Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh,

Tarimo kasih atas jawaban dan saran dari Sanak Riri, jo Datuk Endang,
dunsanak ysh

Sabananyo ambo masih manunggu kisah Imam bonjol dari bundo rahima.  Mungkin
dek bundo sibuk jadi ambo caliak2 juo di buku saketek mengenai kisah Tuanku
Imam rahimahullah.

Dari buku nan ambo baco dan internet ambo bisa menangkap bahwa Tuanku Imam
ini sebenarnya bukanlah seorang yang berlatar belakang militer sebenarnya,
namun seorang pemuka agama islam yang sangat disegani.  Aktivitas beliau
adalah mendakwahkan islam yang berdasarkan Al-qur'an dan Assunnah Nabi kita
Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.  Namun di tengah jalan beliau
terpaksa harus mengangkat senjata karena gangguan dari kaum adat, jadi saya
tidak setuju kalau dikatakan bahwa beliau adalah seorang yang memberontak
kepada penguasa.  Karena Aqidah keyakinan seorang ahlussunnah wal jama'ah
adalah ikut tunduk dan patuh kepada penguasa selama tidak disuruh bermaksiat
kepada Allah Yang Maha Agung!!
Saya sangat mencintai ahlus sunnah dan bangga dengan Tuanku Imam, walaupun
sebatas yang saya tahu sangatlah sedikit sekali.  Namun semua ahlussunnah
adalah orang yang asing, makanya sangat sedikit literatur yang (menurut
saya) adil dalam sejarah Tuanku Imam.  Luar biasa sekali dakwah beliau.

Dari salah satu buku "Riwajat Hidup orang-orang besar tanah air", tulisan
Tamar Djaja (murid A. Hasan) terbitan bulan bintang tahun 1965 disebutkan
bahwa

"Tuanku Imam Bonjol sangat kuat memegang agama dan tidak terpengaruh oleh
adat sehingga sering bertentangan dengan kaum penghulu di alahan panjang
yang mreka itu penggemar tuak dan judi"
komentar:
Dari sana kelihatan bahwa seorang Tuanku Imam adalah pendakwah Islam yang
sangat berani dan tidak pandang bulu menyampaikan kebenaran, dan tentunya
dengan hikmahnya beliau yang tidak saya sendiri ketahui.  Namun kalau beliau
adalah seorang ahlus sunnah maka kita berbaik sangka kepada beliau
rahimahullah, yaitu beliau melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim
yang yaitu  menuntut ilmu, mengamalkan, mendakwahkannya, dan bersabar atas
ketiga di atas (lihat kitab al utsuluts tsalatsah "tiga landasan utama",
syaikh syaikh muhammad bin abdul wahhab).

catt: cerita mengenai syaikh muhammad bin abdul wahhab ini juga penuh dengan
fitnah dengan sebutan wahabi dan sebagainya, padahal beliau juga adalah
seorang yang mendakwahkan islam yang benar dan sudah terbit banyak buku yang
menyingkap bukti-buktinya untuk menjawab semua tuduhan-tuduhan yang
dilontarkan musuh musuh islam ini.

demikianlah dahulu dengan keterbatasan ilmu ananda... (bundo... ananda masih
menunggu tulisan bundo)...

Wassalamu'alaikum warohmatullahi wa barokatuh

Fikri rang koto



On 5/18/07, Riri - Mairizal Chaidir <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Sanak Zul Fikri dan Sanak Sadonyo di Palanta.
>
> Ambo ingin lo bapandapek saketek, nan ambo tulis dengan warna biru di
> bawahko. Maaf, tulisan sabalumnyo ambo potong-potong, ambo tinggakan nan
> ambo komentari sajo.
> **
> **
> *ZUL FIKRI <[EMAIL PROTECTED]>* wrote:
>
> Kambali ka topik nan kito bahas, ananda melihat bahwa sejarah minangkabau
> dan pengetahuan kaum muda terhadap minangkabau dan islam sendiri masihlah
> rendah.  Hal ini dibuktikan dengan kurangnya kebanggaan ....[deleted]
>
> Saya rasa "kurangnya kebanggaan menggunakan nama dan bahasa" tidak
> otomatis menjadi bukti "kurangnya pemahaman terhadap Minangkabau dan Islam".
>
> Selama berabad-abad orang Arab menggunakan bahasa yang sama dan nama yang
> itu-itu juga. Saya belum mendengar anda diantara mereka yang bernama John,
> Frankie, atau malah Lucifer (sejahat apapun dia). Tapi sejarah menyatakan
> bahwa budaya dan tingkat keIslaman mereka kan tidak sama.
>
> Begitu juga dengan orang "Barat", bahasa dan nama mereka itu-itu juga,
> tapi kebudayaan mereka kan tidak sama antara jaman dulu dengan sekarang.
> Cina kelihatannya begitu juga. Rusia dan ex Soviet juga begitu.
>
> Jadi saya kira, masalah nama jalan atau nama orang *tidak harus*menggambarkan 
> tingkat kecintaan seseorang terhadap budaya dan agama
>
>
>
> ...Tidak berpanjang2 lagi dengan yang kurang di kita itu..(:  tapi kita
> skdar sharing saja..  bagaimana kira kira langkah tuk penanaman kecintaan
> pada minang, dan kecintaaan pada islam pd masyarakat minang kita ini?
>
>
> Iya, ini yang penting. Cuma, untuk sampai ke situ, hendaknya dimulai dari
> mencari jawaban atas pertanyaan: apakah memang kaum muda sekarang kurang
> cinta pada Minang, dan yang minang kurang cinta kepada Islam?
>
> Saya kira ini perlu penelitian yang komprehensif, tidak hanya melihat
> kasus-kasus tertentu. Hasil penelitiannya mungkin mereka memang tidak cinta,
> atau mereka sebetulnya cinta tapi tidak tahu - karena referensi nya kurang,
> atau malah mereka lebih cinta dibanding generasi sebelumnya.
>
> Yang saya maksud, kalau tahu "penyakit sebenarnya" barulah bisa dicarikan
> obat yang tepat.
>
> Selanjutnya merespon surat bunda mengenai kedatangan kaum paderi yang
> mencerahkan masyarakat minangkabau , bisakah bundo atau apak kasadonyo
> ceritakan pada ananda disini???  ananda yang muda ini memang belum terlalu
> tahu sejarah itu.  Ananda pernah baca tentang kehebatan tuanku imam, tapi
> referensi ananda sangat terbatas dan simpang siur beritanya...
>
> Pengetahuan saya juga sangat terbatas tentang ini. Tadi saya coba search
> melalui google dan yahoo tentang Perang Paderi, Teuku Imam Bonjol dll.
> Ketemu sekitar 700 entries tentang ini.
>
> Mumpung lagi nganggur, saya coba baca sekitar 400 tulisan. Rata2 isinya
> relatif sama, yaitu: Kaum Agama "cape" melihat keadaan yang menyimpang dari
> Islam. Lalu Kaum Agama memerangi "pemerintah". "Pemerintah" ini minta
> bantuan Belanda (yang tentaranya tidak "*full londo*"). Belanda OK-OK saja
> "membantu".
>
> Nah, kalau saya kaitkan dengan tulisan Bunda Rahima, bisa saja ada
> kesamaan situasi sebelum perang paderi dengan situasi sekarang. Katakanlah
> ini suatu "penyakit", dan kita akan mencari "obatnya". Saya setuju.
>
> Tapi saya yakin bahwa  kita tidak akan menggunakan "treatment"nya Tuanku
> Imam Bonjol untuk sebagai cara pengobatan, walaupun "penyakitnya" sama.
> Mungkin ada referensi lain yang bisa kita gunakan untuk mengatasi ini.
>
>
>
> Wassalam,
>
> Riri
>
>
>
>
>
>
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Tapi harus mendaftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount dengan 
email yang terdaftar di mailing list ini.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke