Mudah2an kita tidak menjadi hopeless kalau membandingkan item-per-item antara
yg di kita vs Finland.
Kalau menurut saya, ada kencederungan meningkatnya 3 "masalah besar" di
bidang pendidikan kita: "kelemahan pendidikan dasar", "kurangnya pengembangan
logika", dan yang paling parah: "pendelegasian kesalahan ke pihak siswa"
Kelemahan pendidikan dasar yang saya maksud tidak selalu berarti SD, tapi
saat awal sesuatu ilmu "baru" diajarkan. Contoh kecil, waktu pertama kali
mengajar, saya kebagian mata kuliah advance accounting. Saya jadi bingung, bgmn
mengajar advance kalau rata2 mahasiswa tidak mengerti perbedaan perlakuan
akuntansi untuk perusahaan yang "rumit" dengan yang "sederhana". Semester
berikutnya saya minta "turun" ke intermediate accounting, dan berikutnya "turun
lagi" ke Dasar2 Akuntansi.
Disini saya lebih bingung lagi. Salah satu hal yang sangat mendasar di
akuntansi (double enty, maksud saya), jumlah debet = jumlah kredit. Tapi
ternyata kebanyakan diantara mereka tidak tahu persamaan matematika, kalau ruas
kiri dipindah ke ruas kanan, tandanya harus berubah dari positif ke negatif,
dan sebaliknya. Nah, ini kan dasar2 matematika, atau berhitung ...
Ga usah jauh2 ke jaman dulu banget. Waktu saya SD akhir 60an-awal 70an,
cerita "pindah ruas" ini merupakan hal yang sangat serius.
Contoh lain tentang "modernisasi" ini: waktu tahun pertama kuliah, untuk
pelajaran tata buku saya tidak boleh menggunakan kalkulator (apalagi komputer).
Memang cape, kalau menjumlahkan puluhan baris angka yang pake koma. Tapi
ternyata, hasilnya bukan hanya kecepatan menjumlah (yang mungkin sulit untuk
mengalahkan kalkulator), tapi menimbulkan suatu "perasaan sensitif" kalau ada
suatu kesalahan, kita lebih sensitif untuk meraba, dimana dan kenapa ada
kesalahan tsb.
Pelajaran "komputer" di tempat saya bukan bagaimana menggunakan aplikasi -
yang bisa dipelajari di luar sekolah. Yang diajarkan adalah logikanya, tentang
bilangan binary, dan bahasa yang digunakan adalah Basic, yang waktu itu juga
sudah "ketinggalan", tapi bagus untuk memperoleh pemahaman dasar.
Siswa cenderung disuruh menghafal, cenderung kurang pengembangan logika.
Contohnya, anak SD hafal bahwa "ikan bernafas dengan insang". Dulu saya pernah
"ngintip" anak saya - yg sempat SD sebentar di Australia. Gurunya tidak
langsung memberikan "doktrin". Gurunya bawa akuarium ke depan kelas, mengajukan
berbagai pertanyaan yang "menggiring" muridnya tentang fakta bahwa "alat dan
sistem pernafasan ikan berbeda dengan manusia", soal insang itu hanya masalah
nama.
Dulu waktu saya SMP juga begitu. Guru Ilmu Ukur saya tidak langsung
"memberikan doktrin" tentang dalil phytagoras (?). Tetapi mengajak murid
"menyadari" bahwa jika 2 bujur sangkar disusun berbentuk siku, kemudian dikedua
ujung siku tsb ditaro 1 bujur sangkar lain, ternyata luas bujur sangkar ketiga
ini sama dengan jumlah luas 2 bujur sangkar sebelumnya. Apakah ini kebetulan?
Ternyata kalau menurut Phytagoras tidak, ini berlaku umum, makanya dia
memberikan rumus ...
Dulu guru saya tidak langsung menyuruh menghafal definisi, tetapi mengajak
menyusun suatu definisi - yang kemudian ternyata sama dengan yang ada di text
book.
Ini jg saya lihat di SD anak saya dulu, murid diarahkan untuk mengungkapkan
logikanya, bukan ditanya, kemudian dijawab: kamu salah !
Nah, yang saya sebut "paling parah", yaitu "pendelegasian kesalahan ke pihak
siswa"
Contohnya begini, seorang siswa SMA Negeri atau swasta yang telah
diakreditasi diajar oleh guru (yang telah lulus dari persyaratan yang
ditetapkan pemerintah), dengan menggunakan kurikulum yang ditetapkan
pemerintah. Secara intensif ada PR yang diperiksa dan dinilai, ada ulangan,
tiap semester diuji. Setelah hampir 3 tahun (itu tanpa menghitung bahwa untuk
bisa ke SMA dia telah melalui SD dan SMP), dia harus ikut UAN yang waktunya
cuma beberapa jam.
