Dari surau subalah
wassalam
Junaidi (37), kandang singo
--- In [EMAIL PROTECTED], "Abdul Ghani K. H."
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Vietnam Vonis Mati Pejabat Korup
HANOI - Vietnam adalah contoh terdekat ketegasan pemerintah membasmi
korupsi. Sesama negara Asia Tenggara ini kemarin memvonis mati seorang
wanita mantan direktur perusahaan negara (BUMN) karena terbukti
korupsi
hampir USD 7 juta (sekitar Rp 58,5 miliar).
Dua mantan wakil menteri dan lima pejabat penting juga dijebloskan ke
penjara karena membantu ibu mantan direktur itu memuluskan kegiatan
korupsinya.
La Thi Kim Oanh, 48, mantan direktur perusahaan investasi dan
pemasaran
di bawah kendali Kementerian Pertanian dan Pengembangan Pedesaan
Vietnam, tampak pasrah kala hakim menjatuhkan vonis mati di hadapan
regu
tembak. Tatapan mata wanita ini kosong. Meski diadili di ruangan
berpenyejuk, sesekali buliran krital terlihat dari kulit mukanya.
Hakim Ketua Pengadilan Rakyat Hanoi, Nguyen Son, menyatakan dua
dakwaan
atas Oanh terbukti. Yakni, menilep atau menggelapkan dana hingga USD
4,7
juta (sekitar Rp 39, 9 miliar) serta penyalahgunaan dana yang
menyebabkan kas negara mengalami kerugian tambahan USD 2,2 juta (Rp
18,6
miliar) antara 1995 hingga penangkapan Oanh pada 2001.
Oanh sebelumnya menolak tegas semua tuduhan itu. Setelah vonis di
Pengadilan Rakyat Hanoi kemarin, dia memiliki waktu 15 hari untuk
mengajukan banding..
Selain Oanh, di pengadilan yang sama kemarin, dua mantan wakil menteri
pertanian dan pengembangan pedesaan -yakni Nguyen Thien Luan, 62, dan
Nguyen Quang Ha, 66-- divonis masing-masing tiga tahun penjara karena
terbukti membantu Oanh melakukan praktik korupsi tersebut.
Bersama lima tersangka lain, semuanya mantan pejabat di kementerian
yang
sama dan kemarin divonis antara empat hingga 15 tahun, kedua mantan
wakil menteri tersebut dinyatakan terbukti bersekongkol dan mengambil
keuntungan dari praktik korupsi Oanh.
Pemerintahan Vietnam, tampak jelas, tidak ingin dibodohi koruptor yang
berusaha mengulur-ulur sidang ini. Terdakwa mantan wakil menteri
Nguyen
Quang Ha, misalnya. Meski dinyatakan sakit, dia tetap digelandang ke
ruangan sidang. Jadilah selama sidang kemarin dia tak lepas dari
perawat
pendamping.
Selama sidang, perawat itu menyempatkan memeriksa tekanan darah Ha.
Meski demikian, hakim menilai, atas dasar kesehatan dan ikatan
keluarga
terdakwa yang revolusioner, maka vonis buat Ha diperingan.
Media resmi pemerintah melaporkan, dua mantan wakil menteri itu
bersalah
karena ikut menandatangani dokumen yang membantu Oanh memperoleh
pinjaman bank. Uang hasil pinjaman itu lantas dipakai Oanh untuk
menyuap
sana-sini.
Oanh dan lainnya juga dituduh menggunakan uang itu untuk melakukan
perjalanan ke luar negeri, yakni ke Korea Selatan dan Jepang.
Lima orang tersangka lain, yakni dua mantan direktur pada kementrian
dan
tiga eksekutif di perusahaan Oanh, juga dijatuhi hukuman penjara
antara
empat hingga 15 tahun. Seperti Oanh, seluruh tervonis punya waktu 15
hari untuk mengajukan banding.
Beberapa pekan terakhir, Pengadilan Rakyat Hanoi telah mendengarkan
kesaksian bahwa Oanh diberi sejumlah kontrak oleh Kementrian Pertanian
dan Pengembangan Pedesaan untuk menggarap beberapa proyek konstruksi
dan
pemukiman.
Dengan bantuan sembilan surat sakti, tujuh di antaranya diteken Ha dan
dua lainnya oleh Luan, Oanh mampu meraup USD 8,4 juta (sekitar Rp 71,6
miliar) dari empat bank pemerintah untuk mendanai empat proyek sebelum
dana kementerian cair.
