Title: Republika Online : http://www.republika.co.id
15 Nopember 2003  9:33:00
Resmiati
Mendidik di Tengah Rimba


Kalau pedidikan di tingkat SD tidak beres, maka masa depan generasi penerus akan makin suram. Namanya Resmiati (23 tahun), baru menikah bulan lalu. Ia tinggal di sebuah desa, di rimba Bukit Barisan. Untuk ke desanya, diperlukan waktu dua hari dua malam jalan kaki atau naik kuda beban. Semasa gadis, Ires, begitu ia disapa, telah menjadi guru sukarela di desanya. Ruang kelasnya pun seadanya.


Sebuah ruangan kecil dijadikan satu lokal. Dalam lokal yang satu itu, murid kelas V digabung dengan murid kelas IV. Ketika pelajaran diberikan untuk kelas IV, murid kelas V diam dulu, begitu sebaliknya. Cara seperti itu harus ditempuh supaya murid masing-masing kelas bisa berkonsentrasi.


Ires, lebih kokoh dari seorang bupati atau camat, dalam meyakinkan penduduk tidak terdidik untuk merelakan tanahnya guna pembuatan jalan. Padahal sebelumnya, mereka mati-matian mempertahankan tanahnya. Dengan kegigihan Ires, kini warga Desa Tombang, Nagari Batang Timbulun, Kecamatan Mapat Tunggul, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat, bisa menikmati pendidikan.


Desa Tombang, sesungguhnya adalah taratak, yaitu kumpulan beberapa rumah yang ada di dalam hutan atau di tepi hutan. Tombang bukannya di tepi, tapi di jantung Bukit Barisan, didiami oleh 55 keluarga. Di situlah Resmiati menjadi guru sukarela sejak lima tahun lalu.


Setamat dari SMKN I Lubuk Sikaping tahun 1998, ia langsung pulang kampung dan menjadi guru. Wanita kelahiran 1 September 1980 ini, sudah dicegah oleh orang kampungnya agar tidak jadi guru tanpa gaji. Tapi, hatinya keras benar.


''Menetes air mata saya melihat adik-adik saya sering meninggalkan sekolahnya, karena tak ada guru,'' katanya. Kalau pedidikan di tingkat SD tidak beres, kata Ires, maka masa depan generasi penerusnya itu akan makin suram. ''Di desa saya, kalau sudah tamat SD, harus pergi merantau dan hanya bisa pulang sekali setahun, karena SLTP tak ada di sana,'' sambungnya.


Kedua orang tuanya, Nursimah (48 tahun) dan Imam Ismail (58 tahun), teramat bangga pada Ires. Ia wanita, tapi hatinya sekeras baja. Tapi sebenarnya, lebih keras lagi hati kedua orang tuanya. Pasangan ini adalah petani miskin, petani yang tak punya akses pasar. Tapi, prestasinya sebagai orang tidak terdidik sangat mengagumkan.


Pasangan ini punya empat orang anak, yang tertua telah jadi sarjana dan mengajar di sebuah sekolah di Tapus, sebuah kota kecil dekat Lubuk Sikaping. Yang nomor dua menjadi pedagang kecil-kecilan, dan yang nomor tiga kini menjadi mahasiswa pascasarjana di Universitas Andalas, Padang. Yang bungsu Ires.


Mereka bersusah payah mencari uang, agar pendidikan anak-anaknya lancar. ''Kami, kata ayah, harus sekolah,'' sebut Ires. Ayah Ires tergolong orang yang dekat dengan agama. Namanya saja Imam Ismail.


Di desanya, yang tamat SLTA hanya tujuh orang dan yang sarjana dua orang, satunya adalah kakak Ires. Di Kecamatan Mapat Tunggul saja, yang tamat SLTA hanya 56 orang dan sarjana hanya delapan orang. Jumlah penduduk kecamatan ini 16.832 orang. Luas wilayah 1.077,2 km persegi atau hampir sama dengan luas Tanah Datar, salah satu kabupaten di Sumbar.


Prestasi Ires, jadi guru sukarela di desanya, tercium oleh camat Mapat Tunggul, apalagi sejak ia berhasil meyakinkan petani untuk merelakan tanahnya guna pembuatan jalan sepanjang 6 km. Itu dilakukan Ires dua tahun lalu. Sejak itu, semua pembuatan jalan baru di Mapat Tunggul, tak perlu lagi dilengkapi ganti rugi untuk penduduk.


Ires berhasil meyakinkan penduduk bahwa jalan sangat penting bagi desa terisolasi seperti desa mereka. Hasil bumi dengan mudah bisa diangkut dan ekonomi akan membaik. Menurut Camat Mapat Tunggul, Yanni Habbaintis SH, penduduknya masih terbelakang.


Di kecamatan itu ada empat nagari yaitu Lubuk Gadang, Muara Tais, Silayang, dan Muaro Sungai Lolo. Mereka dikepung oleh rimba raya. Karena kondisi seperti itu, Ires tak boleh lagi hanya berkarya untuk Tombang, desanya, tapi harus untuk kecamatan. Maka Ires pun melakukan aktivitasnya untuk semua warga dalam satu kecamatan.


Ada empat kegiatan pokok yang dijalankannya. Pertama, tetap menjadi guru sukarela di sejumlah SD. Kedua, melakukan penyadaran kepada penduduk tentang arti pentingnya kesehatan ibu dan anak serta peningkatan gizi. Ketiga, seperti kartini kecil, ia terlibat kegiatan keputrian sampai pada mendorong agar yang berpenghasilan lebih mau menabung. Terakhir, Ires bersama sejumlah guru SD lainnya membuat ruang kelas tambahan. Sebuah ruang seperti kandang sapi, tapi itulah ruang untuk belajar.


Dari Tombang, Ires kemudian mengembangkan programnya dengan membangun SD filial 09 Lubuk Gadang di Desa Guo Siayuang. SD itu hanya satu lokal. Bulan lalu, tiang utamanya patah, sehingga atapnya meliuk. Sekarang, tiang utama itu sudah diperbaiki. Di sanalah aktivitas belajar sedang berlangsung. Ires sedang berdiri di hadapan 10 orang murid kelas V.


Di sekolah yang hanya satu lokal itu, belajarlah murid kelas I sampai kelas VI. Jumlahnya 72 orang. Karena tidak cukup ruangan, lalu disambunglah lokal tadi dengan sebuah ruangan kecil, seperti gudang di kantor Anda.


Murid-murid itu diajar oleh empat orang guru. Ada Ibu Guru Darmis, tamat MAN, pegawai honor daerah (honda); ada Ibu Guru Hendayani, tamat SPG Talu. Kemudian Pak Guru Syukrul Almi, tamatan PGSD dan Sri Afriza.


Seperti juga di Desa Tombang, tempat Ires mengajar, satu lokal dibagi tiga. Papan tulisnya juga tiga. Deretan pertama duduk kelas IV, deretan kedua kelas III, kemudian dibatas tripleks, di sebelahnya ada anak kelas VI. Murid kelas IV dan III harus banyak menahan hati. Sebab kalau guru sedang mengajar kelas III, misalnya, kelas IV harus diam dulu.


Saat pertama datang, Ires mengaku sedih melihat kondisi SD Guo Siayuang. Maka, ia kemudian berinisiatif membuat lokal baru. Itulah lokal yang diperuntukkan bagi kelas V. Di ruang kelas itulah, selama Ramadhan ini Ires mengajarkan soal puasa kepada anak didiknya.


Seperti juga di desanya, di sini juga tak ada honor yang ia terima. ''Tak apalah, saya punya penghasilan lain,'' katanya. Ia berdagang kecil-kecilan. Sejak sebulan belakangan, ia terlihat lebih tenang. Ires sudah dipersunting oleh Ariodiono, lelaki yang menjadi pedagang karet di desanya.


Keteguhan Ires untuk mengembangkan pendidikan wilayah pedalaman itu mengantarkannya sebagai pemudi pelopor Sumatra Barat. Setelah dinilai ia meraih peringkat pertama, disusul peringkat kedua dari Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung, dan ketiga kembali diraih orang Pasaman.


Ires, kata Wakil Bupati Pasaman Beny Utama, bulan ini akan berangkat ke Istana Negara memenuhi undangan Presiden Megawati. Beny yakin, pasti ada apa-apanya dengan Resmiati. ''Jangan-jangan adik kita itu mendapat juara satu pula di tingkat nasional,'' ujar Beny.


Yang lebih menggembirakan Ires bukan itu, tapi program-program yang diusulkannya diterima oleh pemerintahan kabupaten. ''Inisiatifnya bagus, jadi hampir semua usulannya kita masukkan ke dalam APBD,'' tambah Beny. Beberapa inisiatif itu, antara lain, menyangkut pelebaran jalan, pembangunan gedung SD, perbaikan gizi.


Ires telah memberi banyak inspirasi bagi masyarakat dan pemerintah di sekitar tempat tinggalnya. Sepak terjangnya memajukan pendidikan telah dinikmati banyak orang. Kini dia tinggal menunggu saat untuk memetik 'buah' dari ketulusannya.  rul




Berita ini dikirim melalui Republika Online http://www.republika.co.id
Berita bisa dilihat di : http://www.republika.co.id/cetak_detail.asp?id=145826&kat_id=3

Kirim email ke