Ternyata dia tidak lulus UAN. Kalau begitu masalah sebenarnya di siapa? Siswa
tsb yang bodoh, atau gurunya, atau malah "penguasa pendidikan"?
Kalaupun dia lulus UAN, ada UAS, lulus juga. Lalu ingin masuk PTN. Harus
melalui tes selama sekian jam. Trus ga lulus. Pertanyaan saya sama dengan yang
di atas, siapa yang "bodoh"?
Ini hanya pengamatan saya - yang tentunya - tidak punya kompetensi untuk itu,
dan hanya bisa ngomong di RN.
Riri
Erwin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>KUALITAS PENDIDIKAN TERBAIK DI DUNIA
>
>Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki
>peringkat pertama di dunia? Kalau Anda tidak tahu, tidak mengapa
>karena memang banyak yang tidak tahu bahwa peringkat pertama untuk
>kualitas pendidikan adalah Finlandia. Kualitas pendidikan di negara
>dengan ibukota Helsinki, dimana perjanjian damai dengan GAM
>dirundingkan, ini memang begitu luar biasa sehingga membuat iri semua
>guru di seluruh dunia.
>
>Peringkat I dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei
>internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for
>Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal
>dengan nama PISA mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca,
>dan juga Matematika. Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara
>akademis tapi juga menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah
>mental. Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas.
>
>Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No 1 dunia? Dalam
>masalah anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi
>dibandingkan rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan
>beberapa negara lainnya.
>
>Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar,
>memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau
>memborbardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia
>mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan
>negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka
>justru
>lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan Korea,
>ranking kedua setelah Finnlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam
>perminggu
>
>Lalu apa dong kuncinya? Ternyata kuncinya memang terletak pada
>kualitas gurunya. Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru
>dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru
>sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka
>tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru
>mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan dan hanya 1
>dari 7 pelamar yang bisa diterima, lebih ketat persaingainnya
>ketimbang masuk ke fakultas bergengsi lainnya seperti fakultas hukum
>dan kedokteran! Bandingkan dengan Indonesia yang guru-gurunya dipasok
>oleh siswa dengan kualitas seadanya dan dididik oleh perguruan tinggi
>dengan kualitas seadanya pula.
>
>Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan dan pelatihan guru
>yang berkualitas tinggi tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi
>guru-guru dengan kualitas yang tinggi pula. Dengan kompetensi tersebut
>mereka bebas untuk menggunakan metode kelas apapun yang mereka suka,
>dengan kurikulum yang mereka rancang sendiri, dan buku teks yang
>mereka pilih sendiri. Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan
>evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas
>pendidikan, mereka justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang
>menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak testing membuat
>kita cenderung mengajar siswa untuk lolos ujian, ungkap seorang guru
>di Finlandia. Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa
>diukur dengan ujian. Pada usia 18 th siswa mengambil ujian untuk
>mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga
>lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.
>
>Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK!
>Inimembantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka
>sendiri, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia.
>Dan kalau mereka bertanggungjawab mereka akan bekeja lebih
>bebas.Guru tidak harus selalu mengontrol mereka.
>
>Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari
>sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak
>jika mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Kita tidak
>belajar apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh
>guru. Disini guru tidak mengajar dengan metode ceramah, Kata Tuomas
>Siltala, salah seorang siswa sekolah menengah. Suasana sekolah sangat
>santai dan fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan
>rasa tertekan dan belajar menjadi tidak menyenangkan, sambungnya.
>
>Siswa yang lambat mendapat dukungan yang intensif. Hal ini juga yang
>membuat Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah
>di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik
>dan yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD.
>
>Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai
>kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani
>masalah belajar dan prilaku siswa membuat program individual bagi
>setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai,
>umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu;
>berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak
>perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.
>
>Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka.
>Menurut mereka, jika kita mengatakan "Kamu salah" pada siswa, maka hal
>tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan
>menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan
>kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan
>nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Jadi tidak ada
>sistem ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap
>dirinya masing-masing.
>
>Ranking-rankingan hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir
>siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya. Kehebatan sistem
>pendidikan di Finlandia adalah gabungan antara kompetensi guru yang
>tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada
>keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi. Kalau saya gagal dalam
>mengajar seorang siswa, kata seorang guru, maka itu berarti ada yang
>tidak beres dengan pengajaran saya! Benar-benar ucapan guru yang
>sangat bertanggungjawab.( Andri Adji Saputro)
>
>Diambil dari Top of the Class - Fergus Bordewich
>Original message: 1001Buku.org
---------------------------------
Got a little couch potato?
Check out fun summer activities for kids.
---------------------------------
Park yourself in front of a world of choices in alternative vehicles.
Visit the Yahoo! Auto Green Center.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Tapi harus mendaftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount dengan
email yang terdaftar di mailing list ini.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---