Server mailing list RantauNet berjalan atas sumbangan para anggota, simpatisan dan 
semua pihak yang bersedia membantu. Ingin menyumbang silahkan klik: 
http://www.rantaunet.com/sumbangan.php
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dari Suplemen Republika Dialog jum'at minggu lalu.

Jumat, 17 Oktober 2003
Syekh Sulaiman ar-Rasuli
Memegang Teguh Mazhab Syafi'i
Penulis : Yusuf Assidiq

Perkembangan Islam di nusantara tidak bisa dipisahkan dari kiprah para tokoh
agama dan ulama besar yang giat menyebarkan sunnatullah serta Hadis di
berbagai wilayah. Sejauh ini, Sumatra Barat merupakan salah satu daerah yang
melahirkan banyak ulama terkemuka. 

Di antara tokoh ulama asal Sumatra Barat terkemuka adalah Syekh Sulaiman
ar-Rasuli. Semasa hidupnya, Syekh Sulaiman dikenal masyarakat luas sebagai
ulama yang gigih mempertahankan serta mengembangkan paham ahlusunnah wal
jamaah dan mahzab Syafi'i. Selain itu, dia merupakan pendiri organisasi
Ittihadul Ulama Sumatra (Persatuan Ulama Sumatra) dan Persatuan Tarbiyah
Islamiyah (Perti). 

Dari buku Ensiklopedi Islam, Syekh Sulaiman lahir tahun 1871 di Candung,
yang terletak 10 km sebelah timur Bukitinggi, Sumbar. Oleh karenanya, dia
pun lebih sering dipanggil dengan sebutan "Inyik Candung". Dia bernama asli
Sulaiman bin Rasul, namun murid-muridnya di kemudian hari, akrab
memanggilnya dengan nama Maulana Syekh Sulaiman ar-Rasuli. 

Ayahnya bernama Angku Mudo Muhammad Rasul, yang juga ulama di daerahnya.
Dari ayahnya pula, Syekh Sulaiman memperoleh pendidikan awal, terutama untuk
bidang pelajaran agama. Di samping itu, sejak kecil dia menimba ilmu kepada
Syekh Yahya al-Khalidi di Magek, Bukitinggi. 

Ibadah haji dijalaninya pada tahun 1930 yang kemudian bermukim di tanah suci
Makkah selama beberapa tahun. Di sana Syekh Sulaiman menuntut ilmu dari
sejumlah ulama terkemuka. Antara lain Syekh Achmad Khatib Minangkabau.
Sedangkan teman-temannya saat belajar di Makkah ialah Syekh Abbas Ladang
Lawas dari Bukitinggi dan Syekh Muhammad Jamil Jaho.

Ketiganya tetap beraktivitas bersama sekembalinya ke tanah air dan menjadi
tokoh ulama terkemuka. Mereka lantas gigih memperjuangkan dan mengembangkan
paham ahlusunnah wal jamaah. Tiga sahabat karib ini dikenal dengan sebutan
"tali pilin tiga."

Pulang ke kampung halaman, Candung, segera Syekh Sulaiman membuka sebuah
pondok pesantren besar. Dalam waktu singkat, pesantrennya ini mendapat
sambutan menggembirakan dari warga masyarakat sekitar. Makin lama jumlah
murid-muridnya kian bertambah banyak. Tak hanya dari wilayah setempat,
mereka yang ingin belajar di pesantren itu juga datang dari berbagai penjuru
Sumbar, Riau, Jambi, Bengkulu, Tapanuli, Aceh bahkan Malaysia. 

Materi utama pendidikan di pesantren tersebut adalah pengajaran paham
ahlusunnah wal jamaah serta mazhab Syafi'i. Dia sangat konsisten menjalankan
paham dan aliran tersebut. Begitu pula ketika ada muridnya yang telah
berhasil menyelesaikan masa pendidikannya, maka pada ijazah kelulusan akan
dicantumkan pernyataan bahwa si pemegang ijazah, jika berfatwa, harus
mendasarkan pada mazhab Syafi'i. Selain itu, masih dalam ijazah tadi,
tercantum tulisan bahwa Syekh Sulaiman tidak akan rela bila muridnya
berfatwa atau menganut paham selain paham Syafi'i. 

