Waalaikumsalam w.w. Ananda Benni,

Saya memang berharap demikianlah hendaknya. Namun agak
sukar juga untuk mengabaikan gejala sebaliknya, yang
demikian sering dirisaukan, baik dalam pembicaraan
sehari-hari maupun dalam milis ini.

Satu hal adalah jelas, yaitu bahwa perasaan dan
kesadaran keminangan itu perlu dirawat, dimutakhirkan,
dirapikan, untuk kemudian didayagunakan untuk
kepentingan bersama. Kita hidup bersama dengan
suku-suku bangsa lain, yang juga mempunyai pengaruh
dan daya tariknya sendiri, yang bisa mengalahkan daya
tarik keminangan itu sendiri. Dengan kata lain, saya
ingin mengajak kita untuk sadar, bahwa keminangan itu
jangan sampai dianggap sebagai sesuatu yang 'given'
yang dapat dianggap akan bertahan tanpa dirawat
baik-baik. Keminangan itu bisa sirna !

Dalam hubungan ini, izinkan saya menginformasikan,
bahwa dua adik Ayah saya sebapak, yang satu laki-laki
bermukim di Amerika Serikat [sekarang sudah meninggal]
dan seorang lagi perempuan, bermukim di Jakarta, telah
masuk kristen, karena lingkungan pergaulannya dengan
orang luar, dan sangat sedikit dengan urang Minang
sendiri. Yang perempuan sekarang bahkan menajdi
penginjil, dan tidak bosan-bosannya mencoba menarik
saya, yang sudah barang tentu saya hadapi saja dengan
senyum, karena bagaimanapun juga  beliau adalah etek
saya. Dalam tahun 1968 dahulu, sebagai perwira Kodam
III/17 Agustus `saya pernah mewawancarai seorang
penginjil orang Lintau (!) dari Yayasan Maleachi,
Bandung, tentang mengapa beliau sebagai orang Minang
kok masuk kristen. Jawabnya sangat sederhana, yaitu
karena sewaktu ia dalam keadaan sakit berat, tak
seorangpun orang Minang yang datang menjenguknya.
Hanya seorang pendeta Kristen yang bukan saja datang
menghibur tetapi juga memberikan bantuan.

Jika demikian, ada `pertanyaan saya: apa memang tak
perlu kita pererat hubungan silaturrahmi antar warga
Minang sebagai suatu suku bangsa, tanpa mengaitkannya
dengan suatu tujuan khusus dan berjangka pendek ?
Atau, pertanyaan ini lebih nakal lagi: apakah kita
merasa sebagai suatu suku bangsa, ataukah tidak, dan
terkesan bersatu hanya karena kita sama-sama berbahasa
Minang ? 

Sekedar catatan, saya menduga salah satu faktor
mengapa orang Arab amat sukar disatukan adalah karena
memang mereka bukan merupakan suatu komunitas. Mereka
hanya kebetulan berbahasa`Arab yang sama. Saya
khawatir kita orang Minang sudah lama terjangkit
dengan apa yang bisa sebut sebagai 'sindrom Arab',
yaitu kelihatannya bersatu, tetapi nyatanya tidak. 

Karena itulah saya selalu menghimbau, jangan puas
diri, sudah lama kita orang  Minang bermasalah, hanya
heran koq sulit amat mengajak para dunsanak untuk
melihat kenyataan, karena lebih suka 'berdiang dengan
kegemilangan masa lampau' yang entah ada entah tidak
pula.

