--- hanifah daman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>   Ass Wr Wb sanak Rahima yth
>    
>   Terimakasih banyak atas balasan emailnya.
>   Ado jawek nan basalekkan.
>    
>   Wass
>    
>   Hanifah Damanhuri
>    
>    
>   Lengkap banget biodatanya
>    
>   Penasaran …. sebelumnya hanifah sudah tebak
> sendiri jangan-jangan sanak Rahima tidak besar
> dikampung dengan kehidupan yang bersuku. Tidak
> meleset. 

Sanak Hanifah, saya bukan saja tidak besar di kampung,
bahkan tanah tumpah darah saya P.Siantar.Mulai
lahir-SMP saya dibesarkan di Siantar, dengan pergaulan
lingkungan kompleks Kehutanan, dan tidak diperbolehkan
sama sekali oleh ayah saya bergaul dengan tetangga
yang pada umumnya beragama Kristen.Kenapa tidak
diperbolehkan?Ngak perlu saya ceritakan disini, karena
bukan topik kita.

Pergaulan saya hanya dilingkungan sekolah, mengaji dan
sehabis magrib ngak boleh keluar rumah, hanya belajar
dan mengaji, main sama tetangga ada, tapi sangat
dibatasi dengan Muslim saja.Hal ini berlangsung sampai
saya SMP.

Kenapa sampai SMP? Karena untuk selanjutnya saya
melanjutkan sekolah ke Diniyyah Puteri Pdg Panjang,
yang mula niat ortu saya agar saya belajar agama dan
bisa dikirim ke Mesir kelaknya, kemudian tau akan adat
minang, adat ibu, yang sangat menginginkan ada
diantara salah seorang anak-anaknya kembali ke Minang.

Tujuan ibu saya sedikit bisa terealisasikan.

>
>   Wah...saya ngak tau nih...
>    
>   Bako rang Kalimantan jelas nggak punya suku, tapi
> kalau kakek dari pihak ibu adolah urang Minang, mako
> ibu sanak rahima pasti punyo bako.
>   Berarti sejak dari ibu kehidupan babako tidak
> jalan ya?

Seperti yang saya katakan diatas, saya lahir dan besar
di Siantar, dan ngak pernah pulang kampung sama
sekali, kecuali saat sekolah di Dinput tersebut.Setau
saya setelah saya ke Dinput kekeluargaan pihak ibu
mulai jalan, hanya saja sayangnya, saya dikirim pak
Gubernur untuk melanjutkan sekolah ke Mesir, sehingga
benar saya pribadi ngak tau siapa keluarga saya dari
pihak ibu.Kenapa sampai hubungan keluarga pihak Ibu
terputus?
Ceritanya cukup panjang, tapi semua itu bermula dari
ketamakan keluarga ibu untuk meraih harta ibu saya
yang beliau adalah anak tunggal dari ibu yang anak
tunggal pula, orang kaya, cantik, jadi kejaran
orang-orang dikampung, ngak bisa jalan permintaan,
mereka memakai jalan tidak benar.

 Mungkin sanak Hanifah ngak percaya, nenek kandung
saya dibikin hilang ingatan seumur hidupnya,
dimandikan air cabai oleh keluarga pihak ibu yang
jelas berada di Sumbar itu, wajar sekali kepahitan
akan sikap keluarga yang tamak harta itu sangat
berbekas dihati ibu, sampai ibu saya yang kaya raya
seharusnya malah hidup menderita, ibu merantau ke
Siantar dan ketemu ayah saya, lahirlah kami
anak-anaknya di daerah itu dengan penuh kedamaian dan
ketenangan.

Keluarga yang memakai jalan tidak diridhai itupun
hidup dalam kemelaratan pada akhirnya, meminta maaf
pada ibu, apa dikata "nasi sudah jadi bubur, nenek
ngak mungkin bisa diobati lagi, tapi percaya atau
tidak, sampai nenek meninggal beliau yang tidak pernah
lupa-lupanya adalah hafalan AlQuran beliau dan ilmu
nahu sharafnya, setiap membaca AlQuran nenek tersebut
selalu mengeluarkan air mata, karena beliau mengerti
akan arti AlQuran itu.Subhanallah.Sampai beliau
meninggal.itu kisah kenapa sampai sekian lama ibu ngak
mau kembali-kembali ke Sumbar, sampai anak-anaknya
besar.

