Selasa, April 3rd, 2007...9:57 adalah Membuat KTP di Jepang : Beres dalam sekejap Jump to Comments
Hari ini saya mengurus perpindahan alamat baru dari Kelurahan Minato (Minato ku) ke Kelurahan Chikusa (Chikusa-ku). Langkah ini wajib dikerjakan karena tidak saja menyangkut urusan surat menyurat tetapi juga menyangkut asuransi kesehatan dan sistem pembayaran pajak. Sewaktu datang pertama kali ke Jepang, urusan membuat KTP (????????= gaikokujin touroku shoumeisho)dibantu sepenuhnya oleh volunteer Nagoya University di kantor kelurahan (???=kuyakusho)Chikusa. Waktu itu kami datang jam 4 sore dan urusan beres hanya dalam satu jam. Ketika saya pindah ke Minato sama juga, urusan beres dalam sejam. Hari ini pun kembali saya mendatangi kantor kelurahan Chikusa sekitar jam 4.30 sore, saya sudah khawatir karena jam kantor akan berakhir pukul 5.17 sore. Tapi kekhawatiran itu pupus, karena pengurusan alamat yang baru hanya berlangsung 10 menit dan urusan penggantian kartu asuransi kesehatan hanya butuh waktu 15 menit. Saya masih berdiri terpaku di depan petugas yang mengasungkan kartu asuransi yang baru dan terbengong dengan cekatannya mereka melayani warga. Kalau tidak karena ucapan `otsukaresama deshita`, mungkin saya masih mematung di situ. `Haik, arigatou gozaimashita`. Hampir semua urusan tetek bengek sebagai warga di Jepang senantiasa berjalan cepat dan tidak perlu biaya. Biaya hanya saya bayar ketika membuat KTP pertama kali sebesar 300 yen (sekitar Rp 21,600) dan setiap membuat surat bukti sebagai warga setempat juga keterangan berapa besar tax yang saya bayar, untuk surat rekomendasi ini saya juga hanya membayar 300 yen. Tidak ada uang pelicin, sebab semuanya sudah berjalan sangat licin ! Hanya sekali saya menunggu agak lama, yaitu ketika mengurus perpanjangan visa di kantor imigrasi. Sebagai pelajar, visa saya berlaku 2 tahun, dan harus diperpanjang 2 tahun lagi, karena saya akan tinggal di Jepang hingga tahun 2009. Dengan status sebagai mahasiswa yang tanpa beasiswa (self-financed student), saya seharusnya menyetorkan fotokopi rekening bank yang menunjukkan apakah saya bukan orang yang kere (>_<), tapi punya cukup dana untuk hidup di Jepang. Dokumen ini lupa saya sertakan, sehingga visa baru saya terkatung-katung hingga 3 minggu. Urusan baru beres setelah saya menelpon langsung ke kantor imigrasi dan menanyakan keterlambatan visa. Hari itu juga saya menerima panggilan untuk datang mengambil visa baru sambil membawa fotokopi rekening bank. Begitulah, semuanya berjalan serba cepat di Jepang sebagaimana orang-orangnya yang selalu terburu-buru ketika berjalan kaki, bahkan kalau perlu berlari demi datang tepat waktu. KTP saya di Indonesia kadaluarsa 2005 yang lalu, saya harus memperbaharuinya ketika pulang nanti. Saya masih ingat mengurus sendiri pembuatan KTP, mulai dari minta surat keterangan dari Pak RT/RW, datang ke kantor kelurahan, dan terakhir ke kecamatan. Ketika di kantor kelurahan, staf setempat meminta uang jasa yang ketika saya tanya berapa jumlahnya dia mengatakan seikhlasnya. Karena memang kere waktu itu saya hanya bayar Rp 1000, dan petugas menerimanya dengan merengut tanpa sedikit pun ucapan terima kasih. Di Kantor kecamatan, staf meminta saya membayar Rp 10,000 dengan alasan peraturannya begitu. Ketika saya minta ditunjukkan peraturannya, petugas mengatakan tidak ada, itu sudah tradisi, jadi bayar saja. Jadi setelah menghitung-hitung biaya yang saya habiskan untuk mengurus KTP berikut dengan ongkos transpornya sekitar Rp 23,000. Hampir sama jika saya minta tolong Pak RT yang menguruskannya, biayanya Rp 25,000. Gaji saya sebagai guru waktu itu hanya Rp 300,000. Saya tidak pernah berfikir itu di bawah upah minimum, sebab saya masih bisa hidup dan bebas bergerak dengan dana sebesar itu. Tapi saya sangat sedih dengan perlakuan orang-orang yang tidak jujur. Saya tahu mereka mungkin juga bergaji sama dengan saya, bahkan mungkin lebih kecil, tetapi apa nikmatnya memakan gaji dari hasil pemerasan ? Dulu saya sering terkena lemparan batu di angkot yang isinya pelajar STM, masa itu ramai-ramainya pelajar tawuran. Saya sangat heran kenapa pagi-pagi orang mempunyai nafsu berkelahi demikian kuat. Saya pikir salah satu penyebabnya karena anak-anak itu barangkali diberi makan dari harta yang tidak bersih. Uang haram yang masuk ke tubuh anak-anak melalui makanan yang mereka makan berubah menjadi energi kekerasan. http://murniramli.wordpress.com/2007/04/03/membuat-ktp-di-jepang-beres-dalam-sekejap/ --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Kami mengundang sanak untuk hadir dalam acara: "Wartawan mengajak Berdoa Bersama untuk Keselamatan Negeri" pada tanggal 8 April 2007 jam 08:00 di Masjid Istiglal. Acara ini terpicu oleh musibah terbakarnya Ustano Pagaruyuang dan Gempa di Sumbar. Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