Wassalam,
Saafroedin Bahar

--- benni inayatullah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>   Assalamualikum Pak Saaf..
>    
>   Memang betul apa yang Bapak sampaikan sejak tahun
> 1958 itu memang gejala penyembunyian identitas
> kultural sudah mulai marak tidak terlepas dari
> pemberontakan PRRI yang bagi sebagian kalangan
> dianggap pemberontakan setengah hati itu. Bapak
> tentu paham sekali bagimana hancurnya segala aspek
> kehidupan orang minang ketika itu mulai dari
> infrastruktur dan yang paling parah mental yang
> jatuh selain karena pemberontakan juga lebih
> diakibatkan oleh tekanan dari Partai Komunis
> Indonesia /PKI yang tiba tiba memiliki kekuasaan
> lebih yang didapatkan dari pemerintah pusat yang
> menerapkan doktrin “musuh lawan adalah kawan”.
>    
>   Jadi pada kasus ini saya menganggap lunturnya
> kebanggan sebagai identitas disebabkan oleh tekanan
> tekanan tersebut dan itu hanya terjadi dalam tataran
> formal seperti nama anak yang berubah ke jawa jawaan
> namun semangat kecintaan kepada ranah saya pikir
> tidak berubah sama sekali buktinya seiring perubahan
> waktu hingga saat ini identitas itu sudah kembali
> muncul dan kita masih ingat betapa lagu pop minang
> belasan tahun lalu yang dinyanyikan Elly Kasim dkk
> sempat merajai lagu tanah air.
>    
>   Bapak Saaf saya memahami sekali kekecewaan Bapak
> tentang semangat masyarakat Minang saat ini yang
> selalu beromantika dengan keberhasilan masa lampau.
> Fenomena baliak ka nagari yang retrogresif dan
> seringkali gamang tanpa user manual memang sesuatu
> yang patut mendapat perhatian. Namun bagi saya belum
> sampai ke taraf yang mengkhawatirkan karena ini
> masih tahap transisi, euforia sementara akibat
> desentralisasi politik dan kewenangan ke daerah
> daerah. Sehingga daerah berhak untuk menentukan
> langkahnya sendiri demi mencapai pembangunan yang
> mensejahterakan rakyatnya. 
>    
>   Bagaimanapun juga kita masih mencari cari format
> baru yang lebih sesuai menyatukan adat dan budaya
> kita yang kuno dengan kemajuan jaman yang semakin
> “edan” tentu butuh perubahan yang barangkali
> sesungguhnya telah Bapak pikirkan dan simpulkan.
> Permasalahannya saat ini masyarakat kita masih
> senang beromantika dan saya percaya euforia ini
> tidak akan lama. Sesudah ini mereka akan
> mempertanyakan kenapa pola masa lampau tidak juga
> bisa menjawab problematika kehidupan masyarakat saat
> ini. dan ketika itulah mereka akan mau membuka diri
> demi perubahan dalam segenap sendi kehidupan
> bermasyarakat. 
>    
>   Jadi Bapak Saaf tak usah berkecil hati. Pemikiran
> Bapak Saaf sangat baik sekali dan berpotensi besar
> memberikan perubahan bagi masyarakat. Persoalannya
> hanyalah masalah waktu..seperti halnya teori evolusi
> Darwin yang dicimeehkan orang ketika itu namun
> seiring perjalan waktu orang mulai menyadari bahwa
> evolusi itu memang ada. Dan begitu juga dengan
> pemikiran Bapak seiring perjalan waktu masyarakat
> akan mulai memahami dan sanggup menerima perubahan
> terhadap budaya mereka yang “kuno”. Sejarah akan
> mencatat perubahan itu… 
>   salam
> 
> Ben
> 
> Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
> Assalamualaikum Ananda Beni dan Hanifah,
> 
> Saya ikut senang dan bersyukur bahwa orang Rantau
> masih cinta Ranah, setidak-tidaknya sebagai
> identitas
> kultural seperti dikatakan Ananda Beni. 
> 
> Tapi rasanya tidak sedikit yang sejak tahun 1958
> berusaha menyembunyikan keminangaannya itu, antara
> lain dengan mengambil atau memberi nama pribadi yang
> tidak lagi "berbau" Minang kepada diri atau
> keturunannya. Kelihatannya gejala itu berlangsung
> terus sampai sekarang. Pemilihan nama pribadi adalah
> suatu indikasi kecil dari identitas seseorang, yang
> lazimnya terkait dengan suatu 'homeland'. 
> 
> Mengapa koq sampai terjadi gejala penyembunyian
> identitas yang agak aneh itu ? Mungkinkah karena
> tidak
> banyak lagi yang bisa dibanggakan sebagai orang
> Minang, yang sampai sekarang hanya bisa membanggakan
> masa lampau dan tokoh-tokoh masa lampau belaka? Mana
> tokoh Minang masa kini, yang 'tacelak tampak jauah".
> Bisa dihitung dengan jari di sebelah tangan.
> Tidakkah
> kita terdorong untuk mengungkapkannya secara
> objektif
> dan realistis?
> 
> Sehubungan dengan itu sejak tahun 2004 yang lalu
> saya
> mengajak semua dunsanak untuk melihat realita
> Minangkabau seperti apa adanya, agar kita bisa
> bersama
> merancang masa depan bersama. Setelah berkali-kali
> mengkomunikasikan ajakan saya ini di Ranah, sekarang
> ini saya merasa tidak perlu terlalu gigih lagi
> melanjutkannya, karena setiap kali saya mengajak
> melihat ke depan, hampir selalu dijawab dengan pola
> masa `lampau. Dengan kata lain, paradigma yang
> dianut
> berbeda jauh, sehingga bahkan untuk berkomunikasi
> saja
> sungguh amat sukar. Baru-baru ini seorang penghulu
> yang sering menulis buku adat Minangkabau -- tapi
> bermukim di Jakarta -- mengirimkan kepada saya
> tembusan suratnya kepada seorang penghulu lain, yang
> memuat ajakan agar memperjuangkan kembalinya suatu
> 'pemerintahan ninik mamak', dalam wujud secara
> otomatis menyerahkan pemerintahan nagari kepada
> ketua
> kerapatan adat nagari. Artinya golongan-golongan
> baru
> yang muncul dalam masyarakat agar mematuhi saja
> 'perintah-perintah' ketua kerapatan adat nagari itu,
> yang pasti tidak akan mengundang kaum perempuan,
> anak
> muda, orang rantau, urang sumando, kaum cadiak
> pandai,
> sudagar, pegawai negeri, atau seniman dan budayawan.
> Saya benar-benar terpana dengan pola pikir
> retrogresif
> seperti itu. Ya sudahlah, apa boleh buat, kalau
> memang
> itu yang diinginkan. Terserah kepada para dunsanak
> kita di Ranah untuk memutuskan menerima atau
> menolak.
> 
> Oleh karena itulah, akhir-akhir ini saya memilih
> Riau
> sebagai tumpuan perjuangan saya untuk memulihkan hak
> masyarakat hukum adat Indonesia melalui Komnas HAM,
> karena hampir seluruh pemuka adat Riau itu
> berorientasi ke masa depan, dan tidak ke masa`lampau
> 
> seperti di Ranah. Insya Allah sekarang ini sedang
> disiapkan akta notaris pembentukan Sekretariat
> Nasional Perlindungan Hak Konstitusional Masyarakat
> Hukum Adat, dimana saya akan jadi Ketua Dewan
> Pakarnya. Jika tidak ada aral melintang, Sekretariat
> Nasional ini akan diresmikan Presiden di Pekanbaru
> atau Siak Sri Indrapura akhir Mei mendatang.
> 
> Sudah tentu `saya masih cinta pada Ranah, tapi
> soalnya
> apakah cinta itu bukan  bagaikan 'bertepuk sebelah
> tangan' ? Mengapa demikian sulit kita berkomunikasi
> dengan para dunsanak kita di Ranah ? Bukankah --
> sebagai reaksi --  sejak beberapa lama kita risau
> dengan gejala 'marantau cino' yang ditengarai
> semakin
> banyak di kalangan para perantau Minang. Bukankah
> itu
> juga yang mendorong kita untuk membentuk MPKAS dan
> MAPPAS agar cinta itu tetap terpelihara dengan baik
> ?
> Bukankah kita selalu mengeluh betapa tidak ramahnya
> Ra
> nah terhadap kita yang pulang kampung, sehingga kita
> menyarankan agar 'service' diperbaiki ?
> 
> Saya rasa jawabnya yang otentik  terhadap kerisauan
> kita bersama itu akan kita peroleh dengan mengadakan
> pengkajian berlanjut terhadap hubungan Rantau-Ranah
> ini, seperti dianjurkan pak Chaidir, tetapi yang
> juga
> disambut dingin-dingin saja sampai sekarang.
> 
> Bagi saya -- selaku peneliti dan pengamat icak-icak
> --
> hal ini sangat menarik perhatian.
> 
> Wassalam,
> Saafroedin Bahar
> 
> 
> 
>  
> ---------------------------------
> Finding fabulous fares is fun.
> Let Yahoo! FareChase search your favorite travel
> sites to find flight and hotel bargains.
>
> 
=== message truncated ===



 
____________________________________________________________________________________
Finding fabulous fares is fun.  
Let Yahoo! FareChase search your favorite travel sites to find flight and hotel 
bargains.
http://farechase.yahoo.com/promo-generic-14795097

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke