Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu ** *6. Jorong Ranah*
Kami menuju ke jorong Ranah. Untuk menuju kampung ini kita berbelok ke kiri di pasar Sumani kalau kita sedang mengarah ke kota Solok dari arah Padang Panjang. Jalannya lebih kecil dari jalan raya arah ke Solok tapi diaspal. Hari sudah mulai agak gelap. Ada pertigaan di kampung Ranah ini dan di pertigaan itu sudah ada posko. Kami melanjutkan perjalanan masuk lebih ke dalam. dan menemukan rumah-rumah yang rusak. Yang runtuh, yang dindingnya lepas, yang sebagian ternganga. Listrik kelihatannya dimatikan oleh PLN karena cukup berbahaya. Kami berhenti di sebuah tempat yang ada tenda dihalaman rumah-rumah yang rusak. Orang sedang shalat maghrib di dalam tenda itu. Ustad Zulharbi langsung saja mendata. Siapa yang punya rumah yang rusak ini, tanya beliau di setiap rumah rusak itu. Pemiliknya dipanggil dan kepadanya diberikan sebuah amplop. Nama orang tersebut terlebih dahulu dicatat ustad Zulharbi dan ketika sudah menerima amplop orang itu disuruh menandatangani daftar yang sudah disiapkan. Kami tidak melakukan shalat maghrib di situ dan berniat akan menjamak ta'khirkan saja nanti, karena di tempat itu kurang leluasa untuk berwudhu. Kami datangi rumah demi rumah yang rusak maupun hancur dan kami bagi-bagikan amplop berisi Rp 100,000.- Masyarakat itu sangat berterima kasih dan ada yang mencucurkan air mata. Waktu kami sedang mendata di satu rumah, lalu ada orang datang meminta diberi sumbangan, kami tanyakan apakah rumahnya juga rusak. Kalau dia jawab iya, kami datangi rumahnya yang rusak itu. Secara keseluruhan membagi seperti itu cukup tertib. Orang kampung itu ada yang datang meminta tapi tidak agresif. Ketika diminta menunjukkan rumah mereka yang rusak mereka tunjukkan. Waktu kami menunjuk ke satu rumah, pemiliknya mengaku bahwa dia sudah dapat amplop tadi. Keadaan mereka memang sangat memprihatinkan. Ibu-ibu memasak di halaman atau dalam 'parak'. Namun anak-anak masih ceria-ceria saja. Umumnya kesehatan mereka masih baik-baik saja pada waktu itu. Kami masuk sampai ke ujung kampung Ranah sebelum kembali ke simpang tiga. Dari simpang tiga kami tuju pula jalan yang satunya lagi dan mendapatkan beberapa buah rumah yang juga hancur di situ. Sama saja, disana kami lakukan pembagian dengan cara yang sama. Seorang anak muda pengurus mushala di kampung itu menanyakan kenapa kami tidak menyerahkan saja ke posko dan biar posko yang membagikan kepada warga. Kami jawab bahwa kami dapat amanah untuk membagikannya langsung kepada korban gempa. Dia menanyakan apakah kami bisa menyumbang untuk mushala yang juga rusak di kampung itu dan kami jawab, bisa, tapi kami ingin melihat mushalanya dan bertemu dengan pengurus mushala itu. Anak muda ini berjanji akan memberitahu pengurus mushala kalau kami melalui depan mushala pada saat kami akan keluar ke jalan raya nanti. Kami selesaikan membagi-bagikan sebanyak 35 buah amplop kepada masyarakat di kampung Ranah itu. Sesuai janji dengan anak muda tadi, yang menunggu kami di simpang tiga, kami berjalan kaki menuju mushala Taqwa yang rupanya memang rusak di bagian dalam. Kami bertemu denga ketua pengurus mushala ini dan kami berikan sumbangan Rp 200,000 untuk 5 sak semen. Dari pengamatan sepintas terlihat bahwa umumnya rumah-rumah yang rusak adalah rumah semi permanen, rumah yang dibangun tanpa tiang beton untuk menambah kekuatan penahan goncangan. Inilah pelajaran yang seharusnya diambil masyarakat kalau nanti mereka membangun kembali rumah-rumah mereka. Sesudah selesai membagi-bagikan amplop di kampung Ranah kami menuju ke Bukit Tinggi untuk beristirahat. Waktu itu sudah lebih jam delapan malam. Kami berbincang-bincang sepanjang jalan, mengenai akibat gempa yang baru kami saksikan. Aku sampaikan kepada ustad Zulharbi, kelihatannya bertambah berat tanggung jawab ulama di Minangkabau sesudah 'pelajaran' ini. Banyak sekali mesjid yang rusak. Terlepas dari sunatullah bahwa barangkali saja konstruksi mesjid-mesjid itu memang kurang kokoh tapi bukan sekedar kebetulan bahwa sebegitu banyaknya bangunan sarana ibadah itu yang rusak. Tentu kita harus bijaksana membaca peringatan Allah dengan bencana yang ditipakan Allah tersebut. Ustad Zulharbi berkomentar bahwa boleh jadi karena 'kita' cenderung gemar memperindah mesjid, tapi 'lupa' memakmurkan mesjid. Wallahu a'lam. Beliau berkata pula, susah memahami kenapa ada rumah yang masih berdiri tegak dengan utuh sementara di kiri dan kanannya bangunan pada hancur. Aku coba menerangkan bahwa negeri kita itu ibarat sebuah piring porselen, dimana semua bahagiannya berpotensi untuk pecah. Jika piring porselen itu terjatuh dia akan pecah. Tapi tidak ada yang tahu sebelumnya bahagian mana yang akan pecah tersebut. Dan ketika dia pecah, di garis pecahnya itu dapat saja dia berderai tapi di bahagian lain dia tetap utuh. Begitulah lebih kurang kondisi semua tempat di bagian barat pulau Sumatera. Sudah hampir jam setengah sepuluh ketika kami sampai di Bukit Tinggi. Aku minta tolong diantarkan ke Belakang Balok, ke tempat kakak sepupuku. Kami berjanji akan meneruskan kunjungan di sekitar Bukit Tinggi jam sembilan pagi besok. (bersambung) M.D.Saib --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