Namun, menurut laporan media resmi, hanya sebagian kecil dari sejumlah
uang itu yang digunakan dalam proyek-proyek tersebut. Oanh mengakui
bahwa sisanya secara tidak bertanggung jawab digunakan untuk membiayai
kegiatan perusahaan, seperti misi pencarian fakta luar negeri dan
"hadiah" buat untuk para pejabat dari berbagai macam kementerian dan
provinsi. Para tersangka yang disebut Oanh menerima "hadiah" itu
membantah.
"Saya tahu saya melanggar hukum. Saya tahu pelanggaran saya, tapi saya
tidak menyelewengkan (dana). Ada banyak tuduhan yang tidak saya
lakukan,
tapi saya masih bertanggung jawab untuk memberikan kemurahan hati
kepada
mereka," katanya saat sidang pekan lalu.
"Memberikan hadiah atau uang tunai sebagai hadiah Tet (Festival Tahun
Baru sesuai hitungan bulan di Vietnam) dan acara lain adalah bukti
hidup," kata Oanh dalam yang dikutip media pemerintah.
Persidangan vonis korupsi kemarin, yang ditayangkan luas secara
langsung
oleh jaringan televisi nasional itu, sangat diharapkan oleh
pemerintahan
Vietnam. Saat ini mereka berusaha memperbaiki moralitas dan ligitimasi
ideologi dengan tekad memberantas habis korupsi.
Selama ini rakyat negara itu sudah begitu muak dengan merajalelanya
praktik korupsi di kalangan pejabat. Bahkan korupsi juga menjadi
keluhan
utama para investor asing.
Sebelum vonis kemarin, akhir Oktober lalu pengadilan juga menjatuhkan
vonis penjara terhadap tiga orang pejabat senior, termasuk dua mantan
anggota pada Komite Sentral, struktur elite di Partai Komunis yang
berkuasa.
Ketiganya tervonis itu dinyatakan terlibat dengan bos mafia Ho Chi
Minh
City, Nam Cam. Si bos mafia itu sendiri divonis mati. Publik dan media
menilainya sebagai klimaks skandal megakorupsi yang menguak hubungan
antara kejahatan terorganisasi dan para pejabat di pemerintahan.
(afp/rtr/ap/alv)
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Vietnam Vonis Mati Pejabat Korup
HANOI - Vietnam adalah contoh terdekat ketegasan pemerintah membasmi
korupsi. Sesama negara Asia Tenggara ini kemarin memvonis mati seorang
wanita mantan direktur perusahaan negara (BUMN) karena terbukti
korupsi
hampir USD 7 juta (sekitar Rp 58,5 miliar).
Dua mantan wakil menteri dan lima pejabat penting juga dijebloskan ke
penjara karena membantu ibu mantan direktur itu memuluskan kegiatan
korupsinya.
La Thi Kim Oanh, 48, mantan direktur perusahaan investasi dan
pemasaran
di bawah kendali Kementerian Pertanian dan Pengembangan Pedesaan
Vietnam, tampak pasrah kala hakim menjatuhkan vonis mati di hadapan
regu
tembak. Tatapan mata wanita ini kosong. Meski diadili di ruangan
berpenyejuk, sesekali buliran krital terlihat dari kulit mukanya.
Hakim Ketua Pengadilan Rakyat Hanoi, Nguyen Son, menyatakan dua
dakwaan
atas Oanh terbukti. Yakni, menilep atau menggelapkan dana hingga USD
4,7
juta (sekitar Rp 39, 9 miliar) serta penyalahgunaan dana yang
menyebabkan kas negara mengalami kerugian tambahan USD 2,2 juta (Rp
18,6
miliar) antara 1995 hingga penangkapan Oanh pada 2001.
Oanh sebelumnya menolak tegas semua tuduhan itu. Setelah vonis di
Pengadilan Rakyat Hanoi kemarin, dia memiliki waktu 15 hari untuk
mengajukan banding..
Selain Oanh, di pengadilan yang sama kemarin, dua mantan wakil menteri
pertanian dan pengembangan pedesaan -yakni Nguyen Thien Luan, 62, dan
Nguyen Quang Ha, 66-- divonis masing-masing tiga tahun penjara karena
terbukti membantu Oanh melakukan praktik korupsi tersebut.
Bersama lima tersangka lain, semuanya mantan pejabat di kementerian
yang
sama dan kemarin divonis antara empat hingga 15 tahun, kedua mantan
wakil menteri tersebut dinyatakan terbukti bersekongkol dan mengambil
keuntungan dari praktik korupsi Oanh.