Syekh Sulaiman tidak cuma dikenal sebagai ulama, kiprahnya merambah ke
bidang politik dan keorganisasian. Tahun 1921, bersama dua teman akrabnya,
Syekh Abbas dan Syekh Muhammad Jamil, serta sejumlah ulama kaum tua
Minangkabau, membentuk organisasi bernama Ittihadul Ulama Sumatra. Ini
merupakan organisasi saingan Persatuan Guru-guru Agama Islam (PGAI) yang
didirikan kaum muda tahun 1918. 

Tujuan dari pembentukan Ittihadul Ulama yakni untuk membela dan
mengembangkan paham ahlusunnah wal jamaah serta mazhab Syafi'i. Dipilih
selaku ketua umum pertamanya adalah Syekh Abbas Ladang Lawas. Organisasi
tersebut kemudian menerbitkan majalah ar-Radd wa al-Mardud dibawah asuhan KH
Sirajuddin Abbas dan H Mustafa Salim bin Syekh Muhammad Salim. 

Dalam satu rapat yang berlangsung tanggal 5 Mei 1928 di rumah Syekh
Sulaiman, muncul pemikiran bagi pembentukan organisasi persatuan
sekolah-sekolah agama yang berpaham ahlusunnah wal jamaah. Sejumlah ulama
tersebut secara tegas tidak setuju dengan aliran pendidikan yang dikelola
kaum muda, semisal madrasah diniyah serta Sumatra Thawalib. 

Selanjutnya, sekolah-sekolah agama yang tergabung dengan Syekh Sulaiman dkk
dinamakan Madrasah Tarbiyah Islamiyah. 

Syekh Sulaiman seringkali berbeda pendapat dengan tokoh muda lantaran
keteguhannya mempertahankan paham ahlusunnah wal jamaah. Kendati demikian,
dia sangat toleran dan menghargai pendapat orang lain. Oleh sebab itu, tak
aneh bila tokoh ulama ini kerap bekerja sama dengan berbagai pihak meski ada
ketidaksepahaman. 

Pernah suatu ketika, Syekh Sulaiman berbeda pendapat dengan Dr H Abdul Karim
Amrullah, yang pada intinya mengenai tarekat Naqsabandiyah serta rukyat
dalam penetapan awal Ramadhan. Akan tetapi, keduanya tidak serta merta
mengedepankan perbedaan pendapat itu ke dalam suatu debat kusir. Keduanua
justru bekerja sama erat khususnya untuk menghadapi kolonial. 

Mereka berdua bahkan acap kali mengisi ceramah di suatu tempat. Dan bersama
dengan Syekh Ibrahim Musa --seorang ulama dan tokoh pembaru di Parabek,
Bukitinggi-- berjanji untuk membawa semangat persatuan kepada segenap umat
di wilayahnya. 

Di bidang politik, Syekh Sulaiman pernah pula menjadi anggota Konstituante
hasil Pemilu tahun 1955. Dia merupakan salah satu anggota tertua dan sempat
ditunjuk untuk memimpin sidang pertama Konstituante. Selain itu, kiprahnya
berpolitik sempat mengantarnya menduduki jabatan ketua Majelis Islam
Tertinggi Sumatra Barat yang berkedudukan di Bukitinggi. Syekh Sulaiman pun
tercatat pernah menghadiri konferensi ulama-ulama Sumatra dan Malaysia di
Singapura pada zaman pendudukan Jepang tahun 1942. 

Sejumlah karya tulisnya di bidang agama hingga kini masih dirujuk oleh
beberapa sekolah agama. Antara lain karyanya adalah  Kisah Isra dan Miraj
Nabi, Cerita Tentang Maulid Nabi, Kisah Nabi Yusuf dan Yakub, Tassawuf, Ilmu
Tafsir, Usuluddin, Doa-doa, Kisah Muhammad Arif-Tassawuf dan Perdamaian Adat
dengan Syarak. 

Demikian sumbangsih Syekh Sulaiman ar-Rasuli untuk mengembangkan agama Islam
dan pendidikan agama. Sejarah membuktikan, Perti yang dibentuk bersama dua
sahabatnya dulu, kini telah menjelma menjadi sebuah organisasi yang mapan
dan memayungi ratusan sekolah dan lembaga pendidikan Islam. Agaknya Syekh
Sulaiman hendak menitipkan pesan bahwa dengan memajukan pendidikan, maka
umat akan dapat bangkit dan berkiprah lebih aktif dalam usaha membangun
bangsa dan agama. 
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ingin memasarkan produk anda di web RantauNet http://www.rantaunet.com 
Hubungi [EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
----------------------------------------------------
Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: 
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
========================================

Kirim email ke