 Dinput itu tidak segampang yang dibayangkan, kalau
keluar kepasar saja pakai pamong, syukur saya pribadi
ngak perlu pakai pamong, bebas tanpa pamong, ini
khusus buat saya, karena saya sangat dipercaya
pimpinan untuk tidak akan melakukan hal-hal yang
"aneh".Di Dinput yang dipakaipun adalah bahasa
"Indonesia Raya", bukan bahasa Minang.

>    
>   >   Nagari Asalm: Sungai Tanang
>    
>   Ibu Kamang Hilia, ayah Kalimantan Tengah tepatnya
>   Palangkaraya,
>    
>   Maaf setahu hanifah daerah Palangkaraya adalah
> daerah Dayak dengan agama mayoritas Kristen. Apa
> ayah sanak rahima seorang Mualaf? 

Oh Tidak, ayah saya dan keluarganya Muslimin
tulen.Bukan dari Muallaf.
>   
>    
>   Alhamdulillah .. ikutan senang. Kalau puyeng
> mikirin adat Minang lalu ingin hidup tenang
> menjalankan agama Islam bisa pulang ke Kaliimantan. 
>   Wah asyiiiiikkkk.

Saya ngak perlu puyeng memikirin adat Minang, dan saya
sangat percaya sekali, untuk menjalankan Islam, ngak
harus pulang ke Kalimantan, justru saya memilih PNS
saya dulunya di Sumbar ini, karena saya yakin sekali
akan agama Islam di Minang ini cukup tinggi, terbukti
dari banyaknya surau-surau dan mesjidnya. Hanya saja
ada beberapa hal yang memang saya percaya sekali suatu
saat hal ini akan ada reformasi kearah yang lebih baik
lagi.


>   Wow baru tau kalau rang pitalah jualan anak
> laki-laki.
>   Aetau hanifah hanya laki-lakin pariaman yang
> dibeli eh salah yang dijemput. 

Entahlah, saya sendiri ngak tau, tapi itu realita
kehidupan.

>    
>   Tapi sebelum disampaikan kesaya atau kekeluarga
> saya
>   langsung suami sendiri yang menolak untuk
> dibeli(kata
>   beliau suami koq dibeli-beli, nantik pihak
> keluarga
>   istri akan gampang mengatur suami, karena dia
> sudah
>   dibeli oleh keluarga saya,
>   Wah … oooiiii ajo  piamaaaan apo memang walau
> dibali eh dijapuik istri lalu bisa diatur padusi???

Saya pernah dengar dari suami saya sendiri, "suami
bagaikan abu ditungku".entahlah...tapi pada sebahagian
pengakuan dan realita yang saya lihat terkadang pihak
suami tunduk patuh pada sang istri atau keluarganya.
Dan ini setau saya ngak hanya terjadi dilingkungan
yang saya lihat, di daerah Jawa, saya juga melihat
kenyataan yang serupa.Betapa banyak para suami yang
takut pada sang istrinya/keluarga istrinya.Lelaki
idaman saya, ia adalah pemimpin.


>    
>   makanya beliau sangat
>   menolak akan hal ini, bagi saya untung tidak
>   diberitahu kesaya, kalau ngak..jelas saya ngak mau
>   dong beli suami,
>    
>   ???? sanak yang tau jawabnya

Iyah, ini jelas, karena hal ini akan mempermalukan
saya dihadapan keluarga saya, ngak ada seorangpun
diantara kakak-kakak saya yang membeli atau manjapuik
suaminya, juga menjaga harga diri saya/keluarga saya
di mata  tetangga saya.Dan suami saya tau sekali watak
saya yang "tegas mempertahankan prinsip", sebelum kami
menikah, makanya hal-hal semacam ini tidak beliau
sampaikan pada saya sampai saya diberitahu setelah
menikah, kalau mamaknya, keluarganya menyatakan
padanya agar beliau mengatakan pada keluarga saya
beliau harus dibeli(benar-benar dibeli dengan sejumlah
uang).Beliau ngak mau hanya karena adat,pernikahan
kami gagal, padahal kami telah menjalin hubungan
hampir 4 thn lamanya, hanya karena adat kami harus
gagal menikah? Ini yang beliau jaga sekali. 

>    
>   saya ingin suamilah yang menginginkan
>   diri saya tanpa harus dibayar-bayar dengan apapun,
> toh
>   dia yang akan mengalihkan tugas dan tanggung jawab
>   ayah saya, dalam akad nikahkan :"Saya nikahkan
>   anak/adik saya ...dengan .....", kemudian dijawab
>   "saya terima nikah anak bapak....dengan mahar
>   sekian-sekian(mahar sekarung emas kali..hehehe).
>    
>   Semua perempuan pastilah menginginkan begitu.
>   Alhamdulillah hanifahpun dilamar oleh suami ke
> papa ala Islam.
>   Tanpa bayar sepeserpun. Hanifah juga tidak minta
> mahar sekarung emas, takut nanti yang dikasih mas
> jawa he he he.

Bendingan dikasih "Mas Jawa", karena katanya Mas Jawa
lembut, penyayang, suka bantu istri didapur,pokonya
emasnya dijamin murni 24 karat(hehehe..), ketimbang
dikasih mas..mas yang palsu dan ngak karuan...tapi
bagaimanapun bagusnya mas..mas Jawa, ngak sebagus Uda 
yang telah dimiliki koq. 

Baik buruknya dia, tetap dia adalah "Udaku yang
tercinta", karena dialah yang telah ditetapkan Allah
untukku dan yang terbaik(hehehe..ngerayu nih ye..kalau
dibaca sang Uda di Sumbar nih, bisa naik kupingnya 10
cm... ).Tapi jujur lho, ini pengakuan saya dari dalam
dada sanubari, saya lebih menyenangi watak  dengan
lelaki Minang karena banyak hal yang baik yang saya
lihat selama ini pada mereka, terutama dari sisi
tanggung jawab,penyayang dan mandirinya.     


>    
>   Ketika pestanyapun kalau menurut adat katanya
> suami
>   istri berkumpul setelah tiga hari menikah.
>    
>   Nggak tuh. tidak tau juga didaerah lain. Mungkin
> juga hal ini ditujukan untuk menjaga kesehatan
> pengantin. Karna ada beberapa proses adat yang mesti
> dijalani, yang mungkin menyita energi. Bersabar
> sedikit boleh dong. 

Boleh-boleh saja, bagi kita perempuan mah, dalam hal
ini bisa sabar dong, entahlah kalau para lelaki.

>    
>   Saya mah...nikah pagi, pesta, langsung malamnya
> berkumpul.
>   Dan saya pesta tetap pakaian adat, suntiang
> dikepala
>   yang berat itu lho, sampai mau pingsan saat naik
> mobil
>   dr BKT ke Pitalah, luar biasa beratnya, tapi ngak
> jadi
>   pingsan,
>    
>   Tuhkan bener. Kalau nggak begadang malamnya belum
> tentu ada perasaan mo pingsan. Nggak ada beban aja
> udah puyeng juga tuh 

Wah...hari itu meskipun kita sudah berkumpul, alias
satu rumah, tapi belum sekamar lho. Saya dikamar
sebelah, beliau dikamar lainnya.hehehe..unik yah..tapi
lagi-lagi realita...

Oh yah, satu lagi, kenapa suami datang ke Ibu saya
untuk melamar saya, bukan ke ayah saya
yah..jelas,..karena ayah saya sudah "diBalikpapan",
alias sudah almarhum sejak saya masih di Kairo
lagi.Makanya dalam akad nikah saya sebutkan,
Bapak/Abang..., karena yang jadi wali nikah saya
ketika itu adalah abang kandung saya sendiri.

Ok. Wassalamu'alaikum. Rahima Sikumbang Sarmadi.



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke