Waalaikumsalam w.w. Dunsanak St Lembang Alam, Ini masukan yang sangat berharga untuk seluruh jajaran kepengurusan MAPPAS, baik di Rantau maupun -- atau apalagi -- di Ranah. Perlu didorong penegakan hukum dan penyiapan masyarakat, agar sasaran menjadikan pariwisata sebagai andalan pembangunan Sumbar benar-benar bisa diwujudkan.
Benar sekali peringatan Dunsanak St Lembang Alam, bahwa kalau hal ini dibiarkan, rencana menjadikan sektor periwisata sebagai andalan untuk pembangunan Sumatra Barat akan sangat terganggu. Lantas bagaimana mencegah dan menanggulangi hal ini agar tak terjadi ? Menurut penglihatan saya, bersimaharajalelanya pareman-pareman ini adalah disebabkan oleh karena tidak ditegakkannya hukum oleh para petugas. Perlu saya sampaikan bahwa menurut UU Nomor 23/1999 rasa aman itu adalah salah satu hak asasi manusia. Bagaimana kalau sesekali diadakan razzia terhadap para pareman di BIM ini ? Bersamaan dengan itu dibuat pos pengaduan, agar para korban atau calon korban bisa menyampaikan keluhannya. Rasanya perlu kita contoh praktek yang sudah baik di tempat lain. Di Yogyakarta misalnya, ada 'counter' taksi resmi, dimana penumpang menunjukkan tujuannya, membayar tarif yang jelas, dan petugas counter memberikan tanda terima serta menunjuk taksi yang akan mengantar. Tidak ada peluang sopir untuk 'mamangua'. Adapun sifat-sifat yang kurang baik yang berkembang dalam masyarakat mungkin punya akar yang lebih dalam, yang perlu kita kaji baik-baik, dan membandingkannya dengan masyarakat lain yang benar-benar dikenal sebagai masyarakat yang ramah tamah. Dahulu memang masyarakat Minang terkenal baik budi. Koq sekarang tidak atau tidak lagi. Dimana salahnya ? Wassalam, Saafroedin Bahar --- Muhammad Dafiq Saib <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Assalaamu'alaikum warahamatullaahi wa barakaatuhu > > > MINANGKABAU INTERNATIONAL AIRPORT > >--- saya potong -- > > Memang betul begitu. Pulang kampung ini menagir > sebenarnya. Tapi banyak yang malas kita melihat di > negari awak ini. Seperti berurusan dengan pareman di > luar itu contohnya, katanya pula. > > Saya mengernyitkan kening. > > Pareman di luar yang mana maksud engku? tanya > saya. > > Tentu engku sama maklum. Kalau berurusan dengan > urang oto di luar sana. Sakit hati kita. Banyak > tukang pangur. Dan orang awak di kampung ini tidak > berubah-ubah dari seisuk. Acapkali, sangat singkat > cara mereka berpikir. Tidak sadar mereka bahwa > dengan berlaku tidak amanah, yang rugi adalah mereka > juga. Berapa benarlah yang mereka dapat dengan > memangur penumpang seperti itu. Tidak tahu mereka > bahwa untuk jangka panjang, perangai mereka itu > sangat merugikan. Oto mereka ada ber AC tapi mereka > matikan. Kalau disuruh hidupkan berbagai macam > alasan supirnya. Ujung-ujungnya minta pitis tambah, > ceritanya bersemangat. > > Tapi kan tidak semuanya. Ada juga orang-orang itu > yang santun, kata saya. > > Betul tidak semuanya. Tapi karena nila setitik rusa > susu sebelanga. Yang pareman itu memang hanya > segelintir. Tapi ilmu pareman itu cepat menularnya. > Ketika pareman dibiarkan saja berlantas angan, orang > yang tadinya tidak pareman akhirnya mulai pula > berubah jadi pareman. Begitu biasanya, tambahnya. > > Iya betul. Malas kita melihatnya. Kelihatannya > memang perlu ditatar sebagian orang awak yang > bekerja di pelayanan umum seperti calo maupun sopir > taksi itu, saya tambahkan. > > Kalau dipikir-pikir dek engku. Negari kita ini > benar-benar besar potensinya untuk dikembangkan > menjadi negari parawisata. Jarang tempat yang > seindah negari awak ini di muka bumi ini. Bukan kita > mengapit daun kunyit. Memang begitu kenyataannya. > Apalagi sekarang sudah ada Bandara serancak ini. > Banyak tempat yang akan dijual sebagai objek wisata. > Tapi dipintu keporonya benar sudah mengecewakan > seperti itu. Ini sebenarnya tidak boleh dipediarkan. > Orang-orang yang berada digaris depan seperti di > Bandara ini harus ditatar. Diajar kembali menjadi > orang-orang yang elok basa. Begitu juga orang-orang > di garis belakang. Entah yang berjualan di pasar > bertingkat di Bukit Tinggi, entah yang menerima tamu > di hotel-hotel, entah yang menerima pelancong di > Maninjau, di Halaban, di Pagar Ruyung. Bahkan yang > menjadi petugas parkir di Pasa Banto sekalipun. > Hendaknya orang-orang yang sopan dan santun serta > elok basa belaka. Jangan orang yang penyandek. > Jangan orang yang pengicuh. Jangan orang > yang suka memangur. Elok sambutan kita, senang hati > orang berkunjung, bertambah banyak orang tiba, > bertambah lancar jual beli, kan bertambah baik > ekonomi jadinya. Entah kok tidak begitu dek engku? > tanyanya. > > Sesuai benar saya dengan yang engku katakan. > Sayapun melihatnya begitu. Disamping tempat-tempat > yang akan dikunjungi turis itu perlu dibedak-bedaki > sedikit lagi. Disiangi rumput sarut disekitarnya. > Diperancak gerbang dan pintu keporonya. Diberi > berenda-renda, berjumbai-jumbai. Dibuatkan atraksi > disana-sini. Entah pertunjukan silek-silek tuo. > Entah tari-tari rantak kudo. Banyak yang boleh > dilakukan. Seperti berpacu sampan di Maninjau > misalnya. Atau berpacu bendi bugis tiap minggu > misalnya di Bukit Embacang di Bukit Tinggi. Tempat > dan sarananya sudah ada belaka. Tapi bak kata engku, > yang tiangnya betul memang basa dan perisa. Banyak > orang awak ini yang perlu diajar kembali untuk mau > tersenyum. Tersenyum yang tulus, sayapun jadi ikut > bersemangat. > > Padahal sebenarnya tidak sulit kerja itu. Asalnya > kita ini kan orang-orang beradat. Orang-orang yang > tinggi budi pekertinya. Orang-orang yang budi baik > basa ketuju. Orang-orang yang elok basa basinya. > Yang tidak elok itukan hanya sebagian kecil. Tapi > kalau dipediarkan terus hilang basa dek biasa tidak > lagi mengutamakan berbasa-basi. Hilang budi dek > terbiasa tidak berbudi pekerti. Pengalaman orang > rumah saya berbelanja di pasar atas Bukit Tinggi. > Ketika tawar menawar, dikembangkan orang kedai > barangnya yang prima. Ketuju oleh istri saya, > dibelinya dua tiga untuk oleh-oleh. Karena contoh > yang dilihat bagus disangka semua barang sama > bagusnya. Betapa kecewa istri saya sesampai di > Bandung ternyata barang-barang yang tidak diperiksa > itu cacat. Yang serupa ini kan kecoh buruk namanya. > Walaupun istri saya belum tentu setahun sekali > datang berbelanja di toko itu tapi cerita seperti > ini pasti akan tersebar. Tidak tahu orang kedai itu > bahwa kecohnya yang sedikit ini buruk akibatnya > untuk jangka panjang. > > Betul yang engku katakan. Mumpung belum jauh benar > hanyutnya seyogianya cepat dipintas. Mudah-mudahan > kalau cepat dipintas cepat pula sembuh penyakit yang > tidak elok itu. Seandainya orang-orang di negari > kita ini baik-baik dan sopan-sopan semua, seperti > yang berlaku di negari orang semisal di Jepang atau > di Swiss sana betapa akan terkenal dan menariknya > negari kita ini. Alamnya indah, penduduknya ramah, > jual belinya amanah tentulah akan berduyun-duyun > orang datang bertamu. Namun ada yang perlu juga > dipikirkan jauh-jauh sebelumnya yakni moralitas anak > kemenakan kita. Takut pula kita membayangkan kalau > moral anak kemenakan kita tidak baik, lalu > dieksploitir oleh orang lain. Tentu kita tidak ingin > para wisatawan mancanegara datang kemari untuk > berwisata kelamin. Perlu kita berbalik kepada idiom > ranah Minang yang perlu dijaga dan dipelihara. > Nagari yang adatnya bersandi syarak, syarak bersandi > kitabullah yang sebenar-benarnya, kata saya. > > Benar engku. Benar yang engku katakan. Inipun perlu > perhatian khusus. Orang awak kan sudah menjadi pak > tiru. Semuanya ditiru. Contoh-contoh yang tidak > baikpun ditiru. Meriangit kita melihat > kemenakan-kemenakan kita berbaju tidak sendereh di > mall-mall di kota Padang. Dek meniru tadi itu juga. > Mall di orang, sudah ber mall pula awak. Berjojo > pusar anak gadis orang, sudah berjojo pusar pula > kemenakan awak. Entah bagaimanalah mengatasi yang > seperti ini, ucapnya mendesah. > > Kalau bak rasa hati saya perlu adanya peraturan > yang dibuat oleh orang yang ditinggikan seranting, > yang didahulukan selangkah di Ranah Minang ini. Oleh > orang yang di Rumah Bergonjong di Padang itu. Buat > peraturan daerah tentang tata tertib. Tentang > taratik dan sopan santun. Musyawarahkan dengan ninik > mamak di Kerapatan Adat Alam Minangkabau. > Musyawarahkan dengan alim ulama. Tentukan mana yang > boleh mana yang tidak boleh. Sesudah itu > bersama-sama kita mengawalnya. > > Setuju saya dengan engku. Memang harus ada > peraturan yang jelas. Tidak ada salahnya masyarakat > agak dikerasi sedikit. Kalau cara berpakaian saja > anak kemenakan kita belum bertaratik apa boleh buat, > harus kita didik mereka agar bertaratik. Mana-mana > yang melanggar diberi sangsi. Tentu sangsi yang > mendidik. > > > > > ****** > > === message truncated === ____________________________________________________________________________________ Now that's room service! Choose from over 150,000 hotels in 45,000 destinations on Yahoo! Travel to find your fit. http://farechase.yahoo.com/promo-generic-14795097 --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Kami mengundang sanak untuk hadir dalam acara: "Wartawan mengajak Berdoa Bersama untuk Keselamatan Negeri" pada tanggal 8 April 2007 jam 08:00 di Masjid Istiglal. Acara ini terpicu oleh musibah terbakarnya Ustano Pagaruyuang dan Gempa di Sumbar. Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
