On 5/20/07, Riri - Mairizal Chaidir <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Saya (ini pendapat pribadi) melihat ada kesamaan antara Afrika di artikel
> ini dengan Indonesia, yaitu: "jenjang perguruan tinggi merupakan sesuatu
> yang sangat penting, bahkan mendekati keharusan"
>

Inilah yang mencemaskan saya, Pak. Saya bekerja di perguruan tinggi
negeri dan dengan perkembangan yang terjadi, saya khawatir musibah
yang menimpa pendidikan tinggi di Afrika menimpa Indonesia juga.

Di antaranya adalah jumlah mahasiswa yang meningkat tanpa diimbangi
peningkatan sumber daya yang tersedia. Dosen habis waktunya untuk
mengajar dan riset kurang berkembang. Lebih repot lagi kalau banyak
dosen yang sibuk proyek. Apa mau di kata karena memang dari sisi
finansial, profesi dosen tidak begitu menarik dibandingkan dengan di
industri.

Masalah ini bisa memburuk karena semakin sedikit lulusan berkualitas
yang tertarik bekerja di dunia akademik. Bahkan banyak akademisi yang
studi lanjut ke luar negeri namun ketika kembali malah beralih ke
industri. Dengan demikian masalah rasio dosen dan mahasiswa memburuk
atau kualitas pengajar pun memburuk.

Masalah lain adalah sebagaimana Bapak ungkapkan yakni gengsi gelar.
Terus terang, mahasiswa S2/S3 di Indonesia tidak terlalu "bermanfaat"
bagi penelitian di institusi pendidikan tinggi di Indonesia. Banyak
yang tidak tertarik riset namun gelar S2/S3 hanya untuk prestise.
Mahasiswa S1 yang acap diperdaya yang mereka yang seperti itu.

Kemudian juga persepsi yang tidak tepat di masyarakat kita. Sebenarnya
pendidikan tinggi di Indonesia memiliki dua jalur: akademik dan
aplikatif. Program S1, S2, dan S3 harusnya berorientasi akademik
sedangkan jalur aplikatif adalah program D1, D2, D3, D4, SP1 dan SP2.
Namun saya tidak pernah menjumpai program SP1 dan SP2 sedangkan
program D4 yang saya tahu hanya di STAN.

Yang terjadi di Indonesia adalah program D3 sering dianggap sebagai
"penampung" mereka yang tidak diterima di program S1. Lulusan D3 pun
berupaya untuk mengambil program alih jenjang untuk ke S1 karena di
pasar kerja, lulusan D3 kurang dihargai. Padahal tidak sedikit lulusan
D3 yang punya keterampilan lebih baik dari lulusan S1. Lulusan S1 dan
lulusan D3 pun berebut kue yang sama.

Secara umum, pemerintah sudah berupaya untuk meningkatkan kualitas
pendidikan tinggi. Dana kini disalurkan melalui hibah kompetitif
sehingga institusi pendidikan tinggi harus menyiapkan rencana
penggunaan yang jelas. Tentunya ini belum cukup. Yang saya amati
adalah masih kurangnya peranan industri dalam pendidikan tinggi.
Padahal mestinya alumni yang telah sukses di industri dapat berperan
banyak. Terlebih di Indonesia mereka telah menikmati subsidi yang
besar ketika kuliah. Ironisnya subsidi itu juga berbentuk dalam
rendahnya pendapatan tenaga pengajar di perguruan tinggi.

Jadi kalau Sumatera Barat ingin memajukan pendidikan tingginya, para
perantau yang telah sukses mestinya bisa berperan lebih aktif.

-- 
Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Tapi harus mendaftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount dengan 
email yang terdaftar di mailing list ini.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke