بسم الله الرحمن الرحيم

 

PUASA MEMBENTUK KARETERISTIK INSAN

 

 

مَنِ اهْتَدَى فإنما يهتدي لنفسه ومن ضل فإنما يضل عليها ( الإسراء 15)

 

“Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat untuk (keselamatan) dirinya sendiri, dan barang siapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi dirinya sendiri…” (QS Al-Isra’ 15)

 

Terlebih dahulu marilah kita sama-sama mempersembahkan puja dan puji kehadhirat Allah SWT Yang Maha Rahman, karena berkat hidayah dan taufiqNya, kita sudah dapat melaksanakan ibadah shiyam dan qiyam Ramadhan selama 8 hari. Mudah-mudahan segenap amal ibadah kita yang telah berlalu itu dan juga ibadah kita yang akan datang diterima oleh Allah SWT sebagai amal saleh yang “maqbula”. Shalawat dan salam marilah kita mohonkan kepada Allah SWT agar Dia selalu melimpahkannya buat junjungan kita Nabi Muhammad SAW. اللهم صلىعلى محمد وعلى آله و أصحابه وسلم

 

Kentatipun puasa dalam bentuk formalnya adalah menahan lapar dan haus disiang hari serta apa-apa yang membatalkannya, akan tetapi tujuan puasa bukanlah sekedar itu. Bahkan siapa yang berpuasa hanya sekedar menahan lapar dan haus saja, maka dia tidak akan beroleh pahala disisi Allah SWT. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah SAW :

 

Betapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak memperoleh apa-apa selain lapar dan haus saja. (HR An-Nasai).

 

Maksudnya semata-mata menahan lapar dan dahaga, tidak termasuk kepada ibadah, kecuali jika disertai oleh aturan-aturan dan hukum-hukum yang berlaku selama berpuasa.

 

Dibalik bentuk formal puasa tersebut, terkandung pula beberapa hikmah yang sangat mendalam dengan tujuan utama antara lain; membentuk kekuatan insani – insan kamil -

Kekuatan yang tumbuh dan berkembang akibat atsarus-shiyam (implementasi/pengaruh ibadah puasa) berupa pribadi yang tangguh, sabar dan tegar dalam menghadapi setiap tantangan kehidupan yang penuh dengan ujian dan cobaan ini.

 

Dihari-hari biasa diluar Ramadhan susah sekali bagi seseorang untuk menahan dan mengendalikan diri dari kehendak nafsunya. Seringkali karena kelemahan pribadinya, seseorang gagal menahan diri dari yang haram. Akan tetapi lain halnya dalam bulan Ramadhan, seseorang yang berpuasa dibina dan ditempa dengan penuh keimanan dan kesadaran agar berhasil menundukkan kebuasan hawa nafsunya. Jangan memakan yang haram yang halalpun dia tak mau memakannya pada siang hari.(contoh: bahimah; seperti kambing, sapi dan kerbau, bagaimanapun sudah diberikan rumput yang enak-enak, tapi kalau lepas, jagung muda di kebun orang juga disikat). Dengan latihan dan tempaan terus menerus selama satu bulan penuh mudah-mudahan membekas pada dirinya sehingga menjadi orang-orang yang terbina, terpelihara, taat mematuhi aturan-aturan Allah SWT dan dapat mencapai derajat Taqwa. Oleh sebab itu Rasulullah SAW menganjurkan agar dalam pelaksanaan ibadah shiyam itu mestilah memenuhi dua kriteria yaitu iman dan ihtisaba (perhitungan).

 

عن أبي هريرة فال : قال رسول الله صم : من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر ما تقدم من ذنبه رواه أحمد ,أصحاب السنن

 

Dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah SAW berkata: “Siapa yang berpuasa dengan penuh keimanan dan perhitungan, niscaya diampuni Allah segala dosanya dimasa lalu.” (HR Muttafaq ‘alaihi).

 

Keimanan dan perhitungan disini memungkinkan seseorang menjadi sangat hati-hati dan waspada. Sebab perhitungan yang ditopang oleh keyakinan akan menjadi suatu kekuatan yang besar untuk mendorong keberhasilan mencapai tujuan. Dengan senantiasa melakukan kebajikan dalam bulan puasa, menghindari segala yang dilarang dan melipat-gandakan amal-amal saleh, dapat mengikis habis dosa-dosa yang pernah dilakukan (siapakah dari insani yang tidak bersalah?) sehingga terbebaslah jiwa dari  himpitan dosa yang memberatkan. Hal ini tentu tidak akan mustahil, jika beban mental sudah ringan, jiwa menjadi kuat dan sanggup menghadapi setiap godaan, rintangan, maupun rongrongan hawa nafsunya sendiri. Inilah yang kita maksud bahwa puasa dapat membentuk kekuatan insani menuju “insan kamil” yakni kekuatan pribadi yang muncul setelah latihan puasa, berupa pribadi yang tangguh, ulet, kokoh dan kuat. Inilah sebagai modal utama untuk mendapatkan taqwa dan menjadi “orang-orang yang muttaqin”.

 

Disaat orang yang berpuasa merasakan lapar dan haus, bukan hanya berhasil menekan kehendak hawa nafsu dan menyabarkan diri hingga datangnya waktu berbuka, namun lebih dari itu, setiap dia merasakan lapar dan haus maka timbullah perasaan santun dan hiba kepada orang-orang miskin yang melarat. Mereka dalam kesahariannya sering kekurangan makanan karena memang tidak mempunyai persediaan makanan. Jangankan memenuhi 4 sehat 5 sempurna, memperoleh sesuap nasi untuk sahur dan berbuka sangat sulit mereka dapatkan.

 

Perasaan yang demikian itu timbul setiap hari ketika dia berpuasa, sehingga mendorong dirinya untuk berbuat ikhlas, menyantuni kaum dhu’afa; orang fakir, miskin dan anak-anak yatim. Dengan arti kata timbullah dalam dirinya perasaaan kasih sayang yang jauh dari egoisme yang berlebihan, sifat individualistis dan mementingkan diri sendiri. Timbul rasa kebersamaan, muncul saling santun menyantuni. Kalau ini sudah ada menunjukkan bahwa keimanannya bertambah meningkat. (kalau sebelum Ramadhan nilainya 5 kini sudah 7 bahkan bisa mencapai 9). Sebab kata Rasulullah SAW; “Tidak sempurna iman seseorang kamu hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri”.

 

Kita tentu ingat bahwa inti dari ibadah puasa adalah mengendalikan diri. Alangkah indahnya jika seseorang yang selama ini boros membelanjakan uang dan hartanya untuk yang bersifat duniawi, sekarang keinginan itu dapat dia kendalikan dengan menafkahkannya di jalan Allah seperti membantu pendidikan anak-anak miskin yang tidak mampu, membebaskan saudaranya yang dililit hutang, menyalurkannya ke panti asuhan, pesantren-pesantren (madrasah), mesjid-mesjid, mushola, surau dan menolong orang-orang terkena musibah dll.

 

Lidahnya yang selama ini mungkin lepas kontrol, suka membicarakan aib orang lain, menghasut, mengadu domba, berkata bohong, menfitnah (provokator) dan sebagainya, sekarang dikendalikan dengan membiasakan istighfar, dzikir, berkata santun, berdo’a dan memohon keampunan, sehingga tidak ada yang keluar dari mulutnya kecuali kata-kata yang baik, indah dan menyenangkan. Karena itulah Rasulullah SAW berpesan dan mengingatkan : “Siapa yang berpuasa tanpa meninggalkan perkataan dan perbuatan tercela maka tidak ada perlunya bagi Allah dia meninggalkan makan dan minum” HR Bukhari.

 

Maksud Rasulullah SAW diatas adalah bagaimana agar dalam bulan puasa ini kita bersungguh-sungguh melatih diri agar apapun kata-kata yang diucapkan dari mulut kita selalu yang baik-baik saja, tingkah laku yang sopan, sehingga selepas bulan Ramadhan ini kita sudah terbiasa dengan perbuatan yang baik-baik. Dengan demikian akan muncullah dalam diri masing-masing “haibah” dan kewibawaan. Muncul karakteristik dan keperibadian yang sopan, baik dan menyenangkan. Kita akan bersih seperti bayi yang baru dilahirkan ibunya. Sehingga pada suatu kali Rasulullah pernah mengingatkan “Siapa yang beriman dengan Allah dan hari akhirat, hendaklah dia berkata yang baik atau (jika tak perlu berbicara) hendaklah diam..”

 

Jadi amatlah jauh dari hakekat puasa jika ada orang berpendapat bahwa puasa itu sekedar manahan makan dan minum, pergaulan suami istri dan segala sesuatu yang membatalkan puasa. Berpuasa tidak hanya memperhatikan hal-hal yang membatalkan saja, tapi juga memperhitungkan hal-hal yang merusak dan menghapus pahalanya. Dalam sebuah Hadist riwayat Dailami disebutkan bahwa Rasulullah SAW berkata;

“Ada 6 (enam) hal yang dapat membuat amal itu terkikis habis;

  1. sibuk membicarakan aib orang lain (bergunjing)
  2. kesat hati (dengki)
  3. cinta dunia (hubbud-dunya)
  4. sedikit merasa malu (sama sekali tidak punya malu)
  5. panjang angan-angan (berkhayal)
  6. berbuat dzalim (aniaya) yang berkepanjangan”.

 

Apabila seorang mukmin dapat menjalankan puasanya dengan penuh kesadaran, menyadari semua kekurangan dirinya, selalu berupaya menyucikan jiwa lahir dan batin, mengendalikan hawa nafsu serta berusaha mematuhi aturan-aturan Allah SWT, Insya Allah akan terbentuklah “kekuatan insani” dan “insan kamil” dalam dirinya menjadi pribadi yang utuh, punya mabda’ (prinsip) dan tidak akan goyah dalam menghadapi kehidupan duniawi yang penuh dengan cobaan-cobaan.

 

Mudah-mudahan ibadah puasa yang tengah kita lakukan ini benar-benar menjadi sarana perbaikan diri kita masing-masing menuju ke tingkat “al-muttaqin”.

 

Semoga bermanfaat, Amin! (zs)

 

Dari : Ta’mirul Masajid

 

 

  

 

 

 

Kirim email ke