Pemerintahan Vietnam, tampak jelas, tidak ingin dibodohi koruptor yang
berusaha mengulur-ulur sidang ini. Terdakwa mantan wakil menteri
Nguyen
Quang Ha, misalnya. Meski dinyatakan sakit, dia tetap digelandang ke
ruangan sidang. Jadilah selama sidang kemarin dia tak lepas dari
perawat
pendamping.
Selama sidang, perawat itu menyempatkan memeriksa tekanan darah Ha.
Meski demikian, hakim menilai, atas dasar kesehatan dan ikatan
keluarga
terdakwa yang revolusioner, maka vonis buat Ha diperingan.
Media resmi pemerintah melaporkan, dua mantan wakil menteri itu
bersalah
karena ikut menandatangani dokumen yang membantu Oanh memperoleh
pinjaman bank. Uang hasil pinjaman itu lantas dipakai Oanh untuk
menyuap
sana-sini.
Oanh dan lainnya juga dituduh menggunakan uang itu untuk melakukan
perjalanan ke luar negeri, yakni ke Korea Selatan dan Jepang.
Lima orang tersangka lain, yakni dua mantan direktur pada kementrian
dan
tiga eksekutif di perusahaan Oanh, juga dijatuhi hukuman penjara
antara
empat hingga 15 tahun. Seperti Oanh, seluruh tervonis punya waktu 15
hari untuk mengajukan banding.
Beberapa pekan terakhir, Pengadilan Rakyat Hanoi telah mendengarkan
kesaksian bahwa Oanh diberi sejumlah kontrak oleh Kementrian Pertanian
dan Pengembangan Pedesaan untuk menggarap beberapa proyek konstruksi
dan
pemukiman.
Dengan bantuan sembilan surat sakti, tujuh di antaranya diteken Ha dan
dua lainnya oleh Luan, Oanh mampu meraup USD 8,4 juta (sekitar Rp 71,6
miliar) dari empat bank pemerintah untuk mendanai empat proyek sebelum
dana kementerian cair.
Namun, menurut laporan media resmi, hanya sebagian kecil dari sejumlah
uang itu yang digunakan dalam proyek-proyek tersebut. Oanh mengakui
bahwa sisanya secara tidak bertanggung jawab digunakan untuk membiayai
kegiatan perusahaan, seperti misi pencarian fakta luar negeri dan
"hadiah" buat untuk para pejabat dari berbagai macam kementerian dan
provinsi. Para tersangka yang disebut Oanh menerima "hadiah" itu
membantah.
"Saya tahu saya melanggar hukum. Saya tahu pelanggaran saya, tapi saya
tidak menyelewengkan (dana). Ada banyak tuduhan yang tidak saya
lakukan,
tapi saya masih bertanggung jawab untuk memberikan kemurahan hati
kepada
mereka," katanya saat sidang pekan lalu.
"Memberikan hadiah atau uang tunai sebagai hadiah Tet (Festival Tahun
Baru sesuai hitungan bulan di Vietnam) dan acara lain adalah bukti
hidup," kata Oanh dalam yang dikutip media pemerintah.
Persidangan vonis korupsi kemarin, yang ditayangkan luas secara
langsung
oleh jaringan televisi nasional itu, sangat diharapkan oleh
pemerintahan
Vietnam. Saat ini mereka berusaha memperbaiki moralitas dan ligitimasi
ideologi dengan tekad memberantas habis korupsi.
Selama ini rakyat negara itu sudah begitu muak dengan merajalelanya
praktik korupsi di kalangan pejabat. Bahkan korupsi juga menjadi
keluhan
utama para investor asing.
Sebelum vonis kemarin, akhir Oktober lalu pengadilan juga menjatuhkan
vonis penjara terhadap tiga orang pejabat senior, termasuk dua mantan
anggota pada Komite Sentral, struktur elite di Partai Komunis yang
berkuasa.
Ketiganya tervonis itu dinyatakan terlibat dengan bos mafia Ho Chi
Minh
City, Nam Cam. Si bos mafia itu sendiri divonis mati. Publik dan media
menilainya sebagai klimaks skandal megakorupsi yang menguak hubungan
antara kejahatan terorganisasi dan para pejabat di pemerintahan.
(afp/rtr/ap/alv)
Do you Yahoo!?
Free Pop-Up Blocker - Get it now

