Assalaamu'alaikum warahamatullaahi wa barakaatuhu

MINANGKABAU INTERNATIONAL AIRPORT

Jam tiga kurang sepuluh. Pesawat yang akan saya tumpangi ke Jakarta masih 
sekitar empat puluh menit lagi menurut jadwal. Koran Singgalang yang saya beli 
sebelum berangkat di Bukit Tinggi tadi sudah semua terbaca. Saya mematut-matut 
ruang tunggu Bandara ini yang memang bolehlah. Masih baru dan rancak. Seorang 
laki-laki parlente separuh baya seusia saya mengangguk berbasa lalu duduk di 
samping saya. Wajahnya curiah. Saya balas mengangguk dan tersenyum. Baunya 
wangi. Laki-laki sekarang memang banyak yang wangi. Di tangannya ada boarding 
pass pesawat yang sama dengan yang akan saya tumpangi. 

‘Mau pergi atau mau pulang engku?’ tanyanya tersenyum.

‘Mau balik,’ jawab saya juga sambil tersenyum.

‘Acap engku pulang kampung?’ tanyanya lagi.

‘Bila-bila perlu,’ jawab saya. ‘Kalau engku dimana menetap?’ giliran saya pula 
bertanya.

‘Saya juga mau balik. Saya tinggal di Bandung. Kemenakan saya menikah kemarin 
di kampung. Pekan dimuka baru berhelat di Padang. Tentu saya harus pulang pula 
kembali minggu depan,’ jawabnya menjelaskan.

‘Tentulah iya. Kan anak dipangku kemenakan dibimbing. Urusan anak perlu, urusan 
kemenakan juga perlu diurus,’ ungkap saya agak sok tahu.

‘Memang betul begitu. Pulang kampung ini ‘menagir’ sebenarnya. Tapi banyak yang 
malas kita melihat di negari awak ini. Seperti berurusan dengan pareman di luar 
itu contohnya,’ katanya pula.

Saya mengernyitkan kening.

‘Pareman di luar yang mana maksud engku?’ tanya saya.

‘Tentu engku sama maklum. Kalau berurusan dengan ‘urang oto’ di luar sana. 
Sakit hati kita. Banyak tukang pangur. Dan orang awak di kampung ini tidak 
berubah-ubah dari seisuk. Acapkali, sangat singkat cara mereka berpikir. Tidak 
sadar mereka bahwa dengan berlaku tidak amanah, yang rugi adalah mereka juga. 
Berapa benarlah yang mereka dapat dengan memangur penumpang seperti itu. Tidak 
tahu mereka bahwa untuk jangka panjang, perangai mereka itu sangat merugikan. 
Oto mereka ada ber AC tapi mereka matikan. Kalau disuruh hidupkan berbagai 
macam alasan supirnya. Ujung-ujungnya minta pitis tambah,’ ceritanya 
bersemangat.

‘Tapi kan tidak semuanya. Ada juga orang-orang itu yang santun,’ kata saya.

‘Betul tidak semuanya. Tapi karena nila setitik rusa susu sebelanga. Yang 
pareman itu memang hanya segelintir. Tapi ilmu pareman itu cepat menularnya. 
Ketika pareman dibiarkan saja berlantas angan, orang yang tadinya tidak pareman 
akhirnya mulai pula berubah jadi pareman. Begitu biasanya,’ tambahnya.

‘Iya betul. Malas kita melihatnya. Kelihatannya memang perlu ditatar sebagian 
orang awak yang bekerja di pelayanan umum seperti calo maupun sopir taksi itu,’ 
saya tambahkan. 

‘Kalau dipikir-pikir dek engku. Negari kita ini benar-benar besar potensinya 
untuk dikembangkan menjadi negari parawisata. Jarang tempat yang seindah negari 
awak ini di muka bumi ini. Bukan kita mengapit daun kunyit. Memang begitu 
kenyataannya. Apalagi sekarang sudah ada Bandara serancak ini. Banyak tempat 
yang akan dijual sebagai objek wisata. Tapi dipintu keporonya benar sudah 
mengecewakan seperti itu. Ini sebenarnya tidak boleh dipediarkan. Orang-orang 
yang berada digaris depan seperti di Bandara ini harus ditatar. Diajar kembali 
menjadi orang-orang yang elok basa. Begitu juga orang-orang di garis belakang. 
Entah yang berjualan di pasar bertingkat di Bukit Tinggi, entah yang menerima 
tamu di hotel-hotel, entah yang menerima pelancong di Maninjau, di Halaban, di 
Pagar Ruyung. Bahkan yang menjadi petugas parkir di Pasa Banto sekalipun. 
Hendaknya orang-orang yang sopan dan santun serta elok basa belaka. Jangan 
orang yang penyandek. Jangan orang yang pengicuh. Jangan orang
 yang suka memangur. Elok sambutan kita, senang hati orang berkunjung, 
bertambah banyak orang tiba, bertambah lancar jual beli, kan bertambah baik 
ekonomi jadinya. Entah kok tidak begitu dek engku?’ tanyanya.

‘Sesuai benar saya dengan yang engku katakan. Sayapun melihatnya begitu. 
Disamping tempat-tempat yang akan dikunjungi turis itu perlu dibedak-bedaki 
sedikit lagi. Disiangi rumput sarut disekitarnya. Diperancak gerbang dan pintu 
keporonya. Diberi berenda-renda, berjumbai-jumbai. Dibuatkan atraksi 
disana-sini. Entah pertunjukan silek-silek tuo. Entah tari-tari rantak kudo. 
Banyak yang boleh dilakukan. Seperti berpacu sampan di Maninjau misalnya. Atau 
berpacu bendi bugis tiap minggu misalnya di Bukit Embacang di Bukit Tinggi. 
Tempat dan sarananya sudah ada belaka. Tapi bak kata engku, yang tiangnya betul 
memang basa dan perisa. Banyak orang awak ini yang perlu diajar kembali untuk 
mau tersenyum. Tersenyum yang tulus,’ sayapun jadi ikut bersemangat.

‘Padahal sebenarnya tidak sulit kerja itu. Asalnya kita ini kan orang-orang 
beradat. Orang-orang yang tinggi budi pekertinya. Orang-orang yang budi baik 
basa ketuju. Orang-orang yang elok basa basinya. Yang tidak elok itukan hanya 
sebagian kecil. Tapi kalau dipediarkan terus hilang basa dek biasa tidak lagi 
mengutamakan berbasa-basi. Hilang budi dek terbiasa tidak berbudi pekerti. 
Pengalaman orang rumah saya berbelanja di pasar atas Bukit Tinggi. Ketika tawar 
menawar, dikembangkan orang kedai barangnya yang prima. Ketuju oleh istri saya, 
dibelinya dua tiga untuk oleh-oleh. Karena contoh yang dilihat bagus disangka 
semua barang sama bagusnya. Betapa kecewa istri saya sesampai di Bandung 
ternyata barang-barang yang tidak diperiksa itu cacat. Yang serupa ini kan 
kecoh buruk namanya. Walaupun istri saya belum tentu setahun sekali datang 
berbelanja di toko itu tapi cerita seperti ini pasti akan tersebar. Tidak tahu 
orang kedai itu bahwa kecohnya yang sedikit ini buruk akibatnya
 untuk jangka panjang.’

‘Betul yang engku katakan. Mumpung belum jauh benar hanyutnya seyogianya cepat 
dipintas. Mudah-mudahan kalau cepat dipintas cepat pula sembuh penyakit yang 
tidak elok itu. Seandainya orang-orang di negari kita ini baik-baik dan 
sopan-sopan semua, seperti yang berlaku di negari orang semisal di Jepang atau 
di Swiss sana betapa akan terkenal dan menariknya negari kita ini. Alamnya 
indah, penduduknya ramah, jual belinya amanah tentulah akan berduyun-duyun 
orang datang bertamu. Namun ada yang perlu juga dipikirkan jauh-jauh sebelumnya 
yakni moralitas anak kemenakan kita. Takut pula kita membayangkan kalau moral 
anak kemenakan kita tidak baik, lalu dieksploitir oleh orang lain. Tentu kita 
tidak ingin para wisatawan mancanegara datang kemari untuk berwisata kelamin. 
Perlu kita berbalik kepada idiom ranah Minang yang perlu dijaga dan dipelihara. 
Nagari yang adatnya bersandi syarak, syarak bersandi kitabullah yang 
sebenar-benarnya,’ kata saya.

‘Benar engku. Benar yang engku katakan. Inipun perlu perhatian khusus. Orang 
awak kan sudah menjadi pak tiru. Semuanya ditiru. Contoh-contoh yang tidak 
baikpun ditiru. Meriangit kita melihat kemenakan-kemenakan kita berbaju tidak 
sendereh di mall-mall di kota Padang. Dek meniru tadi itu juga. Mall di orang, 
sudah ber mall pula awak. Berjojo pusar anak gadis orang, sudah berjojo pusar 
pula kemenakan awak. Entah bagaimanalah mengatasi yang seperti ini,’ ucapnya 
mendesah.

‘Kalau bak rasa hati saya perlu adanya peraturan yang dibuat oleh orang yang 
ditinggikan seranting, yang didahulukan selangkah di Ranah Minang ini. Oleh 
orang yang di Rumah Bergonjong di Padang itu. Buat peraturan daerah tentang 
tata tertib. Tentang taratik dan sopan santun. Musyawarahkan dengan ninik mamak 
di Kerapatan Adat Alam Minangkabau. Musyawarahkan dengan alim ulama. Tentukan 
mana yang boleh mana yang tidak boleh. Sesudah itu bersama-sama kita 
mengawalnya.’

‘Setuju saya dengan engku. Memang harus ada peraturan yang jelas. Tidak ada 
salahnya masyarakat agak dikerasi sedikit. Kalau cara berpakaian saja anak 
kemenakan kita belum bertaratik apa boleh buat, harus kita didik mereka agar 
bertaratik. Mana-mana yang melanggar diberi sangsi. Tentu sangsi yang mendidik.’

‘Benar engku,’ jawab saya.

Pembicaraan kami terputus karena kami sudah dipersilahkan untuk menaiki pesawat.
                                                                 
                                                          ******

St. Lembang Alam
http://lembangalam.multiply.com
http://360.yahoo.com/stlembang_alam


 
____________________________________________________________________________________
The fish are biting. 
Get more visitors on your site using Yahoo! Search Marketing.
http://searchmarketing.yahoo.com/arp/sponsoredsearch_v2.php
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Kami mengundang sanak untuk hadir dalam acara: "Wartawan mengajak Berdoa 
Bersama untuk Keselamatan Negeri" pada tanggal 8 April 2007 jam 08:00 di Masjid 
Istiglal. Acara ini terpicu oleh musibah terbakarnya Ustano Pagaruyuang dan 
Gempa di Sumbar.

Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke