Server mailing list RantauNet berjalan atas sumbangan para anggota, simpatisan dan 
semua pihak yang bersedia membantu. Ingin menyumbang silahkan klik: 
http://www.rantaunet.com/sumbangan.php
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Assalamualaikum dunsanak Harman,

Menurut saya ada dua hal yang bisa kita lakukan dalam menanggapi kekritisan anak-anak 
dalam menangkap cerita malin kundang ini.

1. Beri introduction bahwa mama atau papanya akan bercerita tentang peristiwa yang 
terjadi jauh di masa lalu. Untuk beberapa bagian mungkin ada peristiwa, keadaan, 
kondisi yang kalau diaplikasikan ke jaman sekarang mungkin terasa janggal seperti ada 
orang tua yang menyumpahi anaknya.

2. Ganti saja pakemnya. Kalau dicerita malin kundang asli, ibunya mengeluarkan sumpah 
serapah, buat saja cerita baru bahwa benar ibu malin kundang kecewa terhadap sikap 
anaknya, tapi sebagai ibu dia cukup mawas diri. Maksud saya, buat cerita bahwa sang 
ibu introspeksi diri dengan memutar peristiwa2 dimasa lalu. Mungkin dia pernah 
bersikap tidak baik terhadap anaknya yang menimbulkan luka dalam hati sang anak. 
Singkatnya dari pada mengeluarkan sumpah serapah, buat saja ibu malin kundang meminta 
maaf melalui Allah kepada anaknya dan memohonkan keselamatan untuk anaknya.

Hehehe...Akhir cerita terserah deh, mau tetap dijadikan batu atau dibuat happy ending. 
Kalau aku lebih suka membuat segala sesuatu happy ending. Kapal malin kundang tak buat 
dipermainkan ombak seperti cerita asli, tapi ditengah prahara alam itu dia melihat 
bayangan seorang perempuan tua yang tengah bersedih di tepi pantai. Ditengah hantaman 
badai itu, malin melihat siluet perempuan cantik "mengundang2" (maksudnya menggendong 
di punggung kan ya?) seorang anak lelaki kemana saja seperti ke pasar, ke hutan, 
mencari ikan sisa di pantai, mengusap darah dikeningnya saat kepala sang anak terantuk 
galangan kapal, mengunyahkan nasi ( ih... ini mah gak sehat tapi ibu saya jaman 
beheula melakukan hal ini lho) saat si lelaki kecil tidak bisa menelan makanannya 
sendiri. Peristiwa bisa didramatisir lagi ala pelem Bollywood, bagaiman suatu ketika 
sang perempuan memberikan seutuhnya sepotong kue yang cuma satu-satunya kekayaan 
mereka hari itu kepada sang anak lelaki. 

Nah, dalam siluet itu lah kemudian malin menerikaan  kata "ibuuuuu!!!!......." sekuat 
tenaga ke angkasa. Jreng.....Seketika badai berhenti, langit cerah dan laut kembali 
tidur seperti tidak pernah begitu galaknya mempermainkan kapal Malin.

Cerita akhir bisa ditebak dong? Hehehe...

Wassalam,

--Gm


----- Original Message ----- 
From: "harman" <[EMAIL PROTECTED]>

Assalamu'alaikum wr.wb
Ternyata bukan masalah negara atau pemerintahan saja saat ini yang harus
direformasi, metode dongeng sebelum tidur pun harus direformasi mengikuti
perkembangan dan daya kritis anak2 zaman sekarang.

....ba a loh caro no carito macam malin kundang nan lah baku ko ka dirubah
dan dicaritokan ka anak - anak??


wassalam,
harman
*********



~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ingin memasarkan produk anda di web RantauNet http://www.rantaunet.com
Hubungi [EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
----------------------------------------------------
Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke:
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
=======================================

Kirim email ke