu hendak mengajarkan pentingnya
seorang anak berbakti kepada orang tua. Istriku bercerita secara runut
perjalanan hidup Malin Kundang. Mulai dari Si Malin masih menjadi seorang
pemuda miskin di satu desa, hidup penuh derita ditemani ibunya yang tua,
berlanjut ke perjalanannya merantau, hingga kisah suksesnya Si Malin di
rantau menjadi saudagar.

Singkatnya, sampailah isteriku pada klimaks cerita, yaitu ketika Si Malin
hendak pulang kembali ke kampungnya. Kedatangannya ini tentu saja disambut
dengan penuh suka cita oleh ibunya, yang semakin tua dan tetap miskin.
Sebagaimana telah diketahui, Si Malin rupanya malu mengakui orang tua buruk
rupa dan miskin itu sebagai ibunya. Ibu Si Malin bukan main sedih dan
murkanya. Dalam kemarahannya, Ibu Si Malin mengutuk anaknya itu menjadi
batu. Maka berubahlah Malin Kundang menjadi batu.

Sampai di sini, ternyata istriku mendapat klimaks lain. Di luar dugaan,
Yasmin memprotes keras tindakan ibu Malin Kundang itu.

'Kok dikutuk jadi batu? Kan kasian Malin Kundangnya? Emang ibunya enggak
sayang sama Malin Kundang? Ibu Malin Kundang jahat! '

Begitulah kira-kira 'serangan' Yasmin, yang dilakukannya sambil
berkaca-kaca. Istriku tentu saja kaget bukan main. Aku yang mendengarkan pun
ikut terpana.

 

* * * * *

 

What's wrong? Apakah istriku yang salah bercerita? Rasanya kecil
kemungkinannya. Cerita Malin Kundang memang dari dulu seperti itu. Dari
kecil pun aku selalu berpihak kepada ibu yang disia-siakan si anak durhaka
itu. Jadi, kenapa Yasmin bersikap berbeda? Kenyataan ini memaksa aku dan
istriku   berpikir  lebih dalam.

Pelajaran pertama yang kami ambil dari kejadian ini adalah kenyataan bahwa
seorang anak mungkin sekali melihat dari sudut pandang berbeda. Hal ini
harus dihargai. Bagi kami, jelas Malin Kundang bersalah karena mengabaikan
orang tuanya. Namun bagi Yasmin, barang kali, persoalannya bukan pada salah
benarnya Malin Kundang, tetapi pada sikap 'sadis' sang ibu yang tega
mengutuk anak sendiri menjadi batu.

Nah, kalau kami sudah bisa menghargai sudut pandang Yasmin, kami pun harus
siap melihat kebenaran dari versi yang berbeda dengan yang kami yakini. 

Maksud saya begini. Barang kali benar kalau Yasmin beranggapan bahwa ibu
Malin Kundang terlalu keras bersikap terhadap anaknya. Dalam alam pikiran
Yasmin yang lembut, bukankah seorang ibu seharusnya bersikap lebih sabar
terhadap anaknya? Mungkin kalau Yasmin sudah memiliki kosa kata yang lebih
canggih, dia akan berkata, "apa tidak ada pendekatan lain, 'selain main
kutuk'?"' Selain itu, bukankah seharusnya seorang ibu sudah cukup bahagia
melihat anaknya 'menjadi orang'? Sikap mengutuk itu justru menodai kesucian
kasih sayang seorang ibu terhadap anak.

Mohon maaf, saya tidak sedang membela Malin Kundang. Bagaimanapun sikap si
Malin tidak bisa dibenarkan. Saya hanya hendak mengajak kita semua melihat
persoalan ini dari sisi seorang anak.

Ah, saya jadi teringat kata-kata yang selalu ibu saya ucapkan, 'Ibu tidak
mengharapkan apa-apa dari kamu. Melihat kamu sudah mandiri, tidak hidup
susah dan menyusahkan orang lain, itu sudah cukup buat ibu.'

Pelajaran kedua yang kami ambil, kami bertekad untuk bersikap lebih
hati-hati dalam memilih cerita. Rupanya tidak setiap cerita rakyat memiliki
kualitas didik yang baik. Kami jadi teringat kisah Bawang Merah - Bawang
Putih. Kami berdua tidak menyukai tokoh Bawang Putih yang terlalu nrimo, dan
pasrah menunggu nasib. Tapi sikap kami ini tentu sangat subyektif. 

Juga tidak melulu cerita dari Timur lebih luhur ketimbang cerita dari Barat.
Misalnya, Crayon Sinchan tokoh anak bandel dan perbuatannya yang berbau
porno dari Jepang. Contoh lain adalah Dragon Ball, yang seolah mengajarkan
bahwa langkah pertama dan terakhir untuk menyelesaikan setiap persoalan
adalah kekerasan.

Kalau Timur tidak selalu luhur, Barat pun tidak melulu brutal. Contoh yang
menarik adalah Winnie the Pooh. Kisah beruang lugu dan lucu beserta
kawan-kawannya ini penuh dengan persahabatan, saling berbagi dan saling
menjaga. 

Lebih jauh lagi, tidak semua kisah para sahabat dapat diceritakan begitu
saja kepada anak-anak. Misalnya, kisah ketika Sayyidina Umar masih
jahiliyah, dan tega mengubur hidup-hidup anak perempuannya sendiri. Kisah
ini, menurut saya, masih terlalu sadis buat balita seperti Yasmin dan
adik-adiknya.

Pelajaran ketiga, kami berkesimpulan bahwa setiap saat kami harus
mengevaluasi metode dan kualitas didik yang kami berikan kepada anak-anak
kami. Sekedar meniru apa yang sudah pernah kami ketahui tentang mendidik
anak bisa jadi merupakan langkah ceroboh.



URL to this page: http://groups.yahoo.com/group/yisc_al-azhar 
Kunjungi website YISC Al-Azhar di http://www.yisc.or.id
VISI : MENUJU KOMUNITAS BELAJAR DAN BERAKHLAK 
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ingin memasarkan produk anda di web RantauNet http://www.rantaunet.com 
Hubungi [EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
----------------------------------------------------
Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: 
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
========================================

Kirim email ke