Dalam bukunya Modernity at large, cultural dimensions of globalization, Arjun Appadurai membantah possibility manusia akan menjadi makhluk dengan budaya yang seragam di dunia global ini.
"Most often, homogenization argument subspeciates into either an argument about Americaniation or an argument about commoditization, and very often the two arguments are closely related. however, what these arguments fail to consider is that at least as rapidly as forces from various metropolises are brought into new societies they became indigenized in one or another way". Appadurai menjelaskan bahwa globalisasi berpotensi untuk menyadarkan orang tentang budayanya sendiri. Globalisasi juga memutus perbedaan-perbedaan goegrafis sehingga kelompok etnis tertentu bisa menjalankan hidup sesuai dengan budayanya di tempat yang sama sekali berbeda, misalnya orang tidak harus ada di Pariaman untuk melaksanakan acara Hoyak Tabuik (seperti yang dilaksanakan oleh Minang USA baru-baru ini). Orang padang tidak perlu ke padang untuk makan rendang, bahkan di norway semua bumbu yang dibutuhkan untuk membuat rendang itu ada. orang padang tidak mesti ke taman budaya untuk menonton randai, bisa lewat video/internet, orang padang tidak harus ada di padang untuk menjalankan semua printilan prosesi pernikahan ala padang, bisa dilakukan di mana saja. budaya lokal tidak akan mati, budaya itu akan tetap ada tapi memang tidak dipungkiri akan ada shifting dari budaya lokal akibat interaksi dengan budaya global. tapi kan yang namanya budaya itu kesepakatan atas nilai-nilai dan norma-norma sesuai dengan tujuan hidup suatu masyarakat. Budaya minang sendiri berubah misalnya dari animisme ke islam :-) Budaya tidak bersifat statis dan kaku, budaya lokal kita juga tidak selamanya paling benar dan paling bagus. sebenarnya tidak hanya kita yang khawatir dengan budaya global, orang2 barat juga banyak yang khawatir dengan budaya ini karena ada shifting dalam budaya mereka, misalnya di norway anak2 muda senang sekali dengan budaya timur, makan di restoran asia, menggelapkan kulit seperti orang asia, latihan yoga, bahkan pindah agama ke budha ato islam. malahan dalan konteks development, sekarang shifting ke study tentang budaya lokal sedang meningkat karena ukuran2 global dan rational (mis ekonomi dan teknology) yang tidak mempertimbangkan budaya lokal terbukti tidak sukses dalam mendorong pembangunan di negara2 miskin dan malah semakin memiskinkan mereka. Saat ini trend ke budaya lokal dalam konteks global sedang naik daun... so.. budaya lokal tidak akan mati, budaya minang tidak akan mati.... seperti slogan Indonesia Bhineka Tunggal Ika, budaya lokal juga akan unity in diversity dalam budaya global :-) Rahmi ;-) ----- Original Message ---- From: benni inayatullah <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Tuesday, March 27, 2007 9:55:58 AM Subject: [EMAIL PROTECTED] Akhir tragis adat dan budaya lokal Dalam bukunya Global Paradox, John Naisbitt menulis althought people want to come together to trade much more freely, they want to be independent politically and culturally. Gejala globalisasi antara lain liberalisme perdagangan adalah sebuah keniscayaan. Perdagangan bebas yang mana Indonesia juga termasuk didalamnya adalah irreversible atau tak bisa mundur kembali. Namun apakah memang orang orang juga ingin bebas untuk menentukan budaya (culture) mereka ? Gejala seperti itu memang kalau kita cermati sudah terjadi. Globalisasi menawarkan banyak pilihan teramsuk dalam soal culture. Lihatlah sekarang susah dibedakan mana yang budaya barat di timur. Jeans,tank top, Mc Donal, KFC, Starbuck, coffe Bean bahkan produk lokal sendiri seperti JCo Donuts and coffee susah dibedakan dengan produk barat. Apakah ini merupakan fenomena bahwa budaya dunia sekarang bergerak menuju satu titik yang dinamakan budaya global ? dimana semua orang dibelahan dunia manapun memiliki kebiasaan (budaya), attitude, moral yang seragam ? kalau memang begitu berarti budaya lokal tengah menyongsong kematiannya. Budaya dan adat istiadat lokal dimasa depan hanya akan menjadi kumpulan tulisan di buku buku tebal berdebu atau berupa image di album album tua yang akan dibuka ketika pemiliknya ingin bernostalgia bahwa mereka adalah keturunan suatu etnis tertentu yang dulu kala dinamakan Minangkabau ? akankah begitu ? Food fight? Enjoy some healthy debate in the Yahoo! Answers Food & Drink Q&A. ____________________________________________________________________________________ Never miss an email again! Yahoo! Toolbar alerts you the instant new Mail arrives. http://tools.search.yahoo.com/toolbar/features/mail/ --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Kami mengundang sanak untuk hadir dalam acara: "Wartawan mengajak Berdoa Bersama untuk Keselamatan Negeri" pada tanggal 8 April 2007 jam 08:00 di Masjid Istiglal. Acara ini terpicu oleh musibah terbakarnya Ustano Pagaruyuang dan Gempa di Sumbar. Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
