Sebulan Ramadhan Setahun Buah Ramadhan

Dalam ISNA Convention Mei lalu di Toronto, kami mendapat kiat 
menghilangkan kebiasaan buruk. Caranya mudah. Pertama buat daftar 
kebiasaan-kebiasaan buruk yang ingin kita hilangkan. Kedua, buat prioritas 
berdasarkan kebiasaan buruk yang mendesak untuk segera dihilangkan. Kemudian buat 
tabel hari ke-1 sampai hari ke-40. 

Ketika hari-1 kita tidak melakukan kebiasaan buruk tsb maka kita beri 
tanda centang pada hari tsb. Demikian seterusnya. Namun perlu diingat 
bahwa kegiatan buruk tsb harus tidak dilakukan terus-menerus "tanpa 
terputus". 

Misalkan kita berhasil tidak melakukan kebiasaan buruk tsb hingga hari 
ke-38, namun tiba-tiba kita terlupa dan tanpa sengaja melakukannya pada 
hari ke-39 maka konsekuensinya kita harus mulai dari awal kembali, hari 
ke-1. 

Demikian halnya bila kita ingin menumbuhkan suatu kebiasaan baik, 
"Jangka Waktu" dan "Kontinuitas" memegang peranan sangat penting. 

Mengapa kita harus melakukannya secara terus menerus selama 40 hari ? 
Jawabannya ada pada proses neurogenesis yang memang membutuhkan waktu 
selama 30 hari. 

30 hari Proses Neurogenesis 

Dalam artikel mengenai otak "You use it or lose it", dipaparkan bahwa 
sel-sel otak bila tidak digunakan maka ia akan mati dengan sendirinya 
dan kemudian diganti dengan sel-sel otak baru sesuai dengan 
informasi/aktivitas baru yang kita lakukan.

Berbeda dengan anggapan selama ini bahwa pertumbuhan sel-sel otak baru 
(Neurogenesis) hanya terjadi pada anak-anak, ternyata hasil penelitian 
menunjukkan bahwa neuorogenesis juga terjadi pada orang dewasa. 

Bakal sel-sel otak baru (neural stem cells) yang aktif dapat ditemui 
pada ventricels dan hippocampus, yaitu suatu bagian dari otak yang 
memegang peranan penting dalam proses penyerapan ilmu (learning) dan ingatan 
(memory).

Ketika kita mempelajari suatu kegiatan baru, maka besar kemungkinan 
terjadi proses neurogenesis dimana neural stem cells yang aktif membelah 
berpindah ke bagian lain untuk kemudian berkembang menjadi sel-sel otak 
baru dan glia (support cell). Dalam masa migrasi, hanya neural stem 
cells yang dapat berinteraksi secara aktif dengan jaringan otak yang dapat 
bertahan hidup. Sebaliknya jika sel tsb tidak aktif maka ia akan mati 
dalam perjalanan.

Satu hal yang menarik, ternyata proses terbentuknya sel-sel otak baru 
hingga hingga sel-sel tsb aktif berfungsi dan terintegrasi dalam 
jaringan otak membutuhkan waktu selama 30 hari. 

Oleh sebab itu jika kita memulai suatu kegiatan baru, maka sebaiknya 
kita melakukan kegiatan tsb secara kontinu minimal selama 30 hari agar 
informasinya terekam kuat dalam jaringan otak kita. 

Sebaliknya jika kita sempat lalai, maka neural stem cells yang berisi 
informasi mengenai kegiatan tsb "sebagian" menjadi tidak aktif kemudian 
mati berguguran dengan sendirinya. Dengan kata lain hanya sedikit 
jumlah sel-sel otak baru yang mengandung informasi baru atau mungkin tidak 
ada sama sekali. 

Ramadhan Bulan Tarbiyah

Setiap aktivitas yang kita lakukan dan semua informasi yang kita 
peroleh pada dasarnya tersimpan dalam sel-sel otak kita. Oleh sebab itu 
jangan heran jika pada bulan Ramadhan meskipun syetan, insha Allah 
terbelenggu namun ada orang-orang yang tetap berbuat maksiat. 

Perbuatan tsb terjadi karena otak yang bersangkutan telah merekam suatu 
aktivitas yang awalnya tejadi karena godaan syetan, namun karena 
kegiatan tsb acap kali dilakukannya maka ia akan terus berbuat meskipun 
syetan yang menggoda sudah tidak ada lagi. 

Pada bulan Ramadhan inilah sebenarnya kesempatan bagi kita untuk 
menghancurkan sel-sel otak yang merekam kebiasaan-kebiasaan buruk dan 
menumbuhkan sel-sel otak baru yang berisi informasi mengenai 
kebiasaan-kebiasaan baik. 

Ditinjau dari segi waktu, bulan Ramadhan yang didahului dengan bulan 
Sya'ban kemudian dilanjutkan dengan bulan Syawal mempunyai masa yang 
cukup untuk terjadinya proses neurogenesis. 

Melakukan suatu perbuatan baik pun lebih terjamin kontinuitasnya di 
bulan Ramadhan. Karena kita memang lebih semangat beribadah di bulan 
Ramadhan dan cenderung lebih banyak berbuat kebajikan. Lebih rajin sholat, 
lebih rajin beramal, serta lebih rajin membaca Al Qur'an. Oleh sebab itu 
bulan Ramadhan merupakan moment yang sangat tepat untuk memupuk suatu 
kebiasaan baik

Contoh praktisnya sebagai berikut, misalkan kita ingin membiasakan diri 
membaca Al-Qur'an menjelang atau sesudah shalat Shubuh. Maka buatlah 
tabel Kegiatan Membaca Al-Qur'an selama 40 hari. Setelah itu lakukan 
kegiatan tsb berturut-turut tanpa terputus. Untuk Sisters yang sedang 
berhalangan dapat diganti dengan mendengarkan bacaaan Al-Qur'an, berdoa atau 
berdzikir. 

Sungguh merugi orang-orang yang lalai dalam bulan Ramadhan. Karena bisa 
jadi hanya sedikit sel-sel otak baru yang terbentuk atau mungkin tidak 
ada sama sekali yang tersisa karena sel-sel tsb semua mati berguguran 
sebelum sempat tumbuh sempurna. 

Fenomena ini akan jelas terlihat ketika seseorang ternyata mengakhiri 
semua ibadahnya dengan berakhirnya bulan Ramadhan. Ibaratnya bulan 
Ramadhan berlalu tanpa bekas.

Namun bagi orang-orang yang gigih beribadah dalam jangka waktu yang 
cukup dan adanya kontinuitas, maka memori untuk melakukan suatu kebiasaan 
baik akan terpatri kuat dalam jaringan otak mereka. Sehingga kebiasaan 
tsb akan tetap dilakukan meskipun bulan Ramadhan telah usai. 

Mungkin ini sebabnya bulan Ramadhan sering diidentikkan sebagai Bulan 
Tarbiyah. Bulan dimana kita dididik agar menjadi lebih baik hingga 
akhirnya kita mempunyai ingatan yang kuat untuk semua kebiasaan-kebiasan 
baik yang telah kita latih. Memori inilah yang merupakan bekal agar kita 
"terus" melakukan kebiasaan-kebiasaan tsb di bulan-bulan selanjutnya.  
Wallahu 'alam


U of G library, 10 Ramadhan 1424 H
Rie �Ontario

Kirim